Wawancara dgn Pramoedya di Majalah Playboy

Pada meja bundar di ruang tamu rumahnya, Prain menjawab pertanyaan PLAYBOY. Di meja itu bertumpuk sejumlah buku. Yg menarik perhatian adalah fotokopi novel Gulat di Djakarta yg akan diterbitkan kernbali oleh penerbit Lentera Dipantara. Pram mengenakan polo shirt lusuh, celana training biru & sandal jepit. Kaos kaki sepakbola berwarna hijau menutup ujung kaki celananya. “Dingin kaki saya,” kata dia. Pram masih menunjukkan kekukuhan dalam argumentasi & pemakluman atas sikapnya. Seperti tentang pendiriannya terhadap Soekarno sebagai pemimpin yg berhasil mempersatukan bangsa Nusantara tanpa meneteskan darah. Padaperihal di zaman rezim Soekarno dia ditahan karena menulis Hoakiau di Indonesia. “Yg memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno,” tegasnya.


PLAYBOY: Di film Jalan Raya Pos, Anda mengatakan tidak yakin akan berumur panjang. Ternyata, sekarang berumur 81 tahun, bagaimana perasaan Anda?

PRAMOEDYA: Tahun ‘50, TBC mcmbunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya. Waktu itu belum ada obatnya. Yg tahu, obatnya kapur saja. Buat menutupi luka. Jadi, sudah sejak sangat muda, sudah berhadapan dgn maut. & saya sebagai anak tertua dgn tujuh adik menanggung semuanya.
Ada seorang professor mengatakan, ‘Kau nanti juga kena [TBC].’ Tapi ternyata, sampai sekarang nggak ada apa-apa. Saya nggak ada penyakit parah, cuma kesulitannya kalau nggak bisa tidur, itu lantas jatuh, drop saja. Nggak pernah menyangka. Keluarga saya praktis mati karena TBC. Saya nggak pernah ketularan. Sepanjang hidup saya heran, kok bisa sampai 81.

PLAYBOY: Masih punya mimpi?

PRAM: Saya nggak punya mimpi apa-apa. Masalah saya sekarang, hanya mati saja. Saya sudah sepuluh tahun nggak menulis. Juga nggak jawab surat. Ini sudah nggak bekerja [menunjuk kepala]. Sudah pikun.

PLAYBOY: Mimpi buat menuliskan kembali proyek yg dulu sempat dimusnahkan, seperti Ensiklopedi Indonesia?

PRAM: Ya, kliping saya sudah 8 meter panjangnya. Tapi biayanya melanjutkannya nggak ada. Nggak ada pemasukan yg beres. Paling sedikit lima orang diperlukan. Kalau satu orang dua juta, sepuluh juta satu bulan. Dari mana sumbernya? [tertawa].

PLAYBOY: Anda angkatan’45. Kalau nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bagaimana?
PRAM: Ah saya nggak mengharapkan begitu-begituan. Mau dibakar kek, mau dibuang kek, nggak soal.

PLAYBOY: Anda siap menghadapi kematian?
PRAM: Sejak muda, saya siap mati di manapun & kapan pun. Nggak ada soal. Jadi, nggak punya beban tentang mati.

PLAYBOY: Tidak ada yg Anda lakuti dalain hidup?

PRAM: Saya anggap sebagai tantangan sport. Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Dianggap berani atau nggak, saya nggak tahu [tertawa]. Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yg salah, saya tidak tahu.

PLAYBOY: Kadar gula Anda masih tinggi?

PRAM: Oh, gula saya memang tinggi. 460. Tapi saya obati dgn bawang putih. Setiap suap makan, gigit bawang putih, jadi semua luka kering sendiri. Jadi, dagingnya nggak membusuk. & saya anjurkan itu buat yg sakit gula. Saya kan juga latihan pernafasan kalau mau tidur. Tarik nafas sampai penuh, tambah lagi. Itu sportnya. Tahan baru buang. Belajar dari pengalaman saja. Mulai umur belasan tahun, setelah pisah dari keluarga.

HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?

PRAM: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yg punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.

PLAYBOY: Tapi sejarah Indonesia akhir-akhir ini mesti diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh & Papua buat memisahkan diri?
PRAM: Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yg baik, ada yg buruk. Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yg namanya dialektika.

PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dgn PRD [partai Rakyat Demokratik]. Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri lidak terlihat arah organisasinya?

PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, mesti hidup, tumbuh, berkembang hersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Soedjatmiko] lari, masuk ke PDI. Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sckolah itu kan Jalan buat jadi pegawai. Buat mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yg benar itu.

PLAYBOY: Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?

PRAM: Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? [tertawa].

PLAYBOY: Anda pernah menyebut Jimmy Carter berperan dalam pembebasan Anda. Itu bagaimana ceritanya?

PRAM: Itu Carter meminta supaya tahanan Pulau Buru dibebaskan. Kalau nggak, bantuan Amerika akan dihentikan buat Indonesia.

PLAYBOY: Jadi, bisa dibilang Anda diselamatkan Amerika?

PRAM: Ya memang Amerika. Tapi juga Amcrika juga yg waktu Presiden Enisenhower yg memerintahkan supaya Soekarno disingkirkan. Eisenhower ngomong begitu setelah babak belur di Vietnam. Ada masalahnya itu. Lantas dia perintahkan, singkirkan Soekarno! [tertawa].

PLAYBOY: Anda sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat Nobel, tapi belum jadi kenyataan juga.

PRAM: Yg jadi kandidat itu kan empat orang yg terakhir. Satu orang dapat, saya nqgak. Saya nggak tahu.

PLAYBOY: Apa itu ada hubungannya dgn sikap politik Anda dulu sebagai tokoh Lekra?
PRAM: Itu hak saya punya pandangan politik.

PLAYBOY: Tidak pernah berpikir, kalau mendapat Nobel itu bentuk pencapaian Anda sebagai penulis?

PRAM: Kalau dapat itu, berarti penghargaan dunia. Itu saja.

PLAYBOY: Tidak pernah bermimpi, ingin dapat Nobel sebelum meninggal?
PRAM: Nggak.

PLAYBOY: Jadi, penghargaan tertinggi dalam hidup buat seorang Pram?

PRAM: Penghargaan sudah saya dapat di mana-mana. Orang baca karya saya saja, sudah suatu penghargaan.

PLAYBOY: Dari semua karya Anda, yg merupakan pencapaian terbesar yg mana?

PRAM: Nggak tahu saya. Itu publik yg menentukan.

PLAYBOY: Dalam karya Anda, banyak figur perempuan yg menentang garis. Itu memang gambaran Anda tentang figur perempuan modern?

PRAM: Itu inspirasi dari ibu saya sendiri. Ibu saya meninggal sangat muda, umur 34. Suatu kali, waktu saya masih di SD, panen jagung di luar kota, saya dipanggil ibu. Kalau serius, ibu saya ngomongnya dalam bahasa Belanda. Jauh lebih bagus dari saya. Dia pesan, ‘Engkau nanti mesti belajar di Belanda sampai doktor.’ Itu beliau ngomong waktu saya masih SD & miskin sekali. Itu pesannya. ‘Jangan sampai kau minta-minta sama orang. Pada siapapun! Jangan minta-minta. Selesaikan tugas & kerjamu dgn tenagamu sendiri. Jangan minta-minta bantuan!’ Itu pesan ibu saya. Kenyataannya lain. Lulus SD, masuk SMP, Jepang datang, bahasa Inggris dilarang. Sampai [kelas] 2 SMP saya sekolah, itu pun nggak tamat, karena dibubarkan Jepang. Jadi, nggak pernah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Setelah Jepang pergi, saya nggak bisa ke perguruan tinggi. Bahasa Inggrisnya tidak bisa [tertawa].

PLAYBOY: Di masa itu apa artinya jadi doktor?

PRAM: Ilmu pengetahuan. Jadi mencukupi sebagai orang terpelajar. Kalau belum dapat gelar, ya belum [tertawa].

PLAYBOY: Tokoh Minke dibuat berdasarkan riset Anda tcrhadap tokoh pers Tirtoadisuryo. Apa tokoh perempuan di sekitarnya memang dinspirasi dari perempuan di dunia kenyataan?

PRAM: Itu simbolik saja. Supaya jadi anutan pembacanya. Saya mengharapkan wanita itu lebih maju daripada sekarang ini. Karena dia yg mendidik bangsa. Waktu saya masih kanak-kanak, ibu-ibu itu memproduksi. Ada yg membatik, ada yg nenun, bikin sabun segala macam. Kok, sekarang nggak ada? Tidak berproduksi wanita, tampaknya ya. Waktu saya kecil, ibu saya nenun, bikin batik, segala macam, buat kecap, sabun, dijual. Jarang terjadi sekarang ini di rumahtangga. Sehingga jadi bangsa yg konsumtif, tidak produktif. Akibatnya melahirkan benua korupsi. Malah orang menjadi kuli. Buat menjadi kuli itu, bayar mereka. Sampai Jerman mengatakan, Indonesia itu bangsa kuli di antara bangsa-bangsa dunia.

PLAYBOY:Apa arti perempuan buat Anda?

PRAM: Kalau saya melihat rbu saya, beliau yg membentuk saya jadi begini ini. ‘Jangan minta-minta. Selesaikan semua tugasmu dcngan kekuatanmu sendiri!’ Luar biasa! Dalam keadaan miskin [tertawa].

PLAYBOY: Begitu juga cara Anda mengarahkan anak Anda?

PRAM: Kalau buat saya, silakan kerjakan apa yg dimaui. “Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. Cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain buat tanggungjawab. Seperti Harto nanti [tertawa]. Nggak pernah bertanggungjawab pada perbuatan sendiri.

PLAYBOY: Dari tadi, cerita soal ibu terus. Lantas, bagaimana sosok ayah di mata Anda?

PRAM: Minus. Ayah saya itu Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah di situ. Unluk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia kan jadinya, terhadap anaknya? [tertawa]. Mengeccwakan dia lah.

PLAYBOY: Karena Anda nakal?

PRAM: Sampai tua saya nggak hisa main gundu [tcrtawa]. Sampai tua, nggak bisa menaikkan layang-layang. Nggak sempat main. Kerja terus. Saya menulis buat diterbitkan. Buat dapat uang. Habis, dari mana uang? Melihara kambing juga, nyariin makan scgala macam. Lantas dihina oleh murid-murid sekolah
pemerintah. Saya pernah mengadu sama ibu saya ‘Bu saya dihina sama orang-orang sekolah pemerintah.’ ‘Kenapa kau dihina? Kamu berani kerja, mereka nggak.’ Ibu saya bilang. ‘Udah biar saja.’

PLAYBOY: Ayah Anda direktur sckolah tapi masih kesulitan keuangan ya?

PRAM: Direktur itu gajinya 17 Guldcn setiap bulan.

HAPPY: Katanya anda sering membuat perempuan bule patah hati, benar?

PRAM: Banyak [tertawa]. Biasanya mahasiswi. Setiap negara, saya punya pacar. Begitulah.

PLAYBOY: Pacar yg bagaimana? Yg sehari kenal?

PRAM: Iya [tertawa]. Ada yg mau ikut saya segala macam. Nyusul segala. Anak-anak Jerman itu…

HAPPY: Kenapa? Karena Anda ganteng atau pintar merayu?

PRAM: Nggak tahu [tertawa].

PLAYBOY: Kalau mendengar kata seks, apa yg terlintas di benak Anda?

PRAM: Kalau sekarang sih, nggak ada apa-apa. Kalau dulu, kebakaran [tertawa].

HAPPY: Saya jadi tergila-gila Kartini karena Anda. Kalau Anda kenapa tergila-gila Kartini?

PRAM: Kartini? Mestinya saya punya empat jilid tulisan tangan Kartini. Dibakar sama militer. Tulisan itu hasil studi lapangan. Menemui saudara-saudaranya. Malah saya punya buku keluarga, masih lulisan Jawa. Itu dibakar semuanya. Kartini, itu orang luar biasa. Mendirikan sekolah dgn tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dgn pendidikan barat, waktu itu.

PLAYBOY: Tapi akhirnya dia menyerah pada keadaan, kawin dgn Bupati.

PRAM: Dia mesti mendengarkan kemauan keluarga. & keluarga disuruh oleh Residen. Biasa waktu itu.

HAPPY: Menurut Anda, perempuan itu yg penting cantik atau pintar?

PRAM: Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.

PLAYBOY: Dalam Mereka yg Dilumpuhkan, Anda menulis perempuan Sunda harganya paling tinggi. Maksud Anda?

PRAM: Itu karena perkebunan-perkebunan teh Jawa Barat banyak dikuasai Bclanda. Akhirnya anak-anaknya banyak yg jadi Indo [setengah bule].

HAPPY: Dari semua negara yg pernah Anda kunjungi, perempuan mana yg paling cantik?

PRAM: Dari Cina [tertawa].

PLAYBOY: Ada apa dgn perempuan Cina? Apa karena Cina di masa muda Anda adalah Cina yg sedang membentuk jati diri nasionalismenya?

PRAM: Di antaranya. Dinamika dalam masyarakatnya.

PLAYBOY: Dalam Hoakiau di Indonesia Anda memhantah anggapan sebelumnya tentang kolonialisme mengistimewakan masyarakat etnis Cina. Sekarang, etnis Cina teristimewakan secara ekonomi tidak?

PRAM: Mereka itu punya produktivitas yg lebih dari pribumi. Ini yg membuat mereka jadi bersinar. Bukan hanya Cina di sini. Cina di negerinya sendiri. Produktivitasnya lebih hebat.

PLAYBOY: Pernah merasa malu jadi orang Indonesia?

PRAM: Saya bangga jadi orang Indonesia. Penyebab seorang diri saya menulis. & itu yg mendapat berkahnya bangsa. Saya nggak merasa kecil hati sebagai anak bangsa. Saya merasa berjasa. Karya sudah diterjemahkan.

PLAYBOY: Tapi Anda diasingkan kc Pulau Buru tanpa ada pengadilan dulu?

PRAM: Bukan suatu kesalahan jadi anggota Lekra.

PLAYBOY: Kekuasaan belum berpihak pada kesejarahan yg benar, berarti bangsa ini akan tetap hegini?

PRAM: Itu bagaimana yg membuatnya saja. Sejarah itu kan, pribadi-prihadi yg bikin. Terserah yg bikinnya saja. Ya kalau kekuasaan nggak memperhatikan sejarah, publik yg memperhatikan. Itu nggak bisa dilarang, hak publik. Setiap terpelajar mulailah mendokumentesikan sejarah. Supaya setiap disaat punya bahan yg bisa dipakai. Tanpa dokumentasi, gerayangan saja. & mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indoncsia. Mesti dimulai.

PLAYBOY: Kenapa Anda sangat bersemangat dalam perihal sejarah?

PRAM: Lihat. Bangsa Indoncsia itu praktis belum memulai mcndokumentasi sesuatu. Bagaimana tahu sejarah? Wong sumbernya di situ. Mendokumentasikan berita koran, belum jadi tradisi. Saya mulai memang, tapi belum jadi tradisi. Kita nggak belajar dari Barat. Kurang belajar dari Barat. Sehingga tentang Indonesia, orang Barat yg nulis. Yg perlu itu, kebutuhan buat jadi bangsa yg modern. Bahkan kita nggak memerlukan tradisi warisan nenek moyg scndiri. Semua menjadi beban. Lebih baik dibuang saja. saya sendiri sudah memhuang Javanisme dalem diri saya.

PLAYBOY: Tapi kan manusia suka romantisme masa lalu?

PRAM: Itu hak seiiap orang buat suka ini, suka itu. Tapi, perlu atau nggak. Yg kita perlukan itu yg akan datang. & ini perlu kesiapan.

PLAYBOY: Apa perihal dari Kejawaan yg anda rindukan? Wayg misalnya>

PRAM: Saya nggak suka wayang. Pertama, itu bukan Jawa, tapi India. Wayg sudah berhenti sejak umur 17-an, karena nggak ada. Saya pindah ke Jakarka kan nggak ada. Saya ingin mendengar gamelan. Itu ada kasetnva, tapi nggak ada vang memasangkan.

PLAYBOY: Kenapa gamelan?

PRAM: Rindu saja. Itu sejak kecil musik saya gamelan. Gamelan itu merupakan mahkota. Saya puluhan tahun nggak dengar gamelan.

PLAYBOY: Banyak vang menganggap dalam Arok Dedes, Ken Arok sebagai simholisasi karakter Soeharto. Apa yand sama & apanya yg tidak?

PRAM: Lhoo nggak tahu saya. Siapa yand bikin? Bukan saya yg membandingkan.

PLAYBOY: Menurut Anda, sama?

PRAM: Soalnva bukan sama. Harto masih hidup, Arok sudah nggak ada [tertawa].

PLAYBOY: Mungkin orang melihat kesamaannya, dalama pendkhianatannya?

PRAM: Soeharto orang yg nggak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri, sampai sekarang. Perebutaan kekuasaan saja.

PLAYBOY: Tidak ingin bertemu Soeharto?

PRAM: Nggak mau saya. Tapi dia pernah kirim surat. Dia bilang, kesalahan itu manusiawi. Tapi kita mesti punya keberanian buat yg benar & dibenarkan.

PLAYBOY: Bagaimana pandangan Anda terhadap penguasa sekarang?

PRAM: Saya nggak percaya sama yg berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya menulis buat mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yg sewenang-wenangnya.

PLAYBOY: Pada kekuasaan seperti apa Anda akan percaya?

PRAM: Yg benar. Apa yg diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yg ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yg begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Sueharto, kok nggk melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selaman angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yg bakal jadi pemimpin.

PLAYBOY: Orde Baru juga membandun membangun gerakan pemuda dgn caranya sendiri. Kalau masih sebagai alat politis juga?

PRAM: Ini dunia. Bukan sorga. Ada yg baik & yg jelek. Berkembang bersama-sama.

PLAYBOY: Menurut Anda sejarah kepemimpinan kita berhenti sampai Soekarno?

PRAM: Soekarno itu suatu contoh. Dia menguasai persoalan budaya, politik, geografi. Sekarang ini geografi nggak dapat perhatian apa-apa. Persoalannya, ini tanah air lebih banyak lautnya daripada daratnya. Itu sudah masalah. & kekuasaan di lauf nggak punya. Kekuasaan di darat terus. Belum pernah ada pernyataan Indonesia itu negara maritim. Belum pernah ada.

PLAYBOY: Soekarno satu-satunya pemimpin ideal di mata Anda. Tapi, karena Hoakiau di Indonesia dua memenjarakan Abda.

PRAM: Oh yg memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno.

PLAYBOY: Anda masih punya dendam terhadap militer?

PRAM: Saya nggak suka militer Indonesia. Itu grup bersenjata menghadapi rakyat yg nggak bersenjata. Kalau ada perang internasional, lari terbirit-birit. Karena biasanya yg dilawan rakyat tanpa senjata. Tapi saya nggak punya dendam kepada siapapun. Semua saya anggap tantangan sport. Saya menjawabnya, dgn menulis. Itu yg saya bisa. & sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa karya-karya saya. Seluruh dunia, kecuali Afrika yg belum pernah diterjemahkan.

PLAYBOY: Mendendam kepada pembakaran & perampasan karya Anda dulu?

PRAM: Wah, saya nggak bisa memaafkan. Yg dibakar aja delapan. Belum yg hilang di penerbit-penerbit. Nggak tahu kok, sejarah saya sejarah perampasan. Nggak ngerti saya. Ini pendengaran saya juga hilang. Ini kerjaan militer juga, yg bikin saya setengah tuli. Dihajar pakai popor senapan.

PLAYBOY: Anda sakit hati?

PRAM: Itu semua saya sekali lagi terima sebagai tantangen sport. Rumah dirampas sejak tahun ‘65 sampai sckarang. Nggak ngerti saya, orang kok bisa begitu. & perpustakaan yg dikumpulkan puluhan tahun, dibakar begitu saja. Saya nggak ngerti orang bisa begitu. Belum naskah asli delapan yg belum sempurna, dibakar. Ini nggak bisa saya maafkan.

PLAYBOY: Setelah itu habis, Anda pernah berusaha menuliskannya lagi?

PRAM: Nggak bisa. Mood-nya sudah lain. Nulis lagi nggak bisa. Perpustakaan dibakar. Salahnya apa? Saya mengumpulkan satu demi satu belasan tahun itu, tapi sekarang sudah ada lagi perpustokaan di lantai tiga, kalau mau lihat.

PLAYBOY: Pandangan Anda terhadap anak-anak Soekarno?

PRAM: Nggak ada istimewanya. Tidak seperti bapaknya. Ke sini pun pada nggak.

PLAYBOY: Anda dekat dgn Soekarno?

PRAM: Kadang-kadang ngajak ketemu. Dia juga tidak kenal saya. Pernah nanya, Mas Pram Islamolog ya? [tertawa].

PLAYBOY: Ada anggapan negara ini teralu besar buat dipertahankan sebagai negara kesatuan. Menurut Anda?

PRAM: Ini secara geografi, Indonesia itu memang satu. Dulu namanya Nusantara waktu Majapahit. Waktu Singasari, Dipanatara. Dipa itu benteng. Renteng antara dua benua. Nusantara, kepulauan antara dua benua.

PLAYBOY: Kalau Indonesia menjadi negara federasi?

PRAM: Itu terserah kehendak publik. Cuma, kalau federal ya aturannya jadi banyak sekali. Sctiap daerah punya aturan sendiri.

PLAYBOY: Anda juga sering protes soal nama Indonesia.

PRAM: Persoalannya yg menamai [Indonesia] itu Inggris.

PLAYBOY: Harusnva?

PRAM: Nusantara saja cukup. Atau Dipantara.

PLAYBOY: Katanva, Bumi Manusia sudah dibeli right-nya. Konon, Oliver Stone mau mengambil hak buat filmnya. Kenapa Anda menolak?

PRAM: Cuma US$60 ribu [tertawa].

PLAYBOY. Tapi, Anda menjualnva ke seorang pengusaha Indonesia?

PRAM: Itu satu setengah milyar. & mesti tunai.

PLAYBOY: Jadi persoalannya cuma karena harga. Tapi kan magnitude-nya berbeda kalau Hollywood yg membeli?

PRAM: Tcrserah pembuatnya saja. Saya nggak mencampuri itu. Haknya pembeli.

PLAYBOY: Selain Bumi Manusia, yg sudah dibeli film right-nya, apalagi?

PRAM: Ini yg sedang dalam pcmbicaraan itu, Mangir. Tapi saya nggak ingat siapa orangnya. Nama-nama & angka sulit saya ingat.

PLAYBOY: Punya harapan terhadap film itu kalau,jadi nantinya?

PRAM: Terserah. Itu hak pcmbeli.

PLAYBOY: Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan buat menontonnya dulu sebelum mcninggal?

PRAM: Sulit melihat saya. Nggak lahu ini mata, kok mengganggu saya.

PLAYBOY: Bagaimana Anda melihat kondisi penulis sekarang?

PRAM: Pengalaman hidup lain dari penulis-penulis haru ini. Jadi, rasa-rasanya ya kurang sreg gitu [tertawa].

PLAYBOY: Terakhir Anda baca apa?

PRAM: Wah sudah sulit saya haca. Paling koran & kliping. Buku ya selintas saja. Matanya sudah sulit buat melihat. Inilah anehnya jadi tua [tertawa]. Pikun. Kacamata dicari-cari tahunya dipakai.

PLAYBOY: Puisi?

PRAM: Nggak pernah. Satu puisi yg pcrnah saya baca, karya Chairil. Hidup saya prosais. Walaupun dulu pernah buat dua, tiga puisi. Nggak ada kesan. Kecuali karya Chairil yg “Aku”. Pada waktu itu pendudukan Jepang yg kejam sekali. & Chairil menantangkan. ‘Saya binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.’ Itu kan menolak Jepang. Dia nggak mau jadi budaknya Jepang. Sajak itu membuat ditangkap Polisi Militer Jepang. Tapi dilepas lagi. Luar biasa itu. Menantang kekuasaan militer Jepang.

PLAYBOY: Ada yg menganggap Chairil tidak bisa menulis, menurut Anda?

PRAM: Dia kan terlampau muda matinya. Saya pernah ketemu sckali saja di atas keretaapi, di Karawang. Dia megangin tangan temannya. ‘Kau yg bertanggungjawab ya. Kau yg bcrtanggungjawab ya.’ Mungkin takut dia. Karawang kan pusat Laskar Rakyat.

PLAYBOY: Selain kliping, apa lagi yg biasanya Anda kerjakan di rumah ini?

PRAM: Bakar sampah. Pagi biasanya setengah lima saya bangun. Masih sepi semua & belum tentu ada kopi. Saya nempel-nempel kliping. Sudah ada delapan meter mungkin kliping. Jadi nanti kalau oranq cari apa-apa, klipingnya sudah disusun menurut abjad. & saya rasa nggak ada yg bikin kliping. Itu nanti siapa saja boleh kalau mau cari informasi di kliping. Tapi masalahnya geografi saja. Saban hari bertambah.

PLAYBOY: Apa kenikmatan membakar sampah?

PRAM: Ada kenikmatannya, aku bisa bilang: ‘lihat, aku bisa hancurkan kau!’ [tertawa].

PLAYBOY: Selain kliping & bakar sampah, apa lagi yg Anda kerjakan?

PRAM: Jalan. Mondar-mandir. Membetulkan cabang-cabang yg nggak perlu, dibabat. Saya senang di sini, nggak terganggu keributan kota. Melihat ke sana lihat rumput, lihat kolam ikan, kolam renang. Nggak ada keinginan apa-apa lagi.

PLAYBOY: Siapa yg mengajak Anda pindah ke sini?

PRAM: Ada orang dekat menawarkan tanah. Saya mau karena jauh dari Jakarta. Nggak kuat saya di Jakarta. Di sini sejuk. Anginnya sehat. Jakarta itu air tanahnya sudah campur tai semua. ltu masalah pokok. Belum macetnya. Belum kejahatannya. Sepanjang jalan kejahatan melulu.

PLAYBOY: Kenapa tidak kembali ke Blora?

PRAM: Nggak. Kalau pulang kc Blora, ingat kesedihan waktu kecil. Jam setengah lima sudah mesti belanja ke pasar. Pulang terus sekolah. Pulang sekolah, cari kayu bakar. Ngurus kambing, ngurus adik-adik. Apalagi waktu orangtua meninggal semua. Semua jatuh ke tangan saya, sebagai anak pertama. Nyekolahkan, kasih makan.

PLAYBOY: Masih ingat tulisan pertama Anda?

PRAM: Kan sudah dibakari militer. Ada waktu di SD saya nulis naskah. Saya kirim ke penerbit Kediri, Tan Kun Shui. Ditolak [tertawa]. Ceritanya macem-macem. Nggak bisa mengingat lagi. Ya itu pembakaran tahun ‘65. Kehilangan banyak naskah.

PLAYBOY: Tidak pernah mcncoba rokok selain Djarum?

PRAM: Nggak. Kebiasaan saja. Ini Djarum asbaknya. Pernah coba rokok putih. Nggak cocok.

PLAYBOY: Sewaktu di Pulau Buru kan tidak selalu bisa beli rokok?

PRAM: Menanam sendiri tembakaunya. Kerasnya persetan. & kulitnya, kalau nggak ada kertas, Injil segala dipakai [tertawa].

PLAYBOY: Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang perihal yg tidak Anda percaya?

PRAM: Ya makin tidak percaya [tertawa].

PLAYBOY: Hasil membaca buku tentang Hindu & Budha melahirkan Arok Dedes. Kenapa tidak ada buku hasil refleksi Anda tentang hubungan Islam & Kristen?

PRAM: Waktu itu belum jadi persoalan. Belum ada Kristen-Islam.

PLAYBOY: Selama di Pulau Buru, tidak pernah memikirkan kebutuhan biologis?

PRAM: Nggak berbuat apa-apa. Diterima saja semuanya sebagaimana adanya. Semua kan dicurahkan pada tulisan.

PLAYBOY: Apa yg paling tidak bisa Anda lupakan dari Pulau Buru?

PRAM: Banyak. Antaranya saya menemukan mangga di pinggir kali. Lantas, saya kembangbiakkan. Jadi banyak. Nanti kalau ke Buru, ada pohon mangga, ingat saya [tertawa]. Tadinya nggak ada di pedalaman. Saya melihara ayam delapan. Telornya itu buat beli rokok, beli kertas, beli karbon di pelabuhan. Karena saya kan di pedalaman. & saya senang sekali, sekarang Pulau Buru jadi gudang beras Maluku. Pekerjaan kami itu. Jalanan kami bikin sepanjang 175 km. Belum sawahnya. Belum irigasinya. Belum ladangnya. Kalau sore itu udaranya dihiasi pelangi. Kalau hujan, air dgn keras turun ke bawah. Ikan melawan arus air hujan. Tinggal tangkap saja. Berkarung-karung itu [tertawa].

Sumber: PLAYBOY, Edisi I, April 2006


we hope Wawancara dgn Pramoedya di Majalah Playboy are solution for your problem.

If you like this article please share on:

Archives

Categories

20HadiahLebaran aceh active Ada ada saja adsense aids anak antik Artikel Artis asma Bahasa bahasaindonesia baju band batuk bayi bekas belajar bencana Berita Berita Ringan big panel biologi bisnis bisnis online Blog Bola budidaya buku bunga burner burung cerai Cerpen chandra karya Cinta ciri cpns cuti cv daerah desain diare diet coke diet plan dinas domisili ekonomi email euro exterior fashion fat Film FISIP foke forex format FPI furniture gambar game gejala gempa geng motor geografi gigi ginjal Girlband Indonesia graver GTNM gunung gurame guru haga haki hamil harga hasil hepatitis hernia hiv Hukum hunian ibu ijin ikan indonesia Info Informasi Information Inggris Inspirational interior Internet Intertainment izin jadwal jakarta janin jantung jati Joke jokowi kamar kamarmandi kampus kantor. karyailmiah keguguran kemenag kemenkes kendala kerja kesanggupan kesenian kesepakatan keterangan kisi kkm klaim Komik Komputer kontrak kop korea lagu lamaran lambung legalisir lemari Lifestyle ligna Linux lirik Lirik Lagu Lowongan Kerja magang mahasiswa makalah Malignant Fibrous Hystiocytoma marketing Matematika mebel medan meja melahirkan menikah merk mesothelioma mesothelioma data mimisan mimpi minimalis Misteri mobil modern modul motivasi motor mp3 mual mulut mutasi Naruto news ngidam nikah nisn noah nodul nomor surat Novel novil Olah Raga Olahraga olympic opini pagar panggilan paper paspor paud pelatihan pembelian pemberitahuan pemerintah penawaran pendidikan pengantar pengertian pengesahan pengetahuan pengumuan pengumuman pengumumna Pengunduran pengurusan penyakit penyebab perjanjian perkembangan Permohonan pernyataan perpanjangan persiapan bisnis Pertanian perumahan perusahaan perut peta phones photo Pidato pilkada pimpinan pindah plpg PLS postcard pringatan Printer Tips profil Profil Boyband properti property proposal prumahan Psikologi-Psikiater (UMUM) Puisi quote Ramalan Shio rekomendasi relaas resensi resignation resmi Resume rpp ruang rumah rupa sakit sambutan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) second sejarah sekat sekolah Selebritis seni sergur series sertifikat sinopsis Sinopsis Film Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan sitemap skripsi sm3t smd sni snmptn soal Software sosial springbed starbol stnk sukhoi sumatera surabaya surat suratkuasa Surveilans Penyakit tafsir tahap Tahukah Anda? tanda tas television teraphy Tips Tips dan Tricks Seks Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum toko Tokoh Kesehatan top traditional tsunami tugas ucapan ujian uka un undangan undian universitas unj unm unp upi uu Video virus walisongo wanita warnet