Showing posts with label Sistem Kardiovaskuler. Show all posts
Showing posts with label Sistem Kardiovaskuler. Show all posts

Askep Decomp. Cordis

Decompensasi Cordis

A. Pengertian
Decompensasi cordis ; kegagalan jantung dalam upaya buat mempertahankan peredaran darah sesuai dgn kebutuhan tubuh.(Dr. Ahmad ramali.1994)

Dekompensasi kordis ; suatu keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan fungsi kontraktilitas berakibat pada penurunan fungsi pompa jantung (Tabrani, 1998; Price, 1995).

B. Etiologi
Mekanisme fisiologis menyebabkan timbulnya dekompensasi kordis ; keadaan-keadaan meningkatkan beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan meningkatkan beban awal seperti regurgitasi aorta, & cacat septum ventrikel. Beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta atau hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada infark miokard atau kardiomiyopati.

Faktor lain dapat menyebabkan jantung gagal sebagai pompa ; gangguan pengisisan ventrikel (stenosis katup atrioventrikuler), gangguan pada pengisian & ejeksi ventrikel (perikarditis konstriktif & temponade jantung). Dari seluruh penyebab tersebut diduga paling mungkin terjadi ; pada setiap kondisi tersebut mengakibatkan pada gangguan penghantaran kalsium di dalam sarkomer, atau di dalam sistesis atau fungsi protein kontraktil (Price. Sylvia A, 1995).

C. Klasifikasi
Berdasarkan bagian jantung mengalami kegagalan pemompaan,gagal jantung terbagi atas gagal jantung kiri,gagal jantung kanan,& gagal jantung kongestif.

Pada gagal jantung kiri terjadi dyspneu d’effort,fatigue,ortopnea,dispnea nocturnal paroksismal,batuk,pembesaran jantung,irama derap,ventricular heaving,bunyi derap S3 & S4,pernapasan cheyne stokes,takikardi,pulsusu alternans,ronkhi & kongesti vena pulmonalis.

Pada gagal jantung kanan timbul edema,liver engorgement,anoreksia,& kembung.Pada pemeriksaan fisik didapatkan hipertrofi jantung kanan,heaving ventrikel kanan,irama derap atrium kanan,murmur,tkita tkita penyakit paru kronik,tekanan vena jugularis meningkat,bunyi P2 mengeras,asites,hidrothoraks,peningkatan tekanan vena,hepatomegali,& pitting edema.

Pada gagal jantung kongestif terjadi manifestasi gabungan gagal jantung kiri & kanan. New York Heart Association (NYHA) membuat klasifikasi fungsional dalam 4 kelas :
  1. Kelas 1;Bila pasien dapat melakukan aktivitas berat tanpa keluhan.
  2. Kelas 2;Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas lebih berat dari aktivitas sehari hari tanpa keluhan.
  3. Kelas 3;Bila pasien tidak dapat melakukan aktivitas sehari hari tanpa keluhan.
  4. Kelas 4;Bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan aktivits apapun & harus tirah baring.

D. Patofisiologi
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas myokard khas pada gagal jantung akibat penyakit jantung iskemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri menurun mengurangi curah sekuncup,& meningkatkan volume residu ventrikel. Sebagai respon terhadap gagal jantung,ada tiga mekanisme primer dapat di lihat :
  • Meningkatnya aktivitas adrenergic simpatik,
  • Meningkatnya beban awal akibat aktivasi system rennin angiotensin aldosteron, dan
  • Hipertrofi ventrikel.
Ketiga respon kompensatorik seperti ini mencerminkan usaha buat mempertahankan curah jantung.
Kelainan pada kerja ventrikel & menurunnya curah jantung biasanya tampak pada keadaan beraktivitas. Dgn berlanjutnya gagal jantung maka kompensasi akan menjadi semakin kurang efektif. Meurunnya curah sekuncup pada gagal jantung akan membangkitkan respon simpatik kompensatorik. Meningkatnya aktivitas adrenergic simpatik merangang pengeluaran katekolamin dari saraf saraf adrenergic jantung & medulla adrenal.Denyut jantuing & kekuatan kontraksi akan meningkat buat menambah curah jantung.Juga terjadi vasokonstriksi arteria perifer buat menstabilkan tekanan arteria & redistribusi volume darah dgn mengurangi aliran darah ke organ organ rendah metabolismenya seperti kulit & ginjal, agar perfusi ke jantung & otak dapat dipertahankan.
Penurunan curah jantung pada gagal jantung akan memulai serangkaian peristiwa :
  1. Penurunan aliran darah ginjal & akhirnya laju filtrasi glomerulus,
  2. Pelepasan rennin dari apparatus juksta glomerulus,
  3. Iteraksi rennin dgn angiotensinogen dalam darah buat menghasilkan angiotensin I,
  4. Konversi angiotensin I menjadi angiotensin II,
  5. Perangsangan sekresi aldosteron dari kelenjar adrenal, dan
  6. Retansi natrium & air pada tubulus distal & duktus pengumpul.
Respon kompensatorik terakhir pada gagal jantung ; hipertrofi miokardium atau bertambahnya tebal dinding.Hipertrofi meningkatkan jumlah sarkomer dalam sel-sel miokardium;tergantung dari jenis beban hemodinamik mengakibatkan gagal jantung,sarkomer dapat bertambah secara parallel atau serial.Respon miokardium terhadap beban volume,seperti pada regurgitasi aorta,ditandai dgn dilatasi & bertambahnya tebal dinding.

E. Tkita & gejala
Dampakdari cardiak output & kongesti terjadi sisitem vena atau sisitem pulmonal antara lain :
  • Lelah
  • Angina
  • Cemas
  • Oliguri. Penurunan aktifitas GI
  • Kulit dingin & pucat
Tkita & gejala disebakan oleh kongesti balikdari ventrikel kiri, antara lain :
  • Dyppnea
  • Batuk
  • Orthopea
  • Reles paru
  • Hasil x-ray memperlihatkan kongesti paru.
Tanda-tkita & gejala kongesti balik ventrikel kanan :
  • Edema perifer
  • Distensi vena leher
  • Hari membesar
  • Peningkatan central venous pressure (CPV)

F. Pemeriksaan penunjang
  1. Foto polos dada
    • Proyeksi A-P; konus pulmonalis menonjol, pinggang jantung hilang, cefalisasi arteria pulmonalis.
    • Proyeksi RAO; tampak adanya tanda-tkita pembesaran atrium
      kiri & pembesaran ventrikel kanan.

  2. EKG
    Irama sinus atau atrium fibrilasi, gel. mitral yaseperti itu gelombang P melebar serta berpuncak dua serta tkita RVH, LVH bila lanjut usia cenderung tampak gambaran atrium fibrilasi.
  3. Kateterisasi jantung & Sine Angiografi
    Didapatkan gradien tekanan antara atrium kiri & ventrikel kiri pada saat distol. Selain seperti itu dapat dideteksi derajat beratnya hipertensi pulmonal. Dgn mengetahui frekuensi denyut jantung, besar curah jantung serta gradien antara atrium kiri & ventrikel kiri maka dapat dihitung luas katup mitral.



Asuhan Keperawatan pada Pasien dgn Decompensasi Cordis


A. Pengkajian
  1. Aktivitas & Istirahat
    • Gejala : Mengeluh lemah, cepat lelah, pusing, rasa berdenyut & berdebar.
      Mengeluh sulit tidur (ortopneu, dispneu paroksimal nokturnal, nokturia, keringat malam hari).
    • Tanda: Takikardia, perubahan tekanan darah, pingsan karena kerja, takpineu, dispneu.

  2. Sirkulasi
    • Gejala: Menyatakan memiliki riwayat demam reumatik hipertensi, kongenital: kerusakan arteial septal, trauma dada, riwayat murmur jantung & palpitasi, serak, hemoptisisi, batuk dengan/tanpa sputum, riwayat anemia, riwayat shock hipovolema.
    • Tanda: Getaran sistolik pada apek, bunyi jantung; S1 keras, pembukaan keras, takikardia. Irama tidak teratur; fibrilasi arterial.

  3. Integritas Ego
    • Tanda: menunjukan kecemasan; gelisah, pucat, berkeringat, gemetar. Takut akan kematian, keinginan mengakhiri hidup, merasa tidak berguna, kepribadian neurotik.

  4. Makanan / Cairan
    • Gejala: Mengeluh terjadi perubahan berat badan, sering penggunaan diuretik.
    • Tanda: Edema umum, hepatomegali & asistes, pernafasan payah & bising terdengar krakela & mengi.

  5. Neurosensoris
    • Gejala: Mengeluh kesemutan, pusing
    • Tanda: Kelemahan

  6. Pernafasan
    • Gejala: Mengeluh sesak, batuk menetap atau nokturnal.
    • Tanda: Takipneu, bunyi nafas; krekels, mengi, sputum berwarna bercak darah, gelisah.

  7. Keamanan
    • Gejala: Proses infeksi/sepsis, riwayat operasi
    • Tanda: Kelemahan tubuh

  8. Penyuluhan / pembelajaran
    • Gejala: Menanyakan tentang keadaan penyakitnya.
    • Tanda: Menunjukan kurang informasi.

B. Diagnosa Keperawatan Mungkin muncul
  1. Kerusakan pertukaran gas b.d kongesti paru sekunder perubahan membran kapiler alveoli & retensi cairan interstisiil.
  2. Penurunan curah jantung b.d penurunan pengisian ventrikel kiri, peningkatan atrium & kongesti vena.

C. Inetrvensi
  1. Diagnosa Keperawatan 1. :
    Kerusakan pertukaran gas b.d kongesti paru sekunder perubahan membran kapiler alveoli & retensi cairan interstisiil

    Tujuan :
    Mempertahankan ventilasi & oksigenasi secara adekuat, PH darah normal, PO2 80-100 mmHg, PCO2 35-45 mm Hg, HCO3 –3 – 1,2

    Tindakan
    • Kaji kerja pernafasan (frekwensi, irama , bunyi & dalamnya)
    • Berikan tambahan O2 6 lt/mnt
    • Pantau saturasi (oksimetri) PH, BE, HCO3 (dgn BGA)
    • Koreksi kesimbangan asam basa

    • Beri posisi memudahkan klien meningkatkan ekpansi paru.(semi fowler)
    • Cegah atelektasis dgn melatih batuk efektif & nafas dalam
    • Lakukan balance cairan
    • Batasi intake cairan
    • Eavluasi kongesti paru lewat radiografi
    • Kolaborasi :
      • RL 500 cc/24 jam
      • Digoxin 1-0-0
      • Furosemid 2-1-0

    Rasional
    • Buat mengetahui tingkat efektivitas fungsi pertukaran gas.
    • Buat meningkatkan konsentrasi O2 dalam proses pertukaran gas.
    • Buat mengetahui tingkat oksigenasi pada jaringan sebagai dampak adekuat tidaknya proses pertukaran gas.
    • Mencegah asidosis dapat memperberat fungsi pernafasan.
    • Meningkatkan ekpansi paru
    • Kongesti berat akan memperburuk proses perukaran gas sehingga berdampak pada timbulnya hipoksia.
    • Meningkatkan kontraktilitas otot jantung sehingga dapat meguranngi timbulnya odem sehingga dapat mecegah ganggun pertukaran gas.
    • Membantu mencegah terjadinya retensi cairan dgn menghambat ADH.


  2. Diagnosa Keperwatan 2. :
    Penurunan curah jantung b.d penurunan pengisian ventrikel kiri, peningkatan atrium & kongesti vena.

    Tujuan :
    Stabilitas hemodinamik dapat dipertahanakan dgn kriteria : (TD > 90 /60), Frekwensi jantung normal.

    Tindakan
    • Pertahankan pasien buat tirah baring
    • Ukur parameter hemodinamik
    • Pantau EKG terutama frekwensi & irama.
    • Pantau bunyi jantung S-3 & S-4
    • Periksa BGA & saO2
    • Pertahankan akses IV
    • Batasi Natrium & air
    • Kolaborasi :
      • ISDN 3 X1 tab
      • Spironelaton 50 –0-0

    Rasional
    • Mengurangi beban jantung
    • Buat mengetahui perfusi darah di organ vital & buat mengetahui PCWP, CVP sebagai indikator peningkatan beban kerja jantung.
    • Buat mengetahui bila terjadi penurunan kontraktilitas dapat mempengaruhi curah jantung.
    • Buat mengetahui tingkat gangguan pengisisna sistole ataupun diastole.
    • Buat mengetahui perfusi jaringan di perifer.
    • Buat maintenance bila sewaktu terjadi kegawatan vaskuler.
    • Mencegah peningkatan beban jantung
    • Meningkatkan perfisu ke jaringan
    • Kalium sebagai salah satu komponen terjadinya konduksi dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot jantung.




Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Decomp. Cordis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Decomp. Cordis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Decomp. Cordis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Decomp. Cordis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Decomp. Cordis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Decomp. Cordis

Askep Stroke Non Hemoragik (SNH)

Stroke Non Hemoragik

A. Pengertian

Stroke atau cedera cerebrovaskuler ; kehilangan fungsi otak diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering seperti ini ; kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002 dalam ekspresiku-blogspot 2008).

Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dgn CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) ; gangguan fungsi syaraf disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dgn gejala atau tkita sesuai dgn daerah terganggu.(Harsono, 1996).

Stroke ; manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), berlangsung dgn cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dgn maut, tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vascular.

B. Etiologi

Penyebab-penyebabnya antara lain:

1. Trombosis (bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak).
2. Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain).
3. Iskemia (Penurunan aliran darah ke area otak).(Smeltzer C. Suzanne, 2002).


C. Faktor resiko pada stroke

1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)
3. Kolesterol tinggi
4. Obesitas
5. Peningkatan hematokrit ( resiko infark serebral)
6. Diabetes Melitus (berkaitan dgn aterogenesis terakselerasi)
7. Kontrasepasi oral( khususnya dgn disertai hipertensi, merkok, & kadar estrogen tinggi)
8. Penyalahgunaan obat ( kokain)
9. Konsumsi alkohol (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131).


D. Manifestasi Klinis

Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala seperti itu muncul bervariasi, bergantung bagian otak terganggu.
Gejala-gejala seperti itu antara lain bersifat::

1. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam & hilang sendiri dgn atau tanpa pengobatan. Hal seperti ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap.
2. Sementara,namun lebih dari 24 jam, Gejala timbul lebih dari 24 jam & seperti ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND).
3. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal seperti ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat disebut progressing stroke atau stroke inevolution.
4. Sudah menetap/permanen (Harsono,1996, hal 67).


E. Pemeriksaan Penunjang

1. CT Scan Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia & adanya infark.
2. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.
3. Pungsi Lumbal
* Menunjukan adanya tekanan normal.
* Tekanan meningkat & cairan mengandung darah menunjukan adanya perdarahan.
4. MRI : Menunjukan daerah mengalami infark, hemoragik.
5. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena.
6. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal.(DoengesE, Marilynn,2000).


G. Penatalaksanaan

1. Diuretika : buat menurunkan edema serebral.
2. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis & embolisasi. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131).


DOWNLOAD ASKEP STROKE NON HEMORAGIC Klik Di Sini



Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dgn Stok Non Hemoragic (SNH)


A. Pengkajian

1. Pengkajian Primer
* Airway.
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk.
* Breathing.
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan sulit & / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi.
* Circulation.
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit & membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.

2.
Pengkajian Sekunder
* Aktivitas & istirahat.
Data Subyektif:
o kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
o Mudah lelah, kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot).
Data obyektif:
o Perubahan tingkat kesadaran.
o Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis (hemiplegia), kelemahan umum.
o Gangguan penglihatan.

* Sirkulasi
Data Subyektif:
o Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial), polisitemia.
Data obyektif:
o Hipertensi arterial
o Disritmia, perubahan EKG
o Pulsasi : kemungkinan bervariasi
o Denyut karotis, femoral & arteri iliaka atau aorta abdominal.

* Integritas ego
Data Subyektif:
o Perasaan tidak berdaya, hilang harapan.
Data obyektif:
o Emosi labil & marah tidak tepat, kesediahan , kegembiraan.
o Kesulitan berekspresi diri.

* Eliminasi
Data Subyektif:
o Inkontinensia, anuria
o Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh), tidak adanya suara usus(ileus paralitik)

* Makan/ minum
Data Subyektif:
o Nafsu makan hilang.
o Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK.
o Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia.
o Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah.

Data obyektif:
o Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum & faring)
o Obesitas (faktor resiko).

* Sensori Neural
Data Subyektif:
o Pusing / syncope (sebelum CVA / sementara selama TIA).
o Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
o Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi terkena terlihat seperti lumpuh/mati.
o Penglihatan berkurang.
o Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas & pada muka ipsilateral (sisi sama).
o Gangguan rasa pengecapan & penciuman.

Data obyektif:
o Status mental : koma biasanya menandai stadium perdarahan, gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) & gangguan fungsi kognitif.
o Ekstremitas : kelemahan / paraliysis (kontralateral) pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (kontralateral).
o Wajah: paralisis / parese (ipsilateral).
o Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa), kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.
o Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil.
o Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik.
o Reaksi & ukuran pupil : tidak sama dilatasi & tak bereaksi pada sisi ipsi lateral.

* Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
o Sakit kepala bervariasi intensitasnya.

Data obyektif:
o Tingkah laku tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial.

* Respirasi
Data Subyektif:
o Perokok (factor resiko).

* Keamanan
Data obyektif:
o Motorik/sensorik : masalah dgn penglihatan.
o Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan buat melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh sakit.
o Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, & wajah pernah dikenali.
o Gangguan berespon terhadap panas, & dingin/gangguan regulasi suhu tubuh.
o Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri.

*
Interaksi social
Data obyektif:
o Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi.
(Doenges E, Marilynn,2000).


B. Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
2. Kerusakan mobilitas fisik b.d keterlibatan neuromuskuler, kelemahan, parestesia, flaksid/ paralysis hipotonik, paralysis spastis. Kerusakan perceptual / kognitif.
3. Pola nafas tak efektif berhubungan dgn adanya depresan pusat pernapasan.


C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1. :
Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
Kriteria Hasil :
* Terpelihara & meningkatnya tingkat kesadaran, kognisi & fungsi sensori / motor.
* Menampakan stabilisasi tkita vital & tidak ada PTIK.
* Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan.
Intervensi :
Independen
* Tentukan factor factor berhubungan dgn situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral & potensial PTIK.
* Monitor & catat status neurologist secara teratur.
* Monitor tkita tkita vital.
* Evaluasi pupil (ukuran bentuk kesamaan & reaksi terhadap cahaya).
* Bantu buat mengubah pandangan , misalnay pandangan kabur, perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang.
* Bantu meningkatakan fungsi, termasuk bicara bila pasien mengalami gangguan fungsi.
* Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral.
* Pertahankan tirah baring , sediakan lingkungan tenang , atur kunjungan sesuai indikasi.
* Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi.
* Berikan medikasi sesuai indikasi :
o Antifibrolitik, misal aminocaproic acid (amicar).
o Antihipertensi.
o Vasodilator perifer, missal cyclandelate, isoxsuprine.
o Manitol.

Diagnosa Keperawatan 2. :
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kerusakan batuk, ketidakmampuan mengatasi lendir.
Kriteria Hasil:
* Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas.
* Ekspansi dada simetris.
* Bunyi napas bersih saat auskultasi.
* Tidak terdapat tkita distress pernapasan.
* GDA & tkita vital dalam batas normal.
Intervensi:
* Kaji & pantau pernapasan, reflek batuk & sekresi.
* Posisikan tubuh & kepala buat menghindari obstruksi jalan napas & memberikan pengeluaran sekresi optimal.
* Penghisapan sekresi.
* Auskultasi dada buat mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam.
* Berikan oksigenasi sesuai advis.
* Pantau BGA & Hb sesuai indikasi.

Diagnosa Keperawatan 3. :
Pola nafas tak efektif berhubungan dgn adanya depresan pusat pernapasan
Tujuan :
* Pola nafas pasien efektif
Kriteria Hasil:
* RR 18-20 x permenit
* Ekspansi dada normal.
Intervensi :
* Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan.
* Auskultasi bunyi nafas.
* Pantau penurunan bunyi nafas.
* Pastikan kepatenan O2 binasal.
* Berikan posisi nyaman : semi fowler.
* Berikan instruksi buat latihan nafas dalam.
* Catat kemajuan ada pada klien tentang pernafasan.


DAFTAR PUSTAKA

Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.

Tuti Pahria, dkk, Asuhan Keperawatan pada Pasien dgn Ganguan Sistem Persyarafan, Jakarta, EGC, 1993.

Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, Asuhan Keperawatan Klien Dgn Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes, 1996.

Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC, 2002.

Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC, 2000.

Harsono, Buku Ajar : Neurologi Klinis,Yogyakarta, Gajah Mada university press, 1996.




Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Stroke Non Hemoragik (SNH)
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke Non Hemoragik (SNH)
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke Non Hemoragik (SNH)
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke Non Hemoragik (SNH)
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke Non Hemoragik (SNH)
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke Non Hemoragik (SNH)

Askep Vertigo

VERTIGO

A. Pengertian

Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere artinya memutar. Pengertian vertigo ; : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom terdiri dari gejala somatik (nistagmus, unstable), otonomik (pucat, peluh dingin, mual, muntah) & pusing. Dari (http://www.kalbefarma.com).


B. Etiologi

Menurut (Burton, 1990 : 170) yaseperti itu :
  1. Lesi vestibular :
    • Fisiologik
    • Labirinitis
    • Menière
    • Obat ; misalnya quinine, salisilat.
    • Otitis media
    • “Motion sickness”
    • “Benign post-traumatic positional vertigo”
  2. Lesi saraf vestibularis
    • Neuroma akustik
    • Obat ; misalnya streptomycin
    • Neuronitis
    • vestibular
  3. Lesi batang otak, serebelum atau lobus temporal
    • Infark atau perdarahan pons
    • Insufisiensi vertebro-basilar
    • Migraine arteri basilaris
    • Sklerosi diseminata
    • Tumor
    • Siringobulbia
    • Epilepsy lobus temporal
Menurut (http://www.kalbefarma.com)
  1. Penyakit Sistem Vestibuler Perifer :
    • Telinga bagian luar : serumen, benda asing.
    • Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akuta, otitis media dgn efusi, labirintitis, kolesteatoma, rudapaksa dgn perdarahan.
    • Telinga bagian dalam: labirintitis akuta toksika, trauma, serangan vaskular, alergi, hidrops labirin (morbus Meniere ), mabuk gerakan, vertigo postural.
    • Nervus VIII. : infeksi, trauma, tumor.
    • Inti Vestibularis: infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteria serebeli posterior inferior, tumor, sklerosis multipleks.
  2. Penyakit SSP :
    • Hipoksia Iskemia otak. : Hipertensi kronis, arterios-klerosis, anemia, hipertensi kardiovaskular, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis & insufisiensi aorta, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik, blok jantung.
    • Infeksi : meningitis, ensefalitis, abses, lues.
    • Trauma kepala/ labirin.
    • Tumor.
    • Migren.
    • Epilepsi.
  3. Kelainan endokrin: hipotiroid, hipoglikemi, hipoparatiroid, tumor medula adrenal, keadaan menstruasi-hamil-menopause.
  4. Kelainan psikiatrik: depresi, neurosa cemas, sindrom hiperventilasi, fobia.
  5. Kelainan mata: kelainan proprioseptik.
  6. Intoksikasi.

C. Patofisiologi

Vertigo timbul bila terdapat ketidakcocokan informasi aferen disampaikan ke pusat kesadaran. Susunan aferen terpenting dalam sistem seperti ini ; susunan vestibuler atau keseimbangan, secara terus menerus menyampaikan impulsnya ke pusat keseimbangan. Susunan lain berperan ialah sistem optik & pro-prioseptik, jaras-jaras menghubungkan nuklei vestibularis dgn nuklei N. III, IV & VI, susunan vestibuloretikularis, & vestibulospinalis.
Informasi berguna buat keseimbangan tubuh akan ditangkap oleh reseptor vestibuler, visual, & proprioseptik; reseptor vestibuler memberikan kontribusi paling besar, yaseperti itu lebih dari 50 % disusul kemudian reseptor visual & paling kecil kontribusinya ; proprioseptik.
Dalam kondisi fisiologis/normal, informasi tiba di pusat integrasi alat keseimbangan tubuh berasal dari reseptor vestibuler, visual & proprioseptik kanan & kiri akan diperbandingkan, bila semuanya dalam keadaan sinkron & wajar, akan diproses lebih lanjut. Respons muncul berupa penyesuaian otot-otot mata & penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping seperti itu orang menyadari posisi kepala & tubuhnya terhadap lingkungan sekitar. Bila fungsi alat keseimbangan tubuh di perifer atau sentral dalam kondisi tidak normal/ tidak fisiologis, atau ada rangsang gerakan aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi akan terganggu, akibatnya muncul gejala vertigo & gejala otonom; di samping itu, respons penyesuaian otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal dapat berupa nistagmus, unsteadiness, ataksia saat berdiri/ berjalan & gejala lainnya (http://www.kalbefarma.com).


D. Klasifikasi Vertigo

Berdasarkan gejala klinisnya, vertigo dapat dibagi atas beberapa kelompok :
  1. Vertigo paroksismal
    Yaseperti itu vertigo serangannya datang mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna; tetapi suatu ketika serangan tersebut dapat muncul lagi. Di antara serangan, penderita sama sekali bebas keluhan. Vertigo jenis seperti ini dibedakan menjadi :
    • disertai keluhan telinga :
      Termasuk kelompok seperti ini ; : Morbus Meniere, Arakhnoiditis pontoserebelaris, Sindrom Lermoyes, Sindrom Cogan, tumor fossa cranii posterior, kelainan gigi/ odontogen.
    • tanpa disertai keluhan telinga :
      Termasuk di sseperti ini ; : Serangan iskemi sepintas arteria vertebrobasilaris, Epilepsi, Migren ekuivalen, Vertigo pada anak (Vertigo de L'enfance), Labirin picu (trigger labyrinth).
    • timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi :
      Termasuk di sseperti ini ; : Vertigo posisional paroksismal laten, Vertigo posisional paroksismal benigna.
  2. Vertigo kronis
    Yaseperti itu vertigo menetap, keluhannya konstan tanpa (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 47) serangan akut, dibedakan menjadi:
    • disertai keluhan telinga : Otitis media kronika, meningitis Tb, labirintitis kronis, Lues serebri, lesi labirin akibat bahan ototoksik, tumor serebelopontin.
    • Tanpa keluhan telinga : Kontusio serebri, ensefalitis pontis, sindrom pasca komosio, pelagra, siringobulbi, hipoglikemi, sklerosis multipel, kelainan okuler, intoksikasi obat, kelainan psikis, kelainan kardiovaskuler, kelainan endokrin.
    • Vertigo dipengaruhi posisi : Hipotensi ortostatik, Vertigo servikalis.
  3. Vertigo serangannya mendadak/akut, kemudian berangsur-angsur mengurang, dibedakan menjadi :
    • Disertai keluhan telinga : Trauma labirin, herpes zoster otikus, labirintitis akuta, perdarahan labirin, neuritis n.VIII, cedera pada auditiva interna/arteria vestibulokoklearis.
    • Tanpa keluhan telinga : Neuronitis vestibularis, sindrom arteria vestibularis anterior, ensefalitis vestibularis, vertigo epidemika, sklerosis multipleks, hematobulbi, sumbatan arteria serebeli inferior posterior.
Ada pula membagi vertigo menjadi :
  1. Vertigo Vestibuler: akibat kelainan sistem vestibuler.
  2. Vertigo Non Vestibuler: akibat kelainan sistem somatosensorik & visual.

D. Manifestasi klinik

Perasaan berputar kadang-kadang disertai gejala sehubungan dgn reak & lembab yaseperti itu mual, muntah, rasa kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dgn selaput putih lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur, tinitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, lidah merah dgn selaput tipis.


E. Pemerikasaan Penunjang
  1. Pemeriksaan fisik :
    • Pemeriksaan mata
    • Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
    • Pemeriksaan neurologik
    • Pemeriksaan otologik
    • Pemeriksaan fisik umum.
  2. Pemeriksaan khusus :
    • ENG
    • Audiometri & BAEP
    • Psikiatrik
  3. Pemeriksaan tambahan :
    • Laboratorium
    • Radiologik & Imaging
    • EEG, EMG, & EKG.

F. Penatalaksanaan Medis

Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004: 48) :
Terdiri dari :
  1. Terapi kausal
  2. Terapi simtomatik
  3. Terapi rehabilitatif.

Download Askep Vertigo
click here



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DGN VERTIGO


A. Pengkajian
  1. Aktivitas / Istirahat
    • Letih, lemah, malaise
    • Keterbatasan gerak
    • Ketegangan mata, kesulitan membaca
    • Insomnia, bangun pada pagi hari dgn disertai nyeri kepala.
    • Sakit kepala hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau karena perubahan cuaca.
  2. Sirkulasi
    • Riwayat hypertensi
    • Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
    • Pucat, wajah tampak kemerahan.
  3. Integritas Ego
    • Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
    • Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
    • Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
    • Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
  4. Makanan & cairan
    • Makanan tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
    • Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
    • Penurunan berat badan
  5. Neurosensoris
    • Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
    • Riwayat kejang, cedera kepala baru terjadi, trauma, stroke.
    • Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
    • Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara keras, epitaksis.
    • Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
    • Perubahan pada pola bicara/pola pikir
    • Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
    • Penurunan refleks tendon dalam
    • Papiledema.
  6. Nyeri/ kenyamanan
    • Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
    • Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
    • Fokus menyempit
    • Fokus pada diri sendiri
    • Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
    • Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
  7. Keamanan
    • Riwayat alergi atau reaksi alergi
    • Demam (sakit kepala)
    • Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
    • Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
  8. Interaksi sosial
    • Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial berhubungan dgn penyakit.
  9. Penyuluhan / pembelajaran
    • Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
    • Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi oral/hormone, menopause.

B. Diagnosa Keperawatan (Doengoes, 1999:2021)
  1. Nyeri (akut/kronis) berhubungan dgn stress & ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospressor, peningkatan intrakranial ditandai dgn menyatakan nyeri dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
  2. Koping individual tak efektif berhubungan dgn ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
  3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi & kebutuhan pengobatan berhubungan dgn keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi & kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.

C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1. :
Nyeri (akut/kronis) berhubungan dgn stress & ketegangan, iritasi/ tekanan syaraf, vasospasme, peningkatan intrakranial ditandai dgn menyatakan nyeri dipengaruhi oleh faktor misal, perubahan posisi, perubahan pola tidur, gelisah.
Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
  • Klien mengungkapkan rasa nyeri berkurang
  • Tanda-tkita vital normal
  • pasien tampak tenang & rileks.
Intervensi :
  • Pantau tanda-tkita vital, intensitas/skala nyeri.
    Rasional : Mengenal & memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
  • Anjurkan klien istirahat ditempat tidur.
    Rasional : istirahat buat mengurangi intesitas nyeri.
  • Atur posisi pasien senyaman mungkin
    Rasional : posisi tepat mengurangi penekanan & mencegah ketegangan otot serta mengurangi nyeri.
  • Ajarkan teknik relaksasi & napas dalam
    Rasional : relaksasi mengurangi ketegangan & membuat perasaan lebih nyaman.
  • Kolaborasi buat pemberian analgetik.
    Rasional : analgetik berguna buat mengurangi nyeri sehingga pasien menjadi lebih nyaman.

Diagnosa Keperawatan 2. :
Koping individual tak efektif berhubungan dgn ketidak-adekuatan relaksasi, metode koping tidak adekuat, kelebihan beban kerja.
Tujuan : koping individu menjadi lebih adekuat
Kriteria Hasil :
  • Mengidentifikasi prilaku tidak efektif
  • Mengungkapkan kesadaran tentang kemampuan koping di miliki.
  • Mengkaji situasi saat seperti ini akurat
  • Menunjukkan perubahan gaya hidup diperlukan atau situasi tepat.
Intervensi :
  • Kaji kapasitas fisiologis bersifat umum.
    Rasional : Mengenal sejauh & mengidentifikasi penyimpangan fungsi fisiologis tubuh & memudahkan dalam melakukan tindakan keperawatan.
  • Sarankan klien buat mengekspresikan perasaannya.
    Rasional : klien akan merasakan kelegaan setelah mengungkapkan segala perasaannya & menjadi lebih tenang.
  • Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penenangan & hasil diharapkan.
    Rasional : agar klien mengetahui kondisi & pengobatan diterimanya, & memberikan klien harapan & semangat buat pulih.
  • Dekati pasien dgn ramah & penuh perhatian, ambil keuntungan dari kegiatan dapat diajarkan.
    Rasional : membuat klien merasa lebih berarti & dihargai.

Diagnosa Keperawatan 3. :
Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi & kebutuhan pengobatan berhubungan dgn keterbatasan kognitif, tidak mengenal informasi & kurang mengingat ditandai oleh memintanya informasi, ketidak-adekuatannya mengikuti instruksi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur & proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
  • Melakukan prosedur diperlukan & menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
  • Memulai perubahan gaya hidup diperlukan & ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi :
  • Kaji tingkat pengetahuan klien & keluarga tentang penyakitnya.
    Rasional : megetahui seberapa jauh pengalaman & pengetahuan klien & keluarga tentang penyakitnya.
  • Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya & kondisinya sekarang.
    Rasional : dgn mengetahui penyakit & kondisinya sekarang, klien & keluarganya akan merasa tenang & mengurangi rasa cemas.
  • Diskusikan penyebab individual dari sakit kepala bila diketahui.
    Rasional : buat mengurangi kecemasan klien serta menambah pengetahuan klien tetang penyakitnya.
  • Minta klien & keluarga mengulangi kembali tentang materi telah diberikan.
    Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien & keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan dilakukan.
  • Diskusikan mengenai pentingnya posisi atau letak tubuh normal
    Rasional : agar klien mampu melakukan & merubah posisi/letak tubuh kurang baik.
  • Anjurkan pasien buat selalu memperhatikan sakit kepala dialaminya & faktor-faktor berhubungan.
    Rasional : dgn memperhatikan faktor berhubungan klien dapat mengurangi sakit kepala sendiri dgn tindakan sederhana, seperti berbaring, beristirahat pada saat serangan.

C. Evaluasi

Evaluasi ; perbandingan sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dgn tujuan telah ditetapkan, dilakukan dgn cara berkesinambungan, dgn melibatkan pasien, keluarga & tenaga kesehatan lainnya. (Carpenito, 1999:28)
Tujuan Pemulangan pada vertigo ; :
  1. Nyeri dapat dihilangkan atau diatasi.
  2. Perubahan gaya hidup atau perilaku buat mengontrol atau mencegah kekambuhan.
  3. Memahami kebutuhan atau kondisi proses penyakit & kebutuhan terapeutik.

DAFTAR PUSTAKA

Lynda Juall carpernito, Rencana Asuhan keperawatan & dokumentasi keperawatan, Diagnosis Keperawatan & Masalah Kolaboratif, ed. 2, EGC, Jakarta, 1999.
Marilynn E. Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan pedoman buat perencanaan & pendokumentasian pasien, ed.3, EGC, Jakarta, 1999.
http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/14415 Terapi Akupunktur buat Vertigo.pdf/144_15TerapiAkupunkturuntukVertigo.html
Kang L S,. Pengobatan Vertigo dgn Akupunktur, Cermin Dunia Kedokteran No. 144, Jakarta, 2004.




Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Vertigo
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vertigo
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vertigo
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vertigo
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vertigo
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vertigo

Askep Hipertensi

HIPERTENSI
  1. Pengertian
  2. Hipertensi ; peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih & tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
    Hipertensi ; peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHG & tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHG (Luckman Sorensen,1996).
    Hipertensi ; suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih & tekanan darah diastolic 90 mmHg ataulebih. (Barbara Hearrison 1997)


  3. Etiologi
  4. Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
    Namun ada beberapa faktor mempengaruhi terjadinya hipertensi:
    • Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atautransport Na.
    • Obesitas: terkait dgn level insulin tinggi mengakibatkantekanan darah meningkat.
    • Stress Lingkungan.
    • Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua sertapelabaran pembuluh darah.

    Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
    1. Hipertensi Esensial (Primer)
      Penyebab tidak diketahui namun banyak factor mempengaruhi seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, systemrennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok & stress.
    2. Hipertensi SekunderDapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vakuler renal.
      Penggunaan kontrasepsi oral yaseperti itu pil. Gangguan endokrin dll.

  5. Patofisiologi Hipertensi (Pathway Hipertensi)
    Menurunnya tonus vaskuler meransang saraf simpatis diterukan ke seljugularis. Dari sel jugalaris seperti ini bias meningkatkan tekanan darah. Danapabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin berkaitan dgn Angiotensinogen. Dgn adanya perubahan pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain seperti itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron menyebabkanretensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanandarah. Dgn Peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada organ organ seperti jantung.


  6. Manifestasi Klinis
    Manifestasi klinis pada klien dgn hipertensi ; :
    • Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
    • Sakit kepala
    • Epistaksis
    • Pusing / migrain
    • Rasa berat ditengkuk
    • Sukar tidur
    • Mata berkunang kunang
    • Lemah & lelah
    • Muka pucat
    • Suhu tubuh rendah

  7. Pemeriksaan Penunjang
    • Pemeriksaan Laborat
      • Hb/Ht : buat mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan(viskositas) & dapat mengindikasikan factor resiko seperti : hipokoagulabilitas, anemia.
      • BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi ginjal.
      • Glucosa : Hiperglikemi (DM ; pencetus hipertensi) dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
      • Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal danada DM.
    • CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
    • EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian gelombang P ; salah satu tkita dseperti ini penyakit jantung hipertensi.
    • IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu ginjal,perbaikan ginjal.
    • Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,pembesaran jantung.

  8. Penatalaksanaan
    • Penatalaksanaan Non Farmakologis
      1. DietPembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dgn penurunan aktivitas rennin dalam plasma & kadar adosteron dalam plasma.
      2. Aktivitas
        Klien disarankan buat berpartisipasi pada kegiatan & disesuaikan denganbatasan medis & sesuai dgn kemampuan seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang.
    • Penatalaksanaan Farmakologis
      Secara garis besar terdapat beberapa hal perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
      1. Mempunyai efektivitas tinggi.
      2. Mempunyai toksitas & efek samping ringan atau minimal.
      3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
      4. Tidak menimbulakn intoleransi.
      5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
      6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
      Golongan obat - obatan diberikan pada klien dgn hipertensi sepertigolongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,golongan penghambat konversi rennin angitensin.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dgn Hipertensi


  1. Pengkajian
    • Aktivitas/ Istirahat
      • Gejala : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
      • Tkita :Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
    • Sirkulasi
      • Gejala :Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup & penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
      • Tkita :Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisiankapiler mungkin lambat/ bertunda.
    • Integritas Ego
      • Gejala :Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple(hubungan, keuangan, berkaitan dgn pekerjaan.
      • Tkita :Letupan suasana hat, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
    • Eliminasi
      • Gejala : Gangguan ginjal saat seperti ini atau (seperti obstruksi atau riwayatpenyakit ginjal pada masa lalu).
    • Makanan/cairan
      • Gejala: Makanan disukai mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah & perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic
      • Tanda: Berat ba& normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.
    • Neurosensori
      • Genjala: Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala,subojksipital (terjadi saat bangun & menghilangkan secara spontansetelah beberapa jam) Gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur,epistakis).
      • Tanda: Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara,efek, proses piker, penurunan keuatan genggaman tangan.
    • Nyeri/ ketidaknyaman
      • Gejala: Angina (penyakit arteri koroner/ keterlibatan jantung),sakitkepala.
    • Pernafasan
      • Gejala: Dispnea berkaitan dari kativitas/kerja takipnea,ortopnea,dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
      • Tanda: Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori pernafasan bunyinafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.
    • Keamanan
      • Gejala: Gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

  2. Diagnosa Keperawatan Muncul
    • Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dgn peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
    • Intoleransi aktivitas berhubungan dgn kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai & kebutuhan O2.
    • Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dgn peningkatan tekanan vaskuler serebral.
    • Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dgn gangguan sirkulasi.

  3. Intervensi
    Diagnosa Keperawatan 1. :
    Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dgn peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular.
    Tujuan : Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi iskemia miokard.
    Kriteria Hasil : Klien berpartisifasi dalam aktivitas menurunkan tekanan darah / bebankerja jantung , mempertahankan TD dalam rentang individu dapatditerima, memperlihatkan norma & frekwensi jantung stabil dalam rentangnormal pasien.
    Intervensi :
    • Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset & tehnik tepat.
    • Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral & perifer.
    • Auskultasi tonus jantung & bunyi napas.
    • Amati warna kulit, kelembaban, suhu & masa pengisian kapiler.
    • Catat edema umum.
    • Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
    • Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
    • Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
    • Lakukan tindakan nyaman spt pijatan punggung & leher
    • Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
    • Pantau respon terhadap obat buat mengontrol tekanan darah
    • Berikan pembatasan cairan & diit natrium sesuai indikasi
    • Kolaborasi buat pemberian obat-obatan sesuai indikasi.

    Diagnosa Keperawatan 2. :
    Intoleransi aktivitas berhubungan dgn kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai & kebutuhan O2.
    Tujuan : Aktivitas pasien terpenuhi.
    Kriteria Hasil :Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas di inginkan / diperlukan,melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas dapat diukur.
    Intervensi :
    • Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dgn menggunkan parameter :frekwensi nadi 20 per menit diatas frekwensi istirahat, catat peningkatanTD, dipsnea, atau nyeridada, kelelahan berat & kelemahan, berkeringat,pusig atau pingsan. (Parameter menunjukan respon fisiologis pasienterhadap stress, aktivitas & indicator derajat pengaruh kelebihan kerja/ jantung).
    • Kaji kesiapan buat meningkatkan aktivitas contoh : penurunan kelemahan / kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian padaaktivitas & perawatan diri. (Stabilitas fisiologis pada istirahatpenting buat memajukan tingkat aktivitas individual).
    • Dorong memajukan aktivitas / toleransi perawatan diri. (Konsumsioksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatantiba-tiba pada kerja jantung).
    • Berikan bantuan sesuai kebutuhan & anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi / rambut dgn duduk & sebagainya. (teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi & sehingga membantu keseimbangan suplai & kebutuhan oksigen).
    • Dorong pasien buat partisifasi dalam memilih periode aktivitas.(Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas danmencegah kelemahan).

    Diagnosa Keperawatan 3. :
    Gangguan rasa nyaman : nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dgn peningkatan tekanan vaskuler serebral
    Tujuan :
    Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat.
    Kriteria Hasil :Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala & tampak nyaman.
    Intervensi :
    • Pertahankan tirah baring, lingkungan tenang, sedikit penerangan
    • Minimalkan gangguan lingkungan & rangsangan.
    • Batasi aktivitas.
    • Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin.
    • Beri obat analgesia & sedasi sesuai pesanan.
    • Beri tindakan menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi.

    Diagnosa keperawatan 4. :
    Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dgn gangguan sirkulasi.
    Tujuan : Sirkulasi tubuh tidak terganggu.
    Kriteria Hasil :Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan membaik seperti ditunjukkan dgn : TD dalam batas dapat diterima, tidak ada keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas normal.
    Intervensi :
    • Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur.
    • Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dgn pemantau tekanan arteri bila tersedia.
    • Pertahankan cairan & obat-obatan sesuai pesanan.
    • Amati adanya hipotensi mendadak.
    • Ukur masukan & pengeluaran.
    • Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan.
    • Ambulasi sesuai kemampuan; hindari kelelahan.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman buat Perencanaan & Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000
Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
Sobel, Barry J, et all. Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis & Terapi, Jakarta, Penerbit Hipokrates, 1999
Kodim Nasrin. Hipertensi : Besar Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003
Smith Tom. Tekanan darah Tinggi : Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Semple Peter. Tekanan Darah Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan, 1996
Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002
Chung, Edward.K. Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh Petrus Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995
Marvyn, Leonard. Hipertensi : Pengendalian lewat vitamin, gizi & diet, Jakarta, Penerbit Arcan, 1995
Tucker, S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis & evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998




Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Hipertensi
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Hipertensi
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Hipertensi
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Hipertensi
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Hipertensi
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Hipertensi

Tinjauan Teoritis: Stroke

Stroke

A. Pengertian

Stroke ; deficit neurologist akut disebabkan oleh gangguan aliran darah timbul secara mendadak dgn tkita & gejala sesuai dgn daerah fokal otak terkena (WHO, 1989).



B. Klasifikasi stroke

Berdasarkan proses patologi & gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :
  1. Stroke hemoragik
    Terjadi perdarahan cerebral & mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun & penyebab paling banyak ; akibat hipertensi tidak terkontrol.
  2. Stroke non hemoragik
    Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik & terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak.
  3. Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaseperti itu :
    • TIA’S (Trans Ischemic Attack)

      Yaseperti itu gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja & gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
    • Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict)

      Gangguan neurologist setempat akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu & maksimal 3 minggu.
    • Stroke in Volution

      Stroke terjadi masih terus berkembang dimana gangguan muncul semakin berat & bertambah buruk. Proses seperti ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari.
    • Stroke Komplit

      Gangguan neurologist timbul bersifat menetap atau permanent.


C. Etiologi

Ada beberapa factor risiko stroke sering teridentifikasi, yaseperti itu :
  1. Hipertensi, dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses seperti ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral.
  2. Aneurisma pembuluh darah cerebral
    Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dgn maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
  3. Kelainan jantung / penyakit jantung
    Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi & endokarditis. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output & menurunkan aliran darah ke otak. Ddisamping seperti itu dapat terjadi proses embolisasi bersumber pada kelainan jantung & pembuluh darah.
  4. Diabetes mellitus (DM)
    Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeseperti itu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral & adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan terjadi pada pembuluh darah serebral.
  5. Usia lanjut
    Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.
  6. Polocitemia
    Pada policitemia viskositas darah meningkat & aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun.
  7. Peningkatan kolesterol (lipid total)
    Kolesterol tubuh tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis & terbentuknya embolus dari lemak.
  8. Obesitas
    Pada obesitas dapat terjadi hipertensi & peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh drah otak.
  9. Perokok
    Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis.
  10. Kurang aktivitas fisik
    Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak.


D. Patofisiologi
  1. Stroke non hemoragik
    Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia tiba-tiba berkembang cepat & terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
  2. Stroke hemoragik
    Pembuluh darah otak pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid menimbulkan perubahan komponen intracranial seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping itu, darah mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak & penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.


E. Tkita & gejala

Tkita & gejala muncul sangat tergantung pada daerah & luasnya daerah otak terkena.
  1. Pengaruh terhadap status mental
    • Tidak sadar : 30% - 40%
    • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar

  2. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan:
    • Hemiplegia kontralateral disertai hemianesthesia (30%-80%)
    • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%)
    • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%)

  3. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:
    • hemiplegia & hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%)
    • inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana terkena

  4. Daerah arteri serebri posterior
    • Nyeri spontan pada kepala
    • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%)

  5. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan :
    • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak
    • Hemiplegia alternans atau tetraplegia
    • Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan menelan, emosi labil)

Apabila dilihat bagian hemisfer mana terkena, gejala dapat berupa :
  1. Stroke hemisfer kanan
    • Hemiparese sebelah kiri tubuh
    • Penilaian buruk
    • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kontralateral sebagai kemungkinan terjatuh ke sisi berlawanan

  2. Stroke hemisfer kiri
    • mengalami hemiparese kanan
    • perilaku lambat & sangat berhati-hati
    • kelainan bidang pandang sebelah kanan
    • disfagia global
    • afasia
    • mudah frustasi


F. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan penunjang disgnostik dapat dilakukan ; :
  1. Laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, & bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.
  2. CT scan kepala buat mengetahui lokasi & luasnya perdarahan atau infark
  3. MRI buat mengetahui adanya edema, infark, hematom & bergesernya struktur otak
  4. angiografi buat mengetahui penyebab & gambaran jelas mengenai pembuluh darah terganggu.


G. Penatalaksanaan medis

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke ; :
  1. Posisi kepala & ba& atas 20-30 derajat, posisi miring bila muntah & boleh dimulai mobilisasi bertahap bila hemodinamika stabil.
  2. Bebaskan jalan nafas & pertahankan ventilasi adekuat, bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan
  3. Tanda-tkita vital diusahakan stabil
  4. Bed rest
  5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia
  6. Pertahankan keseimbangan cairan & elektrolit.
  7. Kandung kemih penuh dikosongkan, bila perlu lakukan
  8. Kateterisasi
  9. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid & hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik.

  10. Nutrisi per oral hanya diberikan bila fungsi menelan baik. Bila kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.

  11. Penatalaksanaan spesifik berupa:
    • Stroke non hemoragik: asetosal, neuroprotektor, trombolisis, antikoagulan, obat hemoragik
    • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya, neuroprotektor, tindakan pembedahan, menurunkan TIK tinggi.

Askep Stroke

Stroke

A. Pengertian

Stroke ; deficit neurologist akut disebabkan oleh gangguan aliran darah timbul secara mendadak dgn tkita & gejala sesuai dgn daerah fokal otak terkena (WHO, 1989).



B. Klasifikasi stroke

Berdasarkan proses patologi & gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :
  1. Stroke hemoragik

    Terjadi perdarahan cerebral & mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun & penyebab paling banyak ; akibat hipertensi tidak terkontrol.
  2. Stroke non hemoragik

    Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik & terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak.

    Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaseperti itu :
    • TIA’S (Trans Ischemic Attack)

      Yaseperti itu gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja & gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
    • Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict)

      Gangguan neurologist setempat akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu & maksimal 3 minggu.
    • Stroke in Volution

      Stroke terjadi masih terus berkembang dimana gangguan muncul semakin berat & bertambah buruk. Proses seperti ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari.
    • Stroke Komplit

      Gangguan neurologist timbul bersifat menetap atau permanent.


C. Etiologi

Ada beberapa factor risiko stroke sering teridentifikasi, yaseperti itu :

  1. Hipertensi, dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses seperti ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral.
  2. Aneurisma pembuluh darah cerebral

    Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dgn maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
  3. Kelainan jantung / penyakit jantung

    Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi & endokarditis. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output & menurunkan aliran darah ke otak. Ddisamping seperti itu dapat terjadi proses embolisasi bersumber pada kelainan jantung & pembuluh darah.
  4. Diabetes mellitus (DM)

    Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeseperti itu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral & adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan terjadi pada pembuluh darah serebral.
  5. Usia lanjut

    Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.
  6. Polocitemia

    Pada policitemia viskositas darah meningkat & aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun.
  7. Peningkatan kolesterol (lipid total)

    Kolesterol tubuh tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis & terbentuknya embolus dari lemak.
  8. Obesitas

    Pada obesitas dapat terjadi hipertensi & peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh drah otak.
  9. Perokok

    Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis.
  10. Kurang aktivitas fisik

    Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak.


D. Patofisiologi
  1. Stroke non hemoragik

    Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia tiba-tiba berkembang cepat & terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.
  2. Stroke hemoragik

    Pembuluh darah otak pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid menimbulkan perubahan komponen intracranial seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping itu, darah mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak & penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.


E. Tkita & gejala

Tkita & gejala muncul sangat tergantung pada daerah & luasnya daerah otak terkena.
  1. Pengaruh terhadap status mental
    • Tidak sadar : 30% - 40%
    • Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar

  2. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan:
    • Hemiplegia kontralateral disertai hemianesthesia (30%-80%)
    • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%)
    • Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%)

  3. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:
    • hemiplegia & hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%)
    • inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana terkena

  4. Daerah arteri serebri posterior
    • Nyeri spontan pada kepala
    • Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%)

  5. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan :
    • Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak
    • Hemiplegia alternans atau tetraplegia
    • Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan menelan, emosi labil)

Apabila dilihat bagian hemisfer mana terkena, gejala dapat berupa :
  1. Stroke hemisfer kanan
    • Hemiparese sebelah kiri tubuh
    • Penilaian buruk
    • Mempunyai kerentanan terhadap sisi kontralateral sebagai kemungkinan terjatuh ke sisi berlawanan

  2. Stroke hemisfer kiri
    • mengalami hemiparese kanan
    • perilaku lambat & sangat berhati-hati
    • kelainan bidang pandang sebelah kanan
    • disfagia global
    • afasia
    • mudah frustasi


F. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan penunjang disgnostik dapat dilakukan ; :
  1. Laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, & bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.
  2. CT scan kepala buat mengetahui lokasi & luasnya perdarahan atau infark
  3. MRI buat mengetahui adanya edema, infark, hematom & bergesernya struktur otak
  4. angiografi buat mengetahui penyebab & gambaran jelas mengenai pembuluh darah terganggu.


G. Penatalaksanaan medis

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke ; :
  1. Posisi kepala & ba& atas 20-30 derajat, posisi miring bila muntah & boleh dimulai mobilisasi bertahap bila hemodinamika stabil.
  2. Bebaskan jalan nafas & pertahankan ventilasi adekuat, bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan
  3. Tanda-tkita vital diusahakan stabil
  4. Bed rest
  5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia
  6. Pertahankan keseimbangan cairan & elektrolit.
  7. Kandung kemih penuh dikosongkan, bila perlu lakukan
  8. Kateterisasi
  9. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid & hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik.

  10. Nutrisi per oral hanya diberikan bila fungsi menelan baik. Bila kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT.


  11. Penatalaksanaan spesifik berupa:
    • Stroke non hemoragik: asetosal, neuroprotektor, trombolisis, antikoagulan, obat hemoragik
    • Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya, neuroprotektor, tindakan pembedahan, menurunkan TIK tinggi.






Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Stroke
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Stroke

Askep Sifilis

Sifilis


A. PENGERTIAN

Sifilis ; penyakit menular seksual disebabkan oleh Treponema pallidum. Penyakit menular seksual ; penyakit ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit seperti ini sangat kronik, bersifat sistemik & menyerang hampir semua alat tubuh.


B. ETIOLOGI

Penyebab penyakit seperti ini ; Treponema pallidum termasuk ordo spirochaetales, familia spirochaetaceae, & genus treponema. Bentuk spiral, panjang antara 6 – 15 µm, lebar 0,15 µm. Gerakan rotasi & maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara pembelahan melintang, pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.


C. EPIDEMIOLOGI

Asal penyakit tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15 terjadiwabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat. Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat & puncaknya pada tahun 1946, kemudian menurun setelah itu.

Kasus sifilis di Indonesia ; 0,61%. Penderita terbanyak ; stadium laten, disusul sifilis stadium I jarang, & langka ialah sifilis stadium II.


D. PATOFISIOLOGI
  1. Stadium Dini


    Pada sifilis didapat, Treponema pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lendir, biasanya melalui senggama. Kuman tersebut berkembang biak, jaringan bereaksi dgn membentuk infiltrat terdiri atas sel-sel limfosit & sel-sel plasma, terutama di perivaskuler, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi dikelilingi oleh Treponema pallidum & sel-sel radang. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofi endotelium menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S I. Sebelum S I terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen & berkembang biak, terjadi penjalaran hematogen menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Multiplikasi diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II terjadi 6-8 minggu setelah S I. S I akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya. Terbentuklah fibroblas-fibroblas & akhirnya sembuh berupa sikatrik. S II juga mengalami regresi perlahan-lahan lalu menghilang. Timbul stadium laten. Bila infeksi T.pallidum gagal diatasi oleh proses imunitas tubuh, kuman akan berkembang biak lagi & menimbulkan lesi rekuren. Lesi dapat timbul berulang-ulang.
  2. Stadium Lanjut


    Stadium laten berlangsung bertahun-tahun karena treponema dalam keadaan dorman. Treponema mencapai sistem kardiovaskuler & sistem saraf pada waktu dini, tetapi kerusakan perlahan-lahan sehingga memerlukan waktu bertahun-tahun buat menimbulkan gejala klinis. Kira-kira dua pertiga kasus dgn stadium laten tidak memberi gejala.

E. KLASIFIKASI

Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital & sifilis akuisital (didapat). Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis dseperti ini (sebelum dua tahun), lanjut (setelah dua tahun), & stigmata. Sifillis akuisita dapat dibagi menurut dua cara yaitu:
  • Klinis (stadium I/SI, stadium II/SII, stadium III/SIII)
  • Epidemiologik, menurut WHO dibagi menjadi:
    • Stadium dseperti ini menular (dalam satu tahun sejak infeksi), terdiri atas S I, S II, stadium rekuren, & stadium laten dini.
    • Stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut & S III.


F. GEJALA KLINIS

Sifilis Akuisita
  1. Sifilis Dini
    • Sifilis Primer (S I)
    • Sifilis Sekunder (S II)

  2. Sifilis Lanjut


G. PENCEGAHAN

Banyak hal dapat dilakukan buat mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal dapat dilakukan antara lain :
  • Tidak berganti-ganti pasangan
  • Berhubungan seksual aman: selektif memilih pasangan & pempratikkan ‘protective sex’.
  • Menghindari penggunaan jarum suntik tidak steril & transfusi darah sudah terinfeksi.


H. PENATALAKSANAAN
Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4×500 mg/hr, atau eritromisin 4×500 mg/hr, atau doksisiklin 2×100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II & 30 hari buat stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil, efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaseperti itu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.

Obat lain ; golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4×500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan buat S I & S II.

I. PROGNOSIS
Prognosis sifilis menjadi lebih baik setelah ditemukannya penisilin. Bila penisilin tidak diobati, maka hampir seperempatnya akan kambuh, 5% akan mendapat S III, 10% mengalami sifilis kardiovaskuler, neurosifilis, & 23% akan meninggal.

Pada sifilis dseperti ini diobati, angka penyembuhan mencapai 95%. Kelainan kulit akan sembuh dalam 7-14 hari. Pembesaran kelenjar getah bening akan menetap berminggu-minggu.

Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I & S II. Kambuh klinis umumnya terjadi setahun setelah terapi berupa lesi menular pada mulut, tenggorokan, & regio perianal. Selain itu, terdapat kambuh serologik.

Pada sifilis laten lanjut, prognosis baik. Pada sifilis kardiovaskuler, prognosis sukar ditentukan. Prognosis pada neurosifilis bergantung pada tempat & derajat kerusakan.

Sel saraf sudah rusak bersifat irreversible. Prognosis neurosifilis pada sifilis dseperti ini baik, angka penyembuhan dapat mencapai 100%. Neurosifilis asimtomatik pada stadium lanjut juga baik, kurang dari 1% memerlukan terapi ulang

Prognosis sifilis kongenital dseperti ini baik. Pada lanjut, prognosis tergantung pada kerusakan sudah ada.



Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Sifilis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Sifilis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Sifilis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Sifilis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Sifilis
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Sifilis

Askep Aritmia

Aritmia

Pengkajian
  1. Riwayat penyakit
  2. Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi.
  3. Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensi.
  4. Penggunaan obat digitalis, quinidin & obat anti aritmia lainnya kemungkinan buat terjadinya intoksikasi.
  5. Kondisi psikososial


Pemeriksaan Fisik
  • Aktivitas : kelelahan umum
  • Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna & kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun berat.
  • Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
  • Makanan/cairan : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit.
  • Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
  • Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dgn obat antiangina, gelisah.
  • Pernafasan : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
  • Keamanan : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan.


Diagnosa keperawatan & Intervensi

1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dgn gangguan konduksi elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.

Kriteria hasil :
  • Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa.
  • Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
  • Berpartisipasi dalam aktivitas menurunkan kerja miokardia.


Intervensi :
  • Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo & simetris.
  • Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
  • Pantau tkita vital & kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
  • Tentukan tipe disritmia & catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung.
  • Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan buat membatasi aktivitas selama fase akut.
  • Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi.
  • Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas & faktor penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD.
  • Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi.
  • Kolaborasi : Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
  • Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
  • Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
  • Siapkan buat bantu kardioversi elektif
  • Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
  • Masukkan/pertahankan masukan IV
  • Siapkan buat prosedur diagnostik invasif
  • Siapkan buat pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator



2. Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dgn kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.

Kriteria hasil :
  • Menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
  • Menyatakan tindakan diperlukan & kemungkinan efek samping obat.

Intervensi :
  • Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal
  • Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus & tindakan terapeutik pada pasien/keluarga.
  • Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan, perubahan mental, vertigo.
  • Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan; bagaimana & kapan minum obat; apa dilakukan bila dosis terlupakan.
  • Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan.
  • Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium & kafein.
  • Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien buat dibawa pulang.
  • Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dgn tepat
  • Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung & gejala memerlukan intervensi medis.
  • Kaji ulang prosedur buat menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus, manuver Valsava bila perlu.



DAFTAR PUSTAKA

Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994.

Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman buat Perencanaan & pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

Hanafi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2001




Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Aritmia
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Aritmia
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Aritmia
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Aritmia
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Aritmia
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Aritmia

Askep Anak Kejang Demam

Askep Anak Kejang Demam

A.KONSEP DASAR

1.Pengertian
Kejang demam ; terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori bersifat sementara (Hudak and Gallo,1996).
Kejang demam ; serangan pada anak terjadi dari kumpulan gejala dgn demam (Walley and Wong’s edisi III,1996).
Kejang demam ; bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 c) disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kejang seperti ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson, 1995).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam ; bangkitan kejang terjadi karena peningkatan suhu tubuh sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
2. Patofisiologi
a.Etiologi
Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma, bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, & gejala putus alkohol & obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan & anoksia serebral. Sebagian kejang adalah idiopati (tidak diketahui etiologinya).
1)Intrakranial
Asfiksia : Ensefolopati hipoksik – iskemik
Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular
Infeksi : Bakteri, virus, parasit
Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith – Lemli – Opitz.
2)Ekstra kranial
Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan elektrolit (Na & K)
Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.
Kelainan diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan & kekurangan produksi kernikterus.
3)Idiopatik
Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)

b.Patofisiologi

Buat mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi didapat dari metabolisme. Bahan baku buat metabolisme otak terpenting ; glucose,sifat proses seperti itu ; oxidasi dgn perantara pungsi paru-paru & diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.
Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak ; glukosa melalui proses oxidasi, & dipecah menjadi karbon dioksidasi & air. Sel dikelilingi oleh membran sel. terdiri dari permukaan dalam yaseperti itu limford & permukaan luar yaseperti itu tonik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + & elektrolit lainnya, kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi & konsentrasi NA+ rendah. Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena seperti itu perbedaan jenis & konsentrasi ion didalam & diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran disebut potensial nmembran dari neuron. Buat menjaga keseimbangan potensial membran seperti ini diperlukan energi & bantuan enzim NA, K, ATP terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran seperti ini dapat diubah dgn perubahan konsentrasi ion diruang extra selular, rangsangan datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibanding dgn orang dewasa 15 %. & karena seperti itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dgn akibat terjadinya lepasnya muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik seperti ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dgn bantuan bahan disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya & tidak meninggalkan gejala sisa.
Tetapi kejang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA meningkat, kebutuhan O2 & energi buat kontraksi otot skeletal akhirnya terjadi hipoxia & menimbulkan terjadinya asidosis.

c.Manifestasi klinik

Terjadinya bangkitan kejang pada bayi & anak kebanyakan bersamaan dgn kenaikan suhu ba& tinggi & cepat, disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dgn sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.
Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dgn kejang demam, mungkin timbul pertanyaan sifat kejang/gejala manakah mengakibatkan anak menderita epilepsy.
buat seperti itu livingston membuat kriteria & membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaseperti itu :
1.Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)
2.Epilepsi di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever
Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman buat membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaseperti itu :
1.Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun
2.Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.
3.Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali
4.Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5.Pemeriksaan saraf sebelum & sesudah kejang normal
6.Pemeriksaan EEG dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan.

3.Klasifikasi kejang

Kejang adalah pergerakan abnormal atau perubahan tonus ba& & tungkai dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaseperti itu : kejang, klonik, kejang tonik & kejang mioklonik.
a.Kejang Tonik
Kejang seperti ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dgn berat ba& rendah dgn masa kehamilan kurang dari 34 minggu & bayi dgn komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang seperti ini yaseperti itu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dgn ekstensi lengan & tungkai menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai & fleksi lengan bawah dgn bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik menyerupai deserebrasi harus di bedakan dgn sikap epistotonus disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus
b.Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dgn pemulaan fokal & multifokal berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dgn baik, tidak disertai gangguan kesadaran & biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang seperti ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar & cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
c.Kejang Mioklonik
Gambaran klinis terlihat ; gerakan ekstensi & fleksi lengan atau keempat anggota gerak berulang & terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek moro. Kejang seperti ini adalah pertkita kerusakan susunan saraf pusat luas & hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

4.Diagnosa banding kejang pada anak

Adapun diagnosis banding kejang pada anak ; gemetar, apnea & mioklonus nokturnal benigna.
a.Gemetar
Gemetar adalah bentuk klinis kejang pada anak tetapi sering membingungkan terutama bagi belum berpengalaman. Keadaan seperti ini dapat terlihat pada anak normal dalam keadaan lapar seperti hipoglikemia, hipokapnia dgn hiperiritabilitas neuromuskular, bayi dgn ensepalopati hipoksik iskemi & BBLR. Gemetar ; gerakan tremor cepat dgn irama & amplitudo teratur & sama, kadang-kadang bentuk gerakannya menyerupai klonik .
b.Apnea
Pada BBLR biasanya pernafasan tidak teratur, diselingi dgn henti napas 3-6 detik & sering diikuti hiper sekresi selama 10 – 15 detik. Berhentinya pernafasan tidak disertai dgn perubahan denyut jantung, tekanan darah, suhu badan, warna kulit. Bentuk pernafasan seperti ini disebut pernafasan di batang otak. Serangan apnea selama 10 – 15 detik terdapat pada hampir semua bagi prematur, kadang-kadang pada bayi cukup bulan.
Serangan apnea tiba-tiba disertai kesadaran menurun pada BBLR perlu di curigai adanya perdarahan intrakranial dgn penekanan batang otak. Pada keadaan seperti ini USG perlu segera dilakukan. Serangan Apnea termasuk gejala kejang ; apabila disertai dgn bentuk serangan kejang lain & tidak disertai bradikardia.
c.Mioklonus Nokturnal Benigna
Gerakan terkejut tiba-tiba anggota gerak dapat terjadi pada semua orang waktu tidur. Biasanya timbul pada waktu permulaan tidur berupa pergerakan fleksi pada jari persendian tangan & siku berulang. Apabila serangan tersebut berlangsung lama dapat dapat disalahartikan sebagai bentuk kejang klonik fokal atau mioklonik. Mioklonik nokturnal benigna seperti ini dapat dibedakan dgn kejang & gemetar karena timbulnya selalu waktu tidur tidak dapat di stimulasi & pemeriksaan EEG normal. Keadaan seperti ini tidak memerlukan pengobatan

5.Penatalaksanaan

Pada umumnya kejang pada BBLR adalah kegawatan, karena kejang adalah tkita adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat, memerlukan tindakan segera buat mencegah kerusakan otak lebih lanjut.
Penatalaksanaan Umum terdiri dari :
a.Mengawasi bayi dgn teliti & hati-hati
b.Memonitor pernafasan & denyut jantung
c.Usahakan suhu tetap stabil
d.Perlu dipasang infus buat pemberian glukosa & obat lain
e.Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena
Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan. Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dgn dosis 2 – 4 ml/kg BB secara intravena & perlahan kemudian dilanjutkan dgn larutan glukosa 10 % sebanyak 60 – 80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca – glukosa hendaknya disertai dgn monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian dilanjutkan dgn peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin, berikan larutan Ca glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.
Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan 50% Mg SO4 dgn dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV) sebanyak 2 – 6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum menyerupai floppy infant dapat muncul.
Pengobatan dgn antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama buat bayi baru lahir ; Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme sel rusak & memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel rusak karena asfiksia & anoxia). Fenobarbital dgn dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan dalam 2 dosis selama 20 menit.
Banyak penulis tidak atau jarang menggunakan diazepam buat memberantas kejang pada BBL dgn alasan
a.Efek diazepam hanya sebentar & tidak dapat mencegah kejang berikutnya
b.Pemberian bersama-sama dgn fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan
c.Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat dapat menghalangi peningkatan bilirubin dalam darah.

6.Pemeriksaan fisik & laboratorium

a.Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik & neurologik, pemeriksaan seperti ini dilakukan secara sistematis & berurutan seperti berikut :
1)hakan lihat sendiri manifestasi kejang terjadi, misal : pada kejang multifokal berpindah-pindah atau kejang tonik, biasanya menunjukkan adanya kelainan struktur otak.
2)Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma & berlanjut dgn hipoventilasi, henti nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, & terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.
3)Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan disebabkan oleh trauma. Ubun –ubun besar tegang & membenjol menunjukkan adanya peninggian tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh pendarahan sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi lahir dgn kesadaran menurun, perlu dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior disebabkan karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.
4)Terdapatnya stigma berupa jarak mata lebar atau kelainan kraniofasial mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.
5)Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid adalah gejala potogonomik buat hematoma subdural. Ditemukannya korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus & rubella. Tkita stasis vaskuler dgn pelebaran vena berkelok – kelok di retina terlihat pada sindom hiperviskositas.
6)Transluminasi kepala positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
7)Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis & bising jantung, dapat membantu diagnosis iskemia otak.
b.Pemeriksaan laboratorium
Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula dgn cara dextrosfrx & fungsi lumbal. Hal seperti ini berguna buat menentukan sikap terhadap pengobatan hipoglikemia & meningitis bakterilisasi.
Selain seperti itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaseperti itu
1)Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht & Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara berkala penting buat memantau pendarahan intraventikuler.
2)Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia & analisis gas darah.
3)Fungsi lumbal, buat menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, & bila cairan supranatan berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Buat mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung diisi cairan serebro spinal
4)Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia
5)Pemeriksaan EEG penting buat menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan buat menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi menunjukkan EEG latar belakang abnormal & terdapat gelombang tajam multifokal atau dgn brust supresion atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis tidak baik & hanya 12 % diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG dapat juga digunakan buat menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur dgn kejang tidak dapat meramalkan prognosis.
6)Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan buat mendapatkan diagnosis pasti yaseperti itu mencakup :
a)Periksaan urin buat asam amino & asam organic
b)Biakan darah & pemeriksaan liter buat toxoplasmosis rubella, citomegalovirus & virus herpes.
c)Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku
d)USG kepala buat mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular, & vertikular

e) Penataan kepala buat mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial, klasifikasi & kelainan bawaan otak

e)Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif dgn ubun – ubun besar tegang, membenjol & kepala membesar.

7.Tumbuh kembang pada anak usia 1 – 3 tahu
1.Fisik
f.Ubun-ubun anterior tertutup.
g.Physiologis dapat mengontrol spinkter
2.Motorik kasar
a.Berlari dgn tidak mantap
b.Berjalan diatas tangga dgn satu tangan
c.Menarik & mendorong mainan
d.Melompat ditempat dgn kedua kaki
e.Dapat duduk sendiri ditempat duduk
f.Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh
3.Motorik halus
a.Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan
b.Melepaskan & meraih dgn baik
c.Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu
d.Menggambar dgn membuat tiruan
4.Vokal atau suara
a.Mengatakan 10 kata atau lebih
b.Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola & 2 atau 3 bagian tubuh
5.Sosialisasi atau kognitif
a.Meniru
b.Menggunakan sendok dgn baik
c.Menggunakan sarung tangan
d.Watak pemarah mungkin lebih jelas
e.Mulai sadar dgn barang miliknya
8.Dampak hospitalisasi
Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik & menangis, perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut terhadap luka & nyeri, & dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.
Permasalahan ditemukan yaseperti itu sebagai berikut :
a)Rasa takut
1)Memandang penyakit & hospitalisasi
2)Takut terhadap lingkungan & orang tidak dikenal
3)Pemahaman tidak sempurna tentang penyakit
4)Pemikiran sederhana : hidup ; mesin menakutkan
5)Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol, menyentuh tubuh sakit berulang-ulang.
b.Ansietas
1)Cemas tentang kejadian tidakdikenal
2)Protes (menangis & mudah marah, (merengek)
3)Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan baru tidak berminat
4)Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit
5)Tidak berdaya
6)Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan
7)Mimpi buruk & takut kegelapan, orang asing, orang berseragam & memberi pengobatan atau perawatan
8) Regresi & Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol
9)Protes & Ansietas karena restrain
c.Gangguan citra diri
1)Sedih dgn perubahan citra diri
2)Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)
3)Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut
B.ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
1.Pengkajian
paling penting peran perawat selama pasien kejang ; observasi kejangnya & gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik berbeda misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti pergerakan bola mata , kontraksi otot lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai & lamanya kejang.
Riwayat penyakit juga memegang peranan penting buat mengidentifikasi faktor pencetus kejang buat pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan ditimbulkan oleh kejang.
1.Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot. Gerakan involunter
2.Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tkita vital tidak normal atau depresi dgn penurunan nadi & pernafasan
3.Integritas ego : stressor eksternal / internal berhubungan dgn keadaan & atau penanganan, peka rangsangan.
4.Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih & tonus spinkter
5.Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual & muntah berhubungan dgn aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi
6.Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala & infeksi serebra
7.Riwayat jatuh / trauma
2.Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan mungkin muncul
1.Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.
2.Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular
3.Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh
4.Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan
5.Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

3.INTERVENSI

Diagnosa 1
Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan koordinasi otot.
Tujuan
Cidera / trauma tidak terjadi
Kriteria hasil
Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan keamanan lingkungan
Intervensi
Kaji dgn keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum, sebelum, selama, & sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang & beberapa kali terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tkita vital setelah kejang. Lindungi klien dari trauma atau kejang.
Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dgn dokter dalam pemberian therapi anti compulsan
Diagnosa 2
Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular
Tujuan
Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
Kriteria hasil
Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR dalam batas normal
Intervensi
Observasi tanda-tkita vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Lakukan penghisapan lendir, kolaborasi dgn dokter dalam pemberian therapi
Diagnosa 3
Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh
Tujuan
Aktivitas kejang tidak berulang
Kriteria hasil
Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal
Intervensi
Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien. Observasi tanda-tkita vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres dingin pda daerah dahi & ketiak.
Diagnosa 4
Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan
Tujuan
Kerusakan mobilisasi fisik teratasi
Kriteria hasil
Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi
Intervensi
Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.
Diagnosa 5
Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Keluarga mengerti dgn proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak bertanya lagi tentang penyakit, perawatan & kondisi klien.
Intervensi
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien. Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Beri kesempatan pada keluarga buat menanyakan hal belum dimengerti. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan pada klien.

6.EVALUASI

1.Cidera / trauma tidak terjadi
2.Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
3.Aktivitas kejang tidak berulang
4.Kerusakan mobilisasi fisik teratasi
5.Pengetahuan keluarga meningkat

Categories

20HadiahLebaran aceh active Ada ada saja adsense aids air tanah anak antik Artikel Artis asma Bahasa bahasaindonesia baju band batuk bayi bekas belajar bencana Berita Berita Ringan big panel biologi bisnis bisnis online Blog Bola budidaya buku bunga burner burung cerai Cerpen chandra karya Cinta ciri cpns cuti cv daerah desain di jual diare diet coke diet plan dinas domisili ekonomi email euro exterior fashion fat Film FISIP foke forex format FPI furniture gambar game gejala gempa geng motor geografi gigi ginjal Girlband Indonesia graver GTNM gunung gurame guru haga haki hamil harga hasil hepatitis hernia hiv Hukum hunian ibu ijin ikan indonesia Info Informasi Information Inggris Inspirational interior Internet Intertainment izin jadwal jakarta janin jantung jati Joke jokowi kamar kamarmandi kampus kantor. karyailmiah keguguran kemenag kemenkes kendala kerja kesanggupan kesenian kesepakatan keterangan kisi kkm klaim Komik Komputer kontrak kop korea lagu lamaran lambung legalisir lemari Lifestyle ligna Linux lirik Lirik Lagu Lowongan Kerja magang mahasiswa makalah Malignant Fibrous Hystiocytoma marketing Matematika mebel medan meja melahirkan menikah merk mesothelioma mesothelioma data mimisan mimpi minimalis Misteri mobil modern modul motivasi motor mp3 mual mulut mutasi Naruto news ngidam nikah nisn noah nodul nomor surat Novel novil Olah Raga Olahraga olympic opini pagar panggilan paper paspor paud pelatihan pembelian pemberitahuan pemerintah penawaran pendidikan pengantar pengertian pengesahan pengetahuan pengumuan pengumuman pengumumna Pengunduran pengurusan penyakit penyebab perjanjian perkembangan Permohonan pernyataan perpanjangan persiapan bisnis Pertanian perumahan perusahaan perut peta phones photo Pidato pilkada pimpinan pindah plpg PLS postcard pringatan Printer Tips profil Profil Boyband properti property proposal prumahan Psikologi-Psikiater (UMUM) Puisi quote Ramalan Shio rekomendasi relaas resensi resignation resmi Resume rpp ruang rumah rupa sakit sambutan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) second sejarah sekat sekolah Selebritis seni sergur series sertifikat sertifikat tanah sinopsis Sinopsis Film Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan sitemap skripsi sm3t smd sni snmptn soal Software sosial springbed starbol stnk sukhoi sumatera surabaya surat suratkuasa Surveilans Penyakit tafsir tahap Tahukah Anda? tanda tas television teraphy Tips Tips dan Tricks Seks Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum toko Tokoh Kesehatan top traditional tsunami tugas ucapan ujian uka un undangan undian universitas unj unm unp upi uu Video virus walisongo wanita warnet