Showing posts with label PLS. Show all posts
Showing posts with label PLS. Show all posts

STANDAR PELAYANAN MINIMAL PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

A.    DASAR HUKUM

1.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa

3.      Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Pendidikan, sebagaimana telah diubah dgn peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2000

B.     TUJUAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN LUAR BIASA

1.      Tujuan Penyelenggaraan Pendidikan Luar Biasa

Pendidikan Luar Biasa (PLB) bertujuan membantu pebeserta didik yg menyandang kelainan fisik & atau mental, perilaku & sosial, agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, & keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dgn lingkungan sosial, budaya, & alam sekitar beserta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjut.

2.      Tujuan Setiap Satuan PLB

Tujuan setiap satuan PLB sebagai berikut:

a.       Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB) bertujuan membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, & daya cipta yg diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dgn lingkungan & buat pertumbuhan beserta perkembangan selanjutnya sesuai dgn tingkat kelainan beserta memperoleh kesiapan fisik, mental, perilaku, & sosial buat mengikuti pendidikan yg lebih tinggi (SDLB/SD).

b.      Penyelenggaraan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) bertujuan memberikan kemampuan dasar, pengetahuan dasar, keterampilan dasar, & sikap yg bermanfaat bagi siswa sesuai dgn kelainan yg disandang & tingkat perkembangan, beserta mempersiapkan mereka utuk mengikuti pendidikan yg lebih tinggi (SLTPLB/SLTP)

c.       Penyelenggaraan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB) bertujuan memberikan bekal kemampuan dasar yg merupakan perluasan beserta peningkatan pengetahuan dasar & sikap beserta keterampilan yg diperoleh di SDLB yg bermanfaat bagi sisiwa buat mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, & warga negara sesuai dgn kelainan yg disandangnya & tingkat perkembangannya, beserta mempersiapkan mereka buat mengikuti pendidikan pada SMLB.

d.      Penyelenggaraan Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB) bertujuan memberikan bekal kemampuan yg merupakan perluasan beserta peningkatan pengetahuan, keterampilan, & sikap yg diperoleh di SLTPLB yg bermanfaat bagi siswa buat mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, & warga negara sesuai dgn kelainan yg disandangnya & tingkat perkembangannya.

C.    STANDAR KOMPETENSI

    Pebeserta didik PLB memiliki akhlak & budi pekerti yg luhur

2)      Anak didik TKLB memiliki kesiapan fisik, mental, perilaku, & sosial buat mengikuti pendidikan pada SDLB/SD

3)      Siswa SDLB memiliki pengetahuan, keterampilan, & sikap sesuai dgn tuntutan kurikulum PLB yg berlaku; kecerdasan, keterampilan, kesehatan jasmani & rohani, beserta berbudi pekerti luhur, & memiliki kemampuan buat melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTPLB/SLTP.

4)      Siswa SLTPLB memiliki kesiapan dalam kehidupan pribadi sebagai anggota masyarakat & warga negara sesuai dgn kelainan yg disandang, beserta buat mengikuti pendidikan pada SMLB.

5)      Siswa SMLB memiliki bekal kemampuan yg merupakan perluasan beserta peningkatan pengetahuan, keterampilan, & sikap yg diperoleh di SLTPLB yg bermanfaat bagi siswa buat hidup mandiri sesuai dgn kelainan yg disandang & tingkat perkembangannya.

D.    KURIKULUM

1.      Susunan program pengajaran

a.       Jenis kegiatan pada TKLB terdiri atas:

1)      Pembentukan perilaku melalui pembiasaan yg terwujud dalam kegiatan sehari-hari, meliputi moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, & kemampuan bermasyarakat

2)      Pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir

3)      Program khusus sesuai dgn jenis kecacatan

b.      Mata pelajaran pada SDLB terdiri atas:

1)      Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan

2)      Pendidikan Agama

3)      Bahasa Indonesia

4)      Matematika (berhitung)

5)      Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

6)      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

7)      Kerajinan Tangan & Kesenian

8)      Pendidikan Jasmani & Kesehatan

9)      Program khusus sesuai dgn jenis kecacatan

10)  Program muatan lokal (sejumlah mata pelajaran)

c.       Mata pelajaran pada SLTPLB terdiri atas

1)      Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan

2)      Pendidikan Agama

3)      Bahasa Indonesia

4)      Matematika (berhitung)

5)      Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

6)      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

7)      Kerajinan Tangan & Kesenian

8)      Pendidikan Jasmani & Kesehatan

9)      Bahasa Inggris

10)  Program khusus sesuai dgn jenis kecacatan

11)  Program muatan lokal (sejumlah mata pelajaran)

12)  Program pilihan (paket keterampilan; rekayasa, pertanian, usaha & perkantoran, kerumah tanggaan, & kesenian).

d.      Mata Pelajaran pada SMLB terdiri atas:

1)      Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan

2)      Pendidikan Agama

3)      Bahasa Indonesia

4)      Matematika (berhitung)

5)      Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

6)      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

7)      Kerajinan Tangan & Kesenian

8)      Pendidikan Jasmani & Kesehatan

9)      Bahasa Inggris

10)  Program pilihan keterampilan (paket keterampilan; rekayasa, pertanian, usaha & perkantoran, kerumah tanggaan, & kesenian).

2.      Materi pengajaran

Program pengajaran PLB mengacu pada kurikulum yg berlaku, yaitu kurikulum yg ditetapkan secara nasional & kurikulum muatan lokal.

3.      Strategi belajar mengajar

a.       Lama Pendidikan

1)      TKLB berlangsung antara 1 sampai dgn 3 tahun

2)      SDLB berlangsung selama 6 tahun

3)      SLTP berlangsung selama 3 tahun

4)      SMLB berlangsung selama 3 tahun

Masing-masing satuan pendidikan tersebut dapat menyelenggarakan satu jenis kelainan atau lebih dari jenis-jenis kelainan tunanetra, tunarungu, tunagrahita dengan, tunagrahita sedang, tunadaksa, tuna laras, tuna ganda, & jenis-jenis kelainan lainnya.

b.      Waktu Belajar

Jumlah hari belajar efektif dalam satu tahun ajaran sekurang-kurangnya 240 hari belajar efektif termasuk waktu bagi penyelenggaraan kegiatan, kemajuan, & hasil belajar pebeserta didik. Dalam penyelenggaraan pendidikan digunakan sistem catur wulan, yg membagi waktu belajar satu tahun menjadi tiga catur wulan

c.       Alokasi Waktu

1)      TKLB setiap jam kegiatan lamanya 30 menit, dgn waktu kegiatan bermain & belajar sekurang-kurangnya 3 jam kegiatan perhari atau 18 jam kegiatan setiap minggu.

2)      SDLB kelas I & II setiap jam pelajaran lamanya 30 menit dgn beban belajar sekurang-kurangnya 30 jam pelajaran setiap minggu. SDLB kelas III & IV setiap jam pelajaran lamanya 40 menit dgn beban belajar sekurang-kurangnya 38 & 40 jam pelajaran setiap minggu. SDLB kelas V & VI setiap jam pelajaran lamanya 40 menit dgn beban belajar sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran setiap minggu

3)      SLTPLB & SMLB kelas I, II & II setiap jam pelajaran lamanya 45 menit dgn beban belajar sekurang-kurangnya 42 jam pelajaran setiap minggu

Kebutuhan jam pelajaran setiap mata pelajaran disesuaikan dgn kebutuhan daerah.

d.      Sistem Pengajaran

1)      Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dgn sistem klasikal dgn mempertimbangkan bakat, minat, kemampuan, & kelainan pebeserta didik menerima mata pelajaran dari guru dalam mata pelajaran yg sama dalam waktu & tempat yg sama. Bila diperlukan dapat dibentuk pengelompokan atau bentuk pengajaran yg lain sesuai dgn tujuan & keperluan pengajaran.

2)      Kegiatan belajaran mengajar menggunakan sistem guru kelas pada TKLB & SDLB, beserta guru mata pelajaran pada SLTPLB & SMLB.

3)      Kegiatan belajar mengajar diarahkan buat mengembangkan kemampuan fisik secara optimal, intelektual, emosional, okupasi, & sosial pebeserta didik

4)      Program bimbingan klinis ditujukan buat memberikan terapi pada pebeserta didik, meningkatkan prestasi pebeserta didik, menyiapkan siswa buat melanjutkan ke lembaga pendidikan lanjutan, & menyiapkan pebeserta didik buat hidup mandiri dalam masyarakat.

5)      Mengingat aneka ragamnya mata pelajaran, cara penyajian pelajaran hendaknya memanfaatkan berbagai sarana penunjang seperti perpustakaan, alat peraga, lingkungan alam & budaya, beserta masyarakat & nara sumber.

e.       Bahasa Pengantar

Bahasa pengantar di PLB menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan & sejauh diperlukan, terutama pada tahun-tahun awal di TKLB & SDLB kelas I sampai dgn III.

f.       Penilaian

Buat mengetahui tingkat kemajuan & keberhasilan belajar pebeserta didik dilakukan penilaian hasil belajar secara berkelanjutan melalui ulangan/ujian ha& & tugas-tugas mingguan, bulanan, maupun penilaian akhir tahun pelajaran beserta penilaian pada akhir satuan pendidikan. Penilaian dgn menggunakan standar nasional dapat dilakukan dalam rangka mengetahui gambaran mutu hasil belajar pebeserta didik.

E.     PEBESERTA DIDIK

1.      Sasaran

Sasaran PLB adalah anak-anak cacat (anak berkelainan) usia 4 – 18 tahun & setinggi-tingginya berusia 22 tahun.

2.      Daya Tampung

Jumlah pebeserta didik dalam satu kelas/rombongan belajar buat TKLB maksimal 5 anak didik & buat SDLB, SLTPLB, & SMLB maksimal 8 pebeserta didik.

Ratio guru dibanding jumlah siswa dalam satu kelas/rombongan belajar 1 : 3 sampai dgn 5 buat TKLB, & 1 : 5 sampai 8 buat SDLB, SLTPLB & SMLB.

3.      Persyaratan Pebeserta Didik

Pebeserta didik pada PLB adalah pebeserta didik yg menyandang kelainan fisik & atau mental beserta kelainan tingkah laku & sosial, yg meliputi kelainan tunanetra, tunarungu, tunagrahita ringan, tunagrahita sedang tunadaksa, tunalaras, & tunaganda dgn ketentuan:

a.       Pebeserta didik pada TKLB adalah anak cacat yg sekurang-kurangnya berusia 4 tahun.

b.      Pebeserta didik pada SDLB adalah anak cacat yg sekurang-kurangnya berusia 6 tahun atau lebih.

c.       Pebeserta didik pada SLTPLB adalah anak cacat yg telah tamat SDLB atau sederajat.

d.      Pebeserta didik pada SMLB adalah anak cacat yg telah tamat SLTPLB atau yg sederajat.

4.      Pakaian Pebeserta Didik

Pakaian seragam pebeserta didik pada PLB secara nasional mengikuti seragam sekolah umum yg sederajat. Namun sekolah dapat menetapkan pakaian lainnya sesuai dgn agama, budaya, & aspirasi daerah masing-masing yg disepakati antara sekolah, orang tua, Ba& Peranserta. Masyarakat/Komite Sekolah/BP3 & pemerintah daerah.

5.      Unit Kegiatan Pebeserta Didik

Unit kegiatan pebeserta didik seperti OSIS, PMR, UKS, Pramuka, & lain-lain, dapat dibentuk di sekolah buat menjamin agar setiap pebeserta didik dapat menerima pelayanan & perlakuan sesuai dgn bakat, minat & kemampuan.

F.     KETENAGAAN

1.      Jenis Tenaga

a.       Kepala sekolah

b.      Guru kelas, guru program khusus, guru mata pelajaran/pendidikan keterampilan, & guru bimbingan klinis/bimbingan kader.

c.       Tata Usaha

d.      Tenaga penjaga/kebersihan sekolah

e.       Tenaga ahli PLB

f.       Pustakawan

g.      Tenaga pengurus asrama siswa

2.      Persyaratan Guru

a.       Guru kelas pada TKLB & SDLB sekurang-kurangnya tamatan SGPLB

b.      Guru program khusus sekurang-kurangnya tamatan SGPLB & telah mengikuti pelatihan sesuai dgn bidang kekhususan yg menjadi tanggungjawabnya

c.       Guru mata pelajaran/pendidikan keterampilan sekurang-kurangnya tamatan SGPLB & telah mengikuti pelatihan bidang studi/keterampilan sesuai dgn tanggung jawanya.

d.      Guru bimbingan klinis/bimbingan karir sekurang-kurangya tamatan S1 program BP atau PLB atau psikologi pendidikan

e.       Guru agama mesti beragama sesuai dgn agama yg diajarkan

f.       Berkepribadian & berakhlak mulia

3.      Jam Mengajar

Setiap tenaga guru memiliki jam wajib mengajar minimal 18 jam pelajaran per minggu, & setiap tenaga kependidikan lainnya di sekolah memiliki jam kerja yg diatur sesuai tata tertib da aturan yg berlaku. Sekolah dapat mengembangkan tambahan jam kerja pada sore hari dalam bentuk program ekstrakurikuler maupun kurikuler melalui kesepakatan bersama dewan guru & ba& Peranbeserta Masyarakat/Komite Sekolah/BP3.

G.    SARANA & PRASARANA

Sarana & prasarana PLB secara umum buat semua jenis kelainan/kecacatan.

1.      Lahan

Luas lahan minimal yg dibutuhkan utuk PLB dihitung berdasarkan faktor koefisien dasar bangunan (building coverage) sesuai ketentuan tata kota yg mengaturnya. Nilai kepadatan bangunan dapat diperhitungkan sampai dgn 15% pada daerah dgn kepadatan bangunan yg rendah.

2.      Ruang Terdiri Atas

a.       Ruang kelas

b.      Ruang aula

c.       Ruang Konsultasi

d.      Ruang observasi

e.       Ruang perpustakaan

f.       Ruang keterampilan

g.      Laboratorium/bengkel kerja buat siswa SLTPLB & SMLB

h.      Fasilitas olahraga

i.        Ruang BP

j.        Ruang kepala sekolah

k.      Ruang tata usaha

l.        Ruang guru

m.    Ruang tamu

n.      Ruang ibadah

o.      Ruang medis/UKS

p.      Kamar mandi/WC guru & siswa

q.      Gudang

r.        Ruang koperasi

3.      Perabot, terdiri atas

a.       Perabot ruang belajar

1)      Perabot ruang kelas

2)      Perabot ruang aula

3)      Perabot ruang konsultasi

4)      Perabot ruang observasi

5)      Perabot ruang perpustakaan

6)      Perabot ruang keterampilan

7)      Perabot laboratorium/bengkel kerja buat siswa SLTPLB & SMLB

8)      Perabot ruang BP

b.      Perabot ruang kantor

1)      Perabot kepala sekolah

2)      Perabot ruang tata usaha

3)      Perabot ruang guru

4)      Perabot ruang tamu

c.       Perabot ruang penunjang

1)      Perabot ruang ibadah

2)      Perabot ruang medis/UKS

3)      Kamar mandi/WC guru & siswa

4)      Gudang

5)      Ruang koperasi

4.      Alat & Media Pendidikan

Setiap unit pelaksanaan teknis PLB sekurang-kurangnya memiliki alat & media pendidikan berupa:

a.       Peralatan praktek laboratorium

b.      Peralatan bengkel kerja sesuai dgn jenis keterampilan & kecacatan/kelainan pebeserta didik

c.       Alat peraga/praktek IPA

d.      Alat peraga/praktek IPS

e.       Alat peraga/praktek matematika

f.       Media pengajaran mata pelajaran lain

5.      Buku

Setiap sekolah mesti memiliki:

a.       Buku pelajaran pokok. Sekolah sekurang-kurangnya memiliki satu buku pelajaran pokok buat setiap mata pelajaran buat setiap siswa

b.      Buku lengkap

c.       Buku bacaan

6.      Sarana Penunjang, terdiri atas;

a.       Lapangan upacara/bermain/olahraga

b.      Tiang bendera

c.       Asrama siswa

7.      Sarana & Prasarana Khusus

Sarana prasarana PLB yg secara khusus disesuaikan dgn jenis kelainan dapat diuraikan sebagai berikut:

1)      Tunanetra, terdiri atas;

a.       Ruang OM & perlengkapan kemudahan anak tunanetra (assessibility)

b.      Regiet & pena

c.       Kertas braille

d.      Komputer brailler

e.       Mesin tik brailler

f.       Alat olahraga khusus buat tunanetra

g.      Tingkat putih

h.      Denah-denah

i.        Penggaris brailler

j.        Penata timbul

k.      Globe timbul

l.        Bangun-bangun geometri

m.    Magnifier/loupe

2)      Tunarungu, terdiri atas;

a.       Ruang & peralatan bina wicara & persepsi bunyi

b.      Ruang kedap suara & peralatan latih mendengar

c.       Audiometer

d.      Hearing said

e.       Speech trainer

f.       Group hearing aid

g.      Dram/tambur

3)      Tunagrahita, terdiri atas;

a.       Alat-alat latihan sensomotorik halus & kasar

b.      Alat-alat activity daily living (ADL)/kegiatan sehari-hari

c.       Alat-alat buat playtherapy

4)      Tunadaksa, terdiri atas;

a.       Ruang & peralatan therapy musik

b.      Ruang & peralatan therapy bicara

c.       Ruang & peralatan occuptational therapy

d.      Perlengkapan hydrotherapy

e.       Kruk

f.       Kursi roda

5)      Tunalaras, terdiri atas

a.       Peralatan behavior therapy (terapi tingkah laku)

b.      Peralatan play therapy

6)      Tunaganda

Peralatan pendidikan khusus anak tunaganda disesuaikan dgn gabungan jenis kelainan anak.

H.    ORGANISASI

1.      Susunan organisasi PLB terdiri atas:

a.       Kepala sekolah

b.      Urusan tata usaha

c.       Tenaga ahli PLB sesuai dgn jenis kecacatan yg ada pada PLB

d.      Koordinasi satuan pendidikan buat TKLB, SDLB, SLTPLB, & SMLB

e.       Tenaga pendidikan buat TKLB, SDLB, SLTPLB, & SMLB

f.       Penjaga sekolah/tenaga kebersihan

g.      Pustakawan

h.      Petugas asrama siswa/i

2.      Bagan organisasi PLB

Kepala Sekolah

Urusan Tata Usaha

Perpustakaan

Tenaga Ahli

Asrama

Dewan Guru

Ba& Pranbeserta Masyarakat/Komite Sekolah/BP



I.       Pembiayaan

1.      Sumber Pembiayaan

Pembiayaan penyelenggaraan pendidikan dapat bersumber dari:

a.       Pemerintah daerah yg menyediakan anggaran buat PLB negeri & memberikan subsidi bagi PLB swasta

b.      Dana masyarakat. Dana ini buat membiayai kegiatan peningkatan mutu, program pengayaan, & program remedial teaching (program perbaikan)

c.       Yayasan/ba& penyelenggara PLB swasta bertanggung jawab atas biaya yg diperlukan bagi penyelenggaraan PLB swasta & wajib memperhatikan kesejahteraan gurunya.

d.      Sumber lain sesuai dgn ketentuan peraturan perundang-undangan

2.      Komponen Pembiayaan

Komponen yg perlu dibiayai antara lain:

a.       Kegiatan teknis edukatif termasuk proses belajar mengajar (kegiatan kurikuler), evaluasi, & kegiatan bimbingan klinis

b.      Kegiatan penunjang seperti kegiatan kemasyarakatan, rehabilitas, & kegiatan ekstra kurikuler

c.       Perawatan alat pendidikan & media pendidikan

d.      Perawatan gedung, perabotan, & lingkungan sekolah

e.       Konsumtif (barang habis pakai)

f.       Gaji & kesejahteraan guru & tenaga lainnya (kelebihan jam mengajar, insentif)

g.      Langganan daya & jasa (listrik, telepon, air, & lain-lain)

h.      Kegiatan lain yg mengacu pada peningkatan mutu

3.      Satuan Biaya

Satuan biaya dapat dihitung berdasarkan biaya satuan peranak didik/siswa pertahun atau biaya persekolahan pertahun sesuai dgn kebutuhan kegiatan belajar mengajar pada PLB tersebut.

4.      Penentuan Biaya

Penentuan biaya yg dibebankan pada masyarakat/orangtua ditentukan berdasarkan persetujuan pemerintah daerah atas usul dari kepala sekolah bersama ba& peranbeserta masyarakat.

5.      Pengelolaan

Pengelolaan dana pendidikan dilakukan oleh sekolah secara mandiri & transparan beserta dipertanggungjawabkan penggunaannya setiap tahun kepada ba& Peranbeserta Masyarakat/Komite Sekolah/BP3 & pemerintah daerah

6.      Rencana Anggaran Pendanaan & Belanja Sekolah (RAPBS)

Setiap satuan pendidikan wajib menyusun RAPBS melibatkan stakeholder (BP3, tokoh masyarakat, & semua pihak yg berkepentingan terhadap sekolah). Sumber-sumber pembiayaan sifatnya transparan & accountable (dapat dipertanggungjawabkan)

7.      Pemeriksaan Pembiayaan (accounting)

Setiap pemasukan & pengeluaran agar diaudit secara tertib & teratur.

8.      Pelaporan Pembiayaan

Setiap pelaporan dilaksanakan secara tertib & teratur.

J.      PERAN BESERTA MASYARAKAT

Peran beserta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu pelayanan pendidikan mutlak diperlukan agar kondisi diatas standar minimal & peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai. Disetiap PLB dapat dibentuk organisasi seperti ba& peranbeserta masyarakat atau organisasi yg memiliki tujuan:

1.      Ikut membantu kelancaran pendidikan di sekolah

2.      Memelihara, meningkatkan, mengembangkan

3.      Memantau, & mengevaluasi penyelenggaraan pendidikan di sekolah (kinerja sekolah).

K.    Manajemen Sekolah

1.      Setiap unit teknis pelaksana PLB menerapkan prinsip manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah

2.      Dalam sistem ini setiap PLB

a.       Merumuskan visi & misi, yg jelas & terarah sesuai visi, misi, & standar mutu pendidikan nasional

b.      Merencanakan program peningkatan mutu

c.       Melaksanakan program yg telah ditetapkan

d.      Memonitor & mengevaluasi program

e.       Merumuskan target mutu baru

f.       Melaporkan kemajuan kepada pihak yg terkait

3.      Kontrol kegiatan dilakukan melalui pemantauan & pengawasan internal & eksternal, transparansi manajemen, beserta akuntabilitas publik.

4.      Evaluasi dilakukan buat mengetahui tingkat efisien & efektifitas penyelenggaraan pendidikan, pelaksanaan kurikulum, & penilaian kerja sekolah sebagai satu kesatuan secara menyeluruh.

L.     INDIKATOR KEBERHASILAN

Buat mengetahui apakah standar pelayanan minimum (SFIM) telah diimplementasikan dgn baik & benar, diperlukan satu indikator keberhasilan. Dalam indikator keberhasilan ini tertuang berbagai indikantor & ukuran ketercapain minimal sesuai dgn komponen yg ada dalam SPM. Indikator keberhasilan tersebut secara rinci sebagaimana matrik.

FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI KENAKALAN REMAJA & CARA PENANGGULANGANNYA DI DESA LEBAK WANGI KECAMATAN SEPATAN KABUPATEN TANGERANG.

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah masa akan beralihnya ketergantungan hidup kepada orang lain. Dia mulai menentukan jalan hidupnya. Selama menjalani pembentukan kematangan dalam sikap, berbagai perubahan kejiwaan terjadi, bahkan mungkin kegoncangan. Kondisi semacam ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia tinggal. Pada sisi lain remaja seringkali tidak mempunyai tempat mengadu buat memecahkan masalah yg dihadapinya. Sehingga sebagai pelarian remaja seringkali terjerumus, seperti mabuk-mabukan, narkotika & tindak kriminalitas.
Kenakalan remaja sudah menjadi masalah di semua negara. Setiap tahun tingkat kenakalan remaja ini menunjukan peningkatan, sehingga mengakibatkan terjadinya problema sosial.
Lingkungan sangat berpengaruh besar dalam pembentukan jiwa remaja. Bagi remaja yg ternyata salah memilih tempat atau kawan dalam bergaulnya. Maka yg akan terjadi kemudian adalah berdampak negatif terhadap perkembangan pribadinya. Tapi, bila dia memasuki lingkungan pergaulan yg sehat, seperti memasuki organisasi pemuda yg resmi diakui oleh pemerintah, sudah tentu berdampak positif bagi perkembangan kepribadiannya.
Kenakalan remaja akhir-akhir ini yg sangat mengkhawatirkan adalah akibat pengaruh dari lingkungan sosial. Gejala-gejala kejahatan yg muncul merupakan akibat dari proses perkembangan pribadi remaja yg sedang berupaya mencari identitas diri.
Atas dasar itulah, maka penulis akan mencoba membahas masalah tersebut dalam suatu penelitian yg berjudul: “Faktor-Faktor Yg Mempengaruhi Kenakalan Remaja & Cara Penanggulannya”.

B. Identifikasi masalah.
Sejalan dgn masalah di atas, maka identifikasi masalah berkenaan dgn penelitian sebagai berikut:
1. Dgn makin berkembang ilmu pengetahuan & teknologi yg sedang digalakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang sedikit mempengaruhi daerah sosial sekitarnya.
2. Dgn datangnya kebudayaan dari kota-kota besar, maka para remaja usia sekolah sebagian besar gaya & perilaku orang-orang kota.
3. Kurangnya mendapat perhatian dari orang tua menyebabkan para remaja lebih suka mencari kesengan sendiri.
4. Kenyataan yg ada, kenakalan remaja selalu meresahkan masyarakat, maka orang tua, guru, & masyarakat mencoba mencari jalan keluarnya & penanggungannya.

C. Pembatasan & Perumusan Masalah
1. Berdasarkan identifikasi masalah, maka penelitian hanya membatasi masalah pada faktor-faktor yg mempengaruhi kenakalan-kenakalan remaja & cara penanggulannya di Desa Lebak Wangi Kec. Sepatan Kab. Tangerang.
2. Perumusan Masalah.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis memutuskan masalahnya sebagai berikut: “faktor-faktor apa yg mempengaruhi kenakalan remaja di Desa Lebak Wangi & bagaimana cara penganggualannya.


D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian adalah:
1. Buat mendapatkan data tentang faktor-faktor yg mempengaruhi terhadap kenakalan remaja, khususnya di Desa Lebak Wangi.
2. Buat mengetahui tingkat perhatian orang tua terhadap anaknya.
3. Buat mendapatkan data tentang kenakalan remaja & upaya penganggulangannya.

E. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pembinaan para remaja, baik secara teoritis maupun praktis.
a. Kegunaan Secara Teoritis.
1. Hasilnya dapat memberikan sumbangan dalam perkembangan mata kuliah pembinaan generasi muda sebagai bagaian tak terpisahkan dari pendidikan luar sekolah.
2. Buat dikaji & dipelajari oleh para mahasiswa yg mengambil program studi pendidikan luar sekolah.
b. Kegunaan Secara Praktis.
• Bagi Lembaga.
1. Buat meneliti kebenaran dari penelitian sebelumnya pada obyek yg sama.
2. Sebagai bahan kajian buat memperoleh data tentang timbulnya kenakalan remaja.
• Bagi Masyarakat.
1. Sebagai pedoman buat mengetahui latar belakang beserta timbulnya kenakalan remaja.


F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisannya terbagi menjadi tiga bab sebagai berikut:
Bab 1 berisikan pendahuluan, yg di dalamnya memuat latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan & perumusan masalah, tinjauan penelitian, kegunaan penelitian. Bab II tinjauan pustaka, bab ini membahas tentang deskrifsi teori, kerangka berfikir & hipotesis penelitian. Bab III metodelogi penelitian, pada bab metode penelitian , instrumen penelitian, populasi & sampel, tekhnik pengolahan & analisa data, tempat & waktu penelitian.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA.


A. Deskripsi Teori
1.1 Pengertian Kenakalan
Suatu perbuatan dikatakan desinkuen apabila perbuatan-perbuatan itu bertentangan dgn norma-norma yg ada di masyarakat di mana ia hidup. Suatu perbulatan anti sosial dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif.
Menurut Sudarsono kenakalan adalah:
“Bukan hanya merupakan perbuatan anak yg melawan hukum semata, akan tapi juga termasuk di dalamnya perbuatan yg melanggar norma masyarakat.”
Dgn demikian masalah-masalah sosial yg timbul karena perbuatan remaja dirasakan sangat mengganggu, & merisaukan kehidupan masyarakat, bahkan sebagian anggota masyarakat menjadi terancam hidupnya.

1.2. Pengertian Remaja.
Remaja adalah suatu tingkat umur, dimana anak bukan anak kecil lagi, akan tapi tidak dipandang lagi dewasa. Jadi remaja adalah umur yg membatasi antara umur anak-anak & dewasa (1975:28).
Dgn dapat disimpulkan, bahwa pada masa usia remaja terbagi berbagai perubahan yg sangat cepat baik pada jasmani, tingkat emosi, sosial, akhlak & kecerdasan. Dalam menghadapi perubahan yg cepat itu, biasanya diusia remaja sering mengalami kesukaran. Kondisi ini akan memungkinkan anak buat terjerumus kepada dekodasi moral. Jika orang tuanya kurang memperhatikan kebutuhan & memberikan kasih sayang.


1.3. Faktor-faktor yg Mempengaruhi Kenakalan Remaja, Kartini Kartono:
A. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yg dapat mempengaruhi terhadap perkembangan seseorang. Dalam perihal ini Zahra Idris, mengemukakan bahwa: “Lingkungan adalah suatu pengaruh dari luar yg mempengaruhi perkembangan anak, rumah tangga, keadaan ekonomi, pendidikan & tempat tinggal”(1990:73).
B. Keluarga yg berantakan.
C. Lingkungan sosial & budaya.

1.4. Cara Penanggulangan Remaja Sebagai Berikut:
1. Meningkatkan pengertian remaja akan dirinya.
2. Menciptakan hubungan baik dgn orang tua.
3. Pendidikan agama.
4. Bimbingan hidup bermasyarakat.

B. Kerangka Berfikir.
Dalam melakukan penelitian sudah menjadi keharusan buat membuat kerangka berfikir yg kebenarannya dapat diterima, & berfungsi sebagai titik tolak penelitian.
Adapun kerangka berfikir yg dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Pembinaan generasi muda diarahkan buat mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa & pembangunan nasional dgn memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme & budi pekerti luhur (GBHN tahun 1999).
2. Kenakalan remaja adalah tingkah laku individu yg bertentangan dgn pendapat umum yg dianggap sebagai akseptual & baik oleh suatu lingkungan atau hukum yg berlaku di suatu masyarakat yg berbudaya (Kusmanto, 1985.7).
3. Tinggi rendahnya kualitas remaja oleh berbagai faktor, antara lain pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan & hasil pembinaan keluarga.

C. Hipotesis Penelitian.
Hipotesis adalah perumusan jawaban sementara terhadap sesuatu soal, yg dimaksud sebagai tuntunan dalam penyelidikan buat mencarki jawaban yg sebenarnya (Surakhmad, 1994:39).
Dalam penelitian ini penulis mempunyai hipotesis sebagai berikut:
1. Faktor yg menyebabkan kenakalan remaja adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap anak.
2. Pentingnya pembinaan generasi muda agar memberikan bekal keterampilan.

C. Studi Perpustakaan.
Studi ini dimaksudkan buat mendapatkan landasan-landasan teori berupa pendapat para ahli yg berhubungan dgn masalah yg akan diteliti. Penulis menggunakan tehnik ini dgn cara membaca, mempelajari buku-buku, laporan penelitian.

D. Populasi & Sampel Penelitian.
1. Populasi.
Menurut Winarno Suharmad (1982:83) populasi adalah sekelompok subjek baik manusia,nilai tes, tanda-tanda ataupun peristiwa yg dijadikan subjek penelitian.
Dalam penelitian ini yg menjadi populasi adalah anak remaja yg berjumlah 50 orang.

2. Sampel.
Sampel adalah contoh, representa, wakil dari populasi yg cukup besar jumlahnya, yaitu bagian dari keseluruhan yg dipilih, & respreseritatif sifatnya dari keseluruhan (Kartini Kartono, 1990:124).
Adapun yg dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu penulis membagi 2 dari jumlah populasi yaitu 50:2 maka sampel penelitian ini sebanyak 25 anak remaja.

E. Tehnik Pengolahan & Analisa Data.
Adapun langkah-langkah yg ditempuh dalam melakukan pengolahan data & analisa data adalah sebagai berikut:
1. Seleksi Data.
Pada tahap ini peneliti menyeleksi data yg telah terkumpul dgn maksud buat mengadakan penelitian pada yg benar-benar representatif, sehingga sesuai dgn tujuan penelitian.
2. Klarifikasi Data.
Kegiatan ini dilakukan buat melakukan pengelompokan data sebagai hasil jawaban responden buat menentukan kategori jawaban responden yg telah terkumpul guna memudahkan pengolahan data & pengumpulan data.

BAB III
METODE PENELITIAN


A. Metode Penelitian.
Metode penelitian merupakan cara ilmiah buat memperoleh data. Keterangan-keterangan beserta fakta-fakta yg ada hubungannya dgn masalah penelitian. Menurut Sugiyono (1994) “metode penelitian merupakan cara ilmiah yg digunakan buat mendapatkan cara dgn tujuan-tujuan tertentu”.
Dari uraian tersebut penulis mengambil kesimpulan tentang metode penelitian. Yaitu suatu kerja yg diliputi tindakan ilmiah dalam upaya mengungkapkan permasalahan yg menjadi objek penelitian. Adapun metode yg digunakan dalam penelitian ini adalah metode destritif, yaitu yg mempunyai tujuan dapat mendeskrifsikan apa-apa terjadi disaat ini. Di dalamnya terdapat upaya pencatatan deskrifsi.
Analisa & menginterfretasikan kondisi yg sekarang terjadi.

B. Instrumen Penelitian
1. Penyusunan alat pengumpul data.
Buat memudahkan dalam melakukan penelitian maka penulis menyusun suatu alat pengumpulan data yaitu:
a. Angket.
Angket adalah penelitian yg dilaksanakan dgn menyebarkan suatu alat Draf pernyataan secara tertulis kepada responden dgn harapan mendapat jawaban seperlunya (Kartini Kartono, 1980:20)
Tehnik ini merupakan alat pengumpulan data yg utama buat mengumpulkan data.

b. Observasi.
Observasi yaitu study yg disengaja yg sistematis tentang masalah sosial & gejala-gejala alam dgn cara mengamati & mencatat (Kartini Kartono 1990:157).
Observasi dilakukan buat mengumpulkan data sebagai pendukung dari teknik angket melalui kegiatan ini peneliti dapat melihat, mengamati, mengenal & mengidentifikasi masalah yg akan diteliti.
c. Tabulasi Data.
Setelah data diseleksi & diklasifikasikan kemudian disusun & dituangkan dalam tabel sesuai dgn hasil data yg diperoleh.
d. Interprestasi Data.
Buat melakukan interprestasi data maka diperlukan perhitungan yg digunakan sebagai analisa data yaitu:
1. Perhitungan dgn presentase.
2. Ketentuan mengenai penafsiran terhadap presentase dgn rumus yaitu:


P: Presentase jawaban.
F: Frekuensi jawaban responden
N: Jumlah responden.
Dari perhitungan data di atas maka penulis dapat menafsirkan dgn kriteria sebagai berikut:
0% : Tidak seorang pun.
1%-49% : Sebagian kecil.
50% : Lebih dari setengah.

70%-99% : Sebagian besar.
100% : Seluruhnya.

E. Tempat & Waktu Penelitian.
Tempat & waktu penelitian ini dilakukan di Desa Lebak Wangi Kecamatan Sepatan Kabupaten Tangerang dgn waktu penelitian 3 hari.


DAFTAR PUSTAKA.
Conny R. Semiawan. Pendidikan anak dalam keluarga, Jakarta, Nasehat Perkawinan, 1991.
Gunarsa. Psikolog Remaja, Jakarta, BPK, Gunung Mulya, 1981.
Kartini Kartono. Phatologi Sosial Kenakalan Remaja, Jakarta, Rajawali, 1979.
Andi Mapiare, Psikologi Remaja, Surabaya, Usaha Nasional, 1988.
Zakiah Darajat, Problem Remaja di Indonesia, Jakarta, Bulan Bintang, 1978.

DEFINISI & FAKTOR YG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN

A. Definisi & faktor Yg Mempengaruhi Perkembangan

1. Definisi Perkembangan

Secara singkat, perekembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yg lebih maju. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam perihal jumlah, ukuran, & arti pentingnya. Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of development). (McLeod, 1989).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), ini berarti mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, & banyak, beserta menjadi bertambah sempurna dalam perihal kepribadian, pikiran, pengetahuan, & sebagainya.

Selanjutnya, Dictionary of pyscology di atas secara lebih jelas merinci pengertian perkembangan sebagai berikut:

a. The progressive and continous change in the organism from birth to death, perkembangan itu merupakan perubahan yg perogresif & terus-menerus dalam diri organisme sejak lahir hingga mati.

b. Growth, perkembangan itu berarti pertumbuhan.

c. Change in the shape and integration of bodily parts into function parts, perkembangan berarti perubahan dalam bentuk & penyatuan bagian-bagian yg bersifat jasmaniah kedalam bagian-bagian yg fungsional.

d. Maturation or the appearance of fundamental pattern of unlearned behavior, perkembangan itu adalah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yg bukan hasil belajar.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, penyusun berkesimpulan bahwa perkembangan adalah rentetan perubahan jasmani & rohani manusia menuju ke arah yg lebih maju & sempurna.

2. Perkembangan Fisik

Awal dari perkembangan pribadi seseorang pada asasnya bersifat biologis (Allport, 1957). Dalam taraf-taraf perkembangan selanjutnya, normalitas dari konstitusi, struktur, & kondisi jasmaniah seseorang akan mempengaruhi normalitas kepribadiannya, khususnya yg bertalian dgn masalah body image, self concept, self-esteem & rasa harga dirinya. Perkembangan fisik ini mencakup aspek-aspek anatomis & fisiologis.

a. Perkembangan anatomis

Perkembangan anatomis ditunjukkan dgn adanya perubahan kuantiatif pada struktur tulang-belulang. Indeks tinggi & berat badan, proporsi tingi kepala dgn tinggi garis keajegan ba& secara keseluruh.

b. Perkembangan fisiologi

Perkembngan fisiologi ditandai dgn adanya perubahan secara kuantitatif, kualitatif, & fungsional dari sistem-sistem kerja hayati seperti otot, peredaran darah & pernapasan persyarafan, sekresi kelenjar & pencernaa

3. Perkembangan Bahasa & Perilaku Kognitif

Kemampuan berbahasalah yg membedakan manusia dgn hewan. Dgn bahasanyalah manusia:

(1) mengkodifikasikan, mencatat, & menyimpan berbagai hasil pengalaman pengamatan (observasi )-nya berupa kesan & tanggapan (persepsi), informasi, fakta, & data, konsep atau pengertian (concept and ideas), dalil atau kaidah atau hukum (principles) sampai kepada bentuk ilmu pengetahuan (body of knowledge) & sistem-sistem nilai (value systems);

(2) rnentransformasikan & mengolah berbagai bentuk informasi tersebut di atas melalui proses berpikir & dgn mempergunakan kaidah-kaidah logika (diferensiasi, asosiasi, proporsi atau komparasi, kausalitas, prediksi, konkiusi, generalisasi, interpretasi & inferensi) dalam rangka pemecahan masalah (problem solving) & mencari, mengkreasikan & menemukan hal-perihal baru;

(3) mengkoordinasikan & mengekspresikan cita-cita, sikap, penilaian, & penghayatan (etis, estetis ekonomis, sosial, politis, religius, & kultural);

(4) mengkomunikasikan (menyimpan & menerima) berbagai informasi, buah pikiran, opini, sikap, penilaian, aspirasi, kehendak, & rencana kepada orang lain.

Bahasa termasuk dapat berbentuk lisan, atau tulisan dgn mempergunakan tanda (coding), huruf (alphabetic), bilangan (numerical atau digital), bunyi, sinar, atau cahaya yg dapat merupakan kata-kata (words) atau kalimat (Sentences). Mungkin pula berbentuk gambar atau lukisan (drawing, picture), gerak-gerik gestures) & mimik beserta bentuk-bentuk simbol ekspresif lainnya.

(1) Perkembangan Fungst-Fungsi Kognitif secara Kuantitatif

Deskripsi perkembangan fungsi-fungsi kognitif secara kuantitatif dapat dikembangkan berdasarkan basil laporan berbagai studi pengukuran dgn menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya, yg dilakulcan secara longi. tudinal terhadap sekelompok subjek & sampai ke tingkatan usia tertentu (3-5 tahun sampai usia 30-35 tahun, misalnya) secara test-retest yg alot ukurnya dtsusun secara sekuensial (Standfond Revision Binet Test).

Dgn menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yg mencakup General Information and Verbal Analogies Jones and Conrad (Loree, 1970:78) telah mengembangkan sebuah kurva perkembangan inteligensi, yg dapat ditafsirkan antara lain sebagai berikut.

(a) Laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa rem awal, setelab itu kepesatan nya berangsur menurun.

(b) Puncak perkembangan pada umumnya dicapai di penghujung masa remaja akhir (sekitar usia dua puluhan); perubahan-perubahan yg amat tipis sampai usia 50 tahun, setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai usia 60 tahun, buat selanjutnya berangsur menurun (deklinasi).

(c) Terdapat variasi dalam saatnya & laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu.

Bloom (1964) melukiskan berdasarkan hasil studi longitudinalnya, bahwa dgn berpatokan kepada hasil-hasil tes IQ & masa-masa sebelumnya yg ditempuh oleh subjek yg sama, kita akan dapat melihat perkernbangan persentase taraf kematangan & kesempurnaan nya sebagai berikut.

a. Usia 1 tahun berkembang sampai sekitar 20%-nya

b. Usia 4 tahun sekitar 50%-nya.

c. Usia 8 tahun sekitar 80%-nya.

d. Usia 13 tahun sekitar 92%-nya

Perubahan-perubahan multi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut da at dibagi menjadi 4 (empat) kateogri perubahan, yaitu perubahan hal-perihal yg lama, & perubahan buat memperoleh hal-perihal yg baru.

1. Perubahan dalam Ukuran

Perubahan dapat berbentuk pertambahan ukuran panjang atau ting maupun berat badan. Berat ba& yg semu1Lsei 3 ketika dilahirkan menjadi 8-9 kg pada umur 6 bulan. Panjangnya bayi 50 cm ketika dilahirkan 60 cm pada umur 1 tahun diikuti oleh organ-organ tubuh lain yg mengalami perubahan ukuran antara lain volume otak yg membawa akibat terjadinya perubahan kemarnpuan.

Jumlah suku kata yg dikuasai pada mulanya sedikit atau terbatas, semakin bertambah umur semakin bertambah banyak, Se hingga pada umur kurang & 1,5 tahun anak sudah bisa mengucapkan rangkaian suku kata-suku kata menjadi perkataan-perkata dgn objek tertentu.

Kemampuan mengenal objek-objek di lingkungannya bertambah sedikit demi sedikit. Semua perubahan tersebut menunjukkan adanya peerbedaan kuantitatif yg bisa diukur.

2. Perubahan dalam Perbandingan

Dilihat dari sudut fisik terjadi perubahan proporsional antara kepala, anggota badan, & anggota gerak. Misalnya perbandingan antara besarnya kepala dgn anggota badan, semakin bertambah umur semakin bertambah besar. Sampai pada umur tertentu per andingan akan menetap, yakni pada usia akhir belasan tahun.

Perubahan secara proporsional juga terjadi pada perkembangan mental Perbandingan antara yg tidak nil, yg khayal dgn hal- perihal yg rasional. semakin.lama semakin besar. Artinya anak-anak masih banyak mengkhayal & sedikit terdapat realita pada mereka, tapi semakin lama akan semakin berubah ke sebaliknya, yakni banyak realita & sedikit berkhayal.

Dalam perkembangan sosial mereka juga sedikit demi sedikit berubah. & bermain sendiri, bermain dgn saudara, bermain dgn anak-anak tetangga, & kemudian bermain dgn anak-anak lain pada lingkungan yg lebih luas

3. Berubah buat Mengganti Hal-Perihal yg Lama

Pada bayi terdapat kelenjar buntu yg disebut kelenjar thymus pada daerah dada yg sedikit demi sedikit mengalami atrophy (penyusutan) & menghilang setelah dewasa. Pada bayi juga terdapat rambut rambut bayi yg lama kelamaan akan hilang.

Bahasa bayi yg semakin & diganti dgn perkataan yg lebih jelas artinya Kebiasaan buat ini kalau mengambil sesuatu akan menghilang sesuai dgn meningkatnya kemampuan-kemampuan motorik & berganti dgn jalan.

4. Berubah buat Mempero1eh Hal-perihal yg Baru

Banyak perihal yg baru diperoleh selama perkembangan sesuai dgn keadaan & tingkt perkembangannya. Ketika dilahirkan, bayi belum mempunyaj gigi, beberapa waktunya kemudian gigi tersebut akan tumbuh.

Dilihat dari segi mental, akan bertambah perbendaharaan kata & kekayaan bahasanya Nilai & norma moral semakin meningkat. Berbagai pengetahuan akan diperoleh terutama dari lingkungan pendidik formal.

Pada bagian mi akan penyusun bahas tahapan-tahapan atau urutan penistiwa perkembangan manusia dalam hubungannya dgn proses belajar. Di samping itu, dalam setiap tahapan perkembangan tersebut me ngandung kecakapan & tingkat-tingkat pencapaian tertentu, maka akan penyusun lengkapi dgn urutan mengenai tugas-tugasnya. Seusai me nguraikan tugas-tugas perkembangan, penyusun akan kemukakan pula hukum-hukum, yakni patokan umum yg berlaku dalam setiap individu manusia.

1. Proses Perkemban an

Secara umum, proses dapat diartikan sebagai runtutan perubahan yg tenjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata proses dalam perkembangan siswa ialah tahapan-tahapan perubahan yg dialami seorang siswa, baik yg bersifat jasmaniah maupun yg bersifat rohaniah. Proses dalam perihal mi juga berarti tahapan perubahan tingkah laku siswa, baik yg terbuka maupun yg tertutup (lihat halarnan 10).

Proses bisa juga berarti cara terjadinya perubahan dalam din siswa atau respons/reaksi yg ditimbulkan oleh siswa tersebut. Proses perkembangan dgn pengertian seperti mi menurut Hurlock (1980) merupakan perubahan-perubahan yg berhubungan dgn perkem bangan (developmental changes). Manusia, menurut Elizabeth B. Hurlock, tak pemah statis atau mandek, karena perubahan-perubahan senantiasa teijadi dalam dininya dalam berbagai kapasitas (kemampuan) baik yg bersifat biologis maupuii yg bersifat psikologis.

J Secara global, seluruh proses perkembangan individu sampal menjadi ‘person (dirinya sendiri) benlangsung dalam tiga tahapart.

1. tahapan proses konsepsi (pembuahan sel ovum ibu oleh sel sperma ayah).

2. tahapan proses kelahiran (disaat keluarnya bayi & rahim ibu ke alam dunia bebas).

3. tahapan proses perkembangan individu bayi tersebut menjadi seorang pribadi yg khas (development or selflsood).

B. Proses, Tugas, & Hukum Perkembangan

Pada bagian mi akan penyusun bahas tahapan-tahapan atau urutan peristiwa perkembangan manusia dalam hubungannya dgn proses belajar. Di samping itu, dalam setiap tahapan perkembangan tersebut mengandung kecakapan & tingkat-tingkat pencapaian tertentu, maka akan penyusun lengkapi dgn urutan mengenai tugas-tugasnya. Seusai menguraikan tugas-tugas perkembangan, penyusun akan kemukakan pula hukum-hukum, yakni patokan umum yg berlaku dalam setiap individu manusia.


1. Proses Perkembangan

Secara umum, proses dapat diartikan sebagai runtutan perubahan yg tenjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud kata proses dalam perkembangan siswa ialah tahapan-tahapan perubahan yg dialami seorang siswa, baik yg bersifat jasmaniah maupun yg bersifat rohaniah. Proses dalam perihal mi juga berarti tahapan perubahan tingkah laku siswa, baik yg terbuka maupun yg tertutup (lihat halarnan 10).

Proses bisa juga berarti cara terjadinya perubahan dalam din siswa atau respons/reaksi yg ditimbulkan oleh siswa tersebut. Proses perkembangan dgn pengertian seperti mi menurut Hurlock (1980) merupakan perubahan-perubahan yg berhubungan dgn perkembangan (developmental changes). Manusia, menurut Elizabeth B. Hurlock, tak pernah statis atau mandek, karena perubahan-perubahan senantiasa terjadi dalam dininya dalam berbagai kapasitas (kemampuan) baik yg bersifat biologis maupun yg bersifat psikologis.

Secara global, seluruh proses perkembangan individu sampai menjadi person (dirinya sendiri) berlangsung dalam tiga tahapan.

1. tahapan proses konsepsi (pembuahan sel ovum ibu oleh sel sperma ayah).

2. tahapan proses kelahiran (disaat keluarnya bayi & rahim ibu ke alam dunia bebas).

3. tahapan proses perkembangan individu bayi tersebut menjadi seorang pribadi yg khas (development or selflsood).

Namun demikian, hanya enam fase yg akan penyusun bahas dalam buku m dalam kaitannya dgn tugas perkembangan yg erat hubungannya dgn proses belajar manusia. Pembatasan bahasan mengenai fase perkembangan mi sesuai dgn rancangan isi buku mi sebagaimana yg telah penyusun utarakan secara eksplisit dalam Bab Pendahuluan. Oleb karena itu, bagi anda khususnya para mahasiswa fakultas keguruan disarankan buat mempelajari seluk-beluk perkembangan lebih luas & mendalam melalui penelaahan buku-buku khusus psikologi perkembangan.

2. Tugas & Fase Perkembangan

Adalah perihal yg pasti bahwa setiap fase atau tahapan penkembangan kehidupan manusia senantiasa berlangsung seining dgn kegiatan belajar. Kegiatan belajar dalam perihal mi tidak berarti merupakan kegiatan belajar yg ilmiah. Tugas belajar yg muncul dalam setiap fase perkembangan merupakan keharusan universal & idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegiatan belajar keterampilan melakukan sesuatu pada fase perkembangan tertentu yg lazim tenjadi pada manusia normal. Di samping itu, hal-perihal lain yg juga menimbulkan tugas-tugas per tersebut adalah:

1) karena adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu;

2) karena adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yg sedang benkembang itu sendini

3) karena adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar.

Dalam rangka memfungsikan tahap-tahap perubahan yg menyertai perkembangannya manusia hams belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tententu umpamanya kebiasaan belajar berjalan & berbicara pada rentang usia 1-5 tahun. Belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tententu pada disaat atau masa perkembangan yg tepat dipandang berkaitan langsung dgn tugas-tugas perkembangan berikutnya.

Tugas-tugas perkembangan tensebut seyogianya selalu dipenhitungkan secara cermat oleh para orangtua & guru sebagai sesuatu yg hams terjadi secara alamiah & tepat pada waktunya. Perhatian orangtua & juga guru (khususnya buat fase rnasa sekolah) amat diperlukan.

Tugas-tugas perkembangan pada fase ini meliputi kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut.

1. Belajar memakan makanan keras, misalnya mulai dgn bubur susu, bubur beras, nasi, & seterusnya.

2. Belajar berbicara, misalnya mulai dgn menyebut kata ibu, ayah, & nama-nama benda sederhana yg ada di sekelilingnya.

3. Belajar mengendalikan pengeluaran benda-benda buangan & tubuh nya, misalnya mulai dgn meludah, membuang ingus & seterusnya.

4. Belajar membedakan jenis kelamin antara laki-laki & perempuan, & bersopan santun seksual.

5. Mencapai kematangan buat belajar membaca dalam anti mulai siap mengenal huruf, suku kata & kata-kata tertulis.

6. Belajar mengadakan hubungan emosional selain dgn ibunya, dgn ayah, saudara kandung, & orang-orang di sekelilingnya.

7. Belajar membedakan antara hal-perihal yg baik dgn yg buruk, juga antara hal-perihal yg benar & salah, beserta mengembangkan atau membentuk kata hati (hati nurani).

Adapun tugas-tugas perkembangan pada ini meliputi kegiatan belajar & mengembangkan hal-perihal sebagai berikut.

1. Belajar keterampilan fisik yg diperlukan buat bermain, seperti lompat jauh, lompat tinggi, mengejar, menghindari kejaran, & seterusnya.

2. Membina sikap yg sehat (positif) terhadap dirinya sendiri sebagai seorang individu yg sedang berkembang, seperti kesadaran tentang harga din (self-esteem) & kemampuan din (self efficacy).

3. Belajar bergaul dgn teman-teman sebaya sesuai dgn etika moral yg berlaku di masyarakatnya.

4. Belajar memainkan peran sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) & sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita).

5. Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis, & berhitung (matematika atau aritmetika).

6. Mengembangkan konsep-konsep yg diperlukan kehidupan sehari hari.

7. Mengembangkan kata hati, moral & skala nilai yg selaras dgn keyakinan & kebudayaan yg berlaku di masyarakatnya.

8. Mengembangkan sikap objektif/lugas baik positif maupun negatif terhadap kelompok & lembaga kemasyarakatan.

9. Belajar mencapai kemerdekaan atau kebebasan pribadi sehingga menjadi dirinya sendiri yg independen (mandiri) & bentanggung jawab.

3. Tugas perkembangan fase remaja

Masa remaja (adolescence) menurut sebagian ahli psikologi terdiri atas sub- sub masa perkembangan sebagai berikut: 1) subperkembangan prepuber selama kurang lebih dua tahun sebelum masa puber; 2) subperkembangan puber selama dua setengah sampai tiga setengah tahun; 3) subperkembangan post-puber, yakni disaat perkembangan biologis sudah lambat tapi masih terus berlangsung pada bagian-bagian organ tententu.,

Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa meliputi hal-perihal sebagai berikut.

1. Mulai bekerja mencari nafkah, khususnya apabila ia tidak melanjutkan karier akademik.

2. Memilih teman atau pasangan hidup berumah tangga (memilih calon suami atau istri).

3. Mulai memasuki kehidupan berumah tangga, yakni menjadi seorang suami atau istri.

4. Belajar hidup bersama pasangan dalam suasana rumah tangga, yakni dgn istri/suaminya.

5. Mengelola tempat tinggal buat keperluan rumah tangga & keluarganya.

6. Membesarkan anak-anak dgn menyediakan pangan, sandang, & papan yg cukup & memberikan pendidikan (dalam arti yg luas) yg memadai.

7. Menerima tanggung jawab kewarganegaraan sesuai dgn perundang-undangan & tuntutan sosial yg berlaku masyarakatnya.

8. Menemukan kelompok sosial (perkumpulan kemasyarakatan) yg cocok & menyenangkan.

Adapun tugas-tugas perkembangan pada fase setengah tua tersebut adalah sebagai berikut.

1. Mencapai tanggung jawab sosial & kewarganegaraan secara lebih dewasa.

2. Membantu anak-anak yg berusia belasan tahun (khususnya anak kandungnya sendiri) agar berkembang menjadi orang-orang dewasa yg bahagia & bertanggung jawab.

3. Mengemhangkan aktivitas & memanfaatkan waktu luang sebaik baiknya bersama orang-orang dewasa lainnya.

4. Menghubungkan din sedemikian rupa dgn pasangannya (dgn suami atau istni) sebagai seorang pribadi yg utuh.

5. Menerima & menyesuaikan din dgn perubahan-perubahan psikologis yg lazim terjadi pada masa setengah baya.

6. Mencapai & melaksanakan penampilan yg memuaskan dalam karier.

7. Menyesuaikan diri dgn perikehidupan (khususnya dalam perihal cara bersikap & bertindak) orang-orang yg berusia lanjut.

Adapun tugas-tugas perkembangan pada fase setengah tua tersebut adalah sebagai berikut.

1. Mencapai tanggung jawab sosial & kewarganegaraan secara lebih dewasa.

2. Membantu anak-anak yg berusia belasan tahun (khususnya anak kandungnya sendiri) agar berkembang menjadi orang-orang dewasa yg bahagia & bertanggung jawab.

3. Mengembangkan aktivitas & memanfaatkan waktu luang sebaik baiknya bersama orang-orang dewasa lainnya.

4. Menghubungkan din sedemikian rupa dgn pasangannya (dgn suami atau istri) sebagai seorang pribadi yg utuh.

5. Menerima & menyesuaikan din dgn perubahan-perubahan psikologis yg lazim terjadi pada masa setengah baya.

6. Mencapai & melaksanakan penampilan yg memuaskan dalam karier.

7. Menyesuaikan din dgn penikehidupan (khususnya dalam perihal cara bersikap & bertindak) orang-orang yg berusia lanjut.


Pendidikan Luar Sekolah

PEMBENTUKAN KEJAR PAKET B & MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR WARGA BELAJAR

A. Latar Belakang Masalah

Pembagunan pada hakekatnya ada;ah proses perubahan yg terus menerus, yg merupakan kemajuan & perbaikan kearah tujuan yg ingin dicapai. Pelaksanaan pembagunan itu sendiri melibatkan seluruh lapisan masyarakat beserta ditujukan buat kepentingan manusia. Oleh karena itu menunda sebagai faktor yg dapat menentukan arah keberhasilan pembagunan dimana pendidikan mempunyai peranan sangat penting buat menjamin perkembangan & kelangsungan hidup bangsa.

Pembagunan dalam bidang pendidikan merupakan salah satu bagian dalam pembagunan yg meliputi pendidikan prasekolah (pendidikan dasar 9 tahun), pendidikan menengah atas & pendidikan tinggi atas akademik.

Pendidkan menjadi kunci pembagunan, dgn pendidkan diharapkan dapat tercapai sumber daya manusia yg berkualitas. Mampu menghadapi tantangan & perubahan pada masa sekarang & yg akan datang.

Dgn tuntutan keberadaan manusia yg berkualitas, maka pendidkan dasar 6 tahun tidak mencukupi & perlu ditingkatkan. Menjadi pendidikan dasar 9 tahun.

Buat menjamin pelaksanaan & kesuksesaan program wajar dikdes 9 tahun, dirasakan pendidikan persekolahan saja belum mampu menampung aspirasi & tingkat partisipasi masyarakat buat melanjutkan ke SLTP, perihal ini karena berbagai keterbatasan dalam pelayanan. Meningkatkan perihal tersebut pendidikan luar sekolah ({LS) akan menjadi tumpuan & harapan bagi terlaksananya tujuan luhur pendidkan nasional.

Salah satu jenis pendidikan luar sekolah yg berupaya memberikan pengetahuan yg relatif serupa dgn pengetahuan yg diperoleh dibangku sekolah & berhubungan dgn kesempatan kerja, sebagai contoh adalah kelompok belajar paket A, paket B, Paket C, & kejar usaha.

Berdasarkan studi pendahuluan di lapangan yg beralamatkan di desa sukamanah kecamatan tigaraksa kabupaten tangerang maka ditemukan banyak sekali warga masyarakat yg putus sekolah & tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidkan yg lebih tinggi lagi dikarenakan tidak adanya biaya buat sekolah atas karena letak sekolahnya yg sangat jauh diri pemukiman penduduk. Maka dari pada itu penulis ingin mengadakan kejar paket B setara SLTP, karena kebanyakan dari warga masyarakat hanya mengenal pendidkan sampai 6 tahun saja, & penulis ingin warga belajar disini mengenyam wajar dikdas 9 tahun.

B. Tujuan & Sasaran

Adapun tujuan dari pelaksanaan program kejar paket B ini antara lain :

  1. buat melaksanakan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun
  2. buat meningkatkan mutu pendidikan
  3. memberikan pelayanan kepada semua lapisan masyarakat dalam pengembangan & peningkatan potensi terhadap ilmu pengetahuan.

Adapun sasaran dari pelaksanaan program kejar paket B ini antara lain :

  1. warga belajar yg hanya lulusan sekolah dasar (SD) atau setara SD “kejar paket A”
  2. warga belajar yg tidak mampu melanjutkan ke sekolah formal
  3. masyarakat prasejahtra

C. Menetapkan Pendekatan & Teknik

Upaya memotivasi merupakan kegiatan yg mesti & dapat di lakukan oleh setiap pemimpin atau pelaksanaan kegiatan. Upaya memotivasi mencakup kegiatan mendorong, menarik & mengarahkan dorongan yg terdapat pada diri orang – orang yg di pimpin agar mereka melakukan tugas pekerjaaan yg menjadi tanggung jawab, begitu juga dalam kegiatan pembelajaran guru / sumber belajar di tuntut tidak saja sebagai franformasi, tapi juga dapat berfungsi sebagai motivator yg dapat menggerakan minat siswa buat belajar dgn menggunakan berbagai media & sumber yg sesuai & menunjang terhadap pencapaian suatu tujuan.

Kegiatan memotivasi merupakan salah satu langkah awal yg mesti di lakukan guru dalam belajar, jika guru / tutar telah berhasil dalam membagun motivasi siswa dalam belajar, tidaklah berlebihan buat mengatakan bahwa guru berhasil dalam mengajar.

Dalam perihal ini teknik yg digunakan adalah bentuk angkel yg dipergunakan adalah angket tertutup, yaitu angket yg alternatif jawabnya telah disediakan sehingga responden tinggal memilih jawaban yg dianggap paling cocok atau sesuai teknik ini digunakan dgn alasan bahwa data yg diperoleh dapat dgn cepat terkumpul karena responden dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan yg bebas dalam waktu yg relatif lama beserta tanpa ada unsur penekanan dari pihak manapun.

Teknik ini dipergunakan buat memperoleh data yg tidak tersangkut dgn menggunakan teknik lainnya, yaitu dapat melakukan pencatatan & pengamatan langsung pada tempat / sasaran. Observasi adalah studi yg disengaja & sistematis tentang fenomena sosial & gejolak-gejolak alam dgn jalan pencatatan & pengamatan.

Teknik wawancara ini penulis gunakan buat melengkapi kekurangan-kekurangan pada teknik angket yaitu apabila diantaranya responden yg kurang memahmi isi angket & buat melengkapi data dalam pengelolaan & analisa data yg terhimpun melalui angket.

Teknik ini penulis gunakan dalam pengumpulan data beserta teori-teori yg berhubungan dgn penelitian yg dilakukan sedangkan maksud & tujuan digunakan teknik ini adalah buat mendapatkan data & teori – teori melalui buku-buku.

D. Menetapkan Materi

Jenis motivasi yg diberikan oleh tutor terhadap warga belajar sebagian besar di berikan secara lisan & tulisan.

Bentuk motivasi yg di berikan berkenaan dgn materi pelajaran di kelas, & yg berkenaan dgn bidang kehidupan sehari-hari

Materi berkisar tentang materi pelajaran:

Tempat

Belajar dapat di lakukan di

a. Rumah-rumah

b. Sekolah – sekolah

c. Tempat lain yg mempunyai syarat.

1. mampu menampung sekitar 40 orang warga belajar

2. tersedia fasilitas belajar mengajar

3. mudah di jangkau warga belajar, tutur & pengelola berada, jika tidak mungkin, tempat belajar di buat seperti dalam suasana sekolah

Waktu

Waktu yg di gunakan buat berlangsungnya proses belajar yaitu 2 jam belajar di mulai dari jam 13.00 -17.00 wib. (1 x 45 menit) dalam 1 mata pelajaran


ANGGARAN DANA

A. Kesekertariatan

- ATK Rp. 600.000

- Pengadaan listrik Rp. 1000.000

- Biaya kebrsihan lingkungan Rp. 500.000 +

Rp. 2.100.000

B. Pendanaan bulanan


- Oprasional bulanan gedung Rp. 500.000

- 1 sentifitutor 1semester 960.000 X 6 butir Rp. 5.750.000

- manajemen + program 1.440.000 X 6 panitia Rp. 8.640.000 +

Rp.14.900.000

C. Perlengkapan

- Lemari buku 1 buah Rp. 1.250.000

- Pembelian bahan ajar Rp. 1.750.000 +

Rp. 3.000.000

Rekapitulasi kebutuhan

  1. Kesekertairiatan Rp. 2.100.000
  2. pendapatan bulanan Rp. 14.900.000
  3. Perlengkapan Rp. 1.750.000 +

Rp. 20.000.000

Terbilang

Dua Puluh Juta Rupiah

Categories

20HadiahLebaran aceh active Ada ada saja adsense aids air tanah anak antik Artikel Artis asma Bahasa bahasaindonesia baju band batuk bayi bekas belajar bencana Berita Berita Ringan big panel biologi bisnis bisnis online Blog Bola budidaya buku bunga burner burung cerai Cerpen chandra karya Cinta ciri cpns cuti cv daerah desain di jual diare diet coke diet plan dinas domisili ekonomi email euro exterior fashion fat Film FISIP foke forex format FPI furniture gambar game gejala gempa geng motor geografi gigi ginjal Girlband Indonesia graver GTNM gunung gurame guru haga haki hamil harga hasil hepatitis hernia hiv Hukum hunian ibu ijin ikan indonesia Info Informasi Information Inggris Inspirational interior Internet Intertainment izin jadwal jakarta janin jantung jati Joke jokowi kamar kamarmandi kampus kantor. karyailmiah keguguran kemenag kemenkes kendala kerja kesanggupan kesenian kesepakatan keterangan kisi kkm klaim Komik Komputer kontrak kop korea lagu lamaran lambung legalisir lemari Lifestyle ligna Linux lirik Lirik Lagu Lowongan Kerja magang mahasiswa makalah Malignant Fibrous Hystiocytoma marketing Matematika mebel medan meja melahirkan menikah merk mesothelioma mesothelioma data mimisan mimpi minimalis Misteri mobil modern modul motivasi motor mp3 mual mulut mutasi Naruto news ngidam nikah nisn noah nodul nomor surat Novel novil Olah Raga Olahraga olympic opini pagar panggilan paper paspor paud pelatihan pembelian pemberitahuan pemerintah penawaran pendidikan pengantar pengertian pengesahan pengetahuan pengumuan pengumuman pengumumna Pengunduran pengurusan penyakit penyebab perjanjian perkembangan Permohonan pernyataan perpanjangan persiapan bisnis Pertanian perumahan perusahaan perut peta phones photo Pidato pilkada pimpinan pindah plpg PLS postcard pringatan Printer Tips profil Profil Boyband properti property proposal prumahan Psikologi-Psikiater (UMUM) Puisi quote Ramalan Shio rekomendasi relaas resensi resignation resmi Resume rpp ruang rumah rupa sakit sambutan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) second sejarah sekat sekolah Selebritis seni sergur series sertifikat sertifikat tanah sinopsis Sinopsis Film Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan sitemap skripsi sm3t smd sni snmptn soal Software sosial springbed starbol stnk sukhoi sumatera surabaya surat suratkuasa Surveilans Penyakit tafsir tahap Tahukah Anda? tanda tas television teraphy Tips Tips dan Tricks Seks Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum toko Tokoh Kesehatan top traditional tsunami tugas ucapan ujian uka un undangan undian universitas unj unm unp upi uu Video virus walisongo wanita warnet