Pengaruh penerapan pembelajaran melalui pendekatan kooperatif tipe Team Accelarated Instrucsion (TAI) terhadap prestasi belajar matematika siswa SMPN
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara yg sedang membangun. Dgn pembangunan, Indonesia dapat sejajar dgn bangsa-bangsa yg sudah maju buat melakukan suatu pembangunan sangatlah diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yg cerdas & terampil di bidangnya masing-masing. Kecerdasan & keterampilan tersebut dapat dikembangkan dgn adanya pendidikan.
Perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi memacu pengelola pendidikan buat melakukan usaha guna meningkatkan mutu pendidikan. Ketika pendidikan ingin dikatakan bermutu atau maju prestasinya dapat dilihat secara objektif & jelas. Basis pendidikan yg mengarah pada perkembangan teknologi salah satunya adalah matematika. Seperti yg dikatakan oleh Morris Kline (Simanjuntak L, 1993: 64) bahwa jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini bergantung dari kemajuan di bidang matematika. Karena pentingnya perihal tersebut maka banyak negara yg telah maju, menjadikan matematika sebagai suatu basis dalam pembangunan negaranya. Namun apabila melihat kondisi pendidikan di Indonesia dari dahulu sampai pada disaat ini masih sangat memprihatinkan, perihal ini dapat dilahat dari rendahnya prestasi belajar matematika pada setiap jenjang pendidikan. Perihal ini juga dapat dibuktikan dgn banyaknya siswa yg memperoleh nilai pada Ujian Akhir Nasional (UAN). Khususnya mata pelajaran matematika, nilai siswa SMP pada tahun ajaran 2005/2006 di bawah standar nilai kelulusan yg telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar 4,25 sehingga sangat dibutuhkan suatu upaya dari seorang pendidik agar masalah tersebut dapat diatasi & juga dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
Dalam upaya meningkatkan prestasi siswa terhadap matematika sangat dibutuhkan trik atau metode yg mesti dikuasai & dilakukan oleh setiap pendidik, khususnya pendidik pelajaran matematika. Perihal ini perlu dilakukan karena sebagian besar siswa menganggap bahwa matematika adalah suatu pelajaran yg sulit buat dipahami & membosankan sehingga dapat menyebabkan banyak sekali siswa tidak menyukai pelajaran matematika pada akhirnya dapat menjadi salah satu penyebab rendahnya prestasi belajar siswa. Seperti yg dikatakan oleh Suyatno (Asmin, 2003:1) bahwa perihal yg banyak dapat menyebabkan siswa tidak menyukai pelajaran matematika adalah penyampaian guru yg cenderung bersifat monoton, hampir tanpa variasi kreatif.
Sejauh ini dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia yg semakin lama semakin terpuruk ini, dgn adanya kelulusan yg kurang qualified, dalam perihal ini pemerintah telah merumuskan kurikulum baru, yaitu yg di kenal dgn Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini telah di revisi lagi oleh pemerintah dgn nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kurikulum ini telah diberlakukan oleh pemerintah pada bulan juni tahun 2006. Menurut Ba& Standar Nasional Pendidikan (BSNP) kurikulum baru ini akan memberikan kesempatan buat berkreasi, yakni berkreasi mengembangkan kurikulum berdasarkan standar isi & kompetensi kurikulum inti yg diatur oleh pemerintah. (Nugroho Hendy ; 2006 : 1).
Kurikulum 2006 yg disusn oleh Ba& Standar Nasional Pendidikan (BSNP) secara substansial sama dgn Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yg ditetapkan 2004 lalu. Perbedaannya, kurikulum 2006 tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar dikelas, guru & sekolah bebas mengembangkannya sendiri sesuai dgn kondisi murid & daerahnya.
Menurut Djaali (Zatnika; Media Indonesia : 1) Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sendiri belum terlaksana secara optimal. Pemberlakuan kurikulum 2006 diharapkan makin mengukuhkan eksistensi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Menurut Kepala Dinas P&K Jawa Timur, Dr. Rasiyo.Msi. (Surya Online :1) Dibuatnya kurikulum 2006 ini merupakan suatu bentuk implementasi peraturan pemerintah N0. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Rasiyo juga menegaskan bahwa kurikulum 2006 ini memberikan keleluasaan kepada sekolah buat dapat menentukan materi sendiri, kegiatan pembelajaran & indikator yg mesti dicapai oleh murid.
Pembelajaran kooperatif atau yg sering disebut dgn belajar secara berkelompok ini memiliki berbagai macam tipe, namun yg ingin diterapkan dalam penelitian ini adalah tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI) yg dapat digunakan buat meningkatkan & mengefektifkan implementasi kurikulum 2004.
Ruang kelas merupakan suatu tempat yg sangat baik buat kegiatan kooperatif Learning (Suherman, 2003:259). Metode kooperatif ini tampaknya akan dapat melatih para siswa buat mendengarkan pendapat-pendapat orang lain & temuan-temuan dalam bentuk tulisan. Di dalam ruang kelas para siswa dapat diberi kesempatan berkarya dalam kelompok-kelompok kecil, buat menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah secara bersama.
Kooperatif dalam matematika juga akan dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam metematika (Suherman, 2003:259) para siswa secara individu membangun kepercayaan diri terhadap kemampuannya, buat menyelesaikan masalah-masalah matematika, sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika (math a xietiy), yg banyak dialami para siswa .dgn menonjolkan interaksi dalam kelompok. Model belajar kooperatif learning tipe Team Asccelerated Intriction (TAI) dapat membuat siswa menerima siswa lain yg berkemampuan & berlatar belakang yg berbeda. Metode ini juga telah terbukti dapat meningkatkan berfikir kritis beserta meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah.
Buat menjamin heterogenitas keanggotaan kelompok, maka gurulah yg membentuk kelompok-kelompok tersebut. Jika siswa dibebaskan membuat kelompok sendiri maka biasanya siswa akan memilih teman-teman yg sangat disukainya. Ukuran besar kecilnya kelompok akan mempengaruhi kemampuan produktifitas kelompoknya. Ukuran kelompok ideal pada tipe TAI ini adalah 3 sampai 5 orang.
Dgn menggunakan metode Kooperatif Learning tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI) ini, diharapkan dalam proses pembelajaran siswa tidak merasa jenuh & diharapkan dapat meningkatkan prestasi siswa. Prestasi belajar juga dapat dicapai dgn perjuangan yg tidak mengenal lelah & putus asa yg sesuai dgn ungkapan “tidak ada sesuatu yg dapat dicapai tanpa kerja keras”.
Sebelumnya, sudah banyak penelitian yg telah dilakukan buat menguji keefektifan dari penerapan kooperatif learning tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI) dalam pembelajaran matematika di sekolah-sekolah. Namun masih sedikitnya yg menguji tentang ada tidaknya pengaruh kooperatif learning tipe Team Accelerated Instrucsion (TAI) ini terhadap prestasi belajar siswa. Maka penelitian akan dilakukan buat dapat menguji sejauh mana “pengaruh penerapan pembelajaran melalui pendekatan kooperatif tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI) terhadap prestasi belajar matematika SMP”.
2. Identifikasi Masalah
3. Pembatasan & Rumusan Masalah
3.1 Pembatasan Masalah
Masalah yg timbul dalam penelitian ini cukup banyak, tapi tidak semua masalah akan dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini hanya dibatasi pada pengajaran di tingkat Sekolah Menengah Pertama dalam perihal ini SMPN 5 Serang kelas VIII, semester ganjil tahun ajaran 2006/2007 buat materi Sistem Persamaan Linear dgn Dua Variabel, menggunakan pendekatan kooperatif tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI).
3.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan klasifisikasi masalah & pembatasan masalah yg ada, maka masalah yg akan diteliti dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana pengaruh pendekatan kooperatif tipe TAI (Team Accelerated Intrucsion) terhadap prestasi belajar matematika siswa SMP?”
4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:
1. Ikut beserta dalam usaha menciptakan suatu pembelajaran yg menyenangkan & dapat bermakna bagi siswa guna peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.
2. Buat memperoleh alternatif pendekatan pembelajaran yg sesuai buat siswa SMPN 5 Serang kelas VIII dalam upaya mengembangkan & meningkatkan kemampuan siswa buat memahami materi pelajaran, beserta menyelesaikan soal-soal yg berhubungan dgn materi Sistem Persamaan Linear dgn Dua Variabel.
3. Buat mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran dgn menggunakan pendekatan kooperatif tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI) terhadap prestasi belajar matematika siswa.
5. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Bagi guru matematika, dapat memberikan alternatif pengajaran buat diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
2. Bagi siswa, pembelajaran dgn menggunakan pendekatan kooperatif tipe Team Accelerated Intrucsion (TAI) ini dapat merangsang kemampuan berfikir kritis, kreatif, inovatif & membantu meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
3. Bagi peneliti sejenis, dapat menjadi salah satu dasar & masukan dalam upaya mengembangkan penelitian-penelitian selanjutnya.
6. Sistematika Penulisan
DESKRIPSI TEORI & HIPOTESIS PENELITIAN
1.1 Hakekat Belajar
Buat memperoleh pengertian yg objektif tentang belajar, terutama belajar di sekolah, perlu dirumuskan secara jelas pengertian belajar. Belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli psikologi termasuk oleh ahli psikologi pendidikan.
Menurut pengertian secara psikologis (Slameto, 2003:2) belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku yaitu sebagai hasil dari interaksi dgn lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, atau dgn kata lain belajar (Hamalik, 36:2001) adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.
Menurut pengertian di atas, belajar adalah merupakan suatu proses di mana seseorang mendapatkan suatu pengetahuan & pemahaman yg diiringi dgn latihan sebagai penguatan yg akan membawa seseorang kepada sebuah prilaku berbeda dari sebelumnya, & prilaku tersebut bersifat tetap & berlaku lama & melekat pada dirinya sehingga pada akhirnya akan menjadi sifat & pola prilakunya.
Perubahan terjadi karena sikap seorang siswa yg senantiasa berinteraksi dgn lingkungannya. Lingkungan tempat siswa terdiri dari lingkungan sekolah & lingkungan luar sekolah, di mana siswa mendapatkan pengaruh yg dapat menjadi suatu pengalaman bagi dirinya & hasilnya nanti didapat sebagai hasil belajar.
Belajar merupakan prilaku yg kompleks (Dimyati, 2002:38). Skinner misalnya memandang prilaku belajar dari segi prilaku teramati. Oleh karena itu, ia mengemukakan pentingnya program pembelajaran. Gagne memandang kondisi internal belajar & kondisi eksternal belajar yg bersifat interaktif. Rogers mengemukakan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dalam belajar, dimana pelajar memiliki kekuatan menjadi manusia, belajar perihal yg bermakna, menjadikan bagian yg bermakna bagi diri, bersikap terbuka, berpartisipasi & bertanggung jawab, belajar mengalami kesinambungan dgn penuh kesungguhan.
Belajar juga merupakan tindak interaksi antara pelajar & pembelajaran yg memiliki tujuan. Oleh karena itu, berupa akibat interaksi, maka belajar di dinamiskan (Dimyati, 2002: 39). Pendinamisan belajar terjadi oleh prilaku belajar & lingkungan pelajar. Dinamika pelajar yg bersifat internal, terkait dgn peningkatan hierarki ranah-ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Kesemuanya itu terkait dgn tujuan pembelajaran.
Di dalam belajar terdapat tiga masalah pokok, yaitu:
a. Masalah mengenai faktor-faktor yg mempengaruhi terjadinya belajar
b. Masalah bagaimana belajar itu berlangsung & prinsip mana yg dilaksanakan
c. Masalah mengenai prestasi belajar.
Dua masalah pokok yg pertama tersebut berkenaan dgn proses belajar yg sangat berpengaruh kepada masalah pokok yg ketiga. Dgn demikian, bagaimana peristiwa terjadinya proses belajar akan menentukan prestasi belajar seseorang.
1.2 Hakekat Prestasi Belajar
Dalam proses belajar mengajar, siswa mengalami suatu perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, keterampilan, & sikap. Adanya perubahan ini dapat dilihat dari prestasi belajar siswa yg dihasilkan dari kegiatan mengerjakan soal ulangan & mengerjakan tugas yg diberikan oleh guru.
Kata prestasi belajar mengandung dua kata yaitu prestasi & belajar yg mempunyai arti berbeda. Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belaja dibicarakan, ada baiknya kedua kata itu dijelaskan satu-persatu.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (PR. Cybermedia, 2002:1) prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan & kemajuan murid yg berkenaan dgn penguasaan bahan pengajaran yg disajikan kepada mereka & nilai-nilai yg terdapat di dalam kurikulum. Sedangkan belajar merupakan perubahan tingkah laku buat mencapai tujuan & tidak tahu menjadi tahu atau dapat dikatakan sebagai proses yg menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku & kecakapan seseorang.
Selanjunya menurut Abdurrahman Saleh (PR.Cybermedia, 2002:1) memberikan prestasi belajar adalah yg dicapai siswa dari mempelajari tingkat ilmu penguasaan tertentu dgn alat ukur berupa evaluasi yg dinyatakan dalam bentuk angka huruf atau angka simbol-prestasi belajar juga dapat diartikan sebagai indikator kualitas & kwantitas pengetahuan yg dikuasai anak didik dalam memahami mata pelajaran di sekolah.
Prestasi belajar bukan hanya semata-mata karena faktor kecerdasan (intelegensia) siswa saja, tapi ada faktor lain yg dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa tersebut. Faktor-faktor yg dimaksud tersebut dibagi menjadi dua yakni faktor intern & faktor ekstern faktor-faktor yg dimaksud adalah seperti yg dikemukakan oleh Hana Sujadna (PR.Cybermedia, 2002: 1)
a. Faktor intern, yaitu faktor yg terdapat dalam diri individu itu sendiri, antara lain adalah kemampuan yg dimiliki, minat & motivasi beserta faktor-faktor lainnya.
b. Faktor ekstern, yaitu faktor yg berada diluar individu diantaranya lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat.
Sehubungan dgn perihal tersebut diatas, agar siswa dapat memperoleh prestasi belajar yg seoptimal mungkin maka siswa perlu meningkatkan kemampuan minat & motivasi yg ada dalam dirinya.demikian pula halnya dgn faktor yg ada diluar diri siswa. Faktor ini dapat mendorong & menghambat siswa dalam proses belajar. Lingkungan keluarga, sekolah & masyarakat dapat memberikan dukungan kepada siswa didalam belajar. Di antara ketiga lingkungan tersebut lingkungan sekolah merupakan lingkungan yg terpenting yg berfungsi sebagai lingkungan kedua yg sangat mendukung dalam mendidik anak atau siswa setelah lingkungan utama yaitu lingkungan keluarga. Minat siswa terdapat suatu pelajaran bisa menjadi salah satu faktor yg menyebabkan peningkatan prestasi belajar siswa. Minat siswa menurut Winkel (Pr. Cybermedia, 2002: 2) termasuk faktor yg berpengaruh pada prestasi belajar yg termasuk faktor ekstern.
1.3 Pembelajaran Kooperatif
1.3.1 Pengertian pembelajaran kooperatif & ciri-ciri pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif diambil dari bahasa inggris “Cooperate” yg artinya bekerja bersama-sama (Echols, 2003:147), dgn demikian pembelajaran kooperatif pola adalah belajar siswa yg saling bekerja sama dgn teman sebaya.
Menurut Slavin ( Bennett, 2003:5 ) bahwa pembelajaran kooperatif adalah sebagai salah satu metode pengajaran dimana siswa bekerja pada kelompok-kelompok kecil buat membantu satu sama lainnya dalam memahami suatu pokok pembahasan. Siswapun diharapkan saling membantu, berdiskusi & berargumen dgn yg lainnya, sehingga dapat menekan perbedaan pemahaman & pengetahuan dalam mempelajari suatu pokok bahasan.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dijelaskan kembali bahwa, pembelajaran kooperatif adalah suatu variasi metode pelajaran yg membimbing siswa dalam sebuah kelompok kecil di dalam kelompok tersebut siswa saling berdiskusi & berargumen beserta membantu teman sekelompok yg mengalami kesulitan dalam memahami materi. Target dari hasil diskusi & argumentasi tersebut, akan dapat membawa siswa kepada sebuah pemahaman & pengetahuan tentang materi yg diajarkan. Kegiatan tersebut akan membantu siswa yg lemah memahami materi & memberikan penguatan kepada siswa yg pintar buat dapat memahami materi.
Seperti yg telah ditelaah oleh Slavin pada tahun (Ibrahim, 2000:16) bahwa pembelajaran kooperatif dapat digunakan secara efektif pada setiap level buat mengajar setiap sains pokok bahasan pelajaran, seperti pada bidang studi matematika, membaca, menulis hingga sains yg bersifat kemampuan dasar sampai masalah yg kompleks. Kunci utama dalam pembelajaran kooperatif adalah peran guru dalam pengorganisasian kelas, menggunakan interaksi. Adapun unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah:
a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka “Sehidup sepenanggungan bersama “.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu dikelompoknya, seperti milik mereka sendiri
c. Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota didalam kelompok nya memiliki tujuan yg sama.
d. Siswa haruslah membagai tugas & tanggung jawab yg sama diantara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah / penghargaan yg juga akan diberikan buat semua anggota kelompok.
f. Siswa membagi kepemimpinann & mereka membutuhkan keterampilan buat belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yg ditangani dalam kelompok kooperatif (Ibarahim, 2000:6).
Mengamati uraian di atas sangat penting bagi seorang guru buat menerapkan strategi pembelajaran kooperatif, yg dapat memungkinkan siswa dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan buat dapat berhasil belajar dalam suatu kelompok, dgn mengembangkan penghargaan akan betapa pentingnya bekerja sama dalam suatu kelompok, & mampu mempriotaskan tujuan-tujuan kepentingan kelompok di atas tujuan-tujuan & kepentingan individual. Selain itu, kelompok juga akan terbiasa & mampu memahami apa saja yg mesti mereka lakukan & bagaimana mereka mesti menyelesaikan secara bersama-sama guna peningkatan prestasi belajar mereka secara individu & kelompok.
Download File Ms. Word Lebih Lengkap Disini
PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam pengajaran Student Active Learning (SAL) merupakan konsekuensi logis dari pengajaran yg seharusnnya. Student Active Learning (SAL) menuntut adanya keaktifan belajar siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yg optimal. Ditinjau dari proses belajar mengajar Student Active Learning (SAL) dapat diartikan salah satu cara strategi mengajar yg menuntut keaktifan & partisipasi siswa seoptimal mungkin, sehingga mampu mengubah tingkah laku siswa secara lebih efektif & efisien.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan tebak kata berpangaruh terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut
2. Apakah Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan teka-teki silang berpangaruh terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut
3. Adakah perbedaan antara Student Active Learning (SAL) yg menggunakan tebak kata dgn Student Active Learning (SAL) yg menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui bagaimana pengaruh Student Active Learning (SAL)dgn menggunakan tebak kata terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut
2. Mengetahui bagaimana pengaruh Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut
3. Mengatahui adakah perbedaan antara Student Active Learning (SAL) yg menggunakan tebak kata dgn Student Active Learning (SAL) yg menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Guru
Penelitian ini diharapakan dapat menjadi pertimbangan bagi pihak-pihak yg terkait dalam bidang pendidikan, terutama guru buat menentukan cara-cara yg tepat & sesuai dgn materi yg diajarkan, yg dapat diterapkan dalam pembelajaran.
2. Siswa
Dgn adanya penelitian ini siswa diharapkan dapat aktif & tidak pasif dalam pembelajaran, siswa juga dapat terlibat secara intelektual & emosional sehingga siswa betul-betul berperan & berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
1.5 HIPOTESIS PENELITIAN
Hipotesis dari penelitian ini yaitu ada pengaruh terhadap pemahaman siswa kelas X dgn menggunakan Student Active Learning (SAL) tebak kata & Student Active Learning (SAL) teka-teki silang pada sub konsep lumut.
3.1 DEFINISI OPERASIONAL
1. Student Active Learning (SAL) yaitu salah satu cara atau strategi mengajar yg menuntut keaktifan & partisipasi siswa seoptimalkan mungkin. Teknik yg digunakan dalam Student Active Learning yaitu tebak kata & teka-teki silang (TTS).
2. Pemahaman merupakan tingkat kemampuan yg mengharapkan siswa mampu memahami apa yg telah diajarkan. Buat mengukurnya yaitu dgn menggunakan pre-tes & pos-test.
3. Lumut ( Bryophyta) berasal dari bahasa yunani bryon yg berarti “ tumbuhan lumut”. Lumut merupakan jenis tumbahan rendah yg pertama beradaptasi dgn lingkungan darat.
3.2 METODE & DESAIN PENELITIAN
Metode : quasi eksperimem
Desain : pre-test & post-test
3.3 POPULASI & SAMPEL
Populasi : Sisawa SMAN 5 KOTA SERANG
Sampel : teknik random sampling & didapat kelas X-6 (teka-teki silang) & X-7 (tebak kata)
a. Kesimpulan
1. Pembelajaran Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan tebak kata berpengaruh terhadap pemahaman siswa, perihal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test mencapai 36,7% & pada rata-rata post-test meningkat menjadi 59,9%.
2. Pembelajaran Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan
teka-teki silang berpengaruh terhadap pemahaman siswa, perihal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test mencapai 33,8% & pada rata-rata post-test meningkat menjadi 57,9%.
3. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan peningkatan terhadap kedua kelas tersebut, perihal ini dilihat dari rata-rata bahwa kelas TBK mencapai 23,2%, & kelas TTS mencapai 24,1%. Dari data di atas terdapat perbedaan mencapai 0,9% dari kedua kelas tersebut.
b. Saran
1. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa pendekatan Student Active Learning menggunakan tebak kata & teka-teki silang, dapat berpengaruh terhadap pemahaman siswa. Oleh karena itu diharapkan para guru dapat mengembangkan aktivitas siswa agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran.
2. Pendekatan Student Active Learning menggunakan tebak kata & teka-teki silang dapat membangkitkan aktivitas belajar siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mangajar.
3. Bagi guru yg akan menggunakan pendekatan Student Active Learning dgn tebak kata & teka-teki silang dalam pembelajaran, maka diharapkan agar memperhatikan masalah waktu, keadaan siswa & kelas.
Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian. Rineka Cipta. Jakarta : vii + 370 hlm
Purwanto, N. 1994. Prinsip-prinsip & teknik evaluasi pengjaran. Remaja Rosdakarya. Bandung : ix + 165 hlm
Riduwan. 2008. Belajar mudah penelitian buat guru-karyawan & peneliti pemula. Alfa Beta. Bandung : x + 240 hlm
Silberman, M.L. 2006. Active learning (101 Cara Belajar Siswa Aktif). Nusamedia dgn Nuanasa. Bandung : 17 + 301 hlm
Pengaruh Laba Perlembar Saham Terhadap Perubahan Harga Saham Pada PT. XYZ
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Informasi yg terdapat pada laporan keuangan sangat berguna bagi pihak-pihak yg mempunyai kepentingan di perusahaan tersebut, contohnya manajemen sebagai pihak intern perusahaan menggunakan laporan keuangan sebagai dasar pengukuran kinerja perusahaan. Bagi pihak ekstern, seperti investor menggunakan laporan keuangan buat membantu kegiatan investasi di pasar modal. Pasar modal merupakan wahana bagi pihak yg memerlukan dana (borrower) dgn pihak yg kelebihan dana (Lender).
Pasar modal bagi perusahaan merupakan alternative penghimpun dana dgn biiaya rendah selain daya tarik aspek likuiditas. Bagi investor, pasar modal menyediakan berbagai pilihan investasi yg sesuai dgn preferensi investor.
Harga saham mencerminkan juga nilai dari suatu perusahaan. Jika perusahaan mencapai prestasi yg baik, maka saham perusahaan tersebut akan banyak diminati oleh para investor. Prestasi yg baik yg di capai perusahan dapat di lihat di dalam laporan keuangan yg di publikasikan oleh perusahaan (emiten). Emiten berkewajiban buat mempublikasikan laporan keuangan pada periode tertentu. Laporan keuangan ini sangat berguna bagi investor buat membantu dalam pengambilan keputusan investasi, seperti menjual, membeli, atau menanam saham.
Sebagian investor sebelum berinvestasi mereka terlebih dahulu mel;akuakan analisa terhadap informasi keuangan emiten. Dalam melakukan analisa, investor sering kali menggunakan informasi laba bersih, karena laba bersih di pandang sebagai indikator kemampuan perusahaan dalam membayar deviden. Namun demikian laporan laba bersih belum mencerminkan keadaan yg sebenarnya dari perusahaan. Faktor-faktor lain ayng juga penting adalah ketersediaan kas dalam perusahaan. Laporan laba rugi hanya menyajikan perubahan keuangan yg terjadi karena kegiatan perusahaan. Laporan arus kas merupakan laporan yg dapat memberikan informasi yg lebih lengkap, yaitu mengenai jumlah kas yg tersedia dalam perusahaan. Laporan arus kas menyajikan posisi keuangan dari segi aliran kas keluar & lairna kas masuk pada suatu periode. Dgn laporan arus kas, maka informasi arus kas dapat membantu melengkapi keberadaan sebagai indikator keadaan keuangan perusahaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik buat melakuakan penelitian. Penelitian ditujukan buat memberikan informasi kepada investor. Informasi tersebut adalah mengenai “ Pengaruh Laba Perlembar Saham Terhadap Perubahan Harga Saham Pada PT. XYZ“.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Bagaimana perhitungan EPS pada PT. XYZ ?
2. Bagaimana perubahan harga saham pada PT. XYZ?
3. Apakah terdapat hubungan antara EPS dgn Perubahan Harga saham pada PT. XYZ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan Penelitian ini adalah :
1. Buat mengetahui perhitungan EPS pada PT. XYZ.
2. Buat mengetahui perubahan harga saham pada PT. XYZ Buat mengetahui seberapa besar pengaruh EPS terhadap Perubahan Harga saham pada PT. XYZ.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi semua pihak, terutama bagi pihak-pihak berikut ini:
1. Penulis, Penelitian ini diharapkan dapat berguna buat menambah pengetahuan, juga sebagai pelengkap atau sarana buat menerapkan teori-teori yg didapat selama dibangku kuliah.
2. Perusahaan, Diharapkan dapat menjadi sumber informasi & masukan perusahaan dalam melakukan aktivitas investasi di pasar modal.
3. Pihak lain, Semoga hasil dari penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pihak lain yg berkepentingan, baik sebagai bahan bacaan atau sebagai literatur buat karya serupa.
1.5 Kerangka Pemikiran
Laba perlembar saham merupakan ikhtisar data akuntansi yg paling sering dipublikasikan. Laba perlembar saham adalah jumlah laba yg menjadi hak buat setiap pemegang satu lembar saham biasa. Laba perlembar saham merupakan keuntungan yg diberikan kepada pemegang saham buat setiap lembar saham.
Informasi laba perlembar saham ini sangat berguna bagi pihak manajemen ataupun pihak lain, seperti : investor & calon investor. Informasi laba perlembar saham dibutuhkan oleh pihak manajemen buat menentukan besarnya pembagian deviden. Sedangkan bagi pihak investor & calon invenstor informasi laba perlembar saham di gunakan buat menilai kinerja perusahaan & meramalkan prestasi perusahaan di masa depan.
Adapun kerangka pemikiran mengenai Pengaruh Laba Perlembar Saham Terhadap Perubahan Harga Saham Pada PT. XYZ
Variable X :
EPS ( Laba Perlembar Saham )
Variable Y :
Perubahan Harga Saham.
Terdapat Pengaruh antara laba perlembar saham dgn perubahan harga saham
Berdasarkan kerangka pemikiran yg telah di kemukakan diatas. Maka penulis dapat merumuskan hipotesis yaitu: “ menunjukan Terdapat Pengaruh antara laba perlembar saham dgn perubahan harga saham pada PT. XYZ.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manajemen Keuangan
2.1.1 Pengertian Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan meliputi beberapa aktivitas seperti: penganggaran, peramalan keuangan, analisis investasi, pengadaan dana & lain-lain. Oleh penyebab itu manajemen keuangan dapat diartikan sebagai berikut:
Menurut Agus Sartono ( 2001:8 ) Manajemen Keuangan dapat diartikan sebagai berikut :
“Manajemen dana baik yg berkaitan dgn mengalokasikan dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana buat pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien.”
Menurut Bambang Riyanto ( 2001:4 ) menyatakan bahwa :
“Keseluruhan aktivitas yg bersangkutan dgn usaha buat mendapatkan dana & menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut.”
Dari kedua pengertian Manajemen Keuangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Manajemen Keuangan meliputi aktivitas seperti bagaimana perusahaan mendapatkan dana & menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut dalam berbagai bentuk investasi & buat pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien. Jadi perusahaan tidak hanya berusaha mencari dana saja, tapi juga mengolah dana dgn baik & menggunakan buat kemakmuran pemegang saham.
2.1.2 Tujuan & Fungsi Manajemen Keuangan
Tujuan Manajemen keuangan dari suatu perusahaan adalah memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham diukur dari harga saham, dimana didalamnya sudah mencerminkan waktu pengembalian (jangka panjang), besarnya & resiko. Karena itulah seorang manajer mesti memfokuskan seluruh kegiatannya pada suatu tujuan yaitu meningkaykan nilai perusahaan semaksimal mungkin buat para pemegang saham.
Fungsi pokok dari Manajemen Keuangan mencakup keputusan investasi (Investasi Decision), keputusan pembiayaan (Financial Dicision), & keputusan kebijakan deviden (Deviden Policy).
Menurut Bambang Riyanto ( 2001:6 ) ada tiga fungsi dari Manajemen Keuangan, sebagai berikut :
1. Keputusan alokasi dana yg berasal dari luar perusahaan maupun dana yg berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi.
2. Pengambilan keputusan pembelanjaan atau pembiayaan investasi.
3. Kebijakan deviden.
Sedangkan menurut Agus Sartono ( 2001:6 ) fungsi pembelanjaan atau Manajemen Keuangan pada dasarnya terdiri dari fungsi pokok, yaitu :
1. Fungsi menggunakan atau mengalokasikan dana (use atau allocation of funds) yg dalam pelaksanaannya manajer keuangan mesti mengambil keputusan pemilihan alternatif investasi atau keputusan investasi, dan
2. Fungsi memperoleh dana (obtaining of funds) atau fungsi pendanaan yg dalam pelaksanaanya manajer keuangan mesti mengambil keputusan pemilihan alternatif pendanaan atau keputusan pendanaan (financing decision).
2.2 Saham
2.2.1 Pengertian Saham
Secara Umum saham adalah “surat Tanda Kepemilikan Perusahaan”. Pengertian harga saham menurut H.M Jogiyanto ( 2000:8 ), adalah :“Harga saham yg terjadi dipasar bursa pada disaat tertentu yg ditentukan oleh pelaku pasar & ditentukan oleh permintaan & penawaran saham yg bersangkutan dipasar modal.”Menurut Agus Sartono ( 2001:9 ), harga saham terbentuk dipasar modal & ditentukan oleh beberapa factor seperti laba per lembar saham atau earning per share, rasio laba terhadap harga per lembar saham atau price earning ratio, tingkat bunga bebas resiko yg diukur dari tingkat bunga deposito pemerintah & tingkat kepastian operasi perusahaan.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa harga saham akan terbentuk dari adanya transaksi yg terjadi di pasar modal yg ditentukan oleh permintaan & penawaran saham yg bersangkutan dgn dipengaruhi oleh beberapa factor.
Pemegang saham adalah pemilik perusahaan yg berhak atas aktiva perusahaan & bertanggung jawab atas hutang – hutang perusahaan. Saham yg telah beredar di masyarakat dapat berpindah tangan melalui pasar sekunder, pasar sekunder di Indonesia adalah Bursa Efek Jakarta ( BEJ ) & Bursa Efek Surabaya ( BES ).
Kekuatan pasar dapat menjadi tombak dalam penentuan nilai perusahaan, dimana jika pasar menilai bahwa perusahaan penerbit saham dalam kondisi baik, maka biasanya harga saham perusahaan akan naik. Demikian pula sebaliknya, jika perusahaan dinilai rendah oleh pasar maka harga saham perusahaan dinilai rendah oleh pasar sehingga akan berdampak pula pada harga saham perusahaan yg akan ikut menurun bahkan bias lebih rendah dari harga di pasar perdana. Dgn demikian, kekuatan tawar menawar di pasar sekunder antara investor yg satu dgn investor yg lain sangat menentukan harga saham perusahaan.
2.2.2 Faktor-faktor Yg Mempengaruhi Harga Saham
Menurut Weston & Brigham ( 2001:26 ), factor-faktor yg mempengaruhi harga saham adalah :
1. Laba per lembar saham (Earning Per Share/EPS)
Seorang investor yg melakukan investasi pada perusahaan akan menerima laba atas saham yg dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham (EPS) yg diberikan perusahaan akan memberikan pengembalian yg cukup baik. Ini akan mendorong investor buat melakukan investasi yg lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan akan meningkat.
2. Tingkat Bunga
Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dgn cara :
a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dgn obligasi, apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya buat ditukarkan dgn obligasi. Perihal ini akan menurunkan harga saham. Perihal sebaliknya juga akan terjadi apbila tingkat bunga mengalami penurunan.
b. Mempengaruhi laba perusahaan, perihal ini terjadi karena bunga adalah biaya, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan. Suku bunga juga mempengaruhi kegiatan ekonomi yg juga akan mempengaruhi laba perusahaan.
3. Jumlah Kas Deviden yg Diberikan
Kebijakan pembagian deviden dapt dibagi menjadi dua, yaitu sebagian dibagikan dalam bentuk deviden & sebagian lagi disisihkan sebagai laba ditahan. Sebagai salah satu factor yg mempengaruhi harga saham, maka peningkatan pembagian deviden merupakan salah satu cara buat meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas deviden yg besar adalah yg diinginkan oleh investor sehingga harga saham naik.
4. Jumlah laba yg didapat perusahaan
Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yg mempunyai profit yg cukup baik karena menunjukan prospek yg cerah sehingga investor tertarik buat berinvestasi, yg nantinya akan mempengaruhi harga saham perusahaan.
5. Tingkt Resiko & Pengembalian
Apabila tingkat resiko & proyeksi laba yg diharapkan perusahaan meningkat maka akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Biasanya semakin tinggi resiko maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian saham yg diterima.
2.3 Laba Per Lembar Saham ( Earning Per Share/EPS )
2.3.1 Pengertian Laba Per Lembar Saham ( Earning Per Share/EPS )
Pada umumnya dalam menanamkan modalnya investor mengharapkan manfaat yg akan dihasilkan dalam bentuk laba per lembar saham (EPS). Sedangkan jumlah laba per lembar saham (EPS) yg didistribusikan kepada para investor tergantung pada kebijakan perusahaan dalam perihal pembayaran deviden. Laba per lembar saham (EPS) dapat menunjukan tingkat kesejahteraan perusahaan, jadi apabila laba per lembar saham (EPS) yg dibagikan kepada para investor tinggi maka menandakan bahwa perusahaan tersebut mampu memberikan tingkat kesejahteraan yg baik kepada pemegang saham, sedangkan laba per lembar saham (EPS) yg dibagikan rendah maka menandakan bahwa perusahaan tersebut gagal memberikan kemanfaatan sebagaimana diharapkan oleh pemegang saham. Laba per lembar saham (EPS) dapat diartikan sebagai berikut :
Menurut Larson dkk ( 2000:579 ) laba per lembar saham ( ESP ) adalah :“Earning Per Share, also called net income per share, is the amount of income earned per each share of company’s outstanding common stock.”
Menurut Besley & Brigham ( 2000:83 ) laba per lembar saham (EPS), adalah : “Earning Per Share is called ‘the bottom line’, denoting that of all the items of on the income statement.”
Dgn demikian, laba per lembar saham (EPS) menunjukan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba & mendistribusikan laba yg diraih perusahaan kepada pemegang saham. Laba per lembar saham (EPS) dapat dijadikan sebagai indicator tingkat nilai perusahaan. Laba per lembar saham (EPS) juga merupakan salah satu cara buat mengukur keberhasilan dalam mencapai keuntungan bagi para pemiliki saham dalam perusahaan.
2.3.2 Penilaian Laba Perlembar Saham ( EPS )
Angka laba per lembar saham (EPS) diperoleh dari laporan keuangan yg disajikan oleh perusahaan. Karena itu langkah pertama yg dilakukan adalah memahami laporan keuangan yg disajikan perusahaan. Ada dua laporan keuangan yg utama yaitu neraca & laporan rugi laba.
Neraca menunjukan posisi kekayaan, kewajiban financial & modal sendiri pada waktu tertentu. Laporan rugi laba menunjukan berapa penjualan yg diperoleh, berapa biaya yg ditanggung & berapa laba yg diperoleh perusahaan pada periode waktu tertentu (biasanya selama 1 tahun).
Alasan mengapa laba per lembar saham (EPS) disajikan di laporan laba rugi menurut Niswonger dkk ( 2000:14 ) adalah :
“Jumlah absolute laba bersih sulit buat dipakai mengevaluasi profitabilitas perusahaan jika jumlah modal pemegang saham banyak berubah. Dalam kasus seperti itu profitabilitas perusahaan dapat dinyatakan dgn laba per lembar sahm (EPS).”Sedangkan perhitungan laba per lembar saham (EPS) menurut Niswonger dkk ( 2001:15 ) adalah :
“Jika sebuah perusahaan hanya memiliki saham biasa yg beredar, maka laba per lembar saham biasa ditentukan dgn membagi laba bersih dgn jumlah saham biasa yg beredar. Jika ada saham preferen sebelum di bagi dgn jumlah saham biasa yg beredar.”
Dari penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa perhitungan laba per lembar saham biasa adalah :
Laba Bersih
Laba per lembar saham =
Jumlah saham biasa yg beredar
2.4 Hubungan Laba perlembar Saham Terhadap Perubahan Harga Saham
Penelitian di Indonesia mengenai factor-faktor yg berhubungan dgn harga saham sudah banyak dilakukan. Penelitian tentang pentingnya laporan keuangan menghasilkan bahwa 52,86% responden mengandalkan laporan keuanagn. Hasil yg lain menyatakan bahwa informasi terpenting bagi investor & analisis sekuritas adalah laba perlembar saham (Triyono & Jogiyanto,2004:24).
Triyono (1998) menguji informasi arus kas dari aktivitas pendanaan, investasi, operasi, & laba akuntansi dgn harga & return saham. Sampel pada penelitian yg di lakukan adalah 34 perusahaaan manufaktur yg Go Public di BEJ, hasil penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara arus kas, maupun ketiga komponen adalah return saham.
Dalam prakteknya, para investor di pasar modal mempunyai beberapa motif atau tujuan dalam membeli saham bank yg telah melakukan emisi sahamnya. Motif-motif tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memperoleh deviden berdasarkan keputusan RUPS.
2. Mengejar Capital Gain jika bermain di bursa efek.
3. Menguasai perusahaan melalui pencapaian mayoritas saham.
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Yg menjadi objek penelitian dalam penulisan proposal ini adalah EPS dgn Perubahan Harga saham pada PT. Bank Mandiri Syariah.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yg digunakan dalam penuyusunan proposal ini adalah metode deskriptif, yaitu dimulai dari menyusun & mengklasifikasikan data yg telah dikumpulkan, menganalisanya, & kemudian menginterpretasikannya secara deskriptif buat memberikan gambaran tentang fakta-fakta yg ada. Selain itu juga penulis menggunakan metode penelitian asosiatif (hubungan) yg merupakan penelitian yg bertujuan buat mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih antara sruktur modal terhadap likuiditas. Dgn penelitian ini maka akan dapat di bangun suatu teori yg dapat berfungsi buat menjelaskan & meramalkan suatau gejala yg ada.
3.3 Operasional Variabel
Dalam penelitian ini penyusun membagi variabelnya menjadi sebagai berikut:
1. Variabel (X) atau Independent Variabel yaitu variabel yg tidak tergantung atas variabel lain & variabel ini disebut juga variabel bebas, pada penelitian ini yg menjadi Variabel X adalah Laba Perlembar Saham.
2. Variabel (Y) atau Dependent Variabel yaitu variabel yg tergantung atas variabel lain, & variabel ini disebut juga variabel terikat. Pada penelitian ini yg menjadi variabel Y adalah Harga Saham.
Operasional Variabel
Variabel
Indikator
Skala
EPS
NET Income
Jumlah rata-rata saham beredar
Rasio
Harga Saham
Harga saham awal periode
Harga saham akhir periode
Rasio
3.4 Jenis & Sumber Data
Dalam melakukan penelitian ini penyusun menggunakan dua macam jenis & sumber data, yaitu:
1. Data Primer, yaitu data yg diperoleh secara langsung dari perusahaan yg bersangkutan dgn cara wawancara & observasi dgn pihak terkait.
2. Data Sekunder, yaitu data-data yg diperoleh dari pengamatan langsung melainkan dari hasil studi kepustakaan baik berupa literatur maupun dokumen perusahaan
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Di dalam melakukan pengumpulan data penulis menggunakan teknik:
1. Observasi, yaitu langsung datang ke tempat objek yg ingin diteliti yaitu PT. Bank Mandiri Syariah..
2. Wawancara kepada para pegawai PT. Bank Mandiri Syariah.
3. Kepustakaan, yaitu melalui buku-buku tentang EPS & Harga Saham.
3.6 Teknik Analisis Data
Buat menentukan persamaan regresi linier sederhana dgn menggunakan rumus sebagai berikut:
Y = a + b X
a =
b =
Dimana:
a = Harga Y bila X = 0 (harga konstan)
b = Angka arah atau koefisien regresi, yg menunjukan angka peningkatan
ataupun penurunan variable dependen yg didasarkan pada variabel independent.
Bila b (+) maka naik, & bila (-) maka terjadi penurunan.
Y = Subjek / nilai dalam variabel dependen yg di prediksikan
X = Subjek pada variabel independent yg mempunyai nilai tertentu
Buat menganalisis data apakah antara variabel X (struktur modal) & variabel Y (likuiditas) mempunyai hubungan atau tidak, maka penulis menggunakan rumus:
r =
Dimana:
n = Jumlah data
r = Korelasi ( Hubungan )
X = Variabel bebas ( Independen Variabel )
Y = Variabel tidak bebas ( Dependen Variabel )
Sedangkan buat menentukan sebarapa besar kontribusi dari X terhadap naik turunnya nilai Y, maka mesti dihitung suatu korelasi yg disebut koefisien penentuan ( Coefficient Of Determination ), rumusnya adalah sebagai berikut:
KD = rx 100%
KD = Coefficient of Determination
r = Corellation
3.7 Rancangan Uji Hipotesis
Buat menguji hipotesis pengaruh struktur modal terhadap likuiditas pada PT. Bank Mandiri Syariah..dapat dilakuakan dgn uji signifikan korelasi dipakai sebagai pembuktiannya adalah sebagai berikut:
Ø Jika H = 0, berarti tidak ada hubungan yg signifikan & positif antara struktur modal terhadap likuiditas pada PT. Bank Mandiri Syariah..
Ø Jika H0, berarti ada hubungan yg signifikan & positif antara struktur modal terhadap likuiditas pada PT. Bank Mandiri Syariah...
Rumus sebagai berikut : t =
Keterangan:
n = Banyaknya data
r = Koefisien korelasi antara variabel X (struktur modal) & variabel Y (likuiditas).
Husnan, Suad & Eni Pudjiastuti. 2002. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Munawir, S. 2002. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: PT BPFE.
Sartono, Agus R. 2001. Manajemen Keuangan Teori & Aplikasi. Yogyakarta: PT BPFE.
Sawir, Agnes. 2001. Analisis Kinerja Keuangan & Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.
Sundjaja, Ridwan. S. & Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan. Jakarta: Literia Lintas Media.
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TINDAK PIDANA PHEDOFILIA
Permasalahan yg sangat penting kiranya buat membahas tentang Hak Asasi manusia (HAM) pada segala aspek kehidupan, khususnya adalah perlindungan terhadap anak di Indonesia. Masalahnya perlindungan anak baru menjadi perhatian masyarakat Indonesia pada kurun waktu tahun 1990an, setelah secara intensif berbagai bentuk kekerasan terhadap anak di Indonesia diangkat kepermukaan oleh berbagai kalangan. Fenomena serupa muncul pula diberbagai kawasan Asia lainnya, seperti di Thailand, Vietnam & Philipina, sehingga dgn cepat isu ini menjadi regional bahkan global yg memberikan inspirasi kepada masyarakat dunia tentang pentingnya permasalahan ini.
Masalah ekonomi & sosialyg melanda Indonesia berdampak pada peningkatan skala & kompleksitas yg di hadapi anak Indonesia yg ditandai dgn makin banyaknya anak yg mengalami perlakuan salah, eksploitasi, tindak kekerasan, anak yg didagangkan, penelantaran, disamping anak-anak yg tinggal di daerah rawan konflik, rawan bencana beserta anak yg berhadapan dgn hukum & lain-lainnya. Dampak nyata yg berkaitan dgn memburuknya kondisi perekonomian & krisis moneter adalah meningkatnya jumlah anak di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) milik masyarakat lebih diperberat lagi dgn menurunnya pendapatan masyarakat yg merupakan salah satu sumber dana.
Dampak negatife dari kemajuan revolusi media elektronik mengakibatkan melemahnya jaringan kekerabatan keluarga besar & masyarakat yg dimanisfestasikan dalam bentuk-bentuk fenomena baru seperti timbulnya kelompok-kelompok rawan atau marjinal. Misalnya eksploitasi anak di bawah umur 18 tahun sebagai pekerja seks di Indonesia, dimana menurut data DUSPATIN 2002 jumlah anak yg bekerja sebagai pekerja seks komersil di bawah umur 18 tahun adalah 70.000 anak di seluruh Indonesia. Anak-anak yg terjerat pada oknum yg memanfaatkan eksploitasi anak sebagai pekerja seks komersil terus meningkat. Keadaan ini membuat anak beresiko tinggi tertular penyakit yg disebabkan hubungan seksual khususnya HIV/AIDS.
Laporan dari UNICEF mengenai upaya perlindungan khusus kepada anak-anak, tercatat bahwa dewasa ini banyak anak-anak di Indonesia mendapat perlakuan yg sangat tidak layak, mulai dari masalah anak jalanan yg berjumlah lebih dari 50.000 orang, pekerja anak yg dieksploitasikan mencapai sekitar 1,8 juta anak, sehingga kepada permasalahan perkawinan dini, beserta anak-anak yg terjerat penyalahgunaan seksual (eksploitasi seksual komersil) yg menempatkan anak-anak itu beresiko tinggi terkena penyakit AIDS. Dalam analisis situasi yg telah disiapkan buat UNICEF, diperkirakan bahwa setidaknya ada sekitar 30% dari total eksploitasi anak sebagai pekerja seks di Indonesia dilacurkan ke luar negeri.
Berbagai informasi yg valid atau akurat menyangkut perdagangan anak buat tujuan seksual komersil, dimana selain diperdagangkan dari daerah satu ke daerah lain dalam wilayah hukum Negara Indonesia. Begitu pula terdapat berbagai macam indikator mengenai penggunaan anak buat produksi bahan-bahan pornografi, & para korban dari eksploitasi seksual komersil itu pada umumnya rata-rata berusia 16 tahun dimana bukan hanya anak-anak perempuan yg menjadi korban eksploitasi tapi juga anak laki-laki yg menjadi korban eksploitasi seksual tersebut.
Masih berkaitan dgn persoalan ini adalah bahwa anak-anak yg obyek eksploitasi seksual komersil menjadi seperti muara atau penyebab dari segala persoalan yg ada. Pekerjaan & anak-anak jalanan dgn amat mudah sekali terjebak ke dalam jaringan perdagangan seks komersil ini. Diperkirakan 30% dari seluruh pekerja seks komersil disaat ini adalah anak-anak di bawah umur.
Di Batam setelah terjadi krisis ekonomi jumlah pekerja seks meningkat hampir empat kali lipat menjadi 10.000 anak yg bekerja sebagai pekerja seks komersil. Bisnis pelacuran anak ini sangat menggiurkan bagi para pelaku yg memanfaatkan anak sebagai pekerja seks, di perkirakan jumlah uang yg berputar dalam industri seks ini berkisar antara Rp 1,8 Milyar sampai Rp 3,3 Milyar pertahun, sebuah angka yg fantastis. Di DKI Jakarta anak-anak yg dilacurkan terdapat di Bongkaran tanah abang, Rawa Bebek, Sepanjang bantaran kali dari manggarai- Dukuh Atas, Kali jodoh & Jatinegara. & mulai lima-enam tahun lalu Indonesia sudah masuk ke dalam peta tujuan kaum pedofil dunia. Anak-anak di bawah umur berada dalam posisi yg sangat tidak menguntungkan, bahkan boleh dikatakan mereka berada pada garis bahaya yg akan menggangu tumbuh kembang mereka sebagai seorang anak.
Kasus yg pernah terjadi & terungkap di Indonesia adalah kasus mantan diplomat AustraliaWilliam Stuart Brown, atas kasus kejahatan seksual yg dilakukan terhadap dua anak di Karangasem, dipandang beberapa pihak sebagai langkah maju bagi penegakan hukum perlindungan anak di Indonesia. Terlepas dari penyesalan & simpati atas kasus bunuh diri Brown di Lembaga Pemasyarakatan Amlapura, sehari setelah keputusan vonis itu, ada beberapa pelajaran penting yg bisa diambil dari kasusnya. Kasus itu menggambarkan bagaimana pedofilia & kejahatan seksual terhadap anak dipahami masyarakat kita beserta bagaimana perangkat hukum kita meresponsnya.
Beberapa polemik yg muncul selama persidangan kasus Brown, seperti klaim tidak terjadi kasus pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) dalam kasus ini dgn klaim tidak terjadi kekerasan & paksaan terhadap korban, menunjukkan betapa pedofilia masih sering dikacaukan pengertiannya. Ada tidaknya unsur kekerasan fisik masih sering dijadikan kriteria buat mengategorikan tindak pelecehan seksual terhadap anak sebagai bentuk kejahatan atau tidak. Pelecehan seksual terhadap anak sendiri masih cenderung disempitkan artinya, terbatas pada bentuk kontak seksual dgn menafikan bentuk pelecehan nonkontak seksual, seperti exhibitionism & pornografi. Ada tidaknya unsur paksaan sebenarnya tidak signifikan dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak karena adanya kesenjangan pemahaman tentang seks antara orang dewasa & anak-anak. Sebagaimana contoh yg dikemukakan Gunter Schmidt (2002) dalam artikel The Dilemma of the Male Pedophile, bentuk manipulasi genital yg dilakukan anak-anak, meski mengakibatkan orgasme, tidak bisa serta-merta disamakan dgn bentuk masturbasi yg dilakukan orang dewasa. Keluguan & rasa ingin tahu yg kuat terhadap kehidupan seksualitas yg menjadi ciri khas anak-anak inilah yg dimanfaatkan pelaku pedofilia (pedophile) buat menjerat korbannya. Karena itu, dalam kasus pedofilia, penekanannya lebih pada bentuk eksploitasi & manipulasi yg muncul sebagai akibat ketidakseimbangan power (imbalance of power) antara pelaku & anak-anak yg menjadi korbannya.
Anak akan menjadi lost generation dikarenakan orang tua yg tidak cakap dalam mendidik. Perihal tersebut membuat mereka menjadi sumber daya yg tidak komptitif hingga sangat kecil kemungkinan buat mampu bekerja disektor formal & perihal yg demikian pada akhirnya membuat atau menyeret mereka menyerbu sektor informal atau illegal.
Ternyata hak asasi hak tidak pernah diberi melainkan mesti direbut dgn suatu gerakan perlindungan hukum terhadap anak-anak, anti kekerasan terhadap anak & mengambil kembali hak asasi anak-anak yg hilang. Gerakan perlindungan hukum terhadap anak mesti digencarkan di tengah-tengan masyarakat. Pencanangan gerakan nasional perlindungan anak adalah dgn tujuan buat meningkatkan kesadaran bangsa secara nasional guna menghargai hak-hak anak dalam rangka menumbuhkan, mengembangkan kepedulian masyarakat agar berperan aktif melindungi anak dari segala macam bentuk gangguan terhadap kelangsungan hidup & tumbuh kembangnya.
Sebagai suatu gerakan nasioanal di dalam upaya memeberikan perlindungan hukum terhadap anak perlu melibatkan seluruh segmen yg ada. Seperti ba& pemerintah, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), organisasi sosial, aparat hukum, tokoh agama, dari kalangan pers beserta lembaga-lembaga akademik & para pakar-pakar buat bersama-sama, bahu-membahu dalam mewujudkan anak Indonesia yg teguh imannya, berpendidikan, sehat & tangguh di dalam bersaing beserta dapat menentukan masa depannya sendiri.
Dewasa ini di perkirakan jumlah anak yg membutuhkan perlindungan khusus makin besar terutama pasca krisi. Kasus-kasus yg berkaitan dgn pelanggaran hak-hak anak makin marak. Suatu permasalahan anak yg membutuhkan perlindungan khusus yg cukup luas. Negara kita sebenarnya telah banyak pula memberikan perhatian terhadap hak-hak anak. Perihal ini dibuktikan dgn adanya berbagai peraturan perundang-undangan yg mengatur tentang usaha kesejahteraan anak & ikut beserta Indonesia dal;am menandatangai konvensi tentang anak hak-hak anak (Convention On The Right of The Child) sebagai hasil Sidang Umum PBB pada tanggal 26 Januari 1990 & diratifikasi dgn Keputusan Presiden RI No 36 Tahun 1990. Namun dalam pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala yg disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain peraturan pemerintah belum semuanya diwujudkan secara efektif, kesigapan aparat dalam penegakan hukum, & kurangnya perhatian & peran beserta masyarakat dalam permasalahan anak.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengaturan tentang tindak pidana phedofilia dalam peraturan hukum di Indonesia?
2. Apa sanksi bagi pelaku tindak pidana phedofilia sesuai dgn peraturan hukum di Indonesia?
PERANCANGAN PROYEK SISTEM INFORMASI PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL PRODUKSI PADA DEPARTEMEN ASSEMBLY DI PT. LUNG CHEONG BROTHERS INDUSTRIAL
Perencanaan yg sistematis & matang dari suatu aktifitas adalah merupakan suatu karakteristik dasar dari industri modern, penyebab pada dasarnya perencanaan yg efektif atas bahan, mesin, & uang akan kearah perolehan laba yg begitu penting dalam suatu perusahaan. Sejalan dgn perkembangan suatu perusahaan maka buat menghadapi faktor-faktor tersebut diatas haruslah dipertimbangkan suatu sistem perencanaan material produksi yg dapat menunjang seluruh aktifitas produksi sebagai salah satu langkah dalam proses pengambilan keputusan.
PT. Lung Cheong Brothers Industrial merupakan perusahaan yg bergerak dibidang industri mainan plastik, dimana dalam melakukan aktifitas produksinya perusahaan ini berproduksi berdasarkan pesanan dari customer (Job Order). Sebagai perusahaan yg berproduksi berdasarkan pesanan atau perjanjian kontrak, maka hasil produksinya akan selalu mengalami perubahaan berdasarkan permintaan para customer, baik jumlah maupun jenis-nya.
Dgn sering terjadinya perubahan rencana produksi pada setiap periode pemesanan beserta material yg digunakan dalam pembuatan produknya sebagian besar masih diimpor dari Donggoan & Hongkong, hanya sebagian kecil saja material dibuat sendiri atau dibeli dari dalam negeri, akan menyebabkan timbulnya masalah dalam perihal penanganan material sebagai salah satu faktor yg menunjang aktifitas produksi.
Dikarenakan berbagai permasalahan sering timbul yg disebabkan oleh material, maka penulis merasa perlu buat merancang sebuah sistem berbasis komputer buat mempermudahkan melakukan perencanaan material tersebut agar penggunaanya bisa lebih efisien. Buat itu diusulkan sebuah perancangan sistem yg berjudul :
” PERANCANGAN PROYEK SISTEM INFORMASI PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL PRODUKSI PADA DEPARTEMEN ASSEMBLY DI PT. LUNG CHEONG BROTHERS INDUSTRIAL”
B. RUMUSAN MASALAH
Sebagai perusahaan yg berproduksi berdasarkan pesanan atau job order yg jumlah ataupun jenisnya selalu berubah-ubah pada setiap periode pemesanan.
Buat memproduksi sebuah mainan produksi dimulai dari pembuatan komponen-komponen dasar & selanjutnya dirakit dgn urutan –urutan produksi yg cukup panjang sehingga menjadi suatu produk akhir.
Urutan-uratan produksi yg cukup panjang tersebut menyebabkan kebutuhan beserta jumlah buat setiap jenis material berbeda-beda menurut ketergantungan jenis material beserta dgn lainnya. Yg menjadi pokok persoalan dalam perihal ini adalah:
1. bagaimana mengembangkan suatu sistem manajemen material yg terencana dgn baik sehinggga mampu memberikan informasi tentang waktu beserta jumlah kebutuhan tiap material dgn tepat? penyebab aspek perencanaan material merupakan suatu sistem yg tak dapat dipisahkan dari faktor manusia,alat,sistem kerja dalam lingkungan dalam kelancaran proses produksi.
2. Perubahan rencana seperti apa yg sering terjadi ? Dgn sering terjadinya perubahan rencana produksi tersebut, Bagaimana agar penggunaan material bisa tetap akurat sesuai dgn rencana ?
3. Masalah apa saja yg timbul disebabkan oleh material ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yg ingin dicapai oleh penulis dalam membuat perancangan system ini adalah :
1. Merancang sebuah sistem perencanaan material yg berbasis komputer dgn menggunakan bahasa pemprograman C sehingga dapat memberikan kemudahan memperoleh informasi yg diperlukan dalam perencanaan material produksi
2. Permasalahan yg terjadi yaitu sering terjadi kekurangan material pada disaat produksi sedang berjalan & kelebihan material yg cukup banyak didisaat produksi telah selesai. Buat itu diperlukan suatu sistem perencanaan material yg tepat agar permasalahan tidak timbul kembali.
D. BATASAN MASALAH
Buat mengetahui secara jelas mengenai sistem perencanaan material yg diterapkan sekarang di PT. Lung Cheong Brothers Industrial, tentunya diperlukan penelitian secara menyeluruh aktifitas yg ada, penyebab perusahaan ini memproduksi berbagai jenis produk dgn tahapan-tahapan yg cukup kompleks yaitu mulai dari Injection, Decoration & Assembly. Namun dalam perancangan sistem ini penulis melakukan pembatasan masalah. Perihal ini dimaksudkan agar obyek dapat terarah sesuai dgn yg dimaksudkan. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian dibatasi buat perencanaan material produksi pada Dept. Assembly saja, perihal ini dipilih karena urutan-urutan produksinya cukup panjang.
2. Kapasitas pesanan,rencana produksi dianggap sudah ada.
3. Implementasi dari hasil perancangan menggunakan bahasa pemrograman C.
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Buat mempermudah dalam perancangan sistem ini, penulis menggunakan sistematika penulisan yg dibagi dalam 5 ( Lima ) bab dgn susunannya sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang : Latar Belakang Masalah, Identifikasi masalah, Rumusan Masalah, Maksud & Tujuan Penelitian, Batasan masalah & Sistematika Penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menerangkan tentang : teori-teori yg terkait dgn pokok pembahasan, seperti Konsep Dasar Sistem,& Teori Tentang Permasalahan.
BAB III METODE & OBJEK PENELITIAN
Bab ini menerangkan tentang : Metode Penelitian, Metode Pengumpulan data yg dipakai dalam penelitian & Gambaran Umum Perusahaan yg terdiri dari : Sejarah Umum Perusahaan, Visi & Misi Perusahaan, Struktur Organisasi Perusahaan, Job Description, & Bidang usaha Perusahaan.
BAB IV ANALISIS PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang : Analisis sistem yg diteliti, Perancangan sistem yg diajukan, Implementasi sistem yg diajukan & Analisis Implementasi yg sudah dirancang.
BAB V KESIMPULAN
Merupakan bab terakhir yg menguraikan kesimpulan hasil akhir dari pembahasan yaitu terhadap pengembangan perangkat lunak, perancangan implementasi, & terutama pada analisis kinerja perangkat lunak. Selain itu juga dikemukakan saran-saran yg bermanfaat kepada Perusahaan atau kepada Lembaga.
F. LANDASAN TEORI
1. Konsep Dasar Sistem
a. Pengertian Sistem
Menurut Jogiyanto Hartono, MBA. Ph. D, dalam bukunya yg berjudul Pengenalan Komputer, mengemukakan bahwa:
“Sistem adalah suatu kesatuan yg terdiri dari dua atau lebih komponen atau subsistem yg berinteraksi buat mencapai suatu tujuan”. (Jogiyanto, 1999, hal: 683).
Suatu sistem dapat terdiri dari sistem-sistem bagian (subsystem). Misalnya, sistem komputer dapat terdiri dari subsistem perangkat keras & subsistem perangkat lunak. Masing-masing subsistem dapat terdiri dari subsistem-subsistem yg lebih kecil lagi atau terdiri dari komponen-komponen.
b. Karakteristik Sistem
Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat tertentu, yaitu mempunyai komponen-komponen (components), batas sistem (boundary), lingkungan luar sistem (environments), penghubung (interface), masukan (input), pengolah (process), keluaran (output) & sasaran (objectives) atau tujuan (goal).
a) Komponen-komponen Sistem
Suatu Sistem terdiri dari sejumlah komponen yg saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem yg menjalankan suatu fungsi tertentu & mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Suatu sistem dapat mempunyai suatu sistem yg lebih besar yg disebut Supra System.
b) Batas Sistem
Batas Sistem (boundary) adalah merupakan daerah yg membatasi antara suatu sistem dgn sistem yg lain atau dgn lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu kesatuan. Pembatas suatu sistem menunjukan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.
c) Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar (environtments) dari suatu sistem adalah apapun yg berada di luar batas sistem yg mempengaruhi operasi sistem.
d) Penghubung Sistem
Penghubung (interface) merupakan media penghubung antara satu subsistem dgn subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumber-sumber data yg mengalir dari subsistem ke subsistem yg lainnya. Keluaran (output) dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) bagi subsistem yg lainnya dgn melalui penghubung. Dgn penghubung satu subsistem dapat berintegrasi dgn subsistem yg lainnya membentuk satu kesatuan.
e) Masukan Sistem
Masukan (input) merupakan energi yg dimasukan kedalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) & masukan signal (signal input). Maintenance input adalah energi yg dimasukan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah energi yg diproses buat didapatkan keluaran.
f) Keluaran Sistem
Keluaran sistem (output) adalah hasil dari energi yg diolah & menjadi keluaran yg berguna dari sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan masukan buat subsistem yg lain atau kepada supra sistem.
g) Pengolah Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yg akan merubah masukan menjadi keluaran.
h) Sasaran Sistem
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goal) atau sasaran (objective) . Kalau suatu sistem tidak mempunyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yg dibutuhkan & keluaran yg akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya.
2. Latar belakang Penggunaan MRP
Sebelum tahun 1960 tidak satupun terdapat metode yg memuaskan dalam proses pengendalian persediaan terhadap item permintaan yg saling bergantungan. Sistem persediaan formal dalam suatu perusahaan masih didasarkan pada sistem order point dgn menerapkan metode tradisional yg tidak formal & simpang siur khususnya dalam menangani material yg sifatnya saling bergantungan.
Sekitar tahun 1960 komputer mulai dipakai dalam bidang manajemen persediaan. Dgn demikian maka komputerisasi pengendalian persediaan telah mengawali bidang manajemen persediaan yg lebih baik & efisien. Kesulitan-kesulitan yg biasanya terjadi dalam pelaksanaan manajemen persediaan tradisional telah teratasi dgn dikenalnya suatu pendekatan sistem persediaan yg terperinci & lebih baik, yg dikenal dgn Material Requirment Planning (MRP), Yg ditemukan oleh Joseph Orlicky dari J.I Case Company. Sistem MRP telah memiliki popularitas dalam bidang Industri yg memamfaatkan kemampuan komputer melaksanakan perencanaan & pengendalian persediaan dgn memperhatikan hubungan antara item persediaan, sehingga pengelolahannya dapat lebih efisien dalam menentukan kebutuhan material secara cepat & tepat. Komputerisasi MRP mula-mula dikembangkan dilingkungan APICS (American Production and Inventory System Society) dalam suatu pengembangan program yg profesional.
Manajemen pengendalian bahan pada dasarnya adalah merupakan suatu masalah yg penting dalam komunikasi indiustri. Kerumitan yg sering timbul dalam proses pengendalian bahan ini berbanding langsung dgn jumlah barang dalam persediaan & dgn jumlah transaksi yg mesti dicatat buat mengikutigerakan bahan (tetap menjaga derajat pengendalian yg dibutuhkan buat memenuhi sasaran). Sistem persediaan dalam suatu operasi atau lingkungan manufaktur memiliki beberapa karakteristik tertentu yg sangat mempengaruhi terhadap kebijaksanaan dalam perencanaan material. Pertanyaan mendasar yg sering timbul dalam situasi kebijaksanaan persediaan tersebut adalah berapa jumlah & kapan dilaukan pemesanan, buat memenuhi produksi yg diinginkan sesuai dgn perencanaan dalam MPS. Jawaban pertanyaan tersebut tergantung dari sifat demand dari persediaan. Suatu demand dikatakan independent apabila sesuai dgn pengalaman, dimana demand terhadap permintaan barang tersebut tidak bergantungan dgn barang-barang lain. Demikian sebaliknya suatu demand dikatakan demand dikatakan dependent apabila barang tersebut merupakan bagian yg terpadu dari barang yg lain (ada hubungan fisik).
Sistem MRP diproses buat memenuhi akan kebutuhan yg sifatnya dependent. Berdasarkan uraian diatas, maka jelaslah bahwa MRP dapat lebih banyak digunakan dilingkungan manufaktur yg melibatkan suatu proses assmebling, dimana kebanyakan permintaan terhadap barang bersifat bergantungan, sehingga tidak diperlukan peramalan pada tingkat barang(komponen) ini. Pertanyaan yg pertama dari perihal diatas dapat terpenuhi jika kita mengetahui disaat kebutuhan hari terpenuhi sesuai dgn MPS & LeadTime. Sedangkan pertanyaan kedua dipenuhi dgn teknik lot yg sesuai dgn kondisi yg diproses dalam perhitungan MRP. Secara global hasil informasi yg diperoleh dalam proses MRP sangat menunjang dalam perencanaan CRP (Capacity Requirment Planning) buat tercapainya suatu sistem pengendalian aktifitas produksi yg lebih baik.
2. Pengertian & Perkembangan MRP
MRP selalu berkembang sesuai dgn tuntutan perkembangan teknologi & tuntutan terhadap sistem perusahaan maka sampai disaat ini MRP dibagi menjadi 4 bagian & tidak tertutup kemungkinan buat masa yg akan datang. Keempat bagian tersebut adalah :
1. Material Requirment Planning (MRP) dapat didefenisikan sebagai suatu teknik atau set prosedur yg sistematis dalam penentuan kuantitas beserta waktu dalam proses pengendalian kebutuhan bahan terhadap komponen-komponen permintaan yg saling bergantungan. (Dependent demand items).
2. Material Requirment Planning II (MRPII), Oliver Wight & George Plossl, partner konsultan, diakui oleh orang yg melakukan perluasan konsep MRP atas area manufactur, sehingga MRP dapat mencakup area-area perusahaan lain. Hasil perluasan konsep tersebut dinamakan MRP II, & arti dari singkatan tersebut berubah menjadi Manufacturing resource planning ( Perencanaan Sumber Manufactur).
3. Material Requirment Planning III (MRPIII), proses ini diperluas didalam tingkat akurasi peramalan permintaan, penggunaan secara tepat & baik peramalan permintaan (forecast Demand), akan dapat secara otomatis & tepat melakukan perubahan terhadap Master Production Schedule. & apabila juga Master Production Schedule telah penuh atau tidak dapat lagi melakukan Work Order maka system MRPIII ini dapat melakukan rekomendasi terhadap permintaan.
4. Material Requirment Planning 9000 (MRP9000), MRP9000 sudah merupakan tawaran yg benar-benar merupakan system yg lengkap & terintegrasi dgn system management manufacturing. Kemampuan sistem MRP9000 didalam manufacturing, termasuk juga Inventory, penjualan, perencanaan, Pembuatan, & Pembelian dgn mengunakan General Ledger, & sebuah Administrasi, & Executive Information System (EIS) secara graphical dalam membuat sebuah keputusan buat permasalahan manufacture.
3. Prasyarat & Asumsi dari MRP
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dari MRP adalah menghasilkan informasi persediaan yg mampu digunakan buat mendukung melakukan tindakan secara tepat dalam berproduksi. Agar MRP dapat berfungsi & dioperasionalisasikan dgn efektif ada beberapa persyaratan & asumsi yg mesti dipenuhi. Adapun persyaratan yg dimaksud adalah :
1. Tersedianya Jadwal Induk Produksi (Master Production Schedule), yaitu suatu rencana produksi yg menetapkan jumlah beserta waktu suatu produk akhir mesti tersedia sesuai dgn jadwal yg mesti diproduksi. Jadwal Induk Produksi ini biasanya diperoleh dari hasil peramalan kebutuhan melalui tahapan perhitungan perencanaan produksi yg baik, beserta jadwal pemesanan produk dari pihak konsumen.
2. Setiap item persediaan mesti mempunyai identifikasi yg khusus. Perihal ini disebabkan karena biasanya MRP bekerja secara komputerisasi dimana jumlah komponen yg mesti ditangani sangat banyak, maka pengklasifikasian atas bahan, bagian atas bahan, bagian komponen, perakitan setengah jadi & produk akhir haruslah terdapat perbedaan yg jelas antara satu dgn yg laiinya.
3. Tersedianya struktur produk pada disaat perencanaan. Dalam perihal ini tidak diperlukan struktur produk yg memuat semua item yg terlibat dalam pembuatan suatu produk apabila itemnya sangat banyak & proses pembuatannya sangat kompleks. Walaupun demikian, yg penting struktur produk mesti mampu menggambarkan secara gamlang langkah-langkah suatu produk buat dibuat, sejak dari bahan baku sampai menjadi produk jadi.
4. tersedianya catatan tentang persediaan buat semua item yg menyatakan status persediaan sekarang & yg akan datang.
Selain syarat diatas, terdapat beberapa asumsi yg diperlukan buat menghasilkan suatu sistem pengoperasian MRP secara efektif yaitu :
1. Adanya suatu sistem data file yg saling berintegrasi beserta ditunjang oleh adanya program komputer yg terpadu dgn melibatkan data status persediaan & data tentang struktur produk. Data file ini perlu dijaga ketelitiannya, kelengkapannya beserta selalu Up to Date sesuai dgn keperluan.
2. Waktu ancang-ancang (Lead time) buat semua item diketahui, paling tidak dapat diperkirakan. Dalam perihal ini waktu ancang-ancang dapat berupa interval waktu antara disaat pemesanan dilakukan sampai disaat barang tiba & siap digunakan, tapi dapat pula berupa waktu proses pembuatan dari satu stasiun kerja buat item atau komponen tersebut.
3. Setiap komponen yg diperlukan dalam proses assembling haruslah berada dalam pengendalian. Dalam proses manufactur ini berarti kita mampu memonitor setiap tahapan proses/ perubahan yg dialami setiap item.
4. Semua item buat suatu perakitan dapat disediakan pada disaat suatu pesanan buat perakitan tersebut dilakukan. Sehingga penentuan jumlah, waktu kebutuhan kotor dari suatu perakitan dapat dilakukan.
5. Setiap pengadaan pemakaian komponen bersifat diskrit. Misalnya bahan dibutuhkan 50 komponen, maka rencana kebutuhan bahan mampu membuat rencana agar dapat menyediakan 50 komponen tersebut & dipakai tanpa kurang atau lebih.
6. Perlu menetapkan bahwa proses pembuatan suatu item tidak tergantung terhadap proses pembuatan item yg laiinya. Perihal ini berarti dapat dimulai & diakhiri tanpa tergantung pada proses yg laiinya.
5. Tujuan MRP
Suatu sistem MRP pada dasarnya bertujuan buat merancang suatu sistem yg mampu menghasilkan informasi buat mendukung aksi yg tepat baik berupa pembatalan pesanan, pesan ulang, atau penjadwalan ulang. Aksi ini sekaligus merupakan suatu pegangan buat melakukan pembelian dan/ atau produksi.
Ada 4 macam yg menjadi ciri utama MRP, yaitu:
1. Mampu menentukan kebutuhan pada disaat yg tepat, kapan suatu pekerjaan akan selesai (material mesti tersedia) buat memenuhi permintaan produk yg dijadwalkan berdasarkan MPS yg direncanakan.
2. Menentukan kebutuhan minimal setiap item, dgn menentukan secara tepat sistem penjadwalan.
3. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan, dgn memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan suatu pesanan mesti dilakukan.
4. Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yg sudah direncanakan. Apabila kapasitas yg ada tidak mampu memenuhi pesanan yg dijadwalkan pada waktu yg dikehendaki, maka MRP dapat memberikan indikasi buat melaksanakan rencana penjadwalan ulang (jika mungkin) dgn menentukan prioritas pesanan yg realistis. Seandaniya penjadwalan ulang ini masih tidak memungkinkan buat memenuhi pesanan , maka pembatalan terhadap suatu pesanan mesti dilakukan.
Kunci keberhasilan dari faktor diatas haruslah ditunjang dgn suatu sistem pengontrolan aliran bahan yg tepat buat memenuhi jadwal permintaan konsumen, yg didukung dgn sistem komputerisasi sebagai alat pembantu dalam memudahkan proses pelaksanaannya. Sehubungan dgn pengontrolan atas bahan/item yg dimaksudkan, rencana kebutuhan bahan sebagai suatu sistem komputerisasi, berfungsi seperti timbangan yg berfungsi menyemimbangkan antara kebutuhan & kemampuan memenuhi kebutuhan dari setiap item. Rencana kebutuhan bahan memberikan indikasi apabila terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan & kemampuan. Besarnya kebutuhan digambarkan oleh jadwal induk produksi, struktur produk & status persediaan.
Besarnya kemampuan buat memenuhi suatu kebutuhan, dicerminkan oleh besarnya barang setengah jadi, persediaan yg ada & pesanan/ pembelian yg akan datang kemudian. Ketelitian atas perkiraan akan kemampuan ini tergantung pada ketelitian pencatatan atas ketiga sumber informasi tersebut.
G. METODE & OBJECT PENELITIAN
1. Metode Penelitian
Metodologi yg digunakan dalam penelitian ini adalah Structure Analisis and Design. Penulis menggunakan aliran data diagram atau DFD (Data Flow Diagram) dalam Perancangan Sistem Pengendalian Material Produksi, yaitu meneliti data yg bersifat umum menjadi dari yg bersifat umum menjadi yg bersifat khusus.
2. Metode Pengumpulan Data
Dalam menyusun laporan ini, penyusun menggunakan metode pengumpulann data yaitu sebagai berikut :
a. Interview
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dimana penyusun mengadakan suatu tanya jawab langsung dgn pihak Pt. Lung Cheong Brothers Industrial yg dapat memberikan penjelasan mengenai informasi yg berhubungan dgn judul usulan penelitian yg diangkat oleh penyusun, data yg diperoleh selama interview yaitu sistem pengendalian material produksi.
b. Observasi
Metode ini digunakan untu mempelajari & mengetahui secara langsung hal-perihal yg ada dilapangan yg berhubungan langsung dgn judul usulan penelitian yg diangkat, data-data yg diperoleh selama observasi tentang alur sebuah permasalahan pengadaan & pengontrolan barang.
c. kepustakaan
3. Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di perusahaan Pt. Lung Cheong Brothers Industrial yg didirikan pada tahun 1993 yg merupakan perusahaan bergerak di bidang produksi mainan plastik yg beralamat di Kp. Sentul Lio Km 14 Kragilan Serang Banten.
Proses penelitian yg akan penulis laksanakan diharapkan dapat selesai dalam waktu tiga bulan, mulai dari menyusun usulan penelitian sampai menyelesaikan laporan. Jadwal penelitian dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini :
DAFTAR JUDUL SKRIPSI HUKUM
- TINJAUAN HUKUM PENGANGKATAN ANAK WARGA NEGARA INDONESIA OLEH WARGA NEGARA ASING (STUDI ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN NOMOR 192/PDT.P/2001/PN.JAK.SEL JO.104/PDT.P/2003/PN.JAK.SEL)
- TINJAUAN HUKUM MENGENAI PENGGUNAAN MEREK TERKENAL ( WELL-KNOWN TRADEMARK ) SEBAGAI NAMA DOMAIN DALAM TRANSAKSI ELEKTRONIK DIHUBUNGKAN DGN UNDANG-UNDANG NO.15 TAHUN 2001 ( STUDI KASUS PT. MUSTIKA RATU VS TJANDRA SUGIONO )
- PELAKSANAAN PENGAWASAN ORANG ASING DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NO. 9 TAHUN 1992 TETNANG KEIMIGRASIAN (STUDI KASUS DI KANTOR IMIGRASI SERANG)
- ASPIRASI HUKUM BANK INDONESIA SEBAGAI BANK SENTRAL
- BANTAHAN TERHADAP EKSEKUSI GROSSE AKTA & KORELASINYA DGN KREDIT MACET (SUATU STUDI PERBANDINGAN)
- EFEKTIFITAS KEDUDUKAN & PERAN KOMISI INDEPENDEN ANTI KORUPSI DI INDONESIA (SUATU STUDI PERBANDINGAN)
- EFEKTIFITAS SANKSI PIDANA TERHADAP PERUSAHAAN YG MELANGGAR KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA EKSISTENSI BANK SYARIAH DALAM HUKUM PERBANKAN & PENGEMBANGANNYA DI INDONESIA (KAJIAN TERHADAP OPERASIONAL BANK MUAMALAT INDONESIA)
- TINJAUAN YURIDIS TERHADAP UNDANG UNDANG NO 10 TAHUN 1998 DALAM PENEGAKAN HUKUM PERBANKAN
- IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI & PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DALAM ERA OTONOMI DAERAH
- 10. KEWENANGAN DAERAH KABUPATEN/KOTA DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO.22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
- ASPEK YURIDIS MENGENAI EKSISTENSI HUKUM HAK CIPTA DALAM TRANSAKSI PERKARA PERDATA
- MASALAH HAK CIPTA & UPAYA PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PRODUK AUDIO VISUAL
- PEMBATASAN BANDING & KASASI DALAM PERKARA PERDATA
- PENANGANANAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI PT. BANK HARAPAN SENTOSA KAITANNYA DGN KERUGIAN NEGARA
- PENERAPAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 14 TAHUN 1997 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO. 19 TAHUN 1992 TENTANG MEREK DALAM RANGKA PERLINDUNGAN HUKUM HAK MEREK DI INDONESIA
- PENGARUH KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH DALAM PENGEMBANGAN INVESTASI
- PENYELESAIAN KREDIT MACET
- PERANAN KEJAKSAAN DALAM PENEGAKAN HUKUM DIBIDANG PERBANKAN
- PERLINDUNGAN HUKUM ATAS KARYA – KARYA KREATIF DIBIDANG HAK CIPTA & PENGEMBANGANNYA DALAM UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS & PRODUKTIFITAS MASYARAKAT
- PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMILIK/PEMEGANG HAK ATAS MEREK
- PUTUSAN HAKIM PERDATA YG DAPAT DILAKSANAKAN
- PERTANGGUNGJAWABAN PERDATA SEORANG MANAJER DALAM PENYIMPANGAN PEMBERIAN PINJAMAN STUDI KASUS : PADA PT LIPPO BANK TBK CABANG CILEGON
- PENANGGULANGAN HUKUM & PENANGANAN TERHADAP ANAK-ANAK NAKAL TERLANTAR
- EKSISTENSI KEBIJAKAN DAERAH YG DEMKORATIS DALAM SISTEM PEMERINTAHAN YG BERSIH BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, & NEPOTISME (HARGA SPECIAL Rp. 50.000)
- PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BUAT KEPENTINGAN UMUM SEJAK BERLAKUNYA KEPPRES NOMOR 55 TAHUN 1993 DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II SLEMAN (HARGA SPECIAL Rp. 50.000)
- PERANAN PENYIDIK DALAM MEMBANTU PENYELESAIAN TINDAK PIDANA NARKOBA (Studi di Polres D.I Yogyakarta) (HARGA SPECIAL Rp. 50.000)
- PERAN DPR DALAM PENGANGKATAN DUTA BESAR RI SETELAH PERUBAHAN UUD 1945 (HARGA SPECIAL Rp. 50.000)
- EFEKTIFITAS SANKSI PIDANA TERHADAP PERUSAHAAN YG MELANGGAR KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA
- PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA ABORTUS PROVOCATUS (STUDI KASUS PUTUSAN PIDANA NO. 94/PID. B/2004/TGL. 6 MEI 2004/P.N SERANG
- Judul berikutnya menyusul.
Harga Per Skripsi Rata-rata Rp. 150.000,- / Nego
Data dalam bentuk format Ms. Word (bukan hasil scan), dikirim via E-mail
Berminat Hub: pri crimbun@plasa.com
Mau Satu Paket Skripsi Bahasa Inggris Gratis Klik Disini
PENGARUH PENGUASAAN TEORI BERBICARA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS 2 SMP NEGERI 8 SERANG
PENGARUH PENGUASAAN TEORI BERBICARA TERHADAP KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS 2 SMP NEGERI 8 SERANG
Latar Belakang Masalah
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan kegiatan memberikan pengalaman belajar buat mencapoai suatu tujuan pembelajaran biasanya guru melakukan sebuah kegiatan yg disebut kegiatan belajar mengajar. Kawasan yg ingin dicapai tersebut biasanya adalah pengetahuan, sikap & keterampilan. Dalam perihal ini seorang guru membekali dirinya dgn seni memberikan pengalaman belajar.
Strategi belajar mengajar yg baik adalah strategi yg efisien, efektif & dapat mencapai tujuan belajar dgn upaya pembuktian usaha belajar dari siswa. Seperti dijelaskan Roestiyah dijelaskan bahwa dalam proses belajar mengajar, guru mesti memiliki strategi belajar mengajar, guru mesti memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif & efisien, mengenai pada tujuan yg diharapkan Roestiyah , (1998:1).
Pemilihan pola kegiatan belajar mengajar sangat penting dilaksanakannya penguasaan teori pidato. Walaupun setiap guru mengetahui bahwa teori pidato sangat penting buat pengembangan keterampilan berbicara. Namun dalam kenyataannya masih banyak guru atau siswa yg tidak dapat menerapkan & menyerap bahan ajar berbicara pada pembelajaran keterampilan berbicara dikelas.
Masih terdapatnya siswa yg kesulitan buat dapat tampil dimuka & di kelas memaparkan ide pikirannya kepada pendengar atau pemirsa. Tampil prima di depan khayalak memang membutuhkan keterampilan khusus yg tidak diperoleh secara cepat, namun melalui latihan-latihan & pembiasaan. Selain itu tatakrama berbicara juga mesti diperhatikan dgn serius, karena akan mempengaruhi kualitas pembicaraan. Banyak isi pembicaraan yg baik, jika tidak dibawakan dgn baik akan memperoleh hasil yg jelek, sebaliknya isi pembicaraan yg biasa-biasa saja tapi karena dibawakan secara baik akan menghasilkan sambutan pendengar yg baik pula.
Keadaan yg seperti ini disebabkan diantarnya oleh kemampuan guru bidang studi bahasa Indonesia yg belum dapat memberikan penjelasan mengenai teori-teori pidato yg sebenarnya. Agar kemampuan siswa dapat bentuk performasi lebih baik, perlu adanya perbaikan pembelajaran teori pidato dalam bidang studi bahasa Indonesia.
Penguasaan teori pidato adalah penguasaan kebahasaan dibidang kompetensi (kemampuan dasar) dari performansi (keterampilan praktis) sekaligus. Artinya seseorang yg belajra teori pidato yg telah dipelajarinya. Namun demikian, tidaklah lengkap apabila seseorang tersebut belum dibuktikan dgn kemampuan keterampilan berbicaranya. Dgn kata lain, jika seorang pembelajar teori pidato tersebut dapat menguasainya melalui keterampilan berbahasa diantaranya keterampilan berbicara.
Bentuk performansi bahasa diantaranya adalah keterampilan berbicara. Sebagaimana kita tahu bersama bahwa keterampilan berbicara adalah bagian dari keterampilan berbahasa yg merupakan catur tunggal yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca & menulis. Keterampilan berbicara yg penulis maksud adalah keterampilan berbicara berkaitan dgn permasalahan tersebut di atas, kemampuan berbicara sebagai bentuk performansi berbahasa sangat erat hubungannya dgn penguasaan teori pidato. Karena seseorang yg dapat berbicara diantaranya adalah mempunyai kemampuan dasar tentang teori-teori berbicara. Semakin seseorang berkemampuan menguasai teori-teori berbicara semakin baik pula ia dalam keterampilan berbicara. Hanya teori dilapangan masih banyak kita dapatkan orang menyampaikan pidato dgn tidak terarah. Perihal ini mencerminkan betapa lemahnya seseorang tersebut dalam menguasai teori berbicara. Artinya antara penguasaan teori pidato dgn keterampilan berbicara terdapat kaitan yg erat.
Berdasarkan latar belakang masalah yg penulis kemukakan di atas maka penulis ingin mengadakan penelitian dgn judul “Pengaruh Penguasaan Teori Berbicara Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas 2 SMP Negeri 8 Serang.”
Kajian Yg Relevan
Penelitian tentang berbicara telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain dari judul pertama yaitu tentang uji coba pembelajaran berbicara dgn metode problem solving di kelas 3 MTs Negeri Model Padarincang Tahun Pelajaran 2003/2004. Dalam penelitian ini penulis tidak menemukan metode penelitian yg sama dgn judul yg sedang penulis teliti ini lebih menekankan pada metode problem solving. Judul kedua yg penulis temukan yaitu Pembelajaran Kalimat Aktif Sebagai Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas II SMA Negeri 1 Pontang Tahun Pelajaran 2004/2005. Dilihat dari masalahnya judul ini melihat kepada kemampuan berbicara, & keterampilan membuat kalimat. Metodenya menggunakan metode uji coba. & judul yg ketiga yaitu Analisis Kemampuan Berbicara Siswa Kelas 3 SMA YP 17 Serang Tahun Ajaran 2003/2004 judul ini lebih menekankan pada kemampuan berbicaranya saja.
Berdasarkan paparan di atas penulis berkeyakinan bahwa peneliti yg akan penulis lakukan berbeda dgn penelitian sebelumnya baik ditinjau dari segi fokus permasalahan maupun kajiannya, walaupun ada kesamaan dalam perihal pembahasan yaitu mengenai berbicara. Walaupun begitu penulis sadar akan keterbatasan kemampuan mungkin saja ada hal-perihal yg sangat mirip dgn kajian penelitian yg akan penulis lakukan tapi itu semua berada dalam batas kelemahan atau kesadaran penulis.
Identifikasi Masalah
Memilih masalah penelitian adalah suatu langkah awal dari suatu kegiatan penelitian Arikunto, (2002:27). Berdasarkan dari latar belakang masalah penulis menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
Masih terdapatnya siswa yg kesulitan buat dapat tampil dimuka & dikelas memaparkan ide pikirannya kepada pendengar atau pemirsa
Masih kurangnya penguasaan kebahasaan dibidang kompetensi
Masih banyak yg penulis temukan orang yg menyampaikan pidato dgn tidak teratur.
Batasan & Rumusan Masalah
4.1 Batasan Masalah
Dari latar belakang masalah yg telah dikemukakan di atas, penulis mencoba membatasi penelitiannya sebagai berikut:
Teori berbicara
Kemampuan berbicara siswa
Pengaruh penguasaan teori berbicara terhadap kemampuan berbicara
4.2 Rumusan Masalah
Dari masalah yg telah dibatasi di atas, penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana penguasaan teori berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang ?
Bagaimana kemampuan berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang?
Adakah pengaruh penguasaan teori berbicara terhadap kemampuan brbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang ?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yg menunjukkan sesuatu perihal yg diperoleh setelah penelitian selesai Arikunto, (2002:52). Pada penelitian ini penulis mempunyai tujuan sebagai berikut:
Buat mendapat gambaran tentang penguasan teori berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang
Buat mendapat gambaran tentang kemampuan berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang
Buat melihat adanya pengaruh penguasaan teori berbicara terhadap kemampuan berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang
Anggapan Dasar & Hipotesis
6.1 Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikiran yg kebenarannya diterima oleh penyelidik Arikunto, (2002:60). Dalam penelitian ini penulis mempunyai anggapan dasar sebagai titik tolak pemikiran sebagai berikut:
Isi sebuah karangan diwujudkan oleh kelompok kalimat yg merupakan satu kesatuan maksud yg disebut paragraf Syamsuddin, AR. (1994:29).
Kemampuan menguasai teori berbicara dapat dijadikan modal dasar
Kemampuan berbicara salah satunya didasarkan pada kemampuan menguasai teori berbicara.
6.2 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap pertanyaan penelitian Sudjana, (1992:42). Hipotesis mesti jelas, terbatas sehingga dapat diuji & memberi petunjuk bagaimana pengujian mesti dilakukan. Adapun rumusan masalah hipotesis yg penulis buat adalah sebagai berikut:
Penguasaan berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang cukup baik
Kemampuan berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang cukup baik
Terhadap pengaruh penguasaan teori berbicara terhadap kemampuan berbicara siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang
Kerangka Teori
7.1 Pengertian Berbicara
Menurut Tarigan, (1987:15) berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata buat mengekspresikan, menyatakan beserta menyampaikan pikiran, gagasan, & perasaan. Tujuan utama berbicara adalah buat berkomunikasi. Komunikasi dapat mempersatukan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok dgn jalan menyampaikan konsep-konsep umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yg membedakannya dari kelompok-kelompopk lain, & menetapkan suatu tindakan tersebut, beserta tidak akan dapat bertahan lama jika tidak masyarakat-masyarakat bahasa.
Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yg berkembang pada kehidupan anak, yg hanya didahului oleh keterampilan menyimak, & pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari Tarigan, (1981:3).
7.1.1 Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Manusia adalah mahluk sosial, & tindakannya yg pertama & yg paling penting adalah tindakan sosial, suatu tindakan tempat saling mempertukarkan pengalaman, saling mengemukakan & menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan, atau saling mengekspresikan beserta menyetujui suatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu maka didalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yg umum, yg sama-sama di setujui & dipahami oleh sejumlah orang yg merupakan suatu masyarakat. Buat menghubungkan anggota masyarakat maka diperlukan komunikasi Tarigan, (1981:8).
Anderson (dalam Tarigan, 1981: 9) mengemukakan adanya 8 prinsip dasar, yaitu:
Bahasa adalah suatu sistem
Bahasa adalah vokal (bunyi ujaran)
Bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suka (arbity symbols)
Setiap bahasa bersifat unik, bersifat khas
Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan
Bahasa adalah alat berkomunikasi
Bahasa berhubungan dgn kebudayaan tempat berada
Bahasa itu berubah-ubah.
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu komunikasi perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan serangkaian unsur-unsur yg mengandung maksud & tujuan. Komunikasi bukan merupakan suatu kejadian, peristiwa, sesuatu yg terjadi, komunikasi adalah sesuatu yg fungsional, mengandung maksud & dirancang buat menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak & para pembaca. Brown (dalam Tarigan, 1981:10-11).
Halliday (dalam Tarigan, 1981:11) mengemukakan adanya tujuh jenis fungsi bahasa, yaitu:
Fungsi instrumental bertindak buat menggerakkan beserta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi.
Fungsi regulasi atau fungsi pengaturan dari bahasa merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa.
Fungsi repersentasional adalah penggunaan bahasa buat membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta & pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan dalam pengertian “menggambarkan” realitas yg terlihat oleh seseorang.
Fungsi interaksional bahasa bertindak buat menjamin pemeliharaan sosial. Malinowski mempergunakan istilah “phatic communion” yg mengacu kepada kontak komunikatif antara sesama manusia yg semata-mata mengizinkan mereka mendirikan kontak sosial beserta menjaga agar saluran-saluran komunikasi itu tetap terbuka, merupakan bagian dari fungsi interaksional bahasa.
Fungsi personal membolehkan seorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yg terkandung dalam hati sanubarinya.
Fungsi heuristik melibatkan bahasa yg dipergunakan buat memperoleh pengetahuan, mempelajari lingkungan. Fungsi-fungsi neuristik sering kali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yg menuntut jawaban. Fungsi neuristik ini dalam pertanyaan-pertanyaan “mengapa” mengenai dunia sekeliling mereka.
Fungsi imajinatif bertindak buat menciptakan sistem-sistem atau gagasan-gagasan imajiner. Mengisahkan cerita-cerita dongeng, membuat lelucon-lelucon, atau menulis novel merupakan kegiatan yg mempergunakan fungsi imajinatif bahasa.
Ketujuh fungsi bahasa yg ditelusuri beserta dirangkumkan oleh Halliday itu kita sebut dgn istilah sapta guna bahasa.
7.2 Batasan & Tujuan Berbicara
Ujaran (Speech) merupakan suatu bagian yg integral dari keseluruhan personalitas atau kepribadian, mencerminkan lingkungan sang pembicara, kontak-kontak sosial & pendidikannya.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata buat mengekspresikan, menyatakan beserta menyampaikan pikiran, gagasan & perasaan Tarigan, (1981:15).
Tujuan utama dari berbicara adalah buat berkomunikas. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogyanyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yg ingin dikomunikasikan.
7.3 Ragam Seni Berbicara
Karena pembicaraan kita pada bab-bab selanjutnya lebih ditekankan pada seni berbicara atau berbicara terapan maka ada baiknya kita mengenal ragam-ragam seni berbicara terlebih dahulu.
Secara garis besar, maka berbicara (speaking) dapat dibagi atas:
Berbicara dimuka umum pada masyarakat yg mencakup empat jenis, yaitu:
Berbicara dalam situasi-situasi yg bersifat memberitahukan atau melaporkan yg bersifat informatif
Berbicara dalam situasi-situasi yg bersifat kekeluargaan, persahabatan (fellow ship speaking)
Berbicara dalam situasi-situasi yg bersifat membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (pensuasive speaking)
Berbicara dalam situasi-situasi yg bersifat merundingkan dgn tenang & hati-hati (deliberative speaking).
Berbicara pada konferensi yg meliputi:
Diskusi kelompok yg dapat dibedakan atas:
Tidak resmi (informal)
Resmi
Prosedur parlementer
Debat
Metode & Teknik Penelitian
Dalam penelitian ini teknik yg digunakan penulis adalah studi korelasi. Studi korelasi yaitu penelitian deskriptif yg bertujuan menetapkan besarnya hubungan antara variabel-variabel Furchan, (1982:429). Adapun teknik yg digunakan dalam pengumpulan data adalah:
Teknik tes, dilakukan buat mencari & mengumpulkan data dgn cara memberikan tugas tertulis tentang:
Penguasaan teori berbicara
Kemampuan berbicara
Teknik pengolahan data
Agar diperoleh simpulan atas penelitian yg dilakukan, & menghasilkan data yg akurat perlu dilaksanakan analisis data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis data dgn rumus korelasi product moment yaitu:
Hasil yg diperoleh akan menegaskan bagaimana kedudukan kausal antara variabel-variabel yg diselidiki.
Populasi & Sampel
Penelitian populasi hanya dapat dilakukan bagi populasi terhingga atau subyek tidak terlalu banyak. Bila populasi terlalu banyak penelitian dilakukan terhadap sampel tapi hasilnya dapat menaksirkan populasi.
Dari pengertian di atas, penulis menentukan populasi penelitian sebagai berikut. Seluruh siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang, yg berjumlah 4 kelas atau 107 siswa. Adapun dari populasi tersebut diambil sampel secara acak pada tiap kelas 10% atau setiap kelas diambil 4 siswa x 4 kelas = 16 siswa.
Definisi Operasional
Kemampuan berbicara adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa selain berbicara yaitu menyimak, membaca & menulis yg mesti dikuasai oleh siswa kelas 2 SMP Negeri 8 Serang.
Yg dimaksud dgn kemampuan berbicara dalam penelitian ini adalah kemampuan mengutarakan ide-ide atau gagasan yg merupakan proses encoding dari si pembicara.
9. Jadwal Penelitian
| No | Tahap | Kegiatan | Bulan | |||||
| Feb | Mar | Apr | Mei | Juni | Juli | |||
| 1. | Persiapan | Peneteapan objek penelitian |
|
|
|
|
|
|
| Pengajuan proposal |
|
|
|
|
|
| ||
| Seminar proposal |
|
|
|
|
|
| ||
| Perbaikan proposal |
|
|
|
|
|
| ||
| Pengesahan proposal |
|
|
|
|
|
| ||
| Penentuan pembimbing |
|
|
|
|
|
| ||
| Bimbingan intensip proposal |
|
|
|
|
|
| ||
| 2. | Penyusunan skripsi | a. Pengumpulan data |
|
|
|
|
|
|
| b. Analisis Data |
|
|
|
|
|
| ||
| c. Menyusun Skripsi |
|
|
|
|
|
| ||
| d. Bimbingan Bab 1 |
|
|
|
|
|
| ||
| e. Bimbingan Bab 2 |
|
|
|
|
|
| ||
| f. Bimbingan Bab 3 |
|
|
|
|
|
| ||
| g. Bimbingan Bab 4 |
|
|
|
|
|
| ||
| h. Bimbingan Bab 5 |
|
|
|
|
|
| ||
| 3. | Ujian skripsi sidang skripsi | a. Penggandaan skripsi |
|
|
|
|
|
|
| b. Pendaftaran ujian skripsi |
|
|
|
|
|
| ||
| c. Presentase hasil penelitian/ skripsi pada penguji |
|
|
|
|
|
| ||
| 4. | Revisi skripsi | a. Perbaikan skripsi |
|
|
|
|
|
|
| b. Penjili& skripsi |
|
|
|
|
|
| ||
| c. Penyerahan laporan skripsi |
|
|
|
|
|
| ||