SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

SINOPSIS BUKU

Judul : Sang Pemimpi

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Penerbit Bentang

Tahun Penerbit : 2007

Cetakan : September 2007

Tema :

Jumlah halaman : 292 halaman

Cover : Biru, putih, abu-abu

Ukuran : 20.5 cm

Keterangan :

Segmentasi umum :
SANG PEMIMPI

Hari yg mencekam menyelimuti arai, jimbron, invalid dgn disela petir terdengar dgn jelas suara pantopel yg semakin mendekat hanya terhalang jarak & papan lagi suara pantopel itu mendekat.

Yg lebih parah lagi invalid dia muntah-muntah.

Ari menerawang dari sela-sela celah menyimpan ikan.

Mereka mengendap-endap manjauhi suara sepatu tersebut pada disaat arai menengok 20 meter kebelakang terlihat di teronggok reyot dipabrik cincau, & daun-daun cinta berhamburan, lalu menyelinap melompati para-para alung & membaur diantara pembeli diantara pembeli tahu.

Aku melirik kejam, pengen rasanya aku mencongkel matanya kata si Arai.

Arai selalu megeluarkan gejala yg bisa menandakan kalau dia sedang ketakutan tubuhnya menggigil, giginya gemeletuk & nafasnya mengendus satu-satu.

Selain itu pak Mustar menyandang semua julukan seram yg berhubungan dgn tata cara lama yg keras dalam penegakan disiplin. Selain guru biologi dia juga darwinian tulen karena itu dia sama sekali tidak toleran.

Lebih dari gelar B.A itu adalah perguruan traditional silat yg ditakuti, dgn kebiasannya menjilat telunjuknya & menggosok telunjuk itu ke embel-embel namanya yg bertengger didadanya. Nafas Arai tertahan ketika pak mustar membalikan tubuhnya.

Pak Mustar adalah seorang yg penting banget sebenarnya dgn kerja kerasnya pak mustar bisa mendirikan sekolah SMA dibelitong kemudian pak Mustarlah yg telah menyelamatkan keterpurukan yg hampir melanda belitong.

Sebelum pak Mustar mendirikan sekolah itu Arai, Ical mesti menempuh jarak 120 km jauhnya buat ke sekolah, & memang benar SMA itu bukan SMA yg biasa, SMA itu adalah SMA yg terfaforit disana,

Pak Mustar adalah sosok yg baik, sopan, santun & memadu dgn masyarakat banyak. Tapi lain perihal dgn sekarang pak Mustar menjadi manusia jelmaan robot yg keras bila dikatakan manusia bertangan besi setelah dia tau anaknya yg justru tidak diterima di sekolah SMA yg dia bangun itu, padaperihal dgn kerja kerasnya pak Mustar meembangun sekolah itu.

Pak Mustar tidak dapat lagi membanggakan sekolah & tidak dapat lagi membanggakan anaknya, semua anakpun senang karena mereka diterima kecuali anak pak Mustar. Dia tidak diterima karena NEM ujian nasionalnya kurang dari 0,25 dari batas minimal buat nilai NEM yg bisa diterima adalah 42, sedangkan anak pak mustar Cuma 41,75.

Setelah empat puluh tahun akhirnya bumi pertiwi belitong timur negeri yg kaya akan timah itu memiliki SMA Negeri, maka & itu orang melayu, tionghoa, sawang & pulau berkerudung ingin menghirup candu ilmu di SMA itu.

Drs. Julian Ichsan balia adalah seorang kepala sekolah dimana tempat arai, ical sekolah.

Ada yg menyumbangkan kapur tulis, papan tulis, jam dinding, pagar, bahkan masih ada salah satu anak yg NEM nya 28 tap dia tidak tau ibukota provinsinya sendiri sumsel mendapat kursi di SMA itu.

Arai adalah lelaki pada biasanya dia bertengkar dgn tukang parkir sepeda hanya gara-gara uang dua ratus perak.

Arai adalah anak yatim karena waktu Arai berumur 7 atau disaat kelas satu SD, ibu Arai meninggal dunia karena melahirkan anak yg kedua, tapi bukan kebahagiaan malah anak & ibunya meninggal, ternyata kesedihan belum mau beranjak & hidup Arai menginjak kelas tiga SD Arai mesti lagi mengeluarkan air mata karena mesti ditinggalkan sang ayah yg sangat ia cintai.


Bagaimana tidak semenjak ibunya melahirkan & langsung meninggal arai hanya hidup dgn ayahnya, kini arai mesti merasa kehilangan dua orang yg dicintainya sekaligus ayah & ibunya.

Dalam perjalanan kerumah ikal, ikal tidak banyak bicara karena pilu kepada arai, sesampai dirumah ikal arai menangis dan dibasuh nya airmata dgn tangan bajunya yg dekil & kumel ayah ikal mencuri-curi pandang kepada kepada arai & ikal, sebari duduk diatas kopra.

Tak lama kemudian arai mengeluarkan suatu benda yg belum pernah ikal lihat sebelumnya, bahkan asing banget .

Benda itu menyerupai helikopter & benda itu sangatlah sederhana karena itu adalah benda permainan anak kampung.

Setiap sehabis maghrib ikal selalu mengajak arai membaca kitab suci al-quran dibawah lampu minyak tanah yg kurang terang.

Jika ikal sedang mengaji arai malah turun dari tangga rumah buat berlari menembus kebun ilalang menuju lapangan diujung kampung ditempat rumah ikal.

Waktu itu matahari yg menyinari rumahku begitu gerah, & kebun kelapa sawit yg seakan membelah sinar matahari sambil duduk diatas talang arai & ikal memainkan mainan traditional yg terbuat dari kaleng susu bendera & kaleng botan. Arai diatas talang sedangkan ikal di kandang ayam. & mereka bertemu dgn ibu-ibu yg berba& gemuk, yg itu adalah cek maryam yg meminta-minta beras dgn karung butut & kedua anaknya meminta belas kasihan kepada ibunya ikal. Dgn rasa kasihan.

Waktu itu masih pagi dimana tempat foto copy “Kang Emod” masih tutup itu adalah tempat kami bekerja. Dgn mengumpulkan bahan US arai tidak mengerti, terigu, minyak & tidak lama kemudian ibu mertua deborah menampar-namparkan piring ketempat makanan kucing, mereka hanya diam & bersifat sabar mendengar semua yg di lakukan mertua deborah.


Air mata mak cikpun jatuh, seakan terlahir buat susah, lalu mak cik menatap anak perempuanya yg namanya Nurmi. Nurmi adalah anak kelas dua SMP, dia kelihatan kurus kering & kurang gizi. Ia terlihat batinya sangat tertekan nurmi sambil memegang erat biola kesayanganya.

Dia dikasih bakat dari kakeknya dikampung.

Keluarga ikal miskin tapi keluarga mak cik lebih miskin daripada keluarga ikal.

Ikal & arai ngefens banget pada A. Put.

Peraturan terbaru terjadi pada adat dimana A.Put tinggal dgn sesuatu yg terjadi, misalkan banyak yg terjadi banyak kelahiran maka seorang paraji akan menjadi ketua adat & jika para buaya yg mulai tak bersahabat dgn masyarakat sekitar maka pawang buayalah yg akan menjadi ketua adat begitu & begitu seterusnya.

& aktifitas yg dilakukan oleh arai, jimran & ikal setiap pagi adalah berbekal bambu, mereka mencari hewan laut yg bisa dimakan.

Pada suatu malam, ikal, arai & jimran nonton TV dibalai desa & menyaksikan tayangan berita tentang mujahidin, dgn semua itu mereka taulah.

Ibu arai tidak bisa menulis dgn benar tapi dia bisa menulis dgn huruf latin, sedangkan ayah arai menulis dgn menggunakan huruf arab, bahkan tanda tangan ayah arai menggunakan salah satu huruf arab.

Pada disaat pengambilan raport aku memakai baju berkantong empat, yg mana baju tersebut memiliki sejarah yg tidak bisa dilupakan sampai sekarang.

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA

PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA ( GROUP TO TUTOR)TERHADAP PEMAHAMAN SISWA KELAS X PADA SUB KONSEP TUMBUHAN PAKU


PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam pengajaran Student Active Learning (SAL) merupakan konsekuensi logis dari pengajaran yg seharusnnya. Student Active Learning (SAL) menuntut adanya keaktifan belajar siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yg optimal. Ditinjau dari proses belajar mengajar Student Active Learning (SAL) dapat diartikan salah satu cara strategi mengajar yg menuntut keaktifan & partisipasi siswa seoptimal mungkin, sehingga mampu mengubah tingkah laku siswa secara lebih efektif & efisien.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan tebak kata berpangaruh terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut

2. Apakah Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan teka-teki silang berpangaruh terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut

3. Adakah perbedaan antara Student Active Learning (SAL) yg menggunakan tebak kata dgn Student Active Learning (SAL) yg menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1. Mengetahui bagaimana pengaruh Student Active Learning (SAL)dgn menggunakan tebak kata terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut

2. Mengetahui bagaimana pengaruh Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut

3. Mengatahui adakah perbedaan antara Student Active Learning (SAL) yg menggunakan tebak kata dgn Student Active Learning (SAL) yg menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1. Guru

Penelitian ini diharapakan dapat menjadi pertimbangan bagi pihak-pihak yg terkait dalam bidang pendidikan, terutama guru buat menentukan cara-cara yg tepat & sesuai dgn materi yg diajarkan, yg dapat diterapkan dalam pembelajaran.

2. Siswa

Dgn adanya penelitian ini siswa diharapkan dapat aktif & tidak pasif dalam pembelajaran, siswa juga dapat terlibat secara intelektual & emosional sehingga siswa betul-betul berperan & berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar.

1.5 HIPOTESIS PENELITIAN

Hipotesis dari penelitian ini yaitu ada pengaruh terhadap pemahaman siswa kelas X dgn menggunakan Student Active Learning (SAL) tebak kata & Student Active Learning (SAL) teka-teki silang pada sub konsep lumut.

METODE PENELITIAN

3.1 DEFINISI OPERASIONAL

1. Student Active Learning (SAL) yaitu salah satu cara atau strategi mengajar yg menuntut keaktifan & partisipasi siswa seoptimalkan mungkin. Teknik yg digunakan dalam Student Active Learning yaitu tebak kata & teka-teki silang (TTS).

2. Pemahaman merupakan tingkat kemampuan yg mengharapkan siswa mampu memahami apa yg telah diajarkan. Buat mengukurnya yaitu dgn menggunakan pre-tes & pos-test.

3. Lumut ( Bryophyta) berasal dari bahasa yunani bryon yg berarti “ tumbuhan lumut”. Lumut merupakan jenis tumbahan rendah yg pertama beradaptasi dgn lingkungan darat.

3.2 METODE & DESAIN PENELITIAN

Metode : quasi eksperimem

Desain : pre-test & post-test

3.3 POPULASI & SAMPEL

Populasi : Sisawa SMAN 5 KOTA SERANG

Sampel : teknik random sampling & didapat kelas X-6 (teka-teki silang) & X-7 (tebak kata)

KESIMPULAN & SARAN

a. Kesimpulan

1. Pembelajaran Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan tebak kata berpengaruh terhadap pemahaman siswa, perihal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test mencapai 36,7% & pada rata-rata post-test meningkat menjadi 59,9%.

2. Pembelajaran Student Active Learning (SAL) dgn menggunakan

teka-teki silang berpengaruh terhadap pemahaman siswa, perihal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test mencapai 33,8% & pada rata-rata post-test meningkat menjadi 57,9%.

3. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan peningkatan terhadap kedua kelas tersebut, perihal ini dilihat dari rata-rata bahwa kelas TBK mencapai 23,2%, & kelas TTS mencapai 24,1%. Dari data di atas terdapat perbedaan mencapai 0,9% dari kedua kelas tersebut.

b. Saran

1. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa pendekatan Student Active Learning menggunakan tebak kata & teka-teki silang, dapat berpengaruh terhadap pemahaman siswa. Oleh karena itu diharapkan para guru dapat mengembangkan aktivitas siswa agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran.

2. Pendekatan Student Active Learning menggunakan tebak kata & teka-teki silang dapat membangkitkan aktivitas belajar siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mangajar.

3. Bagi guru yg akan menggunakan pendekatan Student Active Learning dgn tebak kata & teka-teki silang dalam pembelajaran, maka diharapkan agar memperhatikan masalah waktu, keadaan siswa & kelas.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian. Rineka Cipta. Jakarta : vii + 370 hlm

Purwanto, N. 1994. Prinsip-prinsip & teknik evaluasi pengjaran. Remaja Rosdakarya. Bandung : ix + 165 hlm

Riduwan. 2008. Belajar mudah penelitian buat guru-karyawan & peneliti pemula. Alfa Beta. Bandung : x + 240 hlm

Silberman, M.L. 2006. Active learning (101 Cara Belajar Siswa Aktif). Nusamedia dgn Nuanasa. Bandung : 17 + 301 hlm


Pendidikan Kewarganegaraan

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG MASALAH

Mahasiswa yg pada dasarnya merupakan subjek atau pelaku di dalam pergerakan pembaharuan atau subjek yg akan menjadi generasi-generasi penerus bangsa & membangun bangsa & tanah air ke arah yg lebih baik dituntut buat memiliki etika. Etika bagi mahasiswa dapat menjadi alat kontrol di dalam melakukan suatu tindakan. Etika dapat menjadi gambaran bagi mahasiswa dalam mengambil suatu keputusan atau dalam melakukan sesuatu yg baik atau yg buruk. Oleh karena itu, makna etika mesti lebih dipahami kembali & diaplikasikan di dalam lingkungan mahasiswa yg relitanya lebih banyak mahasiswa yg tidak sadar & tidak mengetahui makna etika & peranan etika itu sendiri, sehingga bermunculanlah mahasiswa-mahasiswi yg tidak memiliki akhlaqul karimah, seperti mahasiswa yg tidak memiliki sopan & santun kepada para dosen, mahasiswa yg lebih menyukai hidup dgn bebas, mengonsumsi obat-obatan terlarang, pergaulan bebas antara mahasiswa dgn mahasiswi, berdemonstrasi dgn tidak mengikuti peraturan yg berlaku bahkan perihal terkecil seperti menyontek didisaat ujian dianggap perihal biasa padaperihal menyontek merupakan salah satu perihal yg tidak mengindahkan makna dari etika. Perlu Anda ketahui bahwa realita banyaknya bermunculan para koruptor di Indonesia disebabkan oleh seseorang yg tidak memahami arti kata dari iman & etika. Banyak orang yg beranggapan & meyakini para koruptor yg ada sekarang adalah seorang yg dahulunya terbiasa melakukan tindakan menyontek di disaat ujian tanpa merasa bersalah, lebih tepatnya mencontek memiliki makna yg sama dgn kecurangan. Jadi menyontek diibaratkan dgn korupsi mengambil hak seseorang tanpa izin & meraih sesuatu tanpa memikirkan apakah cara yg digunakannya benar atau salah & ini semua berhubungan dgn etika.

Apabila mahasiswa masih belum menyadari betapa pentingnya etika di dalam pembentukan karakter-karakter seorang penerus bangsa & negara, akankah bangsa Indonesia buat di masa yg akan datang di isi oleh penerus-penerus bangsa yg berakhlaqul karimah atau beretika?. Akan diletakkan dimanakah wajah Indonesia nanti apabila bangsa Indonesia dibangun oleh jiwa-jiwa yg penuh dgn kecurangan atau dgn akhlaq-akhlaq tercela?.

II. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah-masalah yg akan dikaji dalam karya tulis ilmiah ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah pengertian mahasiswa?

2. Apakah kewajiban & hak mahasiswa?

3. Apakah pengertian etika & peranan etika?

4. Adakah hubungan etika dgn mahasiswa?

5. Bagaimanakah realita aktivitas mahasiswa?

6. Mengapa mahasiswa bersikap anarkis?

7. Apakah fungsi etika bagi mahasiswa?


III. TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan perumusan masalah di atas, peranan etika bagi mahasiswa diharapkan dapat mewujudkan & menumbuhkan etika & tingkah laku yg positif. Namun secara umum karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk:

1. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

2. Diharapkan mahasiswa mengetahui, memahami, & dapat mengamalkan nilai-nilai etika di kalangan atau di dalam aktivitas mahasiswa.

IV. METODE PENULISAN & PENELITIAN

Metode yg digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah metode studi literatur, observasi, & quisioner.

V. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam karya tulis ilmiah ini terdapat beberapa bab diantaranya:

BAB I PENDAHULUAN

Bab I pada karya tulis ilmiah ini membahas tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan & penelitian beserta sistematika penulisan karya tulis ilmiah ini. Latar belakang masalah pada karya tulis ilmiah ini memamparkan alasan penulis mengapa etika sangat mempunyai peranan penting dalam aktivitas mahasiswa. Pada bab I ini dijelaskan pula perumusan masalah yg mengacu kepada pedoman 5 W+H, menjelaskan tujuan penulisan beserta memberitahukan kepada pembaca karya tulis ini, metode yg digunakan adalah studi literatur, observasi, & quisioner.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pada bab II karya tulis ilmiah ini menjelaskan atau memaparkan tentang pengertian dari etika, peranan, aktivitas & mahasiswa dari berbagai pendapat tokoh-tokoh terkenal, beserta menjelaskan secara umum tentang peranan etika & apa saja yg termasuk ke dalam aktivitas mahasiswa.

BAB III PEMBAHASAN

Pada bab II karya tulis ilmiah ini mengacu kepada perumusan masalah yg secara umum akan membahas tentang pengertian mahasiswa & etika, kewajiban & hak mahasiswa, hubungan etika dgn mahasiswa, realita aktivitas mahasiswa, & fungsi etika bagi mahasiswa beserta di dalam karya tulis ilmiah ini akan dilampirkan quisioner yg dijawab oleh para mahasiswa.

BAB IV PENUTUP

Bab ini akan membahas simpulan & saran. Pada bagian simpulan, semua materi yg telah dijelaskan akan disimpulkan & pada bagian saran berisi saran yg ditulis oleh penulis & terdapat pula harapan-harapan dari penulis yg berkenaan dgn judul karya tulis ilmiah ini.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

I. Pengertian Etika

Etika adalah ilmu tentang apa yg baik & apa yg buruk & tentang hak & kewajiban moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yg berkenaan dgn akhlaq; nilai mengenai nilai benar & salah, yg dianut suatu golongan atau masyarakat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)

Etika adalah suatu ilmu yg membahas tentang bagaimana & mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaimana kita mesti mengambil sikap yg bertanggung jawab berhadapan dgn pelbagai ajaran moral. (Suseno, 1987)

Etika sebenarnya lebih banyak bersangkutan dgn prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan tingkah laku manusia. (Kattsoff, 1986)

II. Pengertian Peranan

Peranan berasal dari kata peran. Peran memiliki makna yaitu seperangkat tingkat diharapkan yg dimiliki oleh yg berkedudukan di masyarakat. Sedangkan peranan adalah bagian dari tugas utama yg mesti dilksanakan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)

III. Peranan Etika

Peranan etika bagi aktivitas mahasiswa yaitu menjadi landasan dalam melakukan kegiatan yg tetap mengacu atau melihat nilai-nilai & norma-norma, sehingga segala perbuatan & tingkah laku kita dapat diterima masyarakat.

IV. Pengertian Aktivitas

Aktivitas adalah keaktifan; kegiatan; kesibukan; kerja atau salah satu kegiatan kerja yg dilaksanakan dalam tiap bagian di dalam perusahaan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)

V. Pengertian Mahasiswa

Mahasiswa adalah orang yg belajar di perguruan tinggi. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)

Mahasiswa adalah sekumpulan manusia intelektual yg akan bermetamorfosa menjadi penerus tombak estafet pembangunan di setiap Negara, dgn itelegensinya diharapkan bisa mendobrak pilar-pilar kehampaan suatu negara dalam mencari kesempurnaan kehidupan berbangsa & bernegara, beserta secara moril akan dituntut tanggung jawab akdemisnya dalam menghasilkan “buah karya” yg berguna bagi kehidupan lingkungan. (www.google.com)

VI. Macam-macam Aktivitas Mahasiswa

Berbicara tentang aktivitas, mahasiswa memiliki banyak aktivitas selain belajar sebagai tujuan utama menjadi mahasiswa. Mahasiswa sebagai subjek dapat memilih apa yg terbaik buat dirinya. Relitanya aktivitas mahasiswa ada yg positif & ada yg negatif, kembali kepada mahasiswa itu sendiri apakah ia menginginkan jalan yg baik atau tidak. Aktivitas positif mahasiswa selain belajar adalah mengikuti atau menyelami dunia organisasi di kampus, disiplin akan waktu, & mematuhi segala peraturan yg tidak bertentangan dgn norma-norma yg ada. Sedangkan aktivitas negatif mahasiswa adalah bersikap anarkis dalam berdemonstrasi, tidak mematuhi peraturan yg berlaku, berbuat keonaran antar sesama mahasiswa atau mahasiswi, bergaul secara bebas tanpa mengindahkan peraturan yg ada & melakukan tindakan curang yaitu menyontek didisaat ujian.

BAB III

PEMBAHASAN

Pernahkah Anda mendengar & melihat sebuah tragedi yg telah terjadi beberapa tahun yg lalu seperti: tragedi Trisakti, tragedi 27 Juli, peristiwa Ambon, peristiwa Aceh, tragedi Lampung, & peristiwa Malari Banyuwangi. Apabila kita mengingat kembali tragedi Semanggi I yg terjadi pada tanggal 11-13 November 1998 & tanggal 24 September 1998 tanggal dimana terjadinya tragedi Semanggi II. Tragedi ini menunjukkan kepada dua kejadiaan protes masyarakat terhadap pelaksanaan & agenda sidang istimewa yng mengkibatkan tewasnya warga sipil sebanyak 17 warga sipil, kemudian kejadian kedua yaitu tragedi Semanggi II menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa & sebelas orang lainnya di seluruh Jakarta beserta menyebabkan 217 korban luk-luka. Pada disaat itu, masyarakat & mahasiswa menolak sidang istimewa 1998 & juga menentang dwi fungsi ABRI/TNI. Sepanjang diadakannya sidang istimewa itu masyarakat berabung dgn mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta & kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari seluruh Indonesia & dunia internasional. Hampir seluruh sekolah & universitas di Jakarta, tempat diadakannya sidang istimewa tersebut diliburkan buat mencegah mahasiswa karena di bawah tekanan aparat yg tidak menghendaki aksi mahasiswa.

Para pelaku utama dari peristiwa di atas sebagian besar adalah mahasiswa yg pada dasarnya menginginkan keadilan & memperjuangkan sebuah makna dari kata kebenaran.

A. Pengertian Mahasiswa

Mahasiswa sebagai pelaku utama & agent of exchange dalam gerakan-gerakan pembaharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia intelektual, memandang segala sesuatu dgn pikiran jernih, positif, kritis yg bertanggung jawab, & dewasa. Secara moril mahasiswa akan dituntut tangung jawab akademisnya dalam menghsilkan “buah karya” yg berguna bagi kehidupan lingkungan.

Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yg memiliki tanggung jawab sosial yg khas. Shill menyebutkan ada lima fungsi kaum intelektul, yakni mencipta & menyebar kebudayaan tinggi menyediakan bagan-bagan nasional & antar bangsa, membina keberdayan & bersama mempengaruhi perubahan sosial & memainkan peran politik.

B. Kewajiban & Hak Mahasiswa

Berbicara tentang hak & kewajiban, seorang mahasiswa terlebih dahulu mesti melaksanakan kewajibannya & kemudian mendapatkan haknya sebagai seorang mahasiswa. Mahasiswa sebagai kelompok terpenting dalam sebuah masyarakat memiliki kewajiban yaitu menuntut ilmu, menguasai ilmu dgn sungguh-sungguh agar menjadi seorang yg berguna yg mengaplikasikan atau mengembangkan disiplin ilmunya bagi lingkungan tempat dimana ia tinggal, mematuhi peraturan yg berlaku, sebuah perturan yg tidak menyimpang dari ketetapan hukum-hukum Allah & nilai-nilai, norma-norma yg ada, selain itu mahasiswa juga mesti memainkan peranan penting sebagai pencetus perubahan & revolusi. Saidina Ali k.w.j. berkata: “Bukanlah orang muda yg hanya mengatakan: ‘Ayahku begini!’ tapi orang muda adalah yg mengatakan: ‘Ini Aku!’”.

Kata-kata di atas memberikan semangat bahwa seorang mahasiswa seharusnya memiliki prinsip yg kuat, mampu melakukan perubahan & berani menegakkan kata kebenaran di atas sebuah kemungkaran, selain itu mahasiswa juga wajib melaksanakn Tridarma Mahasiswa yaitu melakukan penelitian, pengabdian, & pengajaran yg diawali dgn proses belajar yg sungguh-sungguh. Berbicara tentang kewajiban mahasiswa juga berhak mendapatkan hak yg diterimanya, yaitu mendapatkan perlakuan yg sama dari pendidik tanpa memandang status sosial dari mahasiswa tersebut, apakah mahasiswa tersebut berasal dari kalangan menengah atau dari kalangan menengah ke bawah, mendapatkan ilmu, menerima & dapat menggunakan sarana & prasarana yg ada, mengemukakan aspirasinya tetap dgn “sopan”, & mendapatkan pencerahan agama sebagai penyeimbang dalam menjalani kehidupan.

C. Pengertian Etika & Peranannya

Sebelum lebih mendalami makna atau pengertian dari etika, saya akan memberikan contoh kasus yg berhubungan dgn etika & mahasiswa. Peristiwa ini terjadi di Makasar, pelaku dari peristiwa ini adalah mahasiswa UMI (Universitas Muslim Indonesia) yg pada disaat itu mengenakan jas almamater berwarna hijau sedang berdemonstrasi. Para mahasiswa UMI tadi ramai-ramai memukuli salah seorang professor yg disaat itu dalam kondisi sakit hendak diantar ke rumah sakit, hanya kerena anak beliau hendak memindahkan pagar penghalang jalan utama karena hendak buru-buru mengantar sang professor ke rumah sakit. Memalukan! Mungkin itu yg Anda katakan ketika mengetahui peristiwa yg melibatkan para mahasiswa ini. Dimanakah etika mereka semua? Apakah mereka berpikir apakah dampak yg akan mereka terima setelah mereka menganiaya perofessor itu?.

Para mahasiswa itu mengatasnamakan demokrasi dalam melakukan tindakan itu, tapi apakah kebebasan berdemokrasi tidak mengindahkan makna & peranan etika?.

Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti yaitu tempat tinggal yg biasa, padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Jadi, etika adalah nilai-nilai & norma-norma moral yg menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Etika tidak sama dgn etiket, “Etika” berarti “moral” & “Etiket” berarti “sopan santun”.

Etika berkaitan dgn nilai, norma, & moral. Di dalam Dictionary of Sosciology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yg dipercayai & pada suatu benda buat memuaskan manusia. Jadi nilai itu hakikatnya adalah sifat atau kualitas yg melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri.

Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan & keharusan. Menurut tinggi rendahnya, nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan yaitu:

1. Nilai-nilai kenikmatan

Dalam tingkatan ini terdapat deretan nilai-nilai yg mengenakkan & tidak mengenakkan yg menyebabkan orang senang atau menderita tidak enak.

2. Nilai-nilai kehidupan

Dalam tingkatan ini terdapatlah nilai-nilai yg penting bagi kehidupan misalnya kesehatan, kesegaran jasmani, & kesejahteraan umum.

3. Nilai-nilai kejiwaan

Dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai kejiwaan yg sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani maupun lingkungan. Misalnya nilai keindahan, kebenaran maupun lingkungan.

4. Nilai-nilai kerohanian

Dalam tingkat ini terdapatlah modalitas nilai dari yg suci & tidak suci. Misalnya nilai-nilai pribadi. Ada empat macam nilai-nilai kerohanian, yaitu:

a. Nilai kebenaran yg bersumber pada akal (ratio, budi, cipta) manusia.

b. Nilai keindahan atau nilai estetis, yg bersumber pada perasaan manusia.

c. Nilai kebaikan atau nilai moral, yg bersumber pada unsur kehendak manusia.

d. Nilai religius, yg merupakan nilai kerohanian tertinggi & mutlak. Nilai ini bersumber kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.

Nilai & norma senantiasa berkaitan dgn moral & etika. Istilah moral mengandung integritas & martabat pribadi manusia. Makna moral yg terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap & tingkah lakunya. Jadi norma sebagai penuntun sikap & tingkah laku manusia. Antara norma & etika memiliki hubungan yg sangat erat yaitu etika sebagai ilmu pengetahuan yg membahas tentang prinsip-prinsip moralitas.

Etika memiliki peranan atau fungsi diantaranya yaitu:

1. Dgn etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia

2. Menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai mahasiswa

3. Etika dapat memberikan prospek buat mengatasi kesulitan moral yg kita hadapi sekarang.

4. Etika dapat menjadi prinsip yg mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas kemahasiswaanya.

5. Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, & dgn etika kita bisa di cap sebagai orang baik di dalam masyarakat.

D. Hubungan Etika dgn Mahasiswa

Antara etika dgn mahasiswa memiliki hubungan yg sangat erat. Dalam contoh kasus mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yg sudah diceritakan di atas, dapat kita nilai bahwa etika sangat berperan penting terhadap diri mahasiswa maupun orang lain, dgn memahami peranan etika mahasiswa dapat bertindak sewajarnya dalam melakukan aktivitasnya sebagai mahasiswa misalnya di disaat mahasiswa berdemonstrasi menuntut keadilan etika menjadi sebuah alat kontrol yg dapat menahan mahasiswa agar tidak bertindak anarkis. Dgn etika mahasiswa dapat berperilaku sopan & santun terhadap siapa pun & apapun itu. Islam telah mengajarkan kepada bahwa kita mesti berperilaku sopan terhadap orang yg lebih tua dari kita & etika juga sudah di jelaskan di dalam Islam, etika di dalam Islam sama dgn akhlaq, & mahasiswa sebagai mahluk Allah SWT. yg telah diberikan karunia berupa akal, akhlaq yg baik ditujukan bukan hanya kepada manusia saja melainkan kepada semua mahluk baik mahluk hidup ataupun benda mati.

Sebagai seorang mahasiswa yg beretika, mahasiswa mesti memahami betul arti dari kebebasan & tanggung jawab, karena banyak mahasiswa yg apabila sedang berdemonstrasi memaknai kebebasan dgn kebebasan yg tidak bertangung jawab.

E. Kebebasan & Tangung Jawab

Sebenarnya tidak ada manusia yg tidak tahu apa itu kebebasan, karena kebebasan merupakan kenyataan yg akrab dgn kita semua. Dalam hidup setiap manusia kebebasan adalah unsur hakiki. Kadang-kadang kebebasan dimengerti sebagai kesewenang-wenangan. Kalau begitu, orang disebut bebas bila ia dapat berbuat atau tidak berbuat sesuka hatinya.

Bebas dimengerti sebagai terlepas dari segala kewajiban & keterkaitan. Kebebasan dilihat sebagai izin atau kesempatan buat berbuat semaunya. Banyak mahasiswa yg tidak beretika salah mengartikan kebebasan, mereka mengartikan kebebasan dalam arti kesewenang-wenangan. Kata “bebas” disalahgunakan penyebab “bebas” sesungguhnya tidak berarti “lepas dari segala keterkaitan”. Jadi kebebasan yg sejati adalah kebebasan yg mengandaikan keterikatan oleh norma-norma.

Batas-batas kebebasan, diantaranya:

1. Faktor-faktor dari dalam

Kebebasan pertama-tama dibatasi oleh faktor-faktor dari dalam, baik fisik maupun psikis.

2. Lingkungan

Kebebasan dibatasi juga oleh lingkungan, baik alamiah maupun sosial. Contohnya orang yg berasal dari lingkungan miskin tidak bebas masuk perguruan tinggi karena yg ingin masuk perguruan tinggi mesti memenuhi syarat yg tidak bisa dipenuhi oleh golongan orang yg kurang mampu.

3. Kebebasan orang lain

Kebebasan ini dibatasi apabila semua gerak-gerik seseorang dibatasi oleh orang lain, & ternyata mengakui kebebasan orang lain secara konkret berarti menghormati hak-hak orang lain.

4. Generasi-generasi mendatang

Kebebasan dibatasi oleh juga oleh masa depan umat manusia atau oleh generasi-generasi sesudah kita. Contohnya kebebasan kita dalam menguasai & mengeksploitasi alam dibatasi sampai titik tertentu, sehinga alam bisa menjadi dasar hidup bagi generasi-generasi mendatang.

Mahasiswa yg ideal adalah mahasiswa yg dapat bertanggung jawab atas segala sesuatu yg dilakukannya. Orang yg bertanggung jawab dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakunya & bukan saja ia bisa menjawab-kalau Ia mau-melainkan juga ia mesti menjawab. Tanggung jawab berarti bahwa orang tidak boleh mengelak, bila diminta penjelasan tentang perbuatannya.

F. Anarkisme, Mahasiswa, & Etika

Anarkisme berasal dari kata dasar anarki dgn imbuhan isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari bahasa Inggris anarchy atau anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yg berakardari kata Yunani anarhos/anarchein.

Anarkisme yaitu suatu paham yg mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan dgn kekuasaan adalah lembaga-lembaga yg menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan. Oleh karena itu negara, pemerintahan, bebeserta perangkatnya mesti dihilangkan/dihancurkan.

Sedangkan anarkis berarti orang yg mempercayai & menganut anarki. Dalam arti lain anarkis yaitu kegiatan yg bersifat menuju kekerasan, tidak mau mengalah & eakan kata musyawarahsudah tidak berlaku.

Tindakan anarkis tidak sepenuhnya identik dgn mahasiswa, tapi dalam realitanya masih ada mahasiswa yg menganut anarkisme. Menurut seorang mahasiswi UNTIRTA, mahasiswa yg menganut paham anarkis disebut juga mahasiswa prematur yg sudah tidak bisa memilih mana yg baik & yg buruk

Kini gelar mahasiswa sebagai kaum intelektual perlahan mulai bergeser menjadi kaum anarkis. Dalam masyarakat yg sehat, anarkisme tidak akan muncul, karena masyarakat paham bagaimana menyelesaikan setiap persoalan secara baik, rasional, & mesti sesuai dgn etika.

Menurut Denny JA. ada tiga kondisi lahirnya gerakan sosial seperti gerakan mahasiswa yg melakukan tindakan anarkis. Pertama, gerakan sosial dilahirkan oleh kondisi yg memberikan kesempatan bagi gerakan itu. Kedua, gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yg ada. Ketiga, gerakan sosial semata-mata masalah kemampuan kepemimpinan dari tokoh penggerak. Gerakan mahasiswa mengaktualissikan potensinya melalui sikap-sikap & pernyataan yg bersifat imbuan moral. Mereka mendorong perubahan dgn mengetengahkan isu-isu moral sesuai sifatnya yg bersifat ideal. Ciri khas gerakan mahasiswa adalah mengaktualisasikan nilai-nilai ideal mereka karena ketidakpuasan terhadap lingkungan sekitarnya.


Pengertian & Unsur Berbicara

I Pengertian Berbicara

• Berbicara adalah : Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata buat mengekpresikan, menyatakan beserta menyampaikan pikiran, gagasan, & perasaan.

• Berbicara adalah : Suatu alat buat mengkomunikasikan gagasan-gagasan yg disusun beserta dikembangkan sesuai dgn kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.

• Berbicara adalah : Proses individu berkomunikasi dgn lingkungan masyarakat buat menyatakan din sebagai anggota masyarakat.

• Berbicara adalah : Ekspresi kreatif yg dapat memanifestasikan kepribadiannya yg tidak sekedar alat mengkomunikasikan ide belaka, tapi juga alat utama buat menciptakan & memformulasikan ide baru.

• Berbicara ada!ah : Tingkah laku yg dipelajari di Iingkungan keluarga, tetangga, & lingkungan lainnya disekitar tempatnya hidup sebelum masuk sekolah.

II Unsur Dasar Berbicara

Di dalam kegiatan berbicara terdapat lima unsur yg terlibat yaitu:

a. Pembicara b. Isi pembicaraan

c. Saluran d. Penyimak, dan

e. Tanggapan penyimak

Terdapat pula delapan konsep dasar berbicara,yaitu:

1. Membutuhkan paling sedikit dua orang, tentu saja pembicaraan dapat dilakukan oleh satu orang & perihal ini sering terjadi misalnya oleh orang yg sedang mempelajari banyak bunyi-bunyi bahasa beserta maknanya atau oleh seseorang yg meninjau kembali peryataan bank-nya atau oleh orang yg memukul ibu jarinya dgn palu.

2. Menggunakan salah satu sandi linguistic yg dipahami bersama, bahkan andai katapun dipergunakan dua bahasa namun sating pengertian, pemahaman bersama itu tidak kurang pentingnya.

3. Menerima atau mengakui satu daerah referensi umum, daerah referensi yg umum mungkin tidak selalu mudah kenal, ditentukan, namun pembicara menerima kecenderungan buat menentukan satu diantaranya.

4. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan, kedua pihak partisipan yg memberi & menerima dalam pembicaraan sating bertukar sebagai pembicara & penyimak.

5. Menghubungkan setiap pembicara dgn yg lainnya & Iingkungan dgn segera. Prilaku lisan sang pembicara selalu berhubungan dgn responsi yg nyata atau yg diharapkan, & sang penyimak & sebaliknya. Jadi hubungan itu bersifat timbal balik antara dua arah.

6. Berhubungan atau berkaitan dgn masa kini. Hanya dgn bantuan berkas grafik material, bahasan dapat luput & kekirian kesegaran bahwa pita atau berkas itu telah mungkin berbuat demikian, tentu saja merupakan salah satu kenyataan keunggulan budaya manusia.

7. Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yg dgn suara atau bunyi bahasa & pendengar. Walaupun kegiatan-kegiatan dalam pita audio atau lingual dapat melepaskan gerak visual & gerak material namun sebaliknya tidak akan terjadi terkecuali pantornim atau gambar, takan ada pada gerakan & grafik itu yg tidak berdasar & & bergantung pada audio lingual dapat berbicara terus menerus dgn orang-orang yg tidak kita lihat, dirumah, ditempat bekerja & dgn telpon percakapan percakapan seperti ini merupakan pembicaraan yg khas dalam bentuknya yg paling asli.

8. Secara tidak pandang bulu mengharap beserta memperlakukan apa yg nyata & apa yg diterima sebagai dalil. Keseluruhan lingkungan yg dapat dilambangkan oleh pembicaraan mencangkup bukan hanya dunia nyata yg mengelilingi para pembicara tapi juga secara tidak terbatas dunia gagasan yg lebih luas, yg mesti mereka masuki karena mereka & manusia berbicara sebagai titik pertemuan kedua wilayah ini tetap memerlukan penelaahan beserta uraian yg lebih lanjut & mendalam.

III Prosedur Kegiatan Berbicara

a. Memilih pokok pembicaraan yg menarik hati.

b. Membatasi pokok pembicaraan.

c. Mengumpulkan bahan-bahan.

d. Menyusun bahan (pendahuluan, isi, kemampuan)

Mesothelioma means money for most victims


Mesothelioma is a cancer that knows to be causing by exposure to asbestos. It is a condition when the mesothelioma symptoms are invading by malignant cancer cells. The mesothelioma is the protective lining surrounding the human lungs and other body organs. It is most commonly seen around the lungs, but can also been found around the heart.

When people are mesothelioma diagnosis, the average life span is only about twenty-four months. Many victims of mesothelioma get this condition because they were exposing to asbestos in the workplace. Factory, automotive, construction, demolition and other laborious jobs have high exposure to asbestos on a daily basis. Although there are no immediate symptoms of asbestos exposure, the exposure slowly built up in the victim’s body. One can be exposing estimate to asbestos for as long as thirty-five to forty years before any illness if present.

Did you know that mesothelioma symptoms are avoid if some simple safety procedures would have been consider while the victim was working on the job? In the past, before much known by the public of the dangers of asbestos, many companies knew that it was a dangerous fiber and did little or nothing to protect or inform their employees. Therefore, if you have been diagnosis with mesothelioma and were once an employee of a laborious job that had high exposure to asbestos, you could be entitled to a large amount of money.

It has recently been discovered that most patients who have mesothelioma symptoms used to work in a job where asbestos exposure was something that occurred on a daily basis. Unfortunately, they got mesothelioma because they worked hard every day in a dangerous environment to provide food and shelter for their families. These people are entitled to file a claim against their companies for the damages of mesothelioma. Thousands of people have filed lawsuits and the liability of these lawsuits has reached into the billions of dollars.

You can also be entitled to some of these funds for your pain and suffering. If you or a loved one has mesothelioma, you should contact an asbestos lawyer as soon as possible. You could be entitled to some large funds because of your pain and suffering caused my mesothelioma symptoms. Many lawyers are train in these types of cases and are ready to answer any questions you may have about initiating a mesothelioma lawsuit.

Real Response in Mesothelioma

CHICAGO, IL-Physicians presenting clinical data at the Malignant Mesothelioma Conference, hosted by the University of Chicago, echoed one and other with a recurring theme--while the past has offered little in the way of advancements in surgical, radiotherapy, and chemotherapy, new active drugs and insights into the biology of mesothelioma are demonstrating real progress, helping to replace longstanding nihilism that had been associated with the treatment of this disease.

Antifolates, such as premetrexed disodium (Alimta), offer new hope for effective treatments, as illustrated by the results of a phase II single agent trial of alimta, in which a confirmed partial response was seen in 14.5% (9/62) of advance pleural mesothelioma patients. In this study, 62 chemonaive patients were enrolled with a 5.2:1 M/F ratio, median age of 67 years (range 40-80) stage III/IV disease (31%/54%), and subhistology of epidermal (74%), mixed (14%), or sarcamatoid (9%) involvement.

The median duration of response was +10.8 months, median time to progressive disease, 5.4 months, and median survival was 10.7 months. Hematologic toxicities were observed as grade 3 and 4 neutropenia in 14% of patients, and grade 3 thrombocytopenia in 1.7% of patients. At present, the most common non-hematological toxicity observed in patients included fatigue (10.9%), anorexia (5.9%), nausea (4.8%), and febrile neutropenia (4.8%)--only 1% of patients experienced grade 4 non-hematological toxicities.

Previous to this study, investigators found that vitamin supplementation with low-dose folic acid and vitamin B12 was capable of markedly reducing toxicity previously seen with alimta therapy. Accordingly, this phase II single agent trial of alimta included vitamin supplementation to help alleviate anticipated toxicities. With regard to folic acid and B12 supplementation, partial response results were 18% (5/40) for fully vitamin supplemented patients, 60% (3/5) for partially vitamin supplemented patients (patients who started supplementation after cycle one), and 5% (1/17) for non-vitamin supplemented patients.

Axel Hanauske, MD, Medical Director, Eli Lilly & Company presented results from an overall comparison of observed toxicities before and after the addition of vitamin supplements to alimta studies, in which 246 patients from 12 studies received no vitamin supplements and 78 patients from 3 studies received folic acid and vitamin B12 supplements. After adding vitamin supplementation to alimta trials, a dramatic decrease was seen in both hematologic and non-hematologic toxicities (37% before vs. 6.4% after), as well as a complete cessation of drug-related deaths since the vitamin supplementation started (7% before vs. 0% after).

ASBESTOS-RELATED PULMONARY DISEASES

Asbestos-related pulmonary diseases are a group of diseases that are associated with exposure to asbestos with subsequent development of a clinical condition attributed to the exposure. This document is an attempt to provide a brief overview of asbestos and the mechanism of its effects in humans, an overview of the more common asbestos-related pulmonary diseases, diagnostic considerations in individuals alleging asbestos-related pulmonary diseases, and application of the information to the Ohio Workers' Compensation System.


OVERVIEW OF ASBESTOS

Physical Properties and Effects in Humans


Asbestos is a term applied to a family of naturally occurring, flexible, silicate minerals that are resistant to heat and many chemicals.[1] The properties of relative heat and chemical resistance has lead to widespread use in the 20th Century of asbestos in many processes and products including insulation materials, building materials such as vinyl asbestos floor tile, linings of furnaces, filtration systems, asbestos cement products, and as spray products for acoustical, thermal, or fireproofing purposes. Therefore, asbestos is commonly found throughout the work and non-work environments. Identification of asbestos fibers in samples of lung tissue, lung lavage samples or sputum, documents past exposure, but not necessarily the source of the exposure or whether asbestos-related disease is present. While individuals with asbestos-related disease may have higher concentrations of fibers in tissue samples, there is considerable overlap and laboratory variation so that asbestos fiber count has limited usefulness.


Once inhaled, the body attempts to remove fibers by several pathways including mucociliary transport through the airways, the lymphatic system, or through degradation of the fibers by macrophages. The fundamental disease process is the induction of inflammation resulting in fibrosis and/or cancer of the lung and pleural space. The fibrosis process is the result of the inflammatory reaction and repair processes by the body’s defense system to remove asbestos fibers. These reactions lead to permanent scarring and fibrosis. The cancer processes are the result of damage to target cells with genetic mutations through a variety of molecular injuries.


The pathogenicity of asbestos fibers may be affected by the dose (concentration and duration of exposure), fiber type, fiber dimensions, durability of the fiber, and surface chemicals that may be present on the fiber. Several studies have shown that the toxicity of asbestos fibers is related to the fibrous nature of the mineral. Both fiber diameter and length are important. In general, fibers with diameters > 3mm in diameter and > 200mm in length do not penetrate the lower lung. Fibers shorter than approximately 3mm in length are usually phagocytosed by macrophages or removed by the lymphatic system. Therefore, fibers less than 3 mm in diameter and longer than 8 mm are more likely to penetrate the lower lung and are more difficult for host defense mechanisms to remove. Fibers of this size are more likely to initiate cellular and molecular events leading to fibrosis or carcinogenesis.

[1] Begin R, Samet GM, and Shaikh RA: “Asbestos” in Harber P, Schenker MB, and Balmes JR: Occupational and Environmental Respiratory Disease Mosby-Year Book, Inc., St. Louis, 1996, pp 293-321.



There is a latency period of several years between initial exposure and onset of clinical disease. The latency period is variable. Individuals who are no longer occupationally exposed to asbestos may develop asbestos-related diseases years after their removal from occupational exposure. Current OSHA regulations and industrial processes have tried to limit exposure by substitution of other materials, monitoring with limits on the concentration of fibers permitted per cc of air in the workplace, use of personal protective equipment when exposed to asbestos fibers in significant concentrations, and required periodic medical monitoring of exposed workers for asbestos-related diseases.


There is little doubt that the "dose" both in terms of concentration and duration of exposure is important with higher concentration and longer duration of exposure more likely to increase the probability of development of an asbestos-related disease. However, exact dose-response curves can not be reasonably determined due to variability among type of fibers, variability of host response systems, questionable exposure histories, and that the radiographic findings are not specific to asbestos-related disease

Mesothelioma and Children

Mesothelioma and Children

When people think of mesothelioma, they typically picture an older adult who has been exposed to asbestos. Yet this disease can, in rare cases, also strike children. Because the prognosis is poor, doctors need to carefully diagnose mesothelioma in their youngest patients.


Doctors don’t know what causes mesothelioma in children. Although a high number of adults with the disease have a history of asbestos exposure, this isn’t the case in children. “The latent period of asbestos exposure in mesothelioma patients can be many years,” explains Cesar A. Moran, MD, professor of Pathology in the Department of Pathology at MD Anderson Cancer Center in Houston, Texas. “Children have not lived long enough to be in that ballpark.”


Dr. Moran and his colleagues recently published a study in the journal, Histopathology, in which they looked at the cases of eight children with mesothelioma. All of the children had cancer in the abdominal cavity lining (peritoneal mesothelioma). Most adults with the disease have pleural mesothelioma, which affects the lining of the lung.


Because this cancer is so rare in children, it can be challenging to diagnose. “For most physicians, the diagnosis of mesothelioma [in children] is low on the list,” Dr. Moran says. Children with mesothelioma tend to complain of the same symptoms: pain, bloating, and fluid build-up in the abdomen. Moran says that it is important to rule out other types of lesions in this location before making an unequivocal diagnosis of mesothelioma in a child.


In this study, all of the children had a biopsy (removing a sample of tissue for examination) to determine the type and severity of their cancer. Diagnosing mesothelioma also typically involves radiological scans of the abdomen, as well as immunohistochemical studies, in which the cells are examined to look for specific cancer markers. “You have to do immunohistochemical tests to make sure you aren’t dealing with another tumor that has metastasized [spread] into the peritoneum,” according to Dr. Moran.


Treating mesothelioma presents another challenge to doctors. No standard therapy exists, even for adults with the disease. Surgery and chemotherapy may be used in adult patients. Similar treatments may be tried in children, but regardless of which treatment is used, the outlook is generally poor.


Currently there is very limited research on peritoneal mesothelioma in children to guide doctors in diagnosis and treatment, and what little research does exist is conflicting. Because this cancer is so rare in children, additional research should be done in adult patients to learn more about this disease, says Dr. Moran. “From adults, we can make more meaningful conclusions, and the results may be applied to the pediatric population,” he says.


Source:Moran CA, Albores-Saavedra J, Suster S. Primary peritoneal mesotheliomas in children: a clinicopathological and immunohistochemical study of eight cases. Histopathology. 2008;52:824-830.

More Mesothelioma News Sign Up For The Free Teleconference With Mesothelioma Survivor & Author, Paul Kraus

Is there any treatment that may help?

Mesothelioma responds very little to the normal cancer treatments such as chemotherapy and radiotherapy. There are a number of trials being run in an attempt to improve treatment but nothing has been found to cure this disease. Any treatment offered depends on several factors. These should include patient choice, how well someone is, and how advanced the disease is.

The initial most helpful treatment is that which deals with symptoms. Removing fluid from around the lung can help to relieve breathlessness. Firstly the fluid may be drained either by drawing off fluid or inserting a small drainage tube. However the fluid often reaccumulates and the chest physician or surgeon may perform a procedure called a ‘Pleurodesis’ This is an attempt to stick the lung surface to the chest wall by inserting sterile talc into the pleural space. This may be done by a surgeon using ‘key hole surgery’ otherwise called VATS - Video Assisted Thoracoscopic
Surgery.

How is Mesothelioma diagnosed?

Early diagnosis is difficult and in most cases the first obvious sign is sudden breathlessness caused by an accumulation of fluid in the pleural space - a pleural effusion. It may be accompanied by other symptoms such as chest pain. Scans and X-rays can provide strong evidence to support the diagnosis especially coupled with a history of asbestos exposure. However, other diseases can produce these symptoms and to be certain of a correct diagnosis more investigations often need to be carried out. Scans, Fluid taken for laboratory examination, possibly needle biopsy or keyhole surgery to take a biopsy (a small sample of tissue) are likely to be carried out to help with the confirmation of the diagnosis. These tests and results may take several weeks to complete.

What causes Mesothelioma?

Exposure to asbestos is responsible for the majority of cases. There are thought to be possibly other unknown causes. It has previously been a rare disease but is now occurring more frequently because of the heavy use of asbestos in the post-war years. For most people diagnosed withMesothelioma the exposure happened 20-40 years previously. (It may in some instances be a longer or a shorter interval than this.) Sometimes the asbestos exposure may have been very brief and not always easy to identify. Mesothelioma is however more common in people who have had repeated exposure, usually in a work environment. There are several types of asbestos all of which have been known to cause Mesothelioma.

Mesothelioma

Information for people with Mesothelioma and their carers

What is Mesothelioma?
This is about the disease itself and is written in a ‘question and answer’ format to answer the most common questions asked about mesothelioma. I’m sure there are many more which are beyond the scope of this small booklet, but further sources of
information and advice are listed in part

Mesothelioma (also known as ‘diffuse’ or ‘malignant’ Mesothelioma) is a form of cancer, which affects the thin membranes which line the chest (pleural mesothelioma). Less commonly it can affect the linings of the abdomen (peritoneal mesothelioma). It may also surround the organs found within these cavities for example the heart, lung and intestines.

Pleural Mesothelioma
The pleural lining has two layers - an inner (visceral) layer which lines the lung and an outer (parietal) layer which lines the chest wall. The pleura produce fluid to lubricate the space between the two layers allowing the layers to slide comfortably over each other as we breathe.Pleural Mesothelioma causes the pleura to thicken. This may make it press on the lung or attach itself to the chest wall. Fluid, sometimes several litres, can collect between the two layers and cause
breathlessness. This is known as a Pleural effusion

Peritoneal Mesothelioma
The peritoneum also has two layers, the inner (visceral) layer which is next to the abdominal organs and the outer (parietal) layer which lines the abdominal wall. Peritoneal Mesothelioma causes the peritoneum to thicken and fluid to collect in the abdomen, this collection of fluid is called ascites and causes the abdomen to swell. Peritoneal Mesothelioma is much less common than Pleural Mesothelioma.

Asbestos in Older Homes


Asbestos in Older Homes

Asbestos has been a growing concern for city governments and the owners of public buildings for some time. In recent years, concerns about asbestos have become a growing issue among the owners of single family homes. These are some of the questions most commonly asked of asbestos abatement companies by the owners of private homes, and their best answers.

  1. How likely is my home to contain asbestos?

If your home was built after 1980, the chances that it contains asbestos or any materials that have asbestos added to them is very small. If your home was built or underwent major renovations between World War I and 1980, there’s a very good chance that there are materials in your home that contain asbestos.

  1. How dangerous is asbestos in my home?

While asbestos is a known carcinogen, it is only dangerous in the form of tiny airborne fibers. Asbestos is a mineral that easily separates into tiny fibers that are light enough to float in the air. Those fibers were often mixed into things like paint, cement and wood pulp to help make them fire resistant and increase their insulating properties. As long as those materials are in good repair, the chance of them releasing asbestos fibers is very small, and there is little health risk in living with them.

  1. Why is asbestos dangerous?

Breathing in asbestos fibers increases your risk of developing lung cancer, causes asbestosis – scarring of the lungs – and may lead to the development of mesothelioma, a rare cancer that is only found in people who were exposed to asbestos. For additional resources please see the resources at Asbestos.com

  1. When is asbestos dangerous to me or my family?

Asbestos containing materials can become dangerous to your family’s health when they are damaged or disturbed enough to release fibers of asbestos into the air.

  1. How can I tell if something in my home contains asbestos?

The only way to know for sure that a material in your home contains asbestos is to have it examined by a professional. It’s nearly impossible to identify asbestos by visual examination alone unless you have the experience and knowledge to identify specific brands and types of materials by sight. Even then, most professionals rely on a microscopic examination to determine whether a material contains asbestos.

If you suspect that something in your home is made of asbestos, you have two choices: you can assume that it contains asbestos and take the same precautions you would if you were certain that it did, or you can have it tested by a professional asbestos surveyor. Testing is not very expensive, and it could set your mind at east.

  1. Where might I find asbestos in my home?

Asbestos was used in thousands of different products that were used in home construction and consumer products. Among the most common places to find asbestos are:

- roofing and siding shingles made with asbestos cement

- insulation in homes built between 1930 and 1950

- textured paints used for decorative ceiling and wall coatings (banned in 1977)

- pipe insulation and caulking

- furnace or water heater blankets may contain asbestos

- the floor and walls under and behind stoves, fireplaces and heaters may be protected with asbestos containing millboard, asbestos paper or cement sheets containing asbestos

- the door gaskets in oil or coal furnaces may contain asbestos

- joint compound used to seal wallboard may contain asbestos

- resilient floor tiles or sheet vinyl flooring may have been made with or backed with asbestos containing materials

- decorative plaster treatments on walls and ceilings may contain asbestos


completed download here

Categories

20HadiahLebaran aceh active Ada ada saja adsense aids anak antik Artikel Artis asma Bahasa bahasaindonesia baju band batuk bayi bekas belajar bencana Berita Berita Ringan big panel biologi bisnis bisnis online Blog Bola budidaya buku bunga burner burung cerai Cerpen chandra karya Cinta ciri cpns cuti cv daerah desain diare diet coke diet plan dinas domisili ekonomi email euro exterior fashion fat Film FISIP foke forex format FPI furniture gambar game gejala gempa geng motor geografi gigi ginjal Girlband Indonesia graver GTNM gunung gurame guru haga haki hamil harga hasil hepatitis hernia hiv Hukum hunian ibu ijin ikan indonesia Info Informasi Information Inggris Inspirational interior Internet Intertainment izin jadwal jakarta janin jantung jati Joke jokowi kamar kamarmandi kampus kantor. karyailmiah keguguran kemenag kemenkes kendala kerja kesanggupan kesenian kesepakatan keterangan kisi kkm klaim Komik Komputer kontrak kop korea lagu lamaran lambung legalisir lemari Lifestyle ligna Linux lirik Lirik Lagu Lowongan Kerja magang mahasiswa makalah Malignant Fibrous Hystiocytoma marketing Matematika mebel medan meja melahirkan menikah merk mesothelioma mesothelioma data mimisan mimpi minimalis Misteri mobil modern modul motivasi motor mp3 mual mulut mutasi Naruto news ngidam nikah nisn noah nodul nomor surat Novel novil Olah Raga Olahraga olympic opini pagar panggilan paper paspor paud pelatihan pembelian pemberitahuan pemerintah penawaran pendidikan pengantar pengertian pengesahan pengetahuan pengumuan pengumuman pengumumna Pengunduran pengurusan penyakit penyebab perjanjian perkembangan Permohonan pernyataan perpanjangan persiapan bisnis Pertanian perumahan perusahaan perut peta phones photo Pidato pilkada pimpinan pindah plpg PLS postcard pringatan Printer Tips profil Profil Boyband properti property proposal prumahan Psikologi-Psikiater (UMUM) Puisi quote Ramalan Shio rekomendasi relaas resensi resignation resmi Resume rpp ruang rumah rupa sakit sambutan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) second sejarah sekat sekolah Selebritis seni sergur series sertifikat sinopsis Sinopsis Film Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan sitemap skripsi sm3t smd sni snmptn soal Software sosial springbed starbol stnk sukhoi sumatera surabaya surat suratkuasa Surveilans Penyakit tafsir tahap Tahukah Anda? tanda tas television teraphy Tips Tips dan Tricks Seks Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum toko Tokoh Kesehatan top traditional tsunami tugas ucapan ujian uka un undangan undian universitas unj unm unp upi uu Video virus walisongo wanita warnet