Showing posts with label Sistem Perkemihan. Show all posts
Showing posts with label Sistem Perkemihan. Show all posts

Anteversio Uter

Kelainan letak uterus ke depan dijumpai pada paruh jantung (abdomen pendulum) & setelah diobservasi Ventrofiksasio. Perut gantung terdapat pada ibu multi para, karena melemahnya dinding perut, terutama multipara gemuk, uterus membangkak ke depan sedemikian rupa sehingga letak fundus uteri dapat lebih rendah daripada simfisis.

Rasa nyeri di perut bawah & pinggang bawah, menderita intertrigu di lipatan kulit, varices & oedema pada vulva.
Kala I pembukaan servik kurang lancar karena tenaga his salah arah, serviks terdorong ke sakrum bagian janin terendah masih tinggi tidak mungkin memasuki pintu atas panggul.

Pemakaian ikat perut terlalu kencang. Perut bawah dikosong, mengurangi penderitaan menjelang persalinan wanita tidur menelentang terus menerus buat memperbesar kemungkinan masuknya kepada ke dalam panggul. Kelainan letak janin pada saat-saat terakhir kehamilan. Setiap ada his fundus uteri didorong ke atas supaya tenaga his terarah lebih baik samapai bagian terendah masuk betul di dalam panggul. Kelemahan dinding perut menyebabkan tenaga meneran kurang sempurna sehingga partus kala II perlu diakhiri dgn forsep & ekstraksi vakum, ketuban pecah dseperti ini & kepala tidak turun

Askep Infeksi Saluran Kemih/ISK

INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)


A. Pengertian
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) ; suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001)
Infeksi Saluran Kemih (ISK) ; suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)


B. Klasifikasi

Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut :
  1. Kandung kemih (sistitis)
  2. Uretra (uretritis)
  3. Prostat (prostatitis)
  4. Ginjal (pielonefritis)

Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:
  1. ISK uncomplicated (simple)
    ISK sederhana terjadi pada penderita dgn saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK seperti ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita & infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
  2. ISK complicated
    Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis & shock. ISK seperti ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:
    • Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap & prostatitis.
    • Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
    • Gangguan daya tahan tubuh
    • Infeksi disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp memproduksi urease.

C. Etiologi
  1. Jenis-jenis mikroorganisme menyebabkan ISK, antara lain:
    • Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
    • Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
    • Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.
  2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
    • Sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan kandung kemih kurang efektif
    • Mobilitas menurun
    • Nutrisi sering kurang baik
    • Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
    • Adanya hambatan pada aliran urin
    • Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

D. Patofisiologi ISK (Pathway ISK)

Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme seperti ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen.
Ada dua jalur utama terjadinya ISK yaseperti itu asending & hematogen.
  • Secara asending yaitu:
    • Masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus terinfeksi.
    • Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal.

  • Secara hematogen yaitu:
    Sering terjadi pada pasien system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal mempengaruhi struktur & fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, & lain-lain.

Pada usia lanjut terjadinya ISK seperti ini sering disebabkan karena adanya:
  • Sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosongan kandung kemih tidak lengkap atau kurang efektif.
  • Mobilitas menurun
  • Nutrisi sering kurang baik
  • System imunnitas yng menurun
  • Adanya hambatan pada saluran urin
  • Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
Sisa urin dalam kandung kemih meningkat tersebut mengakibatkan distensii berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan seperti ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri & residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan seperti ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal & ureter disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma & hipertrofi prostate sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.


E. Tkita & Gejala
  1. Tkita & gejala ISK pada bagian bawah ; :
    • Nyeri sering & rasa panas ketika berkemih
    • Spasame pada area kandung kemih & suprapubis
    • Hematuria
    • Nyeri punggung dapat terjadi
  2. Tkita & gejala ISK bagian atas ; :
    • Demam
    • Menggigil
    • Nyeri panggul & pinggang
    • Nyeri ketika berkemih
    • Malaise
    • Pusing
    • Mual & muntah

F. Pemeriksaan Penunjang
  1. Urinalisis
    • Leukosuria atau piuria: adalah salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih
    • Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
  2. Bakteriologis
    • Mikroskopis
    • Biakan bakteri
  3. Kultur urine buat mengidentifikasi adanya organisme spesifik
  4. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
  5. Metode tes
    • Tes dipstick multistrip buat WBC (tes esterase lekosit) & nitrit (tes Griess buat pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif bila terdapat bakteri mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
    • Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) :
      Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).
    • Tes- tes tambahan :
      Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi, & ultrasonografi juga dapat dilakukan buat menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi & prosedur urodinamik dapat dilakukan buat mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi resisten.


G. Penatalaksanaan

Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) ideal ; agens antibacterial secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dgn efek minimal terhaap flora fekal & vagina.
Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas:
  • Terapi antibiotika dosis tunggal
  • Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
  • Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
  • Terapi dosis rendah buat supresi
Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Bila kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), bila muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan & sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah.
Penggunaan medikasi umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan buat mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.
Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya:
  • Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
  • Interansi obat
  • Efek samping obat
  • Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat ekskresinya melalui ginjal
Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dgn faal ginjal:
  • Efek nefrotosik obat
  • Efek toksisitas obat

Asuhan Keperawatan pada Pasien dgn Infeksi Saluran Kemih (ISK)

A. Pengkajian
  1. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe
  2. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:
    • Adakah riwayat infeksi sebelumnya?
    • Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih?
  3. Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial
    • Bagaimana dgn pemasangan folley kateter ?
    • Imobilisasi dalam waktu lama ?
    • Apakah terjadi inkontinensia urine?
  4. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih
    • Bagaimana pola berkemih pasien? buat mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, & jumlah)
    • Adakah disuria?
    • Adakah urgensi?
    • Adakah hesitancy?
    • Adakah bau urine menyengat?
    • Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) & konsentrasi urine?
    • Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah ?
    • Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas ?
    • Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.
  5. Pengkajian psikologi pasien:
    • Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan & pengobatan telah dilakukan?
    • Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya.

B. Diagnosa Keperawatan Muncul
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dgn inflamasi & infeksi uretra, kandung kemih & sruktur traktus urinarius lain.
  2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dgn obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, & kebutuhan pengobatan berhubungan dgn kurangnya sumber informasi.

C. Intervensi
  1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dgn inflamasi & infeksi uretra, kandung kemih & struktur traktus urinarius lain.
    Kriteria Hasil :
    • Nyeri berkurang / hilang saat & sesudah berkemih
    Intervensi:

    • Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan & keluaran setiap 8 jam & pantau hasil urinalisis ulang
      Rasional: buat mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil diharapkan
    • Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10) nyeri.
      Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi & penyebab nyeri
    • Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan.
      Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
    • Berikan perawatan perineal
      Rasional: buat mencegah kontaminasi uretra
    • Bila dipaang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari.
      Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri buat memasuki kandung kemih & naik ke saluran perkemihan.
    • Alihkan perhatian pada hal menyenangkan
      Rasional : relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri.

  2. Perubahan pola eliminasi berhubungan dgn obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
    Kriteria Hasil :
    Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tkita gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria)
    Intervensi:

    • Awasi pemasukan & pengeluaran karakteristi urin
      Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal & adanya komplikasi
    • Dorong meningkatkan pemasukan cairan
      Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri.
    • Kaji keluhan pada kandung kemih
      Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal)
    • Observasi perubahan tingkat kesadaran
      Rasional: akumulasi sisa uremik & ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat
    • Kolaborasi:
      • Awasi pemeriksaan laboratorium; elektrolit, BUN, kreatinin
        Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal
      • Lakukan tindakan buat memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri & berikan obat-obat buat meningkatkan aam urin.
        Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih.

  3. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, & kebutuhan pengobatan berhubungan dgn kurangnya sumber informasi.
    KriteriaHasil : menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, & tindakan perawatan diri preventif.
    Intervensi:

    • Berikan waktu kepada pasien buat menanyakan apa tidak di ketahui tentang penyakitnya.
      Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya.
    • Kaji ulang proses penyakit & harapan akan datang
      Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi.
    • Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan buat mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan.
      Rasional: pengetahuan apa diharapkan dapat mengurangi ansietas & membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.
    • Anjurkan pasien buat menggunakan obat diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari.
      Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, bila tanda-tkita penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal.
    • Berikan kesempatan kepada pasien buat mengekspresikan perasaan & masalah tentang rencana pengobatan.
      Rasional: Buat mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan & membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.

DAFTAR PUSTAKA


Doenges, Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman buat perencanaan & pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.

Enggram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan
Nugroho, Wahyudi. (2000). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC.

Parsudi, Imam A. (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: FKUI

Price, Sylvia Andrson. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.

Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.




Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Infeksi Saluran Kemih/ISK
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Infeksi Saluran Kemih/ISK
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Infeksi Saluran Kemih/ISK
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Infeksi Saluran Kemih/ISK
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Infeksi Saluran Kemih/ISK
Tag: search result for asuhan keperawatan askep Infeksi Saluran Kemih/ISK

Askep Gagal Ginjal

GAGAL GINJAL (KIDNEY FAILURE)

  • Pengertian

    Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) adalah gangguan fungsi renal progresif & irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal buat mempertahankan metabolisme & keseimbangan cairan & elektrolit. Gagal ginjal kronis terjadi dgn lambat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dgn penurunan bertahap dgn fungsi ginjal & peningkatan bertahap dalam gejala-gejala, menyebabkan penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Gagal ginjal kronis biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Gangguan fungsi ginjal ; penurunan laju filtrasi glomerulus dapat digolongkan ringan, sedang & berat. Azotemia ; peningkatan nitrogen urea darah (BUN) & ditegakkan bila konsentrasi ureum plasma meningkat.


  • Etiologi

    Gagal ginjal kronik adalah suatu keadaan klinis kerusakan ginjal progresif & irreversible dari berbagai penyebab. Sebab-sebab gagal ginjal kronik sering ditemukan dapat dibagi menjadi delapan kelas.
    Klasifikasi sebab-sebab gagal ginjal kronik :

    • Infeksi : Pielonefritis kronik
    • Penyakit peradangan : Glomerulonefritis
    • Penyakit vascular hipertensi : Nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis.
    • Gangguan jaringan penyambung : Lupus eritematosus sistemik, Poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.
    • Gangguan kongerital & hereditas : Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal.
    • Penyakit metabolic : Diabetes militus, gout, hiperpara tiroidisme, amiloidosis.
    • Nefropati toksik : Penyalahgunaan analgesik, nefropati timbale
    • Nefropati obstruktif : Saluran kemih bagian atas kalkuli , neoplasma, fibrosisretroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostate, struktur urea, anomaly kongetal pada leher kandung kemih & uretra.

  • Tkita & gejala

    Penurunan fungsi ginjal akan mengakibatkan berbagai manifestasi klinik mengenai dihampir semua sistem tubuh manusia, seperti:

    • Gangguan pada Gastrointestinal
      Dapat berupa anoreksia, nausea, muntah dihubungkan dgn terbentuknya zat toksik (amoniak, metal guanidin) akibat metabolisme protein terganggu oleh bakteri usus sering pula faktor uremikum akibat bau amoniak dari mulut. Disamping seperti itu sering timbul stomatitis, cegukan juga sering belum jelas penyebabnya. Gastritis erosif hampir dijumpai pada 90 % kasus Gagal Ginjal Kronik, bahkan kemungkinan terjadi ulkus peptikum & kolitis uremik.
    • Kulit
      Kulit berwarna pucat, mudah lecet, rapuh, kering, timbul bintik-bintik hitam & gatal akibat uremik atau pengendapan kalsium pada kulit.
    • Hematologi
      Anemia adalah gejala hampr selalu ada pada Gagal Ginjal Kronik. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal tanpa disertai anemia perlu dipikirkan apakah suatu Gagal Ginjal Akut atau Gagal Ginjal Kronik dgn penyebab polikistik ginjal disertai polistemi. Hemolisis adalah sering timbul anemi, selain anemi pada Gagal Ginjal Kronik sering disertai pendarahan akibat gangguan fungsi trombosit atau dapat pula disertai trombositopeni. Fungsi leukosit maupun limposit dapat pula terganggu sehingga pertahanan seluler terganggu, sehingga pada penderita Gagal Ginjal Kronik mudah terinfeksi, oleh karena imunitas menurun.
    • Sistem Saraf Otot
      Penderita sering mengeluh tungkai bawah selalu bergerak-gerak (restlesslessleg syndrome), kadang tersa terbakar pada kaki, gangguan syaraf dapat pula berupa kelemahan, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, tremor, kejang sampai penurunan kesadaran atau koma.
    • Sistem Kardiovaskuler
      Pada gagal ginjal kronik hampir selalu disertai hipertensi, mekanisme terjadinya hipertensi pada Gagal Ginjal Kronik oleh karena penimbunan garam & air, atau sistem renin angiostensin aldosteron (RAA). Sesak nafas adalah gejala sering dijumpai akibat kelebihan cairan tubuh, dapat pula terjadi perikarditis disertai efusi perikardial. Gangguan irama jantung sering dijmpai akibat gangguan elektrolit.
    • Sistem Endokrin
      Gangguan seksual seperti penurunan libido, ion fertilitas sering dijumpai pada Gagal Ginjal Kronik, pada wanita dapat pula terjadi gangguan menstruasi sampai aminore. Toleransi glukosa sering tergangu paa Gagal Ginjal Kronik, juga gangguan metabolik vitamin D.
    • Gangguan lain
      Akibat hipertiroid sering terjadi osteoporosis, osteitis, fibrasi, gangguan elektrolit & asam basa hampir selalu dijumpai, seperti asidosis metabolik, hiperkalemia, hiperforfatemi, hipokalsemia.


  • Pemerikasaan Penunjang
    Urine
    Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tak keluar (anuria)
    Warna : Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus bakteri, lemak, partikel koloid, forfat atau urat. Sedimen kotor, kecoklatan menunjukan adanya darah, HB, mioglobin.
    Berat jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukan kerusakan ginjal berat).
    Osmolalitas : Kurang dari 350 mosm/kg menunjukan kerusakan tubular, & rasio urine/serum sering 1:1
    Klirens keratin : Mungkin agak menurun
    Natrium : Lebih besar dari 40 m Eq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium.
    Protein : Derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukan kerusakan glomerulus bila SDM & fragmen juga ada.
    Darah
    BUN / Kreatin : Meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi kadar kreatinin 16 mg/dL diduga tahap akhir (mungkin rendah yaseperti itu 5)
    Hitung darah lengkap : Ht : Menurun pada adanya anemia Hb:biasanya kurang ari 78 g/dL
    SDM : Waktu hidup menurun pada defisiensi aritropoetin seperti pada azotemia.
    GDA : pH : Penurunan asidosis metabolik (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal buat mengeksresi hydrogen & amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun, PCO2 menurun .
    Natrium Serum : Mungkin rendah (bila ginjal “kehabisan Natrium” atas normal (menunjukan status dilusi hipernatremia).
    Kalium : Peningkatan sehubungan dgn retensi sesuai dgn perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan. Pada tahap akhir, perubahan EKG mungkin tidak terjadi sampai kalium 6,5 MPq atau lebih besar.
    Magnesium/Fosfat : Meningkat
    Kalsium : Menurun
    Protein (khususnya Albumin) : Kadar serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan, penurunan pemasukan, atau penurunan sintesis karena kurang asam amino esensial.
    Osmolalitas Serum : Lebih besar dari 285 mOsm/kg, sering sama dgn urine.
    KUB fota : Menunujukkan ukuran ginjal / ureter / kandung kemih & adanya obstruksi (batu)
    Piolegram Retrograd : Menunujukkan abnormallitas pelvis ginjal & ureter.
    Arteriogram Ginjal : Mengkaji sirkulasi ginjal & mengidentifikasi ekstravaskular massa.
    Sistouretrogram Berkemih : Menunjukan ukuran kandung kemih, refluks ke dalam ureter, terensi.
    Ultrasono Ginjal : Menentukan ukuran ginjal & adanya massa, kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
    Biopsi Ginjal : Mungkin dilakukan secara endoskopik buat menentukan sel jaringan buat diagnosis histoligis.
    Endoskopi Ginjal, Nefroskopi : Dilakukan buat menentukan pelvis ginjal, keluar batu, hematuria & pengangkatan tumor selektif.
    EKG : Mungkin abnormal menunjukan ketidakseimbangan elektrolit & asam/basa.
    Foto Kaki, Tengkorak, Kolmna Spiral & Tangan : Dapat menunjukan demineralisasi.
    (Rencana Askep, Marilyn E Doenges dkk)


  • Pencegahan

    Pemeliharaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu menjadi insufisiensi. Sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dgn sempurna & mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan).


  • Pengobatan / Penatalaksanaan

    Tujuan penatalaksaan ; buat mempertahankan fungsi ginjal & homeostasis selama mungkin. Adapun penatalaksaannya sebagai berikut :

    • Diet tinggi kalori & rendah protein
      Diet rendah protein (20-40 g/hari) & tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia & nausea dari uremia, menyebabkan penurunan ureum & perbaikan gejala. Hindari masukan berlebihan dari kalium & garam.
    • Optimalisasi & pertahankan keseimbangan cairan & garam.
      Biasanya diusahakan hingga tekanan vena juga harus sedikit meningkat & terdapat edema betis ringan. Pada beberapa pasien, furosemid dosis besar (250-1000 mg/hari) atau diuretic 100p (bumetanid, asam etakrinat) diperlukan buat mencegah kelebihan cairan, sementara pasien lain mungkin memerlukan suplemen natrium klorida atau natrium bikarbonat oral. Pengawasan dilakukan melalui berat badan, urine, & pencatatan keseimbangan cairan (masukan melebihi keluaran sekitar 500 ml).
    • Kontrol hipertensi
      Bila tidak terkontrol dapat terakselerasi dgn hasil akhir gagal kiri pada pasien hipertensi dgn penyakit ginjal, keseimbangan garam & cairan diatur tersendiri tanpa tergantung tekanan darah, sering diperlukan diuretik loop, selain obat anti hipertensi.
    • Kontrol ketidaksemibangan elektrolit
      sering ditemukan ; hiperkalemia & asidosis berat. Buat mencegah hiperkalemia, dihindari masukan kalium besar (batasi hingga 60 mmol/hari), diuretik hemat kalium, obat-obatan berhubungan dgn eksresi kalium (misalnya penghambat ACE & obat anti inflamasi non steroid), asidosis berat, atau kekurangan garam menyebabkan pelepasan kalium dari sel & ikut dalam kaliuresis. Deteksi melalui kadar kalium plasma & EKG.
      Gejala-gejala asidosis baru jelas bila bikarbonat plasma kurang dari 15 mmol/liter biasanya terjadi pada pasien sangat kekurangan garam & dapat diperbaiki secara spontan dgn dehidrasi. Namun perbaikan cepat dapat berbahaya.
    • Mencegah & tatalaksana penyakit tulang ginjal
      Hiperfosfatemia dikontrol dgn obat mengikat fosfat seperti alumunium hidroksida (300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-3000mg) pada setiap makan. Namun hati-hati dgn toksisitas obat tertentu. Diberikan supplemen vitamin D & dilakukan paratiroidektomi atas indikasi.
    • Deteksi dseperti ini & terapi infeksi
      Pasien uremia harus diterapi sebagai pasien imuosupresif & diterapi lebih ketat.
    • Modifikasi terapi obat dgn fungsi ginjal
      Banyak obat-obatan harus diturunkan dosisnya karena metabolitnya toksik & dikeluarkan oleh ginjal. Misalnya digoksin, aminoglikosid, analgesic opiat, amfoterisin & alupurinol. Juga obat-obatan meningkatkan katabolisme & ureum darah, misalnya tetrasiklin, kortikosteroid & sitostatik.
    • Deteksi & terapi komplikasi
      Awasi denagn ketat kemungkinan ensefelopati uremia, perikarditis, neurepati perifer, hiperkalemia meningkat, kelebihan cairan meningkat, infeksi mengancam jiwa, kegagalan buat bertahan, sehingga diperlukan dialysis.
    • Persiapan dialysis & program transplantasi
      Segera dipersiapkan setelah gagal ginjal kronik dideteksi. Indikasi dilakukan dialysis biasanya ; gagal ginjal dgn klinis jelas meski telah dilakukan terapi konservatif atau terjadi komplikasi.
  • ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DGN GAGAL GINJAL
    1.
    Pengkajian
    • Riwayat Kesehatan Pasien & Pengobatan sebelumnya
      Berapa lama klien sakit, bagaimana penanganannya, mendapat terapi apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja dilakukan klien buat menanggulangi penyakitnya.
    • Aktifitas / istirahat :
      Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise
      Gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)
      Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak
    • Sirkulasi
      Adanya riwayat hipertensi lama atau berat, palpatasi, nyeri dada (angina)
      Hipertensi, DUJ, nadi kuat, edema jaringan umum & pitting pada kaki, telapak tangan.
      Nadi lemah, hipotensi ortostatikmenunjukkan hipovolemia, jarang pada penyakit tahap akhir.
      Pucat, kulit coklat kehijauan, kuning.
      Kecenderungan perdarahan
    • Integritas Ego :
      Faktor stress, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
      Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
    • Eliminasi :
      Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria (pada gagal ginjal tahap lanjut)
      Abdomen kembung, diare, atau konstipasi
      Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, coklat, oliguria.
    • Makanan / cairan :
      Peningkatan berat ba& cepat (oedema), penurunan berat ba& (malnutrisi).
      Anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia)
      Penggunaan diuretik
      Distensi abdomen/asites, pembesaran hati (tahap akhir)
      Perubahan turgor kulit/kelembaban.
      Ulserasi gusi, pendarahan gusi/lidah.
    • Neurosensori
      Sakit kepala, penglihatan kabur.
      Kram otot / kejang, syndrome “kaki gelisah”, rasa terbakar pada telapak kaki, kesemutan & kelemahan, khususnya ekstremiras bawah.
      Gangguan status mental, contah penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor.
      Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.
      Rambut tipis, kuku rapuh & tipis.
    • Nyeri / kenyamanan
      Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/ nyeri kaki.
      Perilaku berhati-hati / distraksi, gelisah.
    • Pernapasan
      Napas pendek, dispnea, batuk dgn / tanpa sputum kental & banyak.
      Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman.
      Batuk dgn sputum encer (edema paru).
    • Keamanan
      Kulit gatal
      Ada / berulangnya infeksi
      Pruritis
      Demam (sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada pasien mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal.
      Ptekie, area ekimosis pada kulit
      Fraktur tulang, keterbatasan gerak sendi
    • Seksualitas
      Penurunan libido, amenorea, infertilitas
    • Interaksi sosial
      Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.
    • Penyuluhan / Pembelajaran
      Riwayat DM (resiko tinggi buat gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis heredeter, kalkulus urenaria, maliganansi.
      Riwayat terpejan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.
      Penggunaan antibiotic nefrotoksik saat seperti ini / berulang.

    2.
    Diagnosa Keperawatan
    Diagnosa keperawatan ditegakkan atas dasar data dari pasien. Kemungkinan diagnosa keperawatan dari orang dgn kegagalan ginjal kronis ; sebagai berikut :
    • Kelebihan volume cairan berhubungan dgn penurunan haluaran urine, diet berlebih & retensi cairan serta natrium.
    • Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn anoreksia, mual & muntah, pembatasan diet, & perubahan membrane mukosa mulut.
    • Intoleran aktivitas berhubungan dgn keletihan, anemia, retensi, produk sampah.
    • Ansietas berhubungan dgn kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, & rencana tindakan.

    3.
    Intervensi

    Diagnosa I
    Kelebihan volume cairan berhubungan dgn penurunan haluaran urine, diet berlebihan & retensi cairan serta natrium.
    Tujuan : mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan.
    Kriteria hasil :
    • Menunjukkan pemasukan & pengeluaran mendekati seimbang
    • Turgor kulit baik
    • Membran mukosa lembab
    • Berat ba& & tkita vital stabil
    • Elektrolit dalam batas normal

    Intervensi

    1. Kaji status cairan :
      • Timbang berat ba& harian
      • Keseimbangan masukan & haluaran
      • Turgor kulit & adanya oedema
      • Distensi vena leher
      • Tekanan darah, denyut & irama nadi
      Pengkajian adalah dasar & data dasar berkelanjutan buat memantau perubahan & mengevaluasi intervensi.
      Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    2. Batasi masukan cairan :
      Pembatasan cairan akan menentukan berat ba& ideal, haluaran urine & respons terhadap terapi. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
      Sumber kelebihan cairan tidak diketahui dapat diidentifikasi. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    3. Jelaskan pada pasien & keluarga rasional pembatasan
      Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien & keluarga dalam pembatasan cairan (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    4. Pantau kreatinin & BUN serum
      Perubahan seperti ini menunjukkan kebutuhan dialisa segera. (Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, vol 1, Barbara Ensram, hal 156).

    Diagnosa II

    Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn anoreksia, mual & muntah, pembatasan diet perubahan membran mukosa mulut.
    Tujuan : Mempertahankan masukan nutrisi adekuat
    Kriteria hasil :
    • Mempertahankan/meningkatkan berat ba& seperti diindikasikan oleh situasi individu.
    • Bebas oedema

    Intervensi

    1. Kaji / catat pemasukan diet
      Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi & kebutuhan diet. Kondisi fisik umum gejala uremik & pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan. (Rencana Asuhan Keperawatan, Marylinn E. Doenges, hal 620).
    2. Kaji pola diet nutrisi pasien
      • Riwayat diet
      • Makanan kesukaan
      • Hitung kalori
      Pola diet dahulu & sekarang dapat dipertimbangkan dalam menyusun menu. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    3. Kaji faktor berperan dalam merubah masukan nutrisi
      • Anoreksia, mual & muntah
      • Diet tidak menyenangkan bagi pasien
      • Depresi
      • Kurang memahami pembatasan diet
      Menyediakan informasi mengenai faktor lain dapat diubah atau dihilangkan buat meningkatkan masukan diet.
    4. Berikan makan sedikit tapi sering
      Meminimalkan anoreksia & mual sehubungan dgn status uremik/menurunnya peristaltik. (Rencana Asuhan Keperawatan, Marylinn E. Doenges, hal 620).
    5. Berikan pasien / orang terdekat daftar makanan / cairan diizinkan & dorong terlibat dalam pilihan menu.
      Memberikan pasien tindakan kontrol dalam pembatasan diet. Makanan & rumah dapat meningkatkan nafsu makan. (Rencana Asuhan Keperawatan, Marylinn E. Doenges, hal 620).
    6. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batas diet
      Mendorong peningkatan masukan diet
    7. Tinggikan masukan protein mengandung nilai biologis tinggi : telur, susu, daging.
      Protein lengkap diberikan buat mencapai keseimbangan nitrogen diperlukan buat pertumbuhan & penyembuhan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1452).
    8. Timbang berat ba& harian.
      Buat memantau status cairan & nutrisi.

    Diagnosa III

    Intoleran aktifitas berhubungan dgn kelelahan, anemia & retensi produk sampah
    Tujuan : Berpartisipasi dalam aktifitas dapat ditoleransi
    Kriteria hasil :
    • Berkurangnya keluhan lelah
    • Peningkatan keterlibatan pada aktifitas social
    • Laporan perasaan lebih berenergi
    • Frekuensi pernapasan & frekuensi jantung kembali dalam rentang normal setelah penghentian aktifitas.

    Intervensi
    1. Kaji faktor menimbulkan keletihan
      • Anemia
      • Ketidakseimbangan cairan & elektrolit
      • Retensi produk sampah
      • Depresi
      Menyediakan informasi tentang indikasi tingkat keletihan
      (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1454).
    2. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri dapat ditoleransi, bantu bila keletihan terjadi.
      Meningkatkan aktivitas ringan/sedang & memperbaiki harga diri.
    3. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat.
      Mendorong latihan & aktivitas dalam batas-batas dapat ditoleransi & istirahat adekuat. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1454).
    4. Anjurkan buat beristirahat setelah dialisis
      Istirahat adekuat dianjurkan setelah dialisis, bagi banyak pasien sangat melelahkan. (Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 2, Brunner & Suddart, hal 1454).

    Diagnosa IV
    Ansietas berhubungan dgn kurang pengetahuan tentang kondis, pemeriksaan diagnostic, rencana tindakan & prognosis.
    Tujuan : Ansietas berkurang dgn adanya peningkatan pengetahuan tentang penykit & pengobatan.
    Kriteria hasil :
    • Mengungkapkan pemahaman tentangkondisi, pemeriksaan diagnostic & rencana tindakan.
    • Sedikit melaporkan perasaan gugup atau takut.

    Intervensi
    1. Bila mungkin atur buat kunjungan dari individu mendapat terapi.
      Indiviodu berhasil dalam koping dapat pengaruh positif buat membantu pasien baru didiagnosa mempertahankan harapan & mulai menilai perubahan gaya hidup akan diterima. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1, Barbara Engram hal 159).
    2. Berikan informasi tentang :
      • Sifat gagal ginjal. Jamin pasien memahami bahwa gagal ginjal kronis ; tak dapat pulih & bahwa lama tindakan diperlukan buat mempertahankan fungsi tubuh normal.
      • Pemeriksaan diagnostic termasuk :
        • Tujuan
        • Diskripsi singkat
        • Persiapan diperlukan sebelum tes
        • Hasil tes & kemaknaan hasil tes.
        Pasien sering tidak memahami bahwa dialisa akan diperlukan selamanya bila ginjal tak dapat pulih. Memberi pasien informasi mendorong partisipasi dalam pengambilan keputusan & membantu mengembangkan kepatuhan & kemandirian maksimum. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1, Barbara Engram hal 159).
      • Sediakan waktu buat pasien & orng terdekat buat membicarakan tentang masalah & perasaan tentang perubahan gaya hidup akan diperlukan buat memiliki terapi.
        Pengekspresian perasaan membantu mengurangi ansietas. Tindakan buat gagal ginjal berdampak pada seluruh keluarga. (Rencana Asuhan Keperawatan vol 1, Barbara Engram hal 160).
      • Jelaskan fungsi renal & konsekuensi gagal ginjal sesuai dgn tingkat pemahaman & kesiapan pasien buat belajar.
        Pasien dapat belajar tentang gagal ginjal & penanganan setelah mereka siap buat memahami & menerima diagnosis & konsekuensinya.
      • Bantu pasien buat mengidentifikasi cara-cara buat memahami berbagai perubahan akibat penyakit & penanganan mempengaruhi hidupnya.
        Pasien dapat melihat bahwa kehidupannya tidak harus berubah akibat penyakit.

    4. Implementasi
    Asuhan Keperawatan pada klien dgn kegagalan ginjal kronis.
    • Membantu Meraih Tujuan Terapi
      1. Mengusahakan agar orang tetap menekuni pantangan air sudah dipesankan.
      2. Mengusahakan agar orang menekuni diet tinggi karbohidrat disertai pantangan sodium, potassium, phosphorus & protein.
      3. Tenekuni makanan bahan mengikat fosfat.
      4. Memberikan pelunak tinja bila klien mendapat aluminium antacid.
      5. Memberikan suplemen vitamin & mineral menurut dipesankan.
      6. Melindungi pasien dari infeksi.
      7. Mengkaji lingkungan klien & melindungi dari cedera dgn cara seksama.
      8. Mencegah perdarahan saluran cerna lebih hebat dgn menggunakan sikat gigi berbulu halus & pemberian antacid.

    • Mengusahakan Kenyamanan
      1. Mengusahakan mengurangi gatal, memberi obat anti pruritis menurut kebutuhan.
      2. Mengusahakan hangat & message otot kejang dari tangan & kaki bawah.
      3. Menyiapkan air matol buatan buat iritasi okuler.
      4. Mengusahakan istirahat bila kecapaian.
      5. Mengusahakan agar klien dapat tidur dgn cara bijaksana.

    • Konsultasi & Penyuluhan
      1. Menyiapkan orang bisa memberi kesempatan buat membahas berbagai perasaan tentang kronisitas dari penyakit.
      2. Mengusahakan konsultasi bila terjadi penolakan mengganggu terapi.
      3. Membesarkan harapan orang dgn memberikan bantuan bagaimana caranya mengelola cara hidup baru.
      4. Memberi penyuluhan tentang sifat dari CRF, rasional terapi, aturan obat-obatan & keperluan melanjutkan pengobatan. (Keperawatan Medikal Bedah, Barbara C. Long).

    5. Evaluasi
    Pertanyaan-pertanyaan umum harus diajukan pada evaluasi orang dgn kegagalan ginjal kronis terdiri dari berikut.
    • Apakah terdapat gejala-gejala bertambahnya retensi cairan?
    • Apakah orang menekuni pesan diet & cairan diperlukan?
    • Apakah terdapat gejala-gejala terlalu kecapaian?
    • Apakah orang tidur nyenyak pada malam hari?
    • Apakah orang dapat menguraikan tentang sifat CRF, rasional & terapi, peraturan obat-obatan & gejala-gejala harus dilaporkan?





    Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Gagal Ginjal
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Gagal Ginjal
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Gagal Ginjal
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Gagal Ginjal
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Gagal Ginjal

    Tinjauan Teoritis: Vesikolithiasis

    Vesikolithiasis

    A.Pengertian
    Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tetapi paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long, 1996:322).

    Vesikolitiasis adalah batu menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti & menetes disertai dgn rasa nyeri (Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 1998:1027).

    Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis ; batu kandung kemih adalah keadaan tidak normal di kandung kemih, batu seperti ini mengandung komponen kristal & matriks organik (Sjabani dalam Soeparman, 2001:377).

    Vesikolitiasis ; batu ada di vesika urinaria ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, & asam urat meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002:1460).

    Hidronefrosis ; dilatasi piala & kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi (Smeltzer, 2002:1442). Long, (1996:318) menyatakan sumbatan saluran kemih bisa terjadi dimana saja pada bagian saluran dari mulai kaliks renal sampai meatus uretra. Hidronefrosis ; pelebaran/dilatasi pelvis ginjal & kaliks, disertai dgn atrofi parenkim ginjal, disebabkan oleh hambatan aliran kemih. Hambatan seperti ini dapat berlangsung mendadak atau perlahan-lahan, & dapat terjadi di semua aras (level) saluran kemih dari uretra sampai pelvis renalis (Wijaya & Miranti, 2001:61).

    Vesikolithotomi ; alternatif buat membuka & mengambil batu ada di kandung kemih, sehingga pasien tersebut tidak mengalami ganguan pada aliran perkemihannya Franzoni D.F & Decter R.M (http://www.medscape.com, 8 Juli 2006)Email ThisClose .



    B.Etiologi

    Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin & periode imobilitas (drainage renal lambat & perubahan metabolisme kalsium).

    Faktor- faktor mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih (Vesikolitiasis) ;
    1. Hiperkalsiuria
      Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium & protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, & kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.
    2. Hipositraturia
      Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, & diare & masukan protein tinggi.
    3. Hiperurikosuria
      Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih dapat memacu pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin berlebih.
    4. Penurunan jumlah air kemih
      Dikarenakan masukan cairan sedikit.
    5. Jenis cairan diminum
      Minuman banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel & jus anggur.
    6. Hiperoksalouria
      Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian seperti ini disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, & penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan mengganggu absorbsi garam empedu.
    7. Ginjal Spongiosa Medula
      Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
      8.Batu Asan Urat
      Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, & hiperurikosuria (primer & sekunder).
    8. Batu Struvit
      Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dgn organisme memproduksi urease.
      Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
      1.75 % kalsium.
      2.15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
      3.6 % batu asam urat.
      4.1-2 % sistin (cystine).


    C.Pathofisiologi
    Kelainan bawaan atau cidera, kea& patologis disebabkan karena infeksi, pembentukan batu disaluran kemih & tumor, kea& tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan menyebabkan sumbatan aliran kemih baik seperti itu disebabkan karena infeksi, trauma & tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan & statis urin. Bila sudah terjadi bendungan & statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2001:997).
    Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor kemudian dijadikan dalam beberapa teori (Soeparman, 2001:388):
    1. Teori Supersaturasi
      Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal banyak menetap menyebabkan terjadinya agregasi kristal & kemudian menjadi batu.
    2. Teori Matriks
      Matriks adalah mikroprotein terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5 hexosamin & 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu.
    3. Teori Kurangnya Inhibitor
      Pada individu normal kalsium & fosfor hadir dalam jumlah melampaui daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat mukopolisakarida & fosfat adalah penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat seperti ini maka akan mudah terjadi pengendapan.
    4. Teori Epistaxy
      Adalah pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu jenis batu adalah inti dari batu lain adalah pembentuk pada lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dgn bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.
    5. Teori Kombinasi
      Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori diatas.


    D.Manifestasi Klinis
    Batu terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi & berhubungan dgn infeksi traktus urinarius & hematuria, bila terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi seperti ini lebih serius dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tkita seperti mual muntah, gelisah, nyeri & perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
    Bila sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, & lamanya penyumbatan.

    Bila penyumbatan timbul dgn cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri luar biasa di daerah antara rusuk & tulang punggung) pada sisi ginjal terkena. Bila penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk & tulang punggung.
    Selain tkita diatas, tkita hidronefrosis lain menurut Samsuridjal (http://www.medicastore.com, 26 Juni 2006) adalah:
    1.Hematuri.
    2.Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.
    3.Demam.
    4.Rasa nyeri di daerah kandung kemih & ginjal.
    5.Mual.
    6.Muntah.
    7.Nyeri abdomen.
    8.Disuria.
    9.Menggigil.



    E. Pemeriksaan Penunjang

    Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium meliputi pemeriksaan:
    1. Urine
      • apH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
      • Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dgn batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
      • Biakan Urin : Buat mengetahui adanya bakteri berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
      • Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam buat melihat apakah terjadi hiperekskresi.

    2. Darah
      • Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
      • Lekosit terjadi karena infeksi.
      • Ureum kreatinin buat melihat fungsi ginjal.
      • Kalsium, fosfat & asam urat.

    3. Radiologis
      • Foto BNO/IVP buat melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak.
      • Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan seperti ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dgn antegrad pielografi tidak memberikan informasi memadai.

    4. USG (Ultra Sono Grafi)
      Buat mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.
    5. Riwayat Keluarga
      Buat mengetahui apakah ada anggota keluarga menderita batu saluran kemih, bila ada buat mengetahui pencegahan, pengobatan telah dilakukan, cara mengambilan batu, & analisa jenis batu.


    F.Komplikasi

    Komplikasi disebabkan dari Vesikolithotomi (Perry & Potter, 2002:1842) ; sebagai berikut:
    1. Sistem Pernafasan
      Atelektasis bida terjadi bila ekspansi paru tidak adekuat karena pengaruh analgetik, anestesi, & posisi dimobilisasi menyebabkan ekspansi tidak maksimal. Penumpukan sekret dapat menyebabkan pnemunia, hipoksia terjadi karena tekanan oleh agens analgetik & anestesi serta bisa terjadi emboli pulmonal.
    2. Sistem Sirkulasi
      Dalam sistem peredaran darah bisa menyebabkan perdarahan karena lepasnya jahitan atau lepasnya bekuan darah pada tempat insisi bisa menyebabkan syok hipovolemik. Statis vena terjadi karena duduk atau imobilisasi terlalu lama bisa terjadi tromboflebitis, statis vena juga bisa menyebabkan trombus atau karena trauma pembuluh darah.
    3. Sistem Gastrointestinal
      Akibat efek anestesi dapat menyebabkan peristaltik usus menurun sehingga bisa terjadi distensi abdomen dgn tkita & gejala meningkatnya lingkar perut & terdengar bunyi timpani saat diperkusi. Mual & muntah serta konstipasi bisa terjadi karena belum normalnya peristaltik usus.
    4. Sistem Genitourinaria
      Akibat pengaruh anestesi bisa menyebabkan aliran urin involunter karena hilangnya tonus otot.
    5. Sistem Integumen
      Perawatan tidak memperhatikan kesterilan dapat menyebabkan infeksi, buruknya fase penyembuhan luka dapat menyebabkan dehisens luka dgn tkita & gejala meningkatnya drainase & penampakan jaringan ada dibawahnya. Eviserasi luka/kelurnya organ & jaringan internal melalui insisi bisa terjadi bila ada dehisens luka serta bisa terjadi pula surgical mump (parotitis).
    6. Sistem Saraf
      Bisa menimbulkan nyeri tidak dapat diatasi.

    Askep Benigna Prostat Hipertropi / BPH

    Askep Benigna Prostat Hiperplasi (BPH)
    ASKEP BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI / BPH
    1. Pengertian
    Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) ; pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ).

    BPH ; pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral & pembatasan aliran urinarius ( Marilynn, E.D, 2000 : 671 ).


    1. Etiologi
    Penyebab pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain erat kaitannya dgn BPH ; proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain :

    1). Dihydrotestosteron
    Peningkatan 5 alfa reduktase & reseptor androgen menyebabkan epitel & stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
    2). Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron
    Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen & penurunan testosteron mengakibatkan hiperplasi stroma.
    3). Interaksi stroma - epitel
    Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor & penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma & epitel.
    4). Berkurangnya sel mati
    Estrogen meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma & epitel dari kelenjar prostat.
    5). Teori sel stem
    Sel stem meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).


    4. Gejala Benigne Prostat Hyperplasia
    Gejala klinis ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi menjadi dua yaseperti itu :

    1. Gejala Obstruktif yaseperti itu :
    a. Hesitansi yaseperti itu memulai kencing lama & seringkali disertai dgn mengejan disebabkan oleh karena otot destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya tekanan dalam uretra prostatika.
    b. Intermitency yaseperti itu terputus-putusnya aliran kencing disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
    c. Terminal dribling yaseperti itu menetesnya urine pada akhir kencing.
    d. Pancaran lemah : kelemahan kekuatan & kaliber pancaran destrussor memerlukan waktu buat dapat melampaui tekanan di uretra.
    e. Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil & terasa belum puas.


    2. Gejala Iritasi yaseperti itu :
    a. Urgency yaseperti itu perasaan ingin buang air kecil sulit ditahan.
    b. Frekuensi yaseperti itu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat terjadi pada malam hari (Nocturia) & pada siang hari.
    c. Disuria yaseperti itu nyeri pada waktu kencing.



    2. Diagnosis
    Buat menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain
    1). Anamnesa
    Kumpulan gejala pada BPH dikenal dgn LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah, intermittensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi & gejala iritatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta disuria.

    2) Pemeriksaan Fisik

    1. Dilakukan dgn pemeriksaan tekanan darah, nadi & suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis sampai syok - septik.
    2. Pemeriksaan abdomen dilakukan dgn tehnik bimanual buat mengetahui adanya hidronefrosis, & pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen & klien akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan buat mengetahui ada tidaknya residual urin.
    3. Penis & uretra buat mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis.
    4. Pemeriksaan skrotum buat menentukan adanya epididimitis
    5. Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan buat menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra & besarnya prostat. Dgn rectal toucher dapat diketahui derajat dari BPH, yaseperti itu :
    a). Derajat I = beratnya lebih kurang 20 gram.
    b). Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
    c). Derajat III = beratnya > 40 gram.


    3) Pemeriksaan Laboratorium

    • Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit & kadar gula digunakan buat memperoleh data dasar keadaan umum klien.
    • Pemeriksaan urin lengkap & kultur.
    • PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan.


    4) Pemeriksaan Uroflowmetri
    Salah satu gejala dari BPH ; melemahnya pancaran urin. Secara obyektif pancaran urin dapat diperiksa dgn uroflowmeter dgn penilaian :
    a). Flow rate maksimal  15 ml / dtk = non obstruktif.
    b). Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
    c). Flow rate maksimal  10 ml / dtk = obstruktif.
    5) Pemeriksaan Imaging & Rontgenologik
    a). BOF (Buik Overzich ) :Buat melihat adanya batu & metastase pada tulang.
    b). USG (Ultrasonografi), digunakan buat memeriksa konsistensi, volume & besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal, transuretral & supra pubik.
    c). IVP (Pyelografi Intravena)
    Digunakan buat melihat fungsi exkresi ginjal & adanya hidronefrosis.
    d) Pemeriksaan Panendoskop
    Buat mengetahui keadaan uretra & buli – buli.


    3. Penatalaksanaan
    Modalitas terapi BPH ; :
    1). Observasi
    Yaseperti itu pengawasan berkala pada klien setiap 3 – 6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien
    2). Medikamentosa
    Terapi seperti ini diindikasikan pada BPH dgn keluhan ringan, sedang, & berat tanpa disertai penyulit. Obat digunakan berasal dari: phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker & golongan supresor androgen.
    3). Pembedahan
    Indikasi pembedahan pada BPH ; :
    a). Klien mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut.
    b). Klien dgn residual urin  100 ml.
    c). Klien dgn penyulit.
    d). Terapi medikamentosa tidak berhasil.
    e). Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.
    Pembedahan dapat dilakukan dgn :
    a). TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat  90 - 95 % )
    b). Retropubic Atau Extravesical Prostatectomy
    c). Perianal Prostatectomy
    d). Suprapubic Atau Tranvesical Prostatectomy


    4). Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, Terapi Ultrasonik .

    B. Diagnosa keperawatan.
    Diagnosa keperawatan mungkin timbul ; sebagai berikut :
    Pre Operasi :
    1). Obstruksi akut / kronis berhubungan dgn obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor & ketidakmapuan kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.
    2). Nyeri ( akut ) berhubungan dgn iritasi mukosa buli – buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.
    3). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dgn pasca obstruksi diuresis..
    4). Ansietas berhubungan dgn perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah
    5). Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis & kebutuhan pengobatan berhubungan dgn kurangnya informasi
    Post Operasi :
    1) Nyeri berhubungan dgn spasmus kandung kemih & insisi sekunder pada TUR-P
    2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dgn prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
    3) Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dgn tindakan pembedahan
    4) Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dgn ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.
    5) Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dgn kurang informasi
    6) Gangguan pola tidur berhubungan dgn nyeri sebagai efek pembedahan



    B. Perencanaan
    1. Sebelum Operasi

    a. Obstruksi akut / kronis berhubungan dgn obstruksi mekanik, pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor & ketidakmapuan kandung kemih buat berkontraksi secara adekuat.
    1) Tujuan : tidak terjadi obstruksi
    3) Kriteria hasil :
    Berkemih dalam jumlah cukup, tidak teraba distensi kandung kemih

    4) Rencana tindakan & rasional
    1. Dorong pasien buat berkemih tiap 2-4 jam & bila tiba-tiba dirasakan.
    R/ Meminimalkan retensi urina distensi berlebihan pada kandung kemih
    2. Observasi aliran urina perhatian ukuran & kekuatan pancaran urina
    R / Buat mengevaluasi ibstruksi & pilihan intervensi
    3. Awasi & catat waktu serta jumlah setiap kali berkemih
    R/ Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan dapat mempengaruhi fungsi ginjal
    4. Berikan cairan sampai 3000 ml sehari dalam toleransi jantung.
    R / Peningkatkan aliran cairan meningkatkan perfusi ginjal serta membersihkan ginjal ,kandung kemih dari pertumbuhan bakteri
    5. Berikan obat sesuai indikasi ( antispamodik)
    R/ mengurangi spasme kandung kemih & mempercepat penyembuhan


    b. Nyeri ( akut ) berhubungan dgn iritasi mukosa buli – buli, distensi kandung kemih, kolik ginjal, infeksi urinaria.
    1). Tujuan
    Nyeri hilang / terkontrol.
    2). Kriteria hasil
    Klien melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan ketrampilan relaksasi & aktivitas terapeutik sesuai indikasi buat situasi individu. Tampak rileks, tidur / istirahat dgn tepat.

    3). Rencana tindakan & rasional
    a) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala 0 - 10 ).
    R / Nyeri tajam, intermitten dgn dorongan berkemih / masase urin sekitar kateter menunjukkan spasme buli-buli, cenderung lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun dalam 48 jam ).
    b) Pertahankan patensi kateter & sistem drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan & bekuan.
    R/ Mempertahankan fungsi kateter & drainase sistem, menurunkan resiko distensi / spasme buli - buli.
    c). Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
    R/ Diperlukan selama fase awal selama fase akut.
    d) Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung ) & aktivitas terapeutik.
    R / Menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali perhatian & dapat meningkatkan kemampuan koping.
    f) Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan.
    R/ Meningkatkan perfusi jaringan & perbaikan edema serta meningkatkan penyembuhan ( pendekatan perineal ).
    f) Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik
    R / Menghilangkan spasme

    c. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dgn pasca obstruksi diuresis.
    1). Tujuan
    Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.

    2). Kriteria hasil
    Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tkita -tkita vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian perifer baik, membran mukosa lembab & keluaran urin tepat.

    3). Rencana tindakan & rasional
    a). Awasi keluaran tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/.
    R/ Diuresisi cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal.
    b). Pantau masukan & haluaran cairan.
    R/ Indikator keseimangan cairan & kebutuhan penggantian.
    c). Awasi tanda-tkita vital, perhatikan peningkatan nadi & pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,
    R/ Deteksi dseperti ini terhadap hipovolemik sistemik
    d). Tingkatkan tirah baring dgn kepala lebih tinggi
    R/ Menurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.
    g). Kolaborasi dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh:
    Hb / Ht, jumlah sel darah merah. Pemeriksaan koagulasi, jumlah trombosi
    R/ Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan penggantian. Serta dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor pembekuan darah,


    d. Ansietas berhubungan dgn perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah.
    1). Tujuan
    Pasien tampak rileks.

    2). Kriteria hasil
    Menyatakan pengetahuan akurat tentang situasi, menunjukkan rentang tepat tentang perasaan & penurunan rasa takut.

    3). Rencana tindakan & rasional
    a). Dampingi klien & bina hubungan saling percaya
    R/ Menunjukka perhatian & keinginan buat membantu
    b). Memberikan informasi tentang prosedur tindakan akan dilakukan.
    R / Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan.
    c). Dorong pasien atau orang terdekat buat menyatakan masalah atau perasaan.
    R/ Memberikan kesempatan pada pasien & konsep solusi pemecahan masalah


    e. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis & kebutuhan pengobatan berhubungan dgn kurangnya informasi
    1). Tujuan : Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit & prognosisnya.


    2). Kriteria hasil
    Melakukan perubahan pola hidup atau prilasku ysng perlu, berpartisipasi dalam program pengobatan.


    3). Rencana tindakan & rasional
    a). Dorong pasien menyatakan rasa takut persaan & perhatian.
    R / Membantu pasien dalam mengalami perasaan.
    b) Kaji ulang proses penyakit,pengalaman pasien
    R/ Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi terapi.


    II. Sesudah operasi

    1. Nyeri berhubungan dgn spasmus kandung kemih & insisi sekunder pada TUR-P
    Tujuan: Nyeri berkurang atau hilang.
    Kriteria hasil :
    - Klien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
    - Ekspresi wajah klien tenang.
    - Klien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.
    - Klien akan tidur / istirahat dgn tepat.
    - Tkita – tkita vital dalam batas normal.


    Rencana tindakan :
    1. Jelaskan pada klien tentang gejala dseperti ini spasmus kandung kemih.
    R/ Kien dapat mendeteksi gajala dseperti ini spasmus kandung kemih.
    2. Pemantauan klien pada interval teratur selama 48 jam, buat mengenal gejala – gejala dseperti ini dari spasmus kandung kemih.
    R/ Menentukan terdapatnya spasmus sehingga obat – obatan bisa diberikan
    3. Jelaskan pada klien bahwa intensitas & frekuensi akan berkurang dalam 24 sampai 48 jam.
    R/ Memberitahu klien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.
    4. Beri penyuluhan pada klien agar tidak berkemih ke seputar kateter.
    R/ Mengurang kemungkinan spasmus.
    5. Anjurkan pada klien buat tidak duduk dalam waktu lama sesudah tindakan TUR-P.
    R / Mengurangi tekanan pada luka insisi
    6. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan nafas dalam, visualisasi.
    R / Menurunkan tegangan otot, memfokuskan kembali perhatian & dapat meningkatkan kemampuan koping.
    7. Jagalah selang drainase urine tetap aman dipaha buat mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih. Irigasi kateter bila terlihat bekuan pada selang.
    R/ Sumbatan pada selang kateter oleh bekuan darah dapat menyebabkan distensi kandung kemih dgn peningkatan spasme.
    8. Observasi tkita – tkita vital
    R/ Mengetahui perkembangan lebih lanjut.
    9. Kolaborasi dgn dokter buat memberi obat – obatan (analgesik atau anti spasmodik )
    R / Menghilangkan nyeri & mencegah spasmus kandung kemih.


    2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dgn prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
    Tujuan: Klien tidak menunjukkan tkita – tkita infeksi .
    Kriteria hasil:
    - Klien tidak mengalami infeksi.
    - Dapat mencapai waktu penyembuhan.
    - Tkita – tkita vital dalam batas normal & tidak ada tkita – tkita shock.
    Rencana tindakan:
    1. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dgn steril.
    R/ Mencegah pemasukan bakteri & infeksi
    2. Anjurkan intake cairan cukup ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat menurunkan potensial infeksi.
    R/ . Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK dikurangi & mempertahankan fungsi ginjal.
    3. Pertahankan posisi urobag dibawah.
    R/ Menghindari refleks balik urine dapat memasukkan bakteri ke kandung kemih.
    4. Observasi tkita – tkita vital, laporkan tkita – tkita shock & demam.
    R/ Mencegah sebelum terjadi shock.
    5. Observasi urine: warna, jumlah, bau.
    R/ Mengidentifikasi adanya infeksi.
    6. Kolaborasi dgn dokter buat memberi obat antibiotik.
    R/ Buat mencegah infeksi & membantu proses penyembuhan


    3. Resiko tinggi cidera: perdarahan berhubungan dgn tindakan pembedahan .
    Tujuan: Tidak terjadi perdarahan.
    Kriteria hasil:
    - Klien tidak menunjukkan tkita – tkita perdarahan .
    - Tkita – tkita vital dalam batas normal .
    - Urine lancar lewat kateter .
    Rencana tindakan:
    1. Jelaskan pada klien tentang sebab terjadi perdarahan setelah pembedahan & tkita – tkita perdarahan .
    R/ Menurunkan kecemasan klien & mengetahui tkita – tkita perdarahan
    2. Irigasi aliran kateter bila terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter
    R/ Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan peregangan & perdarahan kandung kemih
    3. Sediakan diet makanan tinggi serat & memberi obat buat memudahkan defekasi .
    R/ Dgn peningkatan tekanan pada fosa prostatik akan mengendapkan perdarahan .
    4. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau huknah, buat sekurang – kurangnya satu minggu .
    R/ Dapat menimbulkan perdarahan prostat .
    5. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang & kapan traksi dilepas .
    R/ Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 – 6 jam setelah pembedahan .
    6. Observasi: Tkita – tkita vital tiap 4 jam,masukan & haluaran & warna urine
    R/ Deteksi awal terhadap komplikasi, dgn intervensi tepat mencegah kerusakan jaringan permanen .



    4. Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dgn ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.
    Tujuan: Fungsi seksual dapat dipertahankan
    Kriteria hasil:
    - Klien tampak rileks & melaporkan kecemasan menurun .
    - Klien menyatakan pemahaman situasi individual .
    - Klien menunjukkan keterampilan pemecahan masalah .
    - Klien mengerti tentang pengaruh TUR – P pada seksual.


    Rencana tindakan :
    1 . Beri kesempatan pada klien buat memperbincangkan tentang pengaruh TUR – P terhadap seksual .
    R/ Buat mengetahui masalah klien .
    2 . Jelaskan tentang : kemungkinan kembali ketingkat tinggi seperti semula & kejadian ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)
    R/ Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas & berdampak disfungsi seksual
    3 . Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu setelah operasi .
    R/ Bisa terjadi perdarahan & ketidaknyamanan
    4 . Dorong klien buat menanyakan kedokter salama di rawat di rumah sakit & kunjungan lanjutan .
    R / Buat mengklarifikasi kekhatiran & memberikan akses kepada penjelasan spesifik.


    5. Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dgn kurang informasi
    Tujuan: Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan .

    Kriteria hasil:
    - Klien akan melakukan perubahan perilaku.
    - Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
    - Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan & kebutuhan berobat lanjutan .
    Rencana tindakan:
    1. Beri penjelasan buat mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu .
    R/ Dapat menimbulkan perdarahan .
    2. Beri penjelasan buat mencegah menge& waktu BAB selama 4-6 minggu; & memakai pelumas tinja buat laksatif sesuai kebutuhan.
    R/ Menge& bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi kebutuhan menge& pada waktu BAB
    3. Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.
    R/ Mengurangi potensial infeksi & gumpalan darah .
    4. Anjurkan buat berobat lanjutan pada dokter.
    R/. Buat menjamin tidak ada komplikasi .
    5. Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh .
    R/ Buat membantu proses penyembuhan .


    6. Gangguan pola tidur berhubungan dgn nyeri / efek pembedahan
    Tujuan: Kebutuhan tidur & istirahat terpenuhi.
    Kriteria hasil:
    - Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu cukup.
    - Klien mengungkapan sudah bisa tidur .
    - Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur .
    Rencana tindakan:
    1. Jelaskan pada klien & keluarga penyebab gangguan tidur & kemungkinan cara buat menghindari.
    R/ meningkatkan pengetahuan klien sehingga mau kooperatif dalam tindakan perawatan .
    2. Ciptakan suasana mendukung, suasana tenang dgn mengurangi kebisingan .
    R/ Suasana tenang akan mendukung istirahat
    3. Beri kesempatan klien buat mengungkapkan penyebab gangguan tidur.
    R/ Menentukan rencana mengatasi gangguan
    4. Kolaborasi dgn dokter buat pemberian obat dapat mengurangi nyeri ( analgesik ).
    R/ Mengurangi nyeri sehingga klien bisa istirahat dgn cukup .



    DAFTAR PUSTAKA

    Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Buat Perencanaan & Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

    Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis & Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.


    http://pengumuman-property.blogspot.com/


    Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

    Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

    Askep Vesikolithiasis

    Vesikolithiasis


    A.Pengertian
    Batu perkemihan dapat timbul pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan (ginjal, ureter, kandung kemih), tetapi paling sering ditemukan ada di dalam ginjal (Long, 1996:322).

    Vesikolitiasis adalah batu menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih, maka aliran mula-mula lancar secara tiba-tiba akan berhenti & menetes disertai dgn rasa nyeri (Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 1998:1027).

    Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis ; batu kandung kemih adalah keadaan tidak normal di kandung kemih, batu seperti ini mengandung komponen kristal & matriks organik (Sjabani dalam Soeparman, 2001:377).

    Vesikolitiasis ; batu ada di vesika urinaria ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, & asam urat meningkat atau ketika terdapat defisiensi subtansi tertentu, seperti sitrat secara normal mencegah terjadinya kristalisasi dalam urin (Smeltzer, 2002:1460).

    Hidronefrosis ; dilatasi piala & kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal akibat adanya obstruksi (Smeltzer, 2002:1442). Long, (1996:318) menyatakan sumbatan saluran kemih bisa terjadi dimana saja pada bagian saluran dari mulai kaliks renal sampai meatus uretra. Hidronefrosis ; pelebaran/dilatasi pelvis ginjal & kaliks, disertai dgn atrofi parenkim ginjal, disebabkan oleh hambatan aliran kemih. Hambatan seperti ini dapat berlangsung mendadak atau perlahan-lahan, & dapat terjadi di semua aras (level) saluran kemih dari uretra sampai pelvis renalis (Wijaya & Miranti, 2001:61).

    Vesikolithotomi ; alternatif buat membuka & mengambil batu ada di kandung kemih, sehingga pasien tersebut tidak mengalami ganguan pada aliran perkemihannya Franzoni D.F & Decter R.M (http://www.medscape.com, 8 Juli 2006)Email ThisClose .



    B.Etiologi

    Menurut Smeltzer (2002:1460) bahwa, batu kandung kemih disebabkan infeksi, statis urin & periode imobilitas (drainage renal lambat & perubahan metabolisme kalsium).

    Faktor- faktor mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378) batu kandung kemih (Vesikolitiasis) ;
    1. Hiperkalsiuria
      Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium & protein), hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, & kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.
    2. Hipositraturia
      Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, & diare & masukan protein tinggi.
    3. Hiperurikosuria
      Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih dapat memacu pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin berlebih.
    4. Penurunan jumlah air kemih
      Dikarenakan masukan cairan sedikit.
    5. Jenis cairan diminum
      Minuman banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel & jus anggur.
    6. Hiperoksalouria
      Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian seperti ini disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium intestinal, & penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan mengganggu absorbsi garam empedu.
    7. Ginjal Spongiosa Medula
      Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
      8.Batu Asan Urat
      Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, & hiperurikosuria (primer & sekunder).
    8. Batu Struvit
      Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dgn organisme memproduksi urease.
      Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :
      1.75 % kalsium.
      2.15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
      3.6 % batu asam urat.
      4.1-2 % sistin (cystine).


    C.Pathofisiologi
    Kelainan bawaan atau cidera, kea& patologis disebabkan karena infeksi, pembentukan batu disaluran kemih & tumor, kea& tersebut sering menyebabkan bendungan. Hambatan menyebabkan sumbatan aliran kemih baik seperti itu disebabkan karena infeksi, trauma & tumor serta kelainan metabolisme dapat menyebabkan penyempitan atau struktur uretra sehingga terjadi bendungan & statis urin. Bila sudah terjadi bendungan & statis urin lama kelamaan kalsium akan mengendap menjadi besar sehingga membentuk batu (Sjamsuhidajat & Wim de Jong, 2001:997).
    Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor kemudian dijadikan dalam beberapa teori (Soeparman, 2001:388):
    1. Teori Supersaturasi
      Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal banyak menetap menyebabkan terjadinya agregasi kristal & kemudian menjadi batu.
    2. Teori Matriks
      Matriks adalah mikroprotein terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5 hexosamin & 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu.
    3. Teori Kurangnya Inhibitor
      Pada individu normal kalsium & fosfor hadir dalam jumlah melampaui daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat mukopolisakarida & fosfat adalah penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat seperti ini maka akan mudah terjadi pengendapan.
    4. Teori Epistaxy
      Adalah pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu jenis batu adalah inti dari batu lain adalah pembentuk pada lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dgn bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium.
    5. Teori Kombinasi
      Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori diatas.


    D.Manifestasi Klinis
    Batu terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan iritasi & berhubungan dgn infeksi traktus urinarius & hematuria, bila terjadi obstruksi pada leher kandung kemih menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi seperti ini lebih serius dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tkita seperti mual muntah, gelisah, nyeri & perut kembung (Smeltzer, 2002:1461).
    Bila sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, & lamanya penyumbatan.

    Bila penyumbatan timbul dgn cepat (Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri luar biasa di daerah antara rusuk & tulang punggung) pada sisi ginjal terkena. Bila penyumbatan berkembang secara perlahan (Hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri tumpul di daerah antara tulang rusuk & tulang punggung.
    Selain tkita diatas, tkita hidronefrosis lain menurut Samsuridjal (http://www.medicastore.com, 26 Juni 2006) adalah:
    1.Hematuri.
    2.Sering ditemukan infeksi disaluran kemih.
    3.Demam.
    4.Rasa nyeri di daerah kandung kemih & ginjal.
    5.Mual.
    6.Muntah.
    7.Nyeri abdomen.
    8.Disuria.
    9.Menggigil.



    E. Pemeriksaan Penunjang

    Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium meliputi pemeriksaan:
    1. Urine
      • apH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting, organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium phosphat, pH rendah menyebabkan pengendapan batu asam urat.
      • Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada penderita dgn batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih akan meningkat.
      • Biakan Urin : Buat mengetahui adanya bakteri berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
      • Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam buat melihat apakah terjadi hiperekskresi.

    2. Darah
      • Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
      • Lekosit terjadi karena infeksi.
      • Ureum kreatinin buat melihat fungsi ginjal.
      • Kalsium, fosfat & asam urat.

    3. Radiologis
      • Foto BNO/IVP buat melihat posisi batu, besar batu, apakah terjadi bendungan atau tidak.
      • Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan, pada keadaan seperti ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau dilanjutkan dgn antegrad pielografi tidak memberikan informasi memadai.

    4. USG (Ultra Sono Grafi)
      Buat mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan ginjal.
    5. Riwayat Keluarga
      Buat mengetahui apakah ada anggota keluarga menderita batu saluran kemih, bila ada buat mengetahui pencegahan, pengobatan telah dilakukan, cara mengambilan batu, & analisa jenis batu.


    F.Komplikasi

    Komplikasi disebabkan dari Vesikolithotomi (Perry & Potter, 2002:1842) ; sebagai berikut:
    1. Sistem Pernafasan
      Atelektasis bida terjadi bila ekspansi paru tidak adekuat karena pengaruh analgetik, anestesi, & posisi dimobilisasi menyebabkan ekspansi tidak maksimal. Penumpukan sekret dapat menyebabkan pnemunia, hipoksia terjadi karena tekanan oleh agens analgetik & anestesi serta bisa terjadi emboli pulmonal.
    2. Sistem Sirkulasi
      Dalam sistem peredaran darah bisa menyebabkan perdarahan karena lepasnya jahitan atau lepasnya bekuan darah pada tempat insisi bisa menyebabkan syok hipovolemik. Statis vena terjadi karena duduk atau imobilisasi terlalu lama bisa terjadi tromboflebitis, statis vena juga bisa menyebabkan trombus atau karena trauma pembuluh darah.
    3. Sistem Gastrointestinal
      Akibat efek anestesi dapat menyebabkan peristaltik usus menurun sehingga bisa terjadi distensi abdomen dgn tkita & gejala meningkatnya lingkar perut & terdengar bunyi timpani saat diperkusi. Mual & muntah serta konstipasi bisa terjadi karena belum normalnya peristaltik usus.
    4. Sistem Genitourinaria
      Akibat pengaruh anestesi bisa menyebabkan aliran urin involunter karena hilangnya tonus otot.
    5. Sistem Integumen
      Perawatan tidak memperhatikan kesterilan dapat menyebabkan infeksi, buruknya fase penyembuhan luka dapat menyebabkan dehisens luka dgn tkita & gejala meningkatnya drainase & penampakan jaringan ada dibawahnya. Eviserasi luka/kelurnya organ & jaringan internal melalui insisi bisa terjadi bila ada dehisens luka serta bisa terjadi pula surgical mump (parotitis).
    6. Sistem Saraf
      Bisa menimbulkan nyeri tidak dapat diatasi.



    Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Vesikolithiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vesikolithiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vesikolithiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vesikolithiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vesikolithiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Vesikolithiasis

    Askep Urolitiasis

    Asuhan Keperawatan Pasien dgn Batu Saluran Kemih (Urolitiasis)



    A. Nyeri berhubungan dgn cedera jaringan sekunder terhadap batu ginjal & spasme otot polos (Engram, 1998).

    Intervensi

    Tujuan :
    Mendemonstrasikan rasa nyeri hilang

    Kriteria hasil :
    Tidak ada nyeri, ekspresi wajah rileks, tak ada mengerang & perilaku melindungi bagian nyeri, frekwensi nadi 60-100 kali/menit, frekwensi nafas 12-24 kali/menit

    Intervensi
    • Kaji & catat lokasi, intensitas (skala 0-10) & penyebarannya. Perhatikan tanda-tkita verbal : tekanan darah, nadi, gelisah, merintih.
    • Jelaskan penyebab nyeri & pentingnya melaporkan ke staf terhadap perubahan kejadian/karakteristik nyeri.
    • Berikan tindakan buat meningkatkan kenyamanan seperti pijatan punggung, lingkungan nyaman, istirahat.
    • Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus, bimbingan imajinasi & aktifitas terapeutik.
    • Dorong/bantu dgn ambulasi sesuai indikasi & tingkatkan pemasukan cairan sedikitnya 3-4 l/hari dalam toleransi jantung.
    • Kolaborasi, berikan obat sesuai indikasi :
      • narkotik
      • antispasmmodik
      • kortikosteroid
    • Berikan kompres hangat pada punggung.

    B. Perubahan pola eliminasi urine sehubungan dgn obstruksi mekanik, inflamasi (Doenges, 1999)

    Intervensi

    Tujuan :
    Klien berkemih dgn jumlah normal & pola biasa atau tidak ada gangguan.

    Kriteria hasil :
    Jumlah urine 1500 ml/24 jam & pola biasa, tidak ada distensi kandung kemih & oedema.

    Rencana tindakan
    • Monitor pemasukan & pengeluaran serta karakteristik urine
    • Tentukan pola berkemih normal klien & perhatikan variasi.
    • Dorong klien buat meningkatkan pemasukan cairan.
    • Periksa semua urine, catat adanya keluaran batu & kirim ke laboratorium buat analisa.
    • Selidiki keluhan kandung kemih penuh : palpasi buat distensi suprapubik. Perhatikan penurunan keluaran urine, adanya edema periorbital/tergantung.
    • Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran.
    • Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit, BUN kreatinin.
    • Ambil urine buat kultur & sensitivitas.
    • Berikan obat sesuai indikasi, contoh :
      • asetazolamid, alupurinol
      • HCT, klortaridon
      • amonium klorida : kalium fosfat/natrium fosfat
      • agen antigout
      • antibiotik
      • natrium bikarbonat
      • asam askorbat
    • Perhatikan patensi kateter tak menetap, bila menggunakan.
    • Irigasi dgn asam atau larutan alkali sesuai indikasi




    Hasil Pencarian Buat Asuhan Keperawatan Askep Urolitiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Urolitiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Urolitiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Urolitiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Urolitiasis
    Tag: search result for asuhan keperawatan askep Urolitiasis

    Askep Anak dgn Gagal Ginjal Kronik

    Gagal Ginjal Kronik / GGK
    A. PENGERTIAN
    Gagal Ginjal Kronik (GGK) ; kemunduran fungsi ginjal menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh dibawah kondisi normal (Betz Sowden, )

    Gagal Ginjal Kronik ; kerusakan progresif pada nefron mengarah pada timbulnya uremia secara perlahan-lahan meningkat ( Rosa M. Sacharin, 1996)
    .
    Gagal Ginjal Kronis (GGK) ; keadaan klinis dgn Laju Filtrasi Glomerolus < 50 ml/menit ditandai oleh gangguan pertumbuhan & kelainan metabolic serta biasanya diikuti oleh penurunan faal ginjal progresif. (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 1997)


    B. ETIOLOGI

    1. Glomerulonefritis
    2. Pielonefritis
    3. Nefrosklerosis
    4. Sindroma Nefrotik
    5. Tumor Ginjal


    C. PATOFISIOLOGI

    Ginjal mempunyai kemampuan nyata buat mengkompensasi kehilangan nefron persisten terjadi pada gagal ginjal kronik. Bila angka filtrasi glomerolus menurun menjadi 5-20 ml/menit/1,73 m2, kapasitas seperti ini mulai gagal. Hal seperti ini menimbulkan berbagai masalah biokimia berhubungan dgn bahan utama ditangani ginjal.

    Ketidakseimbangan natrium & cairan terjadi karena ketidakmampuan ginjal buat memekatkan urin. Hiperkalemia terjadi akibat penurunan sekresi kalium. Asidosis metabolik terjadi karena kerusakan reabsorbsi bikarbonat & produksi ammonia. Demineralisasi tulang & gangguan pertumbuhan terjadi akibat sekresi hormon paratiroid, peningkatan fosfat plasma (penurunan kalsium serum, asidosis) menyebabkan pelepasan kalsium & fosfor ke dalam aliran darah & gangguan penyerapan kalsium usus. Anemia terjadi karena gangguan produksi sel darah merah, penurunan rentang hidup sel darah merah, peningkatan kecenderungan perdarahan (akibat kerusakan fungsi trombosit). Perubahan pertumbuhan berhubungan dgn perubahan nutrisi & berbagai proses biokimia.


    D. MANIFESTASI KLINIK
    1. Edema. Oliguria, hipertensi, gagal jantung kongestif
    2. Poliuria, dehidrasi
    3. Hiperkalemia
    4. Hipernatremia
    5. Anemia
    6. Gangguan fungsi trombosit
    7. Apatis, letargi
    8. Anoreksia
    9. Asidosis
    10. gatal-gatal
    11. Kejang, koma
    12. Disfungsi pertumbuhan



    E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
    1. Tes darah
    a. BUN & kreatinin serum meningkat
    b. Kalium serum meningkat
    c. Natrium serum meningkat
    d. Kalsium serum menurun, fosfor serum menurun, PH serum & HCO3 menurun
    e. Hb, Ht, trombosit menurun
    f. Asam urat meningkat, kultur darah positif


    2. Tes urin
    a. Urinalisis
    b. Elektrolit urin, osmolalitas & berat jenis
    c. Urin 24 jam


    3. EKG
    4. Rontgen dada
    5. Biopsi Ginjal


    F. PENATALAKSANAAN
    1. Stabilkan keseimbangan cairan & elektrolit
    2. Dukung fungsi kardiovaskuler
    3. Cegah infeksi
    4. Tingkatkan status nutrisi
    5. Kendalikan perdarahan & anemia
    6. Lakukan dialisis
    7. Transplantasi ginjal


    DAFTAR PUSTAKA

    1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.
    2. Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC.
    3. Hartantyo I, dkk. (1997). Pedoman Pelayanan Medik Anak. Edisi Kedua. Semarang : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Undip, SMF Kesehatan Anak RSUP Dr. Kariadi.
    4. Riwanto I, S. Neni, Purwoko Y. (2000). Tunjangan Nutrisi Klinik. Semarang : Ba& Penerbit Undip.
    5. Price Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. (1995). Patofisiologi. Jakarta : EGC.
    6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. (2000). Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 2. Jakarta : Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI.
    7. Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
    8. www. Indomedia.com/intisari/2001/juni/Terapi_601.htm. Disiplin Ketat Penderita Gagal Ginjal.
    9. www.interna fk ui ac.id/artikel/current 2001/cdt01_19htm. Penatalaksanaan Anemia pada Gagal Ginjal Kronik.
    10. http://pengumuman-property.blogspot.com/

    Categories

    20HadiahLebaran aceh active Ada ada saja adsense aids air tanah anak antik Artikel Artis asma Bahasa bahasaindonesia baju band batuk bayi bekas belajar bencana Berita Berita Ringan big panel biologi bisnis bisnis online Blog Bola budidaya buku bunga burner burung cerai Cerpen chandra karya Cinta ciri cpns cuti cv daerah desain di jual diare diet coke diet plan dinas domisili ekonomi email euro exterior fashion fat Film FISIP foke forex format FPI furniture gambar game gejala gempa geng motor geografi gigi ginjal Girlband Indonesia graver GTNM gunung gurame guru haga haki hamil harga hasil hepatitis hernia hiv Hukum hunian ibu ijin ikan indonesia Info Informasi Information Inggris Inspirational interior Internet Intertainment izin jadwal jakarta janin jantung jati Joke jokowi kamar kamarmandi kampus kantor. karyailmiah keguguran kemenag kemenkes kendala kerja kesanggupan kesenian kesepakatan keterangan kisi kkm klaim Komik Komputer kontrak kop korea lagu lamaran lambung legalisir lemari Lifestyle ligna Linux lirik Lirik Lagu Lowongan Kerja magang mahasiswa makalah Malignant Fibrous Hystiocytoma marketing Matematika mebel medan meja melahirkan menikah merk mesothelioma mesothelioma data mimisan mimpi minimalis Misteri mobil modern modul motivasi motor mp3 mual mulut mutasi Naruto news ngidam nikah nisn noah nodul nomor surat Novel novil Olah Raga Olahraga olympic opini pagar panggilan paper paspor paud pelatihan pembelian pemberitahuan pemerintah penawaran pendidikan pengantar pengertian pengesahan pengetahuan pengumuan pengumuman pengumumna Pengunduran pengurusan penyakit penyebab perjanjian perkembangan Permohonan pernyataan perpanjangan persiapan bisnis Pertanian perumahan perusahaan perut peta phones photo Pidato pilkada pimpinan pindah plpg PLS postcard pringatan Printer Tips profil Profil Boyband properti property proposal prumahan Psikologi-Psikiater (UMUM) Puisi quote Ramalan Shio rekomendasi relaas resensi resignation resmi Resume rpp ruang rumah rupa sakit sambutan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) second sejarah sekat sekolah Selebritis seni sergur series sertifikat sertifikat tanah sinopsis Sinopsis Film Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan sitemap skripsi sm3t smd sni snmptn soal Software sosial springbed starbol stnk sukhoi sumatera surabaya surat suratkuasa Surveilans Penyakit tafsir tahap Tahukah Anda? tanda tas television teraphy Tips Tips dan Tricks Seks Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum toko Tokoh Kesehatan top traditional tsunami tugas ucapan ujian uka un undangan undian universitas unj unm unp upi uu Video virus walisongo wanita warnet