Tanaman Jagung
PENDAHULUAN
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yg terpenting, selain gandum & padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah & Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura & Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dgn istilah tepung jagung atau maizena), & bahan baku industri (dari tepung biji & tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yg dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yg telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Banyak pendapat & teori mengenai asal tanaman jagung, tapi secara umum para ahli sependapat bahwa jagung berasal dari Amerika Tengah atau Amerika Selatan. Jagung secara historis terkait erat dgn suku Indian, yg telah menjadikan jagung sebagai bahan makanan sejak 10.000 tahun yg lalu.
• Teori Asal Asia
Tanaman jagung yg ada di wilayah Asia diduga berasal dari Himalaya. Perihal ini ditandai oleh ditemukannya tanaman keturunan jali (jagung jali, Coix spp) dgn famili Aropogoneae.Kedua spesies ini mempunyai lima pasang kromosom. Namun teori ini tidak mendapat banyak dukungan.
• Teori Asal Andean
Tanaman jagung berasal dari dataran tinggi Andean Peru, Bolivia, & kuador. Perihal ini dukung oleh hipotesis bahwa jagung berasal dari Amerika elatan & jagung Andean mempunyai keragaman genetic yg luas terutama di daratan tinggi peru. kelemahan teori inia adalah ditemukannya kerabat liar seperti teosinte di dataran tinggi tersebut. Mangelsdorf seorang ahli biologi evolusi yg menghususkan perhatian pada tanamn jagung menampik hipotesis ini.
• Teori Asal Meksiko
Banyak ilmuwan percaya bahwa jagung berasal dari Meksiko, karena jagung & spesies liar jagung teosinte sejak lama ditemukan di daerah tersebut, & masih ada di habitat asli hingga sekarang. Ini juga mendukung ditemukannya fosil tepung sari & tongkol jagung dalam gua, & kedua spesies mempunyai keragaman genetic yg luas. Teosinte dipercaya sebagai nenek moyg tanaman jagung. Jagung telah dibudidayakan di Amerika Tengah mecsiko bagian selatan sekitar 8000 – 10.000 tahun yg lalu.dari penggalian di temukan jagung berukuran kecil, yg diperkirakan usianya mencapai sekitar 7000 tahun. Menurut pendapat beberapa ahli botani teosinte Zea mays spp.sebagai nenek moyg tanaman jagung merupakan tumbuhan liar yg berasal dari lembah sungai Balsas. Lembah di meksiko selatan. Bukti genetic antropologi arkeologi menunjukkan bahwa daerah asal jagung adalah di Amerika Selatan daerah ini jagung tersebar & di tanam di seluruh dunia.
1.2 Botani Tanaman Jagung
Klasifikasi Tanaman :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif & paruh kedua buat tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yg dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini.
Jagung hibrida di ladang.
Akar jagung tergolong akar serabut yg dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yg sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yg membantu menyangga tegaknya tanaman.
Batang jagung tegak & mudah terlihat, sebagaimana sorgum & tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yg batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yg muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah & helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dgn ibu tulang daun. Permukaan daun ada yg licin & ada yg berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yg khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.
Jagung memiliki bunga jantan & bunga betina yg terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yg disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning & beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang & pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, & disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap buat penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri).
1.3 Syarat Tumbuh
Jagung ini kebanyakan ditanam di dataran rendah baik, sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebahagian terdapat juga di daerah pergunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut.
Tanah
Tanah yg dikehendaki adalah gembur & subur, kerana tanaman jagung memerlukan aerasi & pengairan yg baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yg paling baik bagi pertumbuhannya. Tanah-tanah berat masih dapat ditanami jagung dgn pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dgn baik.
Air tanah yg berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yg dibuat diantara barisan jagung. Kemasaman tanah (pH) yg terbaik buat jagung adalah sekittir 5,5 – 7,0. Tanah dgn kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dgn arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, dgn maksud buat mencegah keganasan erosi yg terjadi pada waktu turun hujan besar,
Iklim
Faktor-faktor iklim yg terpenting adalah jumlah & pembagian dari sinar matahari & curah hujan, temperatur, kelembaban & angin. Tempat penanaman jagung mesti mendapatkan sinar matahari cukup & jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum buat pertumbuhan jagung adalah antara 23 – 27 C.
1.4 Program pemuliaan pada tanaman jagung
Pemuliaan tanaman merupakan suatu metode eksploitasi potensi genetik tanaman buat mendapatkan kultivar atau varietas unggul baru yg berdaya hasil & berkualitas tinggi pada kondisi lingkungan tertentu (Guzhov 1989, Stoskopf et al. 1993, Shivanna and Sawhney 1997, Mayo 1980). Eksploitasi potensi genetik tanaman semakin gencar setelah dicetuskannya revolusi hijau. Sejak itu, pemulia tanaman telah berhasil memperbaiki tanaman buat sifat kualitatif maupun kuantitatif yg mempengaruhi penampilan agronomis maupun preferensi konsumen menggunakan pengamatan fenotipik yg dibantu dgn metode statistik yg tepat. Beberapa masalah yg sering muncul melalui pendekatan tersebut seperti yg disarikan oleh Lamadji et al. (1999) di antaranya adalah (i) memerlukan waktu yg cukup lama; (ii) kesulitan memilih dgn tepat gen-gen yg menjadi target seleksi buat diekspresikan pada sifat-sifat morfologi atau agronomi karena penampilan fenotipe tanaman bukan hanya ditentukan oleh komposisi genetik, tapi juga oleh lingkungan tumbuh tanaman; (iii) rendahnya frekuensi individu yg diinginkan yg berada dalam populasi seleksi yg besar buat mendapat hasil yg valid secara statistik; (iv) fenomena pautan gen antara sifat yg diinginkan dgn sifat tidak diinginkan sulit dipisahkan disaat melakukan persilangan. Dgn semakin berkembangnya ilmu pengetahuan & teknologi molekuler pada awal tahun 80an, telah ditemukan teknologi molekuler berbasis DNA. Markah molekuler merupakan alat yg sangat baik bagi pemulia & ahli genetik buat menganalisis genom tanaman. Sistem ini telah merevolusi bidang pemetaan genetik, antara lain dapat digunakan buat menjawab pertanyaan yg berhubungan dgn keragaman genetik, klasifikasi & filogeni yg berhubungan dgn pengelolaan plasma nutfah, & alat bantu dalam pemuliaan & seleksi melalui penandaan gen. Pada akhirnya dapat digunakan sebagai suatu cara buat pengklonan gen yg difasilitasi oleh peta markah molekuler. Tulisan ini membahas beberapa strategi pemanfaatan markah molekuler dalam pemuliaan jagung.
Markah molekuler adalah suatu penanda pada level DNA yg menawarkan keleluasaan dalam meningkatkan efisiensi pemuliaan konvensional dgn melakukan seleksi tidak langsung pada karakter yg diinginkan, yaitu pada markah yg terkait dgn karakter tersebut. Markah molekuler tidak dipengaruhi oleh lingkungan & dapat terdeteksi pada semua fase pertumbuhan tanaman. Oleh karena markah molekuler dapat mengkarakterisasi ,galur-galur secara langsung & tepat pada level DNA sehingga dapat dibentuk kelompok heterotik & pola heterotik, yg dapat memandu para pemulia dalam menyeleksi kandidat tetua hibrida secara cepat, tepat, & efisien. Selain itu, markah-markah tersebut dapat bermanfaat dalam mengidentifikasi perbedaan tanaman secara individu melalui profilprofil unik secara alelik yg diaplikasikan dalam perlindungan kultivar tanaman. Kemiripan genetik dari dua genotipe dapat diperkirakan secara tidak,langsung dari data pedigree & melalui markah molekuler (isozim, protein & markah DNA). Markah DNA dapat digunakan pula sebagai alat bantu seleksi (MAS = Marker-Assisted Selection), di mana seleksi hanya didasarkan pada sifat genetik tanaman, tanpa intervensi faktor lingkungan. Dgn demikian, pemuliaan tanaman menjadi lebih tepat, cepat & relatif lebih hemat biaya & waktu.Teknologi markah molekuler
KEBERHASILAN PERSILANGAN
2.1 Faktor Yg Mempengaruhi Keberhasilan Persilangan
Penyerbukan sering mengalami kegagalan bila dilakukan pada disaat kondisi lingkungan yg tidak mendukung atau dilakukan pada disaat serbuk sari atau kepala putik dalam keadaan belum matang oleh karena itu disaat penyerbukan yg tepat merupakan faktor penting yg mesti diperhatikan agar penyerbukan berhasil dgn baik. Buat melakukan penyerbukan mesti dipilih waktu yg tepat & tidak boleh terlambat dimana pada disaat itu putik maupun serbuk sari dalam keadaan segar, sehat, telah matang, & cuaca mendukung proses persarian dgn baik. Waktu yg baik buat penyerbukan kacang panjang adalah jam 06.00 (sebelum bunga mekar, karena jika bunga telah mekar ditakutkan sudah mengalami penyerbukan sendiri pada bunga yg dijadikan induk jantan).
Selain itu perihal penting yg mesti diperhatikan adalah cara meletakkan serbuk sari dari induk jantan ke atas kepala putik induk betina, & menjaganya jangan sampai kepala putik tersebut kejatuhan serbuk sari dari tanaman lain yg tidak dikehendaki maupun dari tanaman yg sama. Oleh karena itu, setelah polinasi bunga ditutup/ dibungkus menggunakan plastik agar tidak terserbuku bunga lain & tidak rusak).
METODOLOGI
3.1 Bahan & Alat
1. Tanaman Jagung
2. Gunting
3. Kantung Penutup Bunga Jantan
4. Kantung Penutup Bunga Betina
5. Klip / Isolasi
6. Label ( Kertas yg tidak gampang rusak & tinta yg tidak gampang luntur )
3.2 Metode Penyerbukan Pada Tanaman Jagung
1. Pilih individu tanaman yg akan digunakan sebagai tetua.
2. Tutup tassel dgn kertas kedap air sebelum tepung sari masak.
3. Potong ujung tongkol jagung pada tetua betina sebelum silk bunga betina keluar dari kelobot kemudian tutup dgn kertas kedap air.
4. Apabila bunga betina sudah resetif & tepung sari sudah masak, potong bunga jantan di bawah penutupnya lalu goyangkan agar tepung sari keluar, buka penutup tongkol tetua betina, potong ujung silk kira – kira 2 cm diatas bekas pemotongan pertama & lakukan penyerbukan sendiri tutup kembali bunga betina segera setelah diserbuki.
5. Beri lebel yg berisi tanggal penyerbukan, identitas tetua & nama penyerbuk.
6. Sebaiknya polinasi dilakukan beberapa kali agar semua silk terserbuki.
HASIL & PEMBAHASAN
Lakukanlah penelitian terlebih dahulu buat mendapatkan hasil & pembahasan.
Terimakasih banyak sudah berkunjunt semoga bermanfaat.
Dahlan M, Pembentukan benih jagung Hibrida, Risalah lokakarya produksi benih hibrida, perihal 1-13 (Malang: Balai penelitian tanaman pangan, 1992)
Lamadji, M.J., L. Hakim, & Rustidja. 1999. Akselerasi pertanian tangguh melalui pemuliaan nonkonvensional. Prosiding Simposium V Pemuliaan Tanaman. PERIPI Komda Jawa Timur. p. 28-32.
PENGERTIAN AGROINDUSTRI
Makna berkelanjutan (Sustainable) yg didampingi kata agroindustri tersebut, maka pembangunan agroindustri yg berkelanjutan (Sustainable agroindustrial development) adalah pembangunan agroindustri yg mendasarkan diri pada konsep berkelanjutan, dimana agroindustri yg dimaksudkan dibangun & dikembangkan dgn memperhatikan aspek-aspek manajemen & konservasi sumber daya alam. Semua teknologi yg digunakan beserta kelembagaan yg terlibat dalam proses pembangunan tersebut diarahkan buat memenuhi kepentingan manusia masa sekarang maupun masa mendatang. Jadi teknologi yg digunakan sesuai dgn daya dukung sumber daya alam, tidak ada degradasi lingkungan, secara ekonomi menguntungkan & secara sosial diterima oleh masyarakat (Soekartawi 1998, FAO, 1989, Sajise, 1996 ). Dari definisi ini ada beberapa ciri dari agroindustri yg berkelanjutan, yaitu pertama produktivitas & keuntungan dapat dipertahankan atau ditingkatkan dalam waktu yg relatif lama sehingga memenuhi kebutuhan manusia pada masa sekarang atau masa mendatang. Kedua, sumber daya alam khususnya sumber daya pertanian yg menghasilkan bahan baku agroindustri dapat dipelihara dgn baik & bahkan terus ditingkatkan karena berkelanjutan kerajinan tersebut sangat tergantung dari tersedianya bahan baku. Ketiga, dampak negatif dari adanya pemanfatan sumber daya alam & adanya kerajinan dapat diminimalkan (Soekartawi, 2001).
Kemajuan ilmu & teknologi yg mempengaruhi corak berpikir produsen, konsumen & pelaku pembangunan pertanian dgn memperhatikan pada empat aspek seperti yg disebutkan diatas, yaitu:
1) Pemanfaatan sumber daya dgn tanpa merusak lingkungannya .
2) Pemanfatan teknologi yg senantiasa berubah.
3) Pemanfaatan institusi (kelembagaan) yg saling menguntungkan dan
4) Pemanfaatan budaya (cultural endowment) buat keberhasilan pembangunan pertanian (Soekartawi, 2005).
Keempat aspek inilah yg banyak menentukan keberhasilan pembangunan pertanian yg berkelanjutan.
FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PADA PERTUMBUHAN TANAMAN KACANG
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kacang hijau merupakan salah satu tanaman Leguminosaeyg cukup penting di Indonesia. posisinya menduduki tempat ketiga setelah kedelai & kacang tanah.
Sampai disaat ini perhatian masyarakat terhadap kacang hijau masih kurang. Kurangnya perhatian ini diantaranya disebabkan oleh hasil yg dicapai per hektarnya masih rendah. Di samping itu, panen kacang hijau ini mesti dikerjakan beberapa kali.
Peningkatan produksi kacang hijau dilakukan dgn cara memperbaiki kultur teknis petani, mendapatkan varietas-varietas yg produksinya tinggi & masak serempak, beserta peningkatan usaha pasaca panen.
Dari segi agronmis dapat dilakukan dgn tindakan pengairan, pemupukan NPK & pengaturan jumlah populasi, jarak tanam, sanitasi, pengendalian hama & penyakit tanaman.
Setiap tanaman dalam sikus hidupnya pastiakan mengalami pertumbuhan & perkembangan. Dalam pertumbuhan tanaman kacang hiaju terdapat berbagai faktor pembatas yg akan menentukan periode pertumbuhannya.Faktor-faktor pembatas tersebut secara garis besar terdiri dari faktor abiotik & biotik. Dalam praktikum ini kami ingin mencoba mengetahui faktor-faktor pembatas pada pertumbuhan kacang hijau.
1.2 Tujuan Praktikum
1. Buat mengetahui & mempelajari faktor pembatas abiotik (air) terhadap pertumbuhan tanaman kacang hijau
2. Buat mempelajari faktor pembatas biotik, yaitu persaingan antara individu tanaman dalam perihal penggunaan sumberdaya. Dalam perihal ini adalah faktor cahaya, unsur hara & air terhadap pertumbuhan tanaman yg diekspresikan dalam pertumbuhan melalui indikator pertambahan tinggi, jumlah daun, luas daun, & bobot kering tanaman.
3. Sebagai syarat buat lulus mata kuliah ekologi tanaman.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau
Kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yg berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini.
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Papilionaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiata atau Phaseolus radiatus
2.2 Morfologi Tanaman Kacang Hijau
Tanaman kacang hijau berbatang tegak dgn ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat & berbulu. Warna batang & cabangnya ada yg hijau & ada yg ungu (Soeprapto, 1993).
Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) & letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua.
Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang beserta batang, & dapat menyerbuk sendiri.
Polong kacang hijau berebntuk silindris dgn panjang antara 6-15 cm & biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau & & setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji (Soeprapto, 1993).
Biji kacang hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yg berwarna kuning, cokelat & hitam . Tanaman kacang hijau berakar tunggang dgn akar cabang pada permukaan (Soeprapto, 1993).
2.3 Fungsi Air Bagi Tanaman
Pada fase perkecambahan, prose yg pertama terjadi adalah imbibisi, air berfungsi sebagai penstimulir metabolisme & sebagai pelarut dalam perubahan & pengangkutan cadangan makanan kepada seluruh bagian tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh dgn baik. Air diperlukan dalam proses pelarutan garam-garam mineral dalam tanah, alat angkut zat hara dalam tanah melalui akar, sintesis karbohidrat, sintetis protein & sebagai alat angkut zat-zat makanan ke bagian tanaman (Rusmana, 2002). Secara garis besar fungsi air bagi tanaman adalah (Rusmana, 2002):
1. Merupakan unsur yg penting dari protoplasma terutama pada meristematik.
2. Sebagai pelarut dalam proses fotosintesis & proses hidrolitik seperti perubahan pati menjadi gula.
3. Bagian yg esensial dalam menstabilkan sel turgor tanaman.
4. Pengatur suhu bagi tanaman, karena air mempunyai kemampuan menyerap panas yg baik.
5. Transpor bagi garam-garam, gas & mineral lainnya dalam tubuh tanaman.
2.4 Kompetisi atau Persaingan
Kompetisi atau persaingan ada dua macam, yaitu: (1) tipe persaingan yg langsung bertindak terhadap organisme lain & (2) tipe persaingan yg didorong buat memenuhi kebutuhan sumberdaya hidup, lebih-lebih kalau persediaan sumberdaya kurang. Misalnya persaingan buat memperoleh cahaya, air & unsur-unsur hara. Apabila kedua belah pihak sama sekali tidak saling mempengaruhi, maka mereka tidak menjalankan interaksi, mereka mengikuti netralisme (Rusmana, 2002).
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Tempat & Pelaksaan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di green house Jurusan Agronomi Fakultas Pertanian - Untirta . Praktikum dilaksanakan dari bulan April hingga Juni 2007.
3.2 Alat-alat
Alat-alat yg digunakan dalam praktikum ini antara lain:
1. Cangkul
2. Ember
3. Timbangan
4. Penggaris
5. Oven
6. Label
7. Benang
8. Ajir
9. Polybag
10. Gunting
Bahan-bahan yg digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Benih kacang hijau ( kurang lebih 1 kg)
2. Pupuk NPK
3. Tanah (Media tanam)
4. Fura& 3-G
5. Air
3.3 Cara Kerja
a. Setiap kelompok praktikum menyiapakan 6 polybag yg diisi dgn media tanam (tanah) 10 kg/ polybag & diberi urut nomor 1-6.
b. Dari ke-6 polybag tersebut, tiga polybag (1-3) masing-masing ditanami benih dgn jumlah tiga biji buat setiap polybag sedangkan tiga polybag berikutnya (4-6) ditanami masing-masing ditanam sebanyak 10 biji buat setiap polybag. Pada disaat tanam buat mengendalikan ulat hama tanah digunakan fura& 3G.
c. Ke-6 polybag tersebut ditempatkan dirumah kaca FP & tanamannya dipelihara sesuai dgn perlakuan yg ditetapkan.
d. Pada umur 1 MST (Mnggu Setelah Tanam) dilakukan penjarangan. Polybag nomor1-3 ditinggalkan satu tanaman buat setiap polybag (upayakan tanaman yg ditinggalkan seragam) sedangkan polybag nomor 4-6 ditinggalkan lima tanaman (upayakan yg seragam).
3.4 Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap komponen pertumbuhan buat mendapatkan informasi tentang :
a. Pertambahan tinggi tanaman
Setelah kecambah muncul & tanaman muncul, setiap praktikum kami mengamati pertambahan tinggi tanaman dgn cara mengukurnya menggunakan mistar & mencatatnya pada setiap tujuh hari sekali dimulai dari 2 MST sampai denag 6 MST. Sebelum dilakukan pencatatan & pengukuran tinggi tanaman. Pada 1 MST dilakukan penjarangan pada setiap polybag. Tanaman lain yg tidak terpilih dibuang dgn cara dipotong dgn menggunakan gunting, jangan dicabut.
b. Jumlah & luas daun
Setelah tanaman tumbuh kami melakukan pengamatan jumlah & luas daun tanaman. Jumlah & luas daun tanaman dicatat & diamati setiap tujuh hari sekali dimulai dari 2 MST.
c. Bobot kering tanaman
Bobot kering tanaman dihitung dgn cara mengeringkan seluruh bagian tanaman dgn cara menggunakan oven kemudian dilakukan penimbangan & dicatat. Pengeringan pada oven dilakukan pada 6 MST, setelah dilakukan pengamatan terakhir.
HASIL PENGAMATAN & PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan setelah 6 MST, didapat data-data hasil praktikum ini. Hasil pengamatan disajikan dalam tabel 1 sampai 4.
4.1.1 Pertambahan Tinggi Tanaman
Setelah kecambah muncul & tanaman tumbuh, kami mengamati pertambahan tinggi tanaman dgn cara mencatatnya setiap kali kami melakukan pengukuran. Berdasarkan pengamatan yg telah kami lakukan didapat pertambahan tinggi tanaman yg disajikan pada tabel:
Tabel 1. Data Pengamatan Tinggi Tanaman
(tidak ditampilkan)
Pada tabel satu menunjukan bahwa, pada akhir pengamatan tinggi tanaman dgn perlakuan pemberian air tiap hari & populasi satu tanaman menghasilkan tinggi tanaman paling tinggi, yaitu sebesar 57 cm. Sedangkan pada perlakuan pemberian air tiap hari & populasi lima tanaman menhasilkan tinggi tanaman paling pendek,yaitu 37,22 cm.
4.1.2 Jumlah & Luas Daun
Setelah tanaman muncul kami mengamati jumlah & luas daun tanaman. Jumlah & luas daun tanaman diamati & dicatat setiap satu minggu sekali dimulai dari 7 HST. Berdasarkan pengamatan yg telah kami lakukan diperoleh data jumlah & luas daun yg disajikan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Data Pengamatan Jumlah Daun Tanaman
(Tidak ditampelkan)
Tabel dua pada akhir pengamatan pada peubah jumlah daun terlihat bahwa jumlah daun tanaman kacang hijau pada perlakuan pemberian air tiap hari dgn populasi satu tanaman menghasilkan jumlah daun paling banyak, yaitu sebesar 3, 2 helai daun. Sedangakan pada perlakuan pemberian air tiap hari & populasi lima tanaman menghasilkan jumlah daun paling sedikit, yaitu sebesar 2,12 helai daun.
Tabel 3. Data Pengamatan Luas Daun Tanaman
(tidak ditampilkan)
Tabel tiga pada akhir pengamatan pada peubah luas daun terlihat bahwa daun tanaman kacang hijau pada perlakuan pemberian air tiap hari & populasi satu tanaman menghasilkan luas daun paling luas, yaitu sebesar 226,08 cm2. sedangkan pada perlakuan pemberian air tiap hari & populasi lima tanaman menghasilkan luas daun tanaman kacang hijau paling sempit, yaitu 63,27 cm2.
4.1.3 Bobot Kering
Setelah dilakukan penghitungan bobot kering tanaman dgn cara mengeringkan seluruh bagian tanaman pada oven kemudian dilakukan penimbangan & dicatat didapatkan hasil pada tabel berikut ini :
Tabel 4. Data Pengamatan Bobot Kering Tanaman
(Tidak ditampilkan)
Tabel empat pada akhir pengamatan pada peubah bobot kering terlihat bahwa tanaman kacang hijau pada perlakuan A1 P1, menghasilkan bobot kering paling berat, yaitu sebesar 7,40 g. Sedangkan pada perlakuan A1 P5 menghasilkan bobot kering paling ringan, yaitu sebesar 2,02 g.
4.1 Pembahasan
4.2.1 Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan tanaman merupakan suatu konsep universal dalam biologi & merupakan hasil dari berbagai proses fisiologi yg berinteraksi dalam tubuh tanaman bersama faktor luar. Ketiga proses tersebut yaitu pertambahan ukuran, bentuk & jumlah (Sitompul & Guritno, 1995). Pertumbuhan, dalam arti terbatas, menunjuk pada pertambahan ukuran yg tidak dapat balik, mencerminkan pertambahan protoplasma. Pertumbuhan tanaman ditunjukkan oleh pertambahan ukuran & berat kering yg tidak dapat balik (Harjadi, 1988).
Pertumbuhan tanaman yg diamati dalam praktikum ini adalah tinggi tanaman, jumlah daun luas daun & bobot kering tanaman. Pertumbuhan tanaman yg baik menurut Sitompul & Guritno (1995) dipengaruhi oleh faktor dalam & faktor luar tanaman itu sendiri. Faktor lingkungan yg mempengaruhi tanaman diantaranya adalah ketersediaan air, unsur hara, iklim & adanya hama & penyakit.
4.2.2 Komponen Pengamatan
Komponen pengamatan yg diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, & bobot kering tanaman. Hasil praktikum yg dilakukan menunjukkan bahwa perlakuan pemberian air setiap hari & populasi satu tanaman (A1 P1) memberikan hasil yg lebih baik dibandingkan dgn perlakuan pemberian air setiap hari & populasi lima tanaman (A1 P5). Perihal ini diduga bahwa pada populasi lima tanaman terjadi persaingan dalam pemanfaatan sinar matahari, air & unsur hara. Perihal ini sesuai dgn pendapat Harjadi (1988) yg menyatakan bahwa populasi yg padat akan jarak tanam yg sempit akan mempengaruhi keefisienan penggunaan sinar matahari, juga mempengaruhi kompetisi antar tanaman dalam menggunakan air & zat dgn demikian akan mempengaruhi komponen hasil.
Dari komponen pengamatan bobot kering terlihat yg paling berat berasal dari perlakuan penggunaan air tiap hari & populasi satu tanaman. Perihal ini dikarenakan bahwa tinggi tanaman & jumlah daun akan sangat mempengaruhi bobot kering & luas daun tanaman sedangkan luas daun akan mempengaruhi proses fotosintesis dalam menghasilkan total asimilat tanaman (Sitompul & Guritno, 1995).
Dgn pemberian air setiap hari trelihat sekali vigor tanaman tegak & tidak mudah rusak beserta tanaman tidak menjadi layu. Tanaman membutuhkan air yg cukup selama pertumbuhan & perkembangannya. Kebutuhan air suatu tanaman dapat diartikan sebagai jumlah air yg diserap & ditranspirasikan oleh tanaman (dalam kg) buat membentuk 1 g bahan kerin. Kebutuhan tanaman akan air buat perkembangannya sangat bergantung pada banyak faktor, di antaranya adalah: (1) tipe & fase pertumbuhan, (2) tanah dgn kandungan airnya yg berbeda-beda, & (3) cuaca (Rusmana, 2002).
Cekaman air akan mempengaruhi pertumbuhan & perkembangan beserta hasil tanaman karena terjadi perubahan pada anatomi, morfologi, fisiologi & biokimia tanaman yg pada akhirnya akan menurunkan produktivitas tanaman (Rusmana, 2002).
Mengingat praktikum ini dilaksanakan di green house yg setiap siang hari suhu selalu fluktuatif maka pemberiaan air tiap hari akan membantu menstabilkan suhu tanah & tanaman. Perihal ini sesuai dgn pendapat Rusmana (2002) bahwa salah satu fungsi air adalah pengatur suhu bagi tanaman, karena air mempunyai kemampuan menyerap panas dgn baik.
PENUTUP
5.1 Simpulan
Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman kacang hijau yg ditanam pada populasi satu tanaman & pemberian air setiap hari memberikan hasil yg paling baik dari pada populasi lima tanaman & pemberian air tiap hari. Dgn perlakuan populasi satu tanaman & pemberiaan air tiap hari memberikan tinggi tanaman tertinggi yaitu 57 cm, jumlah daun terbanyak yaitu 3,2 helai, luas daun terluas 226, 08 cm2 & bobot kering 7,40 g.
Sedangkan pada perlakuan poulasi lima tanaman & pemberian air tiap hari menghasilkan tinggi tanaman terpendek yaitu 37,22 cm, jumlah daun 2,12 helai daun. & luas daun paling sempit yaitu 58,81 cm2., bobot kering paling ringan yaitu 2,02 g.
5.2 Saran
Dari hasil percobaan yg telah kami laksanakan maka kami menyarankan :
1. Bahwa dalam penanaman kacang hijau perlu dilakukan pemeliharaan seperti penyiraman secara teratur sesuai dgn kebutuhan tanaman kacanag hijau.
2. Jarak tanam perlu diatur & populasi jangan terlalu padat pada areal yg sempit agar tidak terjadi persaingan dalam memanfaatkan sumberdaya, seperti sinar matahari, air, & unsur hara.
3. Dalam penganbilan pengukuran data hendaknya stu orang tersebut saja yg mengukurnya agar tidak terjadi kesalahan dalam penghitungan komponen pengamatan.
4. Dalam menyiram tanaman di polybag hendaknya tidak mengganggu kelompok lain yg bukan jadwal penyiramannya. Hendaknya menyiram tanamannya dibawah yaitu di lantai.
Harjadi, M.M.Sri Setyati. 1988. Pengantar Agronomi. Gramedia: Jakarta.
Rusmana. 2002. Diktat Mata Kuliah Ekologi Tanaman. Jurusan Agronomi. Faperta- Untira. Serang.
Rusmana. 2007. Petunjuk Praktikum Mata Kuliah Ekologi Tanaman. Jurusan Agronomi. Faperta-Untirta. Serang
Sitompul & Guritno. 1995. Analisa Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sumadi, Soeprapto Hardjo. 1993. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Silahkan download buat versi word + tabelnya disini
HAMA TANAMAN KEDELAI
Ulat Grayak (Spodoptera litura/Prodenia litura)
Ulat grayak yg masih muda berwarna kehijauan, sedangkan ulat dewasanya berwarna kecokelatan atau abu-abu gelap & berbintik-bintik hitam beserta bergaris-garis keputihan. Ulat grayak berumur 20 hari buat kemudian menjadi kepompong tersebut berada dalam tanah.
Ulat grayak memakan daun & memakan polong-polong yg masih muda. Daun yg diserang ulat grayak berlubang-lubang, kemudian menjadi robek-robek. Pada serangan berat, daun tinggal tulang-tulangnya saja. Ulat grayak menyerang tanaman pada malam hari. Pada siang hari, ulat grayak bersembunyi di dalam tanah atau di tempat-tempat teduh seperti di balik daun. Ulat grayak memiliki kemampuan merusak tanaman kedelai sangat besar. Seekor ulat dewasa yg hidup pada tanaman umur 1-2 minggu dapat menyebabkan tanaman tidak berbuah sama sekali (Mahrita Wilis & Muhammad Thamrin, 1994).
Pencegahan & pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dgn cara-cara sebagai berikut:
a. Dgn penggenangan sedisaat & membunuh ulat-ulat yg berada di dalam tanah, karena dgn genangan air dapat menyebabkan ulat tidak dapat bernapas & segera mati.
b. Sanitasi kebun
c. Penanaman serempak dalam satu hamparan lahan yg luas
d. Memangkas daun yg menjadi sarang telur, kemudian dikumpulkan & dibakar.
e. Dgn menyebarkan musuh alamiahnya, seperti Bacillus thuringiensis & Borrelinavirus litura.
f. Memunguti ulat, lalu membunuhnya
g. Menangkap kupu-kupunya dgn menggunakan perangkap lampu minyak yg dibagian bawahnya diberi baskom yg berisi air & minyak tanah, lalu dibunuh.
h. Pengolahan tanah yg intensif dapat membunuh kepompong & ulat yg bersembunyi di dalam tanah.
i. Dgn penyemprotan insektisida, misalnya Curatron 500 EC, Matador, Decis 2,5 EC, Cateya 500 EC, atau Crowen 113 EC.
j. Dgn menggunakan perangkap feremoid sex (sex pheromone). Misalnya dgn ugratas biru yg dipasang dalam botol plastik volume 500 ml atau 1.000 ml, buat lahan seluas 1 hektar tanaman kedelai dapat dipasang 15 botol.
KACANG HIJAU
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kacang hijau merupakan salah satu tanaman Leguminosaeyg cukup penting di Indonesia. posisinya menduduki tempat ketiga setelah kedelai & kacang tanah.
Sampai disaat ini perhatian masyarakat terhadap kacang hijau masih kurang. Kurangnya perhatian ini diantaranya disebabkan oleh hasil yg dicapai per hektarnya masih rendah. Di samping itu, panen kacang hijau ini mesti dikerjakan beberapa kali.
Peningkatan produksi kacang hijau dilakukan dgn cara memperbaiki kultur teknis petani, mendapatkan varietas-varietas yg produksinya tinggi & masak serempak, beserta peningkatan usaha pasaca panen.
Dari segi agronmis dapat dilakukan dgn tindakan pemupukan NPK & pengaturan jumlah populasi, jarak tanam, sanitasi, pengendalian hama & penyakit tanaman.
1. Tujuan Praktikum
Buat mempengaruhi dosis pupuk jumlah populasi tanaman kacang hijau.
2. Sebagai syarat buat lulus mata kuliah dasar-dasar agronomi.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Tanaman Kacang Hijau
Kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yg berumur pendek (kurang lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini.
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Famili : Papilionaceae
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiata atau Phaseolus radiatus
Morfologi Tanaman Kacang Hijau
Tanaman kacang hijau berbatang tegak dgn ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat & berbulu. Warna batang & cabangnya ada yg hijau & ada yg ungu.
Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) & letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hiaju tua.
Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang beserta batang, & dapat menyerbuk sendiri.
Polong kacang hijau berebntuk silindris dgn panjang antara 6-15 cm & biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau & & setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji.
Biji kacang hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yg berwarna kuning, cokelat & hitam . Tanaman kacang hijau berakar tunggang dgn akar cabang pada permukaan.
Peranan Agronomi N,P,K.
Suplai nitrogen di dalam tanah merupakan faktor yg sangat penting dalam kaitannya dgn pemeliharaan atau peningkatan kesuburan tanah. Peranan N terhadap pertumbuhan tanaman adalah jelas, karena senyawa organik di dalam tanaman pada umumnya mengandung N anatara lain asam-asam amino, enzim & bahan lainnya yg menyalurkan enersi (Nyakpa, 1988).
- dapat mempengaruhi pertumbuhan & produksi tanaman. Terhadap pertumbuhan tanaman, - adalah dapat merangsang perkembangan perakaran tanaman. Terhadap produksi tanaman, P mempertinggi hasil beserta berat bahan kering, bobot biji, memperbaiki kualitas hasil beserta mempercepat masa kematangan. Sedangkan pengaruhnya terhadap resistensi penyakit dapat dikatakan bahwa P mempertinggi daya resistensi terhadap serangan penyakit terutam cendawan (Nyakpa, 1988).
Kalium di dalam tanaman dapat berfungsi buat menguatkan jerami tanaman sehingga tanaman tidak mudah rebah. Terhadap produksi tanaman akan mempertinggi hasil produksi & memperbaiki kualitas hasi. Selanjutnay kalium akan mempertinggi resistensi tanaman terhadap serangan penyakit, terutama terhadap penyakit oleh cendawan (Nyakpa, 1988).
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Tempat & Pelaksaan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di dekat green house jurusan agronomi fakultas pertanian - untirta . Praktikum dilaksanakan dari bulan April hingga Juni 2007.
3.2 Alat-alat
Alat-alat yg digunakan dalam praktikum ini antara lain:
1. Cangkul
2. Ember
3. Timbangan
4. Penggaris
5. Oven
6. Label
7. Benang
8. Ajir
Bahan-bahan yg digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Benih kacang hijau ( kurang lebih 1 kg)
2. Pupuk NPK
3. Tanah
4. Polybag
5. Furadan
6. Curacron 250 ml
3.3 Cara Kerja
1. Siapkan alat & bahan yg dibutuhkan
2. Pilih benih yg sehat
3. Buat media dgn campuran tanah & pupuk kandang (2:1), masukkan ke dalam polybag kurang lebih 5 kg.
4. Masukkan sesuai dgn dosis pemupukan (0,50,100,150) masing-masing dgn 1,2,3 populasi benih dgn 3x ulangan.
5. Penyiraman dilakukan setiap pagi & sore, secukupnya.
3.4 Pengamatan
Setiap minggu sampai panen terhadap :
1. Tinggi tanaman
2. Jumlah daun
3. Jumlah polong
4. Bobot biji
5. Luas daun
6. Berat basah
7. Berat kering
8. Amati hama atau penyakit yg ada
HASIL & PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Dari hasil pengamatan selama 9 MST (Minggu Setelah Tanam) dalm praktikum dasar-dasar organisasi ini telah didapat data mengenai parameter pengamatan tinggi, jumlah daun, luas daun, jumlah polong tanaman kacang hijau. Kesemua data tersebut disajikan dalam tabel.
4.1.1 Parameter Pengamatan Tinggi Tanaman
Dari praktikum yg telah kami laksnakan, didapatkan data tinggi tanaman kacng hijau sebagai berikut :
4.2 Pembahasan
4.2.1 Keadaan umum tanaman & lingkungan
Selama pengamatan berlangsung terlihat pertumbuhan tanaman mempunyai vigor yg baik. Namun selama pengamatan berlangsung terlihat beberapa tanaman terserang hama pada minggu ke- 6 yg menyebabkan beberapa tanaman bagian daunnya dimakan & ada pula yg menggerek batang. Serangan hama ini umumnya pada disaat praktikum disebabkan oleh belalang. Namun kami bersyukur tidak ada tanaman yg sampai mati. Oleh penyebab itu diakukan pengendalian dgn cara kimiawi yaitu menggunakan insektisida jenis Curacron 250 ml. Agar tidak mengganggu jumlah data & variabel yg diamati, bagian tanaman yg terserang hama dalam laporan ini kami masukkan setiap terjadi pertambahan variabel pertumbuhan tanpa mengurangi jumlah tanaman yg terserang hama. Maksudnya setiap bagian tanaman yg terserang hama tetap dihitung buat minggu selanjutnya.
4.2.2 Pertumbuhan Tanaman
Pertumbuhan, dalam arti terbatas, menunjuk pada perambahan ukuran yg tidak dapat balik, mencerminkan bertambahnya protoplasma, yg mencerminkan pertambahan protoplasma. Perkembangan, diartikan pada diferensiasi, suatu perubahan dalam tingkat lebih tinggi yg menyangkut spesialisasi & organisasi secara anatomi & fisiologi. Pertumbuhan tanaman ditunjukkan oleh pertambahan ukuran & berat kering yg tidak dapat balik (Harjadi, 1988).
Dalam praktikum ini didapatkan data pengamatan tinggi tanaman kacang hijau yg paling tinggi pada perlakuan NPK 1 (diberi NPK dgn populasi satu tanaman) dgn nomor polybag 3 yaitu sebesar 46 cm. Perihal ini diduga karena unsur N berperan pertumbuhan & reproduksi tanaman. Perihal ini sesuai dgn pendapat Nyakpa (1988) bahwa bilamana terjadi kekurangan unsur hara N maka pada tanaman akan terjadi penghentian proses pertumbuhan & reproduksi sedangkan bila jumlahnya cukup tersedia akan membantu dalam proses pertumbuhan organ vegetatif pada umumnya. Nitrogen mesti tersedia di dalam tanaman sebelum terbentuknya sel-sel baru, karena pertumbuhannya tidak dapat berlangsung tanpa N. sedangkan panjamg batang terendah didapat pada perlakuan NPK 3 (pemberian NPK dgn 3 populasi) yaitu sebesar 31,17. Perihal ini diduga karena jumlah populasi yg banyak dalam polybag akan mempengaruhi dalam perebutan unsur hara, sinar matahari, air & sebagainya (pemanfaatan sumberdaya). Perihal ini sesuai dgn pendapat Harjadi (1988) bahwa pada jumlah poulasi yg terlalu banyak & jarak tanam yg rapat akan terjadi persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya yg ada seperti unsur hara, air sinar & matahari.
Demikian juga dgn jumlah daun yg terbanyak dimilki oleh perlakuan NPK 1 yaitu sebanyak 7 helai daun. Pada parameter pengamatan jumlah polong pun, jumlah polong terbanyak dihasilkan dari perlakuan NPK 1 sebanyak 5 buah. Perihal ini diduga bhwa tanah yg mengandung unsur N yg cukup akan membantu dalam proses pembentukan polong pada tanaman kacang-kacangan. Perihal ini sesuai dgn pendapat (Nyakpa, 1988) bahwa nitrogen mepunyai peranan agronomik dalam peningkatan hasil panen, misal peningkatan jumlah polong pada tanaman kacang-kacangan.
Sedangkan pada luas daun tertinggi dihasilkan pada perlakuan kontrol dgn populasi satu tanaman yaitu sebesar 256,89 cm2. Meski menghasilkan luas daun yg terbesar tapi pada kontrol tidak mampu menhasilkan jumlah polong yg banyak.
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari hasil praktikum ini didapatkan simpulan sebagai berikut:
1. Pemberian pupuk NPK terhadap pertumbuhan & hasil tanaman kacang hijau memberikan respon yg baik.
2. Jumlah populasi satu tanaman mengalami pertumbuhan yg baik terhadap dari pada jumlah populasi tiga tanaman.
5.2 Saran
Dari hasil praktikum yg telah dilaksanakan dapat disrankan sebagai berikut
1. Dalam pngamatan terutama pengukuran hendaknya stu orang saja yg mengukur agar tidak terjadi distorsi.
2. Pengaturan jumlah populasi lebih baik satu tanaman, dalam menanam jangan terlalu banyak populasi & jarak tanam jangan terlalu sempit atau rapat.
Fatmawati, Andi Apryani. 2007. Petunjuk Praktikum Dasar-dasar Agronomi. Jurusan Agronomi-Faperta Untirta. Serang.
Harjadi, M.M. Sri Setyati. 1988. Pengantar Agronomi. Gramedia: Jakarta.
Nyakpa, M. Yusuf, et al. 1988. Kesuburan Tanah. Penerbit Universitas Lmpung. Lampung.
S, H. Soeprapto.1993. Bertanam Kacang Hijau. Penebar Swadaya : Jakarta.
Tjirosoepomo, Gembong. 2004. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANIK
TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANIK
Oleh : Dr. Ir. Ririen Prihandarini MS
Pendahuluan
Memasuki abad ke-21 banyak keluhan-keluhan masyarakat utamanya masyarakat menengah ke atas tentang berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah, pengapuran, & lain-lain, yg disebabkan pola makan. Banyak sekali bahan makanan yg diolah dgn berbagai tambahan bahan kimia. Disamping itu budaya petani yg menggunakan pestisida kimia dgn frekuensi & dosis berlebih akan menghasilkan pangan yg meracuni tubuh konsumen. Adanya logam-logam berat yg terkandung di dalam pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur yg dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga mesti diwaspadai karena sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.
Pada disaat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di negara itu, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, & perihal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi sektor ekonomi (Wood, Chaves & Comis, 2002). Dalam era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka & disaat ini Australia telah mengambil peluang ini dgn mengekspor sayuran organik ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman & Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia & Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia seperti Thailand yg sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi & sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).
Peluang Indonesia menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki 20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yg sangat beragam, ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM (International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya buat pertanian organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yg saling sinergis buat menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen organik terkemuka
Indonesia yg beriklim tropis, merupakan modal SDA yg luar biasa dimana aneka sayuran, buah & tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Survey BPS (2000) menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah, kubis, sawi, wortel & kentang berturut-turut 772.818, 1.336.410, 484.615, 326.693 & 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha. Selanjutnya survey yg dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias & Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8 pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 % adalah sayuran impor (Rizky, 2002).
Sistem Pertanian Organik
Sejak tahun 1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak disaat itu mulai bermunculan berbagai organisasi & perusahaan yg memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik & beberapa produk lainnya. Demikian juga ada produk sayuran bebas pestisida seperti yg diproduksi oleh Kebun Percobaan Cangar FP Unibraw Malang. Walaupun demikian, produk organik yg beredar di pasar Indonesia sangat terbatas baik jumlah maupun ragamnya.
Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yg menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik buat pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yg cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yg sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika perlakuannya kurang tepat.
Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) & pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan pestisida, fungisida pada petani sudah merupakan perihal yg sangat akrab dgn petani kita. Itulah yg digunakan buat mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yg berpotensi sebagai hama tanaman & sekitar 14.000 spesies jamur yg berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.
Alasan petani memilih pestisida sintetik buat mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, & banyak tersedia di pasar. Bahkan selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yg beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik.
Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic & terpadu, mengoptimalkan kesehatan & produktivitas agro ekosistem secara alami beserta mampu menghasilkan pangan & serat yg cukup, berkualitas & berkelanjutan (Deptan 2002).
Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dgn cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dgn diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yg berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yg berkembang yg berkembang pesat sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yg lebih mengutamakan penggunaan pestisida & pupuk kimiawi, walaupun buat sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, & biologi tanah, yg akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan kritis & marginal di Indonesia.
Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan & Amerika Serikat (Koshino, 1993). Pengembangan pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yg pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur & buah segar yg ditanam dgn pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma & tekstur yg lebih baik daripada yg menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam Prihandarini, 1997).
Selama ini limbah organik yg berupa sisa tanaman (jerami, tebon, & sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tapi dianjurkan buat dibakar (agar praktis) sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen ataupun limbah organik lainnya mesti dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat terwujud.
Teknik Budidaya Organik
Teknik Budidaya merupakan bagian dari kegiatan agribisnis mesti berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yg dihasilkan, tapi Bagaimana menghasilkan produk yg dapat dipasarkan. Terkait dgn itu, teknik budidaya mesti mempunyai daya saing & teknologi yg unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tapi mesti secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini mesti mengenal betul apa yg dikerjakannya, mampu membaca situasi & kondisi beserta inovatif & kreatif. Berkaitan dgn pasar (market), tentunya usaha agribisnis mesti dilakukan dgn perencanaan yg baik & berlanjut, agar produk yg telah dikenal pasar dapat menguasai & mengatur pedagang perantara bahkan konsumen & bukan sebaliknya.
Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yg aman, lestari & mensejahterakan petani & konsumen. Berbagai sayuran khususnya buat dataran tinggi, yg sudah biasa dibudidayakan dgn sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var. capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel. (Daucus carota).
Sayuran ini, mengandung vitamin & serat yg cukup tinggi disamping juga mengandung antioksi& yg dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yg ditanam pada disaat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau & pengalih hama. Ada juga tanaman lain yg ditanam buat tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas.
Dalam upaya penyediaan media tanam yg subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi secara perlahan. Buat memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli selalu diberi pupuk kandang ayam dgn dosis 20 ton/ha. Lahan bekas tanaman brokoli selanjutmya dirotasi dgn tanaman wortel yg dalam penanamannya tidak perlu lagi diberi pupuk kandang. Nantinya setelah tanaman wortel dipanen atau 100 hari kemudian, lahan tersebut dapat ditanami brokoli kembali.
Pupuk Organik
Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yg mempunyai ketergantungan pada pupuk yg menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Keadaan ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin & ramah lingkungan.
Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yg melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah & lingkungan, khususnya yg menyangkut unsur pupuk yg mudah larut seperti nitrogen (N) & kalium (K).
Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama & penyakit akibat nutrisi yg tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien & aman lingkungan dapat diterapkan.
Efisiensi penggunaan pupuk disaat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yg berjumlah enam buah telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga disaat ini belum terlaksana. Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yg dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yg cerah & menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.
Upaya pembangunan pertanian yg terencana & terarah yg dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yg mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yg mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dgn adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk & penyesuaian harga jual gabah yg tidak berimbang.
Beberapa penelitian yg menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yg dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dgn menggunakan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah & lingkungan yg timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan.
Industri pupuk organik disaat ini mulai tumbuh & berkembang, beberapa perusahaan yg bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan, antara lain seperti ; PT Trimitra Buanawahana Perkasa yg bekerjasama dgn PT Trihantoro Utama bersama Pemda DKI Jakarta & Pemkot Bekasi yg disaat ini akan mengolah sampah kota DKI Jakarta, PT Multi Kapital Sejati Mandiri yg bekerjasama dgn Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) & Pemda Kabupaten Brebes Jawa Tengah yg mengolah sampah kota & limbah perdesaan. PT PUSRI selain memproduksi pupuk kimia, disaat ini bersama PT Trihantoro Utama & Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta juga memproduksi pupuk organik. Sampah & limbah organik diolah dgn menggunakan teknologi modern dgn penambahan nutrien tertentu sehingga menghasilkan pupuk organik yg berkualitas.
Penggunaan pupuk organik bermanfaat buat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk & dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik buat menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik buat tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, & kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, & tebu) yg diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya buat mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dgn kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.
Beberapa hasil penelitian di daerah Pati, Lampung, Magetan, Banyumas, organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yg dihemat mencapai Rp. 50.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen. Keuntungan yg diperoleh petani kedelai naik rata-rata p. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, & kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998).
Aplikasi pupuk organik yg dikombinasikan dgn separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan. Pengujian lapang terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, & padi) juga menunjukkan hasil yg menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya buat dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen buat tanaman kentang ; 23,01 persen buat jagung ; & 17,56 persen buat padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen buat kentang, 10,98 persen buat jagung, & 25,10 persen buat padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi.
Dgn adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.
Pengendalian Hama & Penyakit yg Organik
Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yg menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik buat pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi.
Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya hama & penyakit tumbuhan. Seperti diketahui, terdapat sekitar 10.000 spesies serangga yg berpotensi sebagai hama tanaman & sekitar 14.000 spesies jamur yg berpotensi sebagai penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik buat mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, & banyak tersedia di pasar.
Cara-cara lain dalam pengendalian OPT selain pestisida sintetik, pestisida biologi & pestisida botani antara lain yaitu cara pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara fisik & mekanis, & cara kultur teknis.
Pestisida dapat berasal dari bahan alami & dapat dari bahan buatan. Di samping itu, pestisida dapat merupakan bahan organik maupun anorganik.
Secara umum disebutkan bahwa pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian yg menghindarkan atau menolak penggunaan pupuk sintetis pestisida sintetis, & senyawa tumbuh sintetis.
OPM versus IPM
Ada istilah yg juga penting buat diketahui yaitu Organik Pest Management (OPM), yaitu pengelolaan hama & penyakit menggunakan cara-cara organik. Selama ini telah lama dikenal istilah Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated Pest Management (IPM). Persamaan diantara keduanya adalah bagaimana menurunkan populasi hama & patogen pada tingkat yg tidak merugikan dgn memperhatikan masalah lingkungan & keuntungan ekonomi bagi petani. Walaupun demikian, ada perbedaan-nya yaitu bahwa pestisida sintetik masih dimungkinkan buat digunakan dalam PHT, walaupun penggunaannya menjadi ‘bila perlu’.
‘Bila perlu’ berarti bahwa aplikasi pestisida boleh dilakukan bila cara-cara pengendalian lainnya sudah tidak dapat mengatasi OPT padaperihal OPT tersebut diputuskan mesti dikendalikan karena telah sampai pada ambang merugikan.
Bila dalam PHT masih digunakan pestisida sintetik, maka PHT tidak dapat dimasukkan sebagai bagian dalam pertanian organik. Akan tetapi, bila pestisida sintetik dapat diganti dgn pestisida alami, yg kemudian disebut sebagai pestisida organik, atau cara pengendalian lain non-pestisida maka PHT dapat diterapkan dalam pertanian organik.
Cara-Cara Pengendalian Non-Pestisida yg Aman Lingkungan
Banyak cara pengendalian OPT selain penggunaan pestisida yg dapat digunakan dalam pertanian organik. Salah satunya yaitu dgn menghindarkan adanya OPT disaat tanaman sedang dalam masa rentan. Cara menghindari OPT dapat dilakukan dgn mengatur waktu tanam, pergiliran tanaman, mengatur jarak tanam ataupun dgn cara menanam tanaman secara intercropping.
Selain itu, penggunaan varietas tahan merupakan suatu pilihan yg sangat praktis & ekonomis dalam mengendalikan OPT. Walaupun demikian, penggunaan varietas yg sama dalam waktu yg berulang-ulang dgn cara penanaman yg monokultur dalam areal yg relatif luas akan mendorong terjadinya ras atau biotipe baru dari OPT tersebut.
Cara fisik & mekanis dalam pengendalian OPT dapat dilakukan dgn berbagai upaya, antara lain dgn sanitasi atau membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman sakit atau hama. Selain itu, hama dapat diambil atau dikumpulkan dgn tangan. Hama juga dapat diperangkap dgn senyawa kimia yg disebut sebagai feromon, atau menggunakan lampu pada malam hari. Hama juga dapat diusir atau diperangkap dgn bau-bauan lain seperti bau bangkai, bau karet yg dibakar & sebagai-nya. Penggunaan mulsa plastik & penjemuran tanah setelah diolah dapat menurunkan serangan penyakit tular tanah. Hama dapat pula dikendalikan dgn cara hanya menyemprotkan air dgn tekanan tertentu atau dikumpulkan dgn menggunakan penyedot mekanis.
Pengendalian dgn cara biologi merupakan harapan besar buat pengendalian OPT dalam pertanian organik. Cara ini antara lain menyang-kut penggunaan tanaman perangkap, penggunaan tanaman penolak (tanaman yg tidak disukai), penggunaan mulsa alami, penggunaan kompos yg memungkinkan berkembangnya musuh alami dalam tanah, & penggunaan mikroba sebagai agen pengendali.
|
| M-BIO merupakan kultur campuran mikroba yg menguntungkan dgn paten CMF-21 diantaranya ; Bakteri Pelarut Fosfat, Lactobacillus sp, Yeast, & Azospirillum sp. Hanya memerlukan waktu sampai 7 (tujuh) hari maka bahan-bahan organik dapat difermentasikan secara sempurna sehingga menjadi PORASI (Pupuk Organik Cara Fermentasi) yg berkualitas. |
|
|
| 1. Mempercepat dekomposisi bahan-bahan organik secara fermentasi. 2. Melarutkan P yg tidak tersedia menjadi bentuk P yg tersedia bagi tanaman. 3. Mengikat Nitrogren udara 4. Menghasilkan berbagai enzim & hormon sebagai senyawa bioaktif buat pertumbuhan tanaman. 5. Menurunkan kadar BOD & COD perairan 6. Menekan bau busuk.
|
|
|
| ~ Petani pemakai & produsen pupuk organik ~ Pemasok pupuk organik ~ Pengusaha tanaman, peternakan & tambak ~ Pengolah limbah organik & TPA sampah kota.
|
|
|
|
|
|
| 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.. | N P K S Mo Fe Mn B | = 0,5 % = 0,1 ppm = 14,6 ppm = 1,9 ppm = 0,2 ppm = 23,6 ppm = 0,5 ppm = 0,1 ppm
|
|
| a. Buat Membuat Porasi Dosis M-BIO : 1 Liter buat 1 ton bahan organik |
| |
|
| Cara Membuat Porasi Larutkan 5 ml (1 sendok makan) M-BIO & 5 gram gula dalam setiap 1 liter air. Siramkan ke dalam bahan-bahan organik yg masih segar (jerami, hijauan, kotoran ternak, dll) yg telah disiapkan atau dipotong-potong sampai merata dgn kelembaban 50% (adonan jika dikepal air tidak keluar & jika dibuka kepalannya adonan mekar). Tutup dgn karung Goni atau bahan lain lalu biarkan. Untuk mempertahankan suhu, maka setiap 4 - 8 jam sekali adonan dibolak-balik selama 4 - 7 hari sehingga adonan tidak panas & tidak bau. Jika masih bau tambahkan kembali larutan M-BIO dgn perlakuan seperti di atas. | ||
|
| b. | Buat Kestabilan Pertumbuhan Tanaman Lakukan Penyemprotan (penyiraman) dgn konsentrasi 1 ml M-BIO per 1 liter air setiap minggu |
|
|
| c. | Buat Ternak Buat Menjaga kesehatan ternak, diminumkan 1 ml M-BIO per 5 - 10 liter air setiap hari. Sedangkan buat menekan bau kandang semprotkan 5 ml M-BIO per 1 liter air. |
|
|
| d. | Buat Tambak / Ikan Buat Sanitasi kolam & pertumbuhan plankton berikan M-BIO sebanyak 5 - 10 ml per 1 liter air atau dgn dosis 5 - 10 liter / ha. |
|
|
| e. | Penyimpanan Simpan ditempat yg kering dgn suhu kamar |
|