INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARD

INTERNATIONAL FINANCIAL REPORTING STANDARD

( IFRS )



Perubahan Lingkungan Pelaporan Keuangan


Teknologi informasi yg berkembang pesat telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan secara dramatis, mengurangi batas jarak fisik & mampu membuat informasi menjadi tersedia diseluruh dunia hanya dgn sekali pencet tombol dalam (Enter) dari komputer. Kemajuan ini membawa jutaan investor (jika tidak milyaran) ke lantai pasar modal di seluruh penjuru dunia. Antusiasnya para investor tidak terhalangi oleh batasan negara, misalnya: investor dari Amerika bisa dgn mudah berinvestasi di Eropa atau di Singapore atau bahkan di Indonesia & Vice Versa.

Ke-efektif-an pasar dunia ini tergantung pada ke-tepat waktu-an dari informasi keuangan yg transparan, dapat dibandingkan & relevan. Bukan hanya investor & analyst yg membutuhkan informasi seperti ini, melainkan juga dibutuhkan oleh stake holder lainnya (pekerja, suppliers, customers, institusi penyedia kredit, bahkan pemerintah). Mereka (stake holders) di jaman globalisasi ini bukan hanya sekedar ingin mengetahui informasi keuangan dari satu perusahaan saja, melainkan dari banyak perusahaan (jika bisa mungkin dari semua perusahaan) dari seluruh belahan dunia, buat tujuan benchmarking, membandingkan antar industri vertical maupun horizontal. Benchmarking adalah sangat krusial jika mau kompetitif dalam global bisnis di masa sekarang ini. Jika tidak, maka akan tergilas.

Pertanyaannya adalah bagaimana kebutuhan ini bisa terpenuhi jika perusahaan – perusahaan masih memakai tata cara, bentuk & prinsip pelaporan keuangan yg berbeda – beda ?


Beberapa standar Akuntansi :

  • Standar Akuntansi USA

Amerika memakai FASB & US GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)

  • Standar Akuntansi Inggris & Eropa

Uni Eropa memakai IAS & IASB

  • Standar Akuntansi Indonesia

Indonesia memakai PSAK – nya IAI

  • Standar Akuntansi lainnya


Standar Akuntansi USA :

  • Tidak ada kodefikasi

  • CAP

  • APB statement

  • FASB



Standar Akuntansi Indonesia :

  • Standar “sound business practices” gaya Belanda

  • PAI & USA

  • PSA

  • PSAK prinsip Amerika

  • PSAK prinsip IASC – IFRS


IFRS adalah tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan keuangannya. Teknik buat menyusun laporan keuangan dibutuhkan standard.

Di Amerika, terdapat standar yg terbagi dalam tiga era :

  1. Standar ditentukan / disusun oleh manajemen

Standar ditentukan / disusun oleh manajemen karena yg membutuhkan adalah pihak manajemen.

  1. Standar ditentukan / disusun oleh profesi

Standar ditentukan / disusun oleh profesi karena profesi yg bertugas buat menyusun & mengaudit laporan keuangan.

  1. Financial Accounting Standard World (FASW)

FASW lahir setelah orang menilai pihak kreditur terlalu dominant dalam menyusun standar akuntansi keuangan.


Standar Akuntansi yg menjadi dua kekuatan besar dunia :

  1. Amerika = FASB & US GAAP

  2. Internasional = Eropa = dibentuk IASC yg kemudian berubah IFRS


Berdirinya IASC :

    • 1973

Ba& Profesi Australia, Canada, France, Jerman, Jepang, Meksiko, Belanda, U.K & USAK yg membentuk IASC.

    • 1975

      • IAS # 1 Disc of Acc Policy keluar

      • IAS # 2 Valuation and Presentation of Inventory in the Context of HC Issued.


Apa yg menimbulkan munculnya IFRS ?


Pada hakekatnya standar Akuntansi focus perhatiaannya hanya kepada Pasar Modal. Kecanggihan teknologi informasi yg berkembang pesat yg telah mengubah lingkungan pelaporan keuangan, mengurangi batasan jarak fisik & mampu membuat informasi menjadi tersedia di seluruh dunia. Jutaan atau bahkan milyaran investor dapat dgn mudah masuk ke lantai Pasar Modal di seluruh penjuru dunia. Para investor tidak terhalangi oleh batasan negara. Para investor dapat dgn mudah ber-investasi di satu negara lain atau bahkan ber-investasi di beberapa negara sekaligus. Misalnya, investor dari negara Jerman bisa dgn mudah ber-investasi di negara Amerika, Perancis, Indonesia & negara – negara lain.

Standar Akuntansi dibutuhkan oleh Pasar Modal & lembaga yg memiliki Agency Problem. Agency Problem adalah masalah jarak antara principle & agent, oleh karena itu dibutuhkan jembatan antara pemilik & buruh atau pekerja yg disebut Agency Relation yaitu informasi. Informasi disini yaitu berupa laporan tentang asset, resources & lainnya yg berhubungan tentang keadaan perusahaan, yg dibuat oleh agent & diserahkan kepada principles (pemilik). Biaya yg dikleuarkan buat menjaga hubungan baik antara principles & agent disebut Agency Cost.


IFRS di Indonesia

    • Di Indonesia selama dalam penjajahan Belanda, tidak ada standar Akuntansi yg dipakai. Indonesia memakai standar (Sound Business Practices) gaya Belanda.

    • Sampai Thn. 1955 = Indonesia belum mempunyai undang – undang resmi / peraturan tentang standar keuangan.

    • Thn. 1974 = Indonesia mengikuti standar Akuntansi Amerika yg dibuat oleh IAI yg disebut dgn prinsip Akuntansi.

    • Thn. 1984 = Prinsip Akuntansi di Indonesia ditetapkan menjadi standar Akuntansi.

    • Akhir Thn. 1984 = Standar Akuntansi di Indonesia mengikuti standar yg bersumber dari IASC.

    • Sejak Thn. 1994 = IAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS.

    • Thn. 2008 = diharapkan perbedaan PSAK dgn IFRS akan dapat diselesaikan.

    • Thn. 2012 = Ikut IFRS sepenuhnya?


Upaya buat memperkuat Arsitektur keuangan global & mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan, membuat International Accounting Standard Boards (IASB) melakukan percepatan harmonisasi standar Akuntansi internasional khususnya International Financial Reporting Standard (IFRS) yg dibuat oleh IASB & Financial Accounting Standard Boards (ba& pembuat standar Akuntansi di Amerika Serikat).

Perkembangan Convergensi ke IFRS di Uni Eropa :

  • 1982 = IFAC mengendors IASC sebagai Global Accounting Standard.

  • 1989 = Federasi Akuntansi Eropa mengendors IASC.

  • 1994 = IASC Advisory Council Approved selaku oversight and finance.

  • 1995 = IASC & IOSCO menandatangani perjanjian agar negara – negara Uni Eropa mesti mengikuti IASs.

  • 1996 = US SEC endors IASC to initiate the dev of global accounting standards.

  • 1997 = IASC Forms SIC Standing Interpretation Committee, Forms SWP (Strategy Working Party).

  • 1998 = IFAC / IASC memperluas kenggotaan menjadi 140 bodies di 101 negara.

  • 1999 = G7 Finance Ministers and IMF Support IASs Strengthen International Financial Structure.

  • 2000 = IASB new chairman Sir David Tweedie appointed.

  • 2001 = IASB dilahirkan sebagai pengganti IASC. Isinya buat melakukan convergensi ke global Accounting standards dgn kualitas :

    1. Single Set and High Quality.

    2. Transparant & komparabel Laporan Keuangan.

    3. Berguna bagi pemain Pasar Modal dunia.

      • 2001 = IASC Foundation Formed, IASB a Standard Setting body IASs and SIC are adopted by IASB.

      • 2002

        • SIC diganti IFRIC (International Financial Reporting Interpretation Committee).

        • Europe requires IFRSs listed companies 2005.

        • IASB & FASB agree on convergence.

          • 2003 = IFRSs # 1 & IFRIC # 1 dikeluarkan.

          • 2004 = IFRSs # 2 – 6 dikeluarkan.

          • 2005 = IASB Board member menjadi IFRIC chairman.


Perkembangan Convergensi standar Akuntansi International khususnya IFRS yg dibuat oleh IASB & FASB.

  • October 2002 = FASB & IASB sepakat buat melakukan langkah buat melakukan convergensi standar Akuntansi US GAAP & IFRSs. Ditandatangani MoU yg disebut “the Norwalk Agreement” yg berisi :

    1. Kedua standar menjadi compatible.

    2. Melakukan koordinasi buat terus memlihara compatibility.


Anggota IASB :

- Sir David Tweedie, Chairman - Gilbert Gelard

- Thomas E. Jones, Vice Chairman - James J. Leisenring

- Mary R. Barth - Warren Mc. Gregor

- Hans - Georg Bruns - Patricia O’Malley

- Anthony T. Cope - Jhon T. Smith

- Jan Engstrom - Geoffrey Whittington

- Robert P. Garnett - Tatsumi Yamada


Proses Convergency

  1. Melakukan pertemuan antara Dewan.

  2. Menyesuaikan agenda termasuk buat mempercepat konvergensi.

  3. Join staffing buat melakukan proyek bersama.

  4. Dalam jangka pendek melakukan revisi buat mengeliminasi inkonsistensi antara kedua standard.

  5. Proyek mengidentifikasi perbedaan mendasar antara kedua standar.

  6. Koordinasi antara FASb emerging Issue task force & IASB’s IFRS interpretation committee.


IFRS STRUCTURE


Keuntungan (kelebihan) jika mengadopsi IFRS

Membuat perubahan ke IFRS, artinya anda sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan global, yg akan membuat perusahaan (business) anda bisa dimengerti oleh global market (pasar dunia). Thus, jika kinerja perusahaan anda memang memiliki nilai jual yg pantas, maka potensi trade yg dihasilkan logikanya akan lebih bagus dibandingkan ketika perusahaan anda belum mengadopsi IFRS dalam pembuatan laporan keluarganya. The big – 5 accounting firm mostly mengatakan bahwa banyak dari perusahaan – perusahaan yg telah mengadopsi IFRS mengalami kemajuan yg significant dalam rangka memenuhi maksud mereka memasuki Pasar Modal dunia (global).

Beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan mengganti angka – angka di laporan keuangan, tapi mungkin akan mengubah pola piker & cara semua element di dalam perusahaan.


Tantangan dari Corporate ke Campus


Bagi perusahaan pada umumnya, yg menjadi bahan pertimbangan apakah akan beralih ke IFRS atau tidak adalah “Apakah implementasi IFRS akan menghasilkan incremental benefit atau tidak?”. Tapi bagi perusahaan – perusahaan yg sudah go international, atau yg memiliki partner dari Uni Eropa, Australia & Russia & beberapa Middle East countries, tentu sudah tidak punya pilihan lain selain “mau tidak mau mesti mulai berusaha menerapkan IFRS” dalam pelaporan keuangannya jika masih mau berpartner dgn mereka.

Perubahan tata cara pelaporan keuangan GAAP (atau PSAK atau lainnya) ke IFRS berdampak sangat luas. IFRS akan menjadi “kompetensi wajib-baru” bagi para pekerja accounting.


Namun sampai disaat ini IFRS belum manjadi one global accounting stanrdar, walaupun standar IFRS telah digunakan oleh lebih 100 negara, termasuk Jepang, China, Kanada & 27 negara Uni Eropa. Sekitar 85 dari negara – negara tersebut mewajibkan laporan keuangan mengunakan IFRS buat semua perusahaan domestic, perusahaan tercatat.


Bagaimana Sikap Indonesia ?



  • Indonesia Mesti siap mengikuti global Accounting Standard kalau ingin masuk dalam dunia global.

  • Kurikulum mesti segera disiapkan mengantisipasi convergensi ini.

  • Literatur mesti disediakan.

  • Dosen & laboratorium juga mesti disediakan buat proses pengajarannya.

PEKERJAAN PERKANTORAN

(OFFICE WORK)

1. Kantor adalah :

  1. Tempat diselenggarakannya kegiatan menangani informasi

  2. Proses menangani informasi, mulai dari menerima, mengumpulkan, mengoilah, menyimpan, sampai menyalurkan atau mendistribusikan informasi.

  3. Setiap tempat dimana pekerjaan kantor dilakukan, dgn sebutan apapun terhadap tempat tersebut.

  4. Unit organisasi yg terdiri dari tempat, staf personalia & operasi ketatausahaan guna membantu pimpinan.

2. Menurut JC. Denyer fungsi kantor adalah buat memberikan pelayanan komunikasi & warkat (surat menyurat) yg secara terinci adalah sebagai berikut :

  1. Buat menerima informasi misalkan surat-surat, harga, kutipan, & sebagainya.

  2. Buat mencatat keterangan misalkan persediaan, harga, & data-data kepegawaian.

  3. Buat menyusu keterangan misalkan pembiayaan, pembukuan, & sebagainya.

  4. Buat memberikan keterangan misalkan faktur-faktur penjualan, estimasi harga, & sebagainya.

  5. Buat menjamin asset misalkan uang tunai, persediaan, & sebagainya.

    1. Hakekat pekerjaan kantor adalah sebagai berikut :

  1. Mengumpulkan keterangan

  2. Mencatat keterangan

  3. Mengolah keterangan

  4. Menggandakan keterangan

  5. Mengirim keterangan

  6. Menyimpan keterangan

    1. Tiga pokok peranan kantor yaitu :

  1. Melayani pelaksanaan pekerjaan operasional guna membantu pelaksanaan perkerjaan pokok buat mencapai tujuan organisasi

  2. Menyediakan keterangan bagi pimpinan organisasi buat membuat keputusan atau membuat tindakan yg tepat

  3. Membantu melancarkan kehidupan & perkembangan organisasi secara keseluruhan

    1. Manfaatnya adalah :

  1. Kelancaran pekerjaan kantor & mencegah kemungkinan kesalahan dalam pekerjaan

  2. Mengurangi keterlambatan atau hambatan

  3. Kontrol yg lebih baik terhadap pekerjaan

  4. Penghematan tenaga kerja & biaya tata usaha

  5. Koordinasi berbagai seksi & bagian dalam organisasi

  6. Kemudahan dalam melatih para pegawai tata usaha

MANAJEMEN PERKANTORAN


  1. Manajemen perkantoran dikutipkan dalam beberapa rumusan

    • George R. Terry

Manajemen perkantoran adalah perencanaan, pengendalian & pengorganosaslan pekerjaan perkantoran, beserta oenggerakan mereka yg melaksanakan agar mencapai tujuan-tujuan yg telah ditentukan.

  • William Leffingwell & Edwin Robinson

Manajemen perkantoran sebagai suatu fungsi adalah cabang dari seni & ilmu manajemen yg berkenaan dgn pelaksanaan pekerjaan kantor secara efisien, bilamana & dimanapun pekerjaan mesti dilakukan.

  • Millis Geoffrey

Manajemen kantor adalah seni membimbing personil kantor dalam menggunakan sarana yg sesuai dgn lingkungannya demi mencapai tujuan yg ditetapkan.

  1. Aspek-aspek manajemen perkantoran

Dalam manajemen perkantoran terdapat berbagai fungsi yg meliputi rangkaian aktivitas antaras lain:

    1. Manajemen & pengarahan

    2. Tata laksana/penyelenggaraan

    3. Pelaksana secara efisien

    4. Manajemen

    5. Pengawasan

    6. Pengendalian & pengawasan

    7. Pengarahan & pengawasan

    8. Pengarahan

    9. Perencanaan, pengendalian & pengorganisasian

Faktor-faktor menurut Edwin Robinson menyebutkan :

  1. pegawai

  2. Material perlengkapan

  3. Persayaratan

  4. Metode

Sedangkan fungsi-fungsi yg terkait lainnya menurut H.Mac Donald (office management) bertalian dgn 6 perihal yaitu :

    1. Kepegawaian perkantoran (office personel)

    2. Metode perkantoran (office methods)

    3. Perlengkapan perkantoran (office equipment)

    4. Faktor-faktor fisik dalam kantor (Physical factor)

    5. Biaya perkantoran (office costs)

    6. Haluan atau kebijakan perkantoran (office policies)


perincian selengkapnya mengenai cakupan bidang kerja dalam manajemen perkantoran oleh Charles O Libbey meliputi :

  1. Ruang perkantoran (office space)

  2. komunikasi (communications)

  3. kepegawaian kantor (office personnel)

  4. perabotan danperlengkapan kantor (furniture and equipment)

  5. peralatan & mesin (appliance and machine)

  6. perbekalan & alat tulis (supplies and stationery)

  7. metode (methods)

  8. tata warkat (records)

  9. kontrol pejabat pimpinan (executive controls)


3.

Bidang kerja

Keterangan

Office space :

  1. space forecasting

  2. space allotment

  3. office layouts

  4. heating and ventilating


  1. air conditioning

  2. acoustics

  3. painting

  4. service facilities

  5. assembly rooms

  6. safety factors

  7. moving offices

  8. alterntions

  9. maintenance

Pueng perkantoran

  • perkiraan kebutuhan ruang

  • penjatahan ruang

  • tata ruang perkantoran

  • pemanasan & peredaran udara

  • pendingin udara

  • pantulan suara

  • lukisan atau pengecatan

  • fasilitas kebersihan

  • ruang pertemuan

  • faktor keselamatan

  • memindahkan kantor

  • perubahan-perubahan

  • pemeliharaan



4. Apabila saya menjadi seorang manajer pendekatan yg saya pilih adalah pendekatan secara peninjauan, karena dgn melakukan review atau peninjauan dalam memimpin kantor atau sebuah organisasi maka akan lebih teliti & spesifik dalam menyelesaikan pekerjaan & masalah-masalah yg terjadi di organisasi.


AGROEKOLOGI INDONESIA



Geografis & Topografis
Secara geografis, Indonesia terletak antara 5,40 LU & 10,80 LS & terdiri dari gugusan beribu-ribu pulau yg tersebar diantara Luatan Hindia & Lautan Pasifik beserta Laut Cina Selatan.
Sesuai dgn proses pembentukannya yg dicirikan oleh banyaknya pegunungan, keadaan fisiografi Indonesia sangat beragam, baik bentuk wilayah, kemiringan, maupun ketinggiannya dari permukaan laut. Keragaman tersebut menyebabkan terdapatnya aneka ragam tipe lahan di Indonesia. Dari wilayah dataran yg sempit (Pantai Barat Sumatera & Jawa bagian Barat) hingga yg lebar (Sumatera bagian Selatan, Kalimantan, & Irian Jaya bagian Selatan).
Ketinggian tempat dari muka laut bervariasi dari 0 m (pantai) higga 5.030 m (puncak Jaya Wijaya Irian Jaya bagian Selatan).
Ketinggian tempat dari muka laut bervariasi dari 0 m (pantai) hingga 5.030 m (Puncak Jaya Wijaya di Irian Jaya).
Dataran yg cukup luas (lebar) yg biasanya terdapat sungai-sungai besar kebanyakan merupakan daerah berdrainase jelek berupa rawa lebak ataupun pasang surut, seperti di Sumatera bagian Selatan & Kalimantan. Wilayah pegunungan & dataran tinggi umumnya berupa hutan hujan tropis yg cukup lebat dgn beranekaragam tipe vegetasi & jenis tumbuhan alamiah.
Dari hampir 192 juta ha total wilayah Indonesia, sekitar 24 juta ha telah diusahakan sebagai lahan pertanian, 114 juta sebagai hutan dalam berbagai kategori, siswanya dalam bentuk padang rumput, padang alang, danau, sungai & lain-lain.
Secara umum Indonesia dinyatakan sebagai daerah beriklim tropis basah (humid tropics) yg isohyper-themic. Penciri utama iklim di Indonesia adalah curah hujan, kemudian diikuti oleh keragaman suhu yg sangat ditentukan oleh tinggi tempat dari permukaan latu (attitude).
Pada umumnya iklim Indonesia dikendalikan oleh peredaran Angin Monsoon Asia, Angin Passat (trade winds) & berbagai angin local yg banyak terkait dgn kondisi fisiografi & posisi geografisnya. Indonesia merupakan zone pertemuan angin yg bertiup dari belahan bumi utara dgn angin dari belahan bumi Selatan yg dikenal dgn zone konvergensi inter tropik (inter-tropical convergence zone ITCZ).
Embut (fluktuasi) intensitas penyinaran surya potensial di Indonesia relatif kecil. Lama penyinaran & interaksi radiasi actual di permukaan cenderung berkorelasi negatif dgn curah hujan.
Suhu rata-rata dari musik kemusim mempunyai keragaman hanya 2-50 dgn pola yg hampir mengikuti radiasi surya. Keragaman suhu antara satu dgn lain lokasi sangat terkait dgn tinggi tempat di atas permukaan laut. Diperkirakan suhu minimum turun sekitar 50 C & suhu maksimum sekitar 60C dgn peningkatan tinggi tempat 1000 m dpl.
Embut & keragaman kelembaban udara & angin umumnya masih dalam kisaran toleransi tanaman. Hanya pada beberapa lokasi & waktu tertentu ia bersifat ekstrim terhadap tanaman dan/atau khusus tertentu, seperti kelembaban yg tinggi dalam kaitannya dgn penyakit & proses pembungaan tanaman. Kelembaban nisbi rata-rata beberapa lokasi pada umumnya berkisar antara 60-96%.

Musim & Agroklimat
Embut, sifat, & keragaman musim di Indonesia selalu dikaitkan dgn curah hujan, yaitu musim hujan (MH) & musim kemarau (MK). Tapi bila ditilik lebih rinci menurut wilayah & dominasi sirkulasi udara atau angin musim, di Indonesia terdapat 4 periode yg kondisi iklim & cuacanya agak berbeda, yaitu periode Desember-Januari-Februari, Maret-April-Mei, Juni-Juli-Agustus, & September-Oktober November.
Selama periode Desember –Januari-Februari, bertiup Angin Passat Timur Laut dari Laut Cina Selatan & Lautan Pasifik yg mencapai kawasan Indonesia sebagai Angin Passat Barat Daya. Di kawasan Indonesia bagian Tenggara, angin tersebut merupakan angin barat yg agak divergen (memencar).
Periode Maret-April-Mei sebagai musim peralihan antara musim hujan & musim kemarau, Angin Passat Barat Daya mulai melemah, kecuali di sekitar Maluku & Irian Jaya, sedangkan Angin Monsoon dari Lautan Hindia menguat sejajar katulistiwa yg onshore (bertiup menghadap garis pantai) dgn pantai barat Sumatera & Kalimantan.
Periode Juni-Juli-Agustus merupakan periode paling kering disebagian besar wilayah Indonesia. Hanya beberapa daerah yg mendapatkan hujan cukup tinggi, sebagai akibat angin local & pengaruh akhir dari Monsoon.
Selama periode September-Oktober-Nopember ITCZ kembali menuju Selatan & Angin Passat & Angin Monsoon dari barat mulai menguat menuju timur.
Oleh Boerman (7) curah hujan di Indonesia dibedakan atas 153 pla/tipe curah hujan dgn kisaran jeluk 500-7000 mm/tahun & 0-700 mm/bulan. Menurut Oldeman et al. (22, 23, 24, 25), bila dikaitkan dgn kebutuhan tanaman, terutama tanaman pangan, curah hujan Indonesia dapat disederhanakan menjadi 14-17 tipe agroklimat.
Buat budidaya tanaman pangan di Indonesia dgn berbagai alternatif komoditas & kombinasi komoditas, secara umum & sederhana, pembedaan wilayah menurut iklim dapat dikaitkan dgn lamanya musim bertanam (growing period) & suhu udara.
Stratifikasi musim bertanam didasarkan oleh umur tanaman pangan kebanyakan berkisar antara 2-3,5 bulan. Sehingga buat tempat dgn musim pertanaman > 9 bulan dapat diusahakan 3 kali pertanaman, 6-9 bulan dapat diusahakan 2-3 kali pertanaman, 4-6 bulan diusahakan 1-2 kali pertanaman, <4>




Tanah
Menurut Dudal & Supraptohardjo (10) di Indonesia terdapat 11 Kelompok Tanah Utama (Great Soil Group), yaitu:
  • Latosol (diseluruh Kepulauan, kecuali Maluku),
  • Podsol (Kalimantan)
  • Podsolik Merah Kuning (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, & Halmahera),
  • Podsolik Coklat Kelabu (Irian Jaya, Halmahera, Maluku, Sumatera, & Sulawesi)
  • Grumusol (Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara)
  • Andosol (Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara)
  • Rendzina (Maluku),
  • Tanah Organik (Kalimantan, Sumatera, Irian Jaya)
Beberapa jenis tanah lainnya seperti Hidromorfik, Gleihumik, & Planosol juga ada, namun terdapat pada areal yg sempit. Beberapa tanah juga dapat dikelompokkan berdasarkan sifat/ciri khas kendala (bagi tanaman), misalnya tanah sulfat masam, tanah salin, tanah alkalin, & tanah keracunan besi.
Tanah di Indonesia mempunyai produktivitas yg berbeda akibat adanya perbedaan kesuburan & sifat fisiknya. Tanah-tanah di daerah beriklim basah lebih banyak bersifat masam & kurang subur (seperti di Indonesia bagian barat), sedangkan di daerah beriklim kering (seperti di Indonesia bagian timur) lebih subur namun sifat fisiknya sering menjadi penghambat dalam pengelolaan pertanian (sering berbatu atau berpasir). Tanah-tanah Grumusol, Andosol, Mediteran, Aluvial, & Latosol mempunyai sifat yg baik bagi pertanian & umumnya siap digunakan. Tanah Regosol & Rendzina hanya terdapat di daerah yg sempit & umumnya dangkal, curam, dan/atau peka terhadap erosi. Tanah Podsolik Coklat Kelabu, Podsolik merah Kuning, & Podsol sebagian besar mempunyai faktor yg pembatas buat pertanian.
Pengelompokan tanah tersebut bertujuan buat menyederhanakan sifat/ciri tanah yg erat kaitannya dgn kebutuhan paket tekonologi tanaman pangan yg akan diterapkan.
Pengelompokkan tanah pada tingkat nasional atau skala kecil yg sesuai buat tingkat agorekologi utama di Indonesia adalah sebagai berikut:
  1. Podsolik, Latosol, Andosol, PMK, & PCK
  2. Aluvial, Rendzina, Planosol, & Hidromorfik
  3. Grumosol
  4. Regosol
  5. Mediteran
  6. Tanah Kompleks

PERTANIAN
Pertanian & infrastruktur
Dari sekitar 24 juta ha lahan pertanian, 16,9 juta ha berupa lahan kering termasuk perkebunan & sekitar 7,1 juta ha merupakan lahan basah. Infrastruktur yg sangat menonjol dalam mencirikan sistem usahatani, khususnya tanaman pangan adalah jaringan irigasi.
Sedangkan penciri umum yg spesifik pada suatu wilayah antara lain, adanya lahan yg selalu tergenang, lahan dataran tinggi dgn suhu yg sangat rendah, kondisi iklim yg kering atau basah.
Bentuk umum sistem usahatani di Indonesia dapat dibedakan antara lain:
  1. Sistem usahatani lahan sawah
  2. Sistem usahatani lahan kering atau tegalan
  3. Sistem usahatani lahan dataran tinggi
  4. Usahatani perkebunan
Lahan pertanian di Indonesia dibedakan atas 6 tipe lahan atau tipe agroekologi pragmatik.
  1. Lahan sawah beririgasi
  2. Lahan sawah tadah hujan
  3. Lahan kering beriklim basah
  4. Lahan kering beriklim kering
  5. Lahan dataran tinggi
  6. Lahan Rawa/Pasang surut

Pertanian Tanaman Pangan
Bagi kebanyakan usahatani tanaman pangan di Indonesia beberapa faktor ekologi dibawah ini perlu diketahui buat mencapai priduktivitas optimal (28).
  1. Masa bertanam (growing period)
  2. Suhu udara
  3. Sifat kimia & fisika tanah
  4. Topografi lahan.
Pengetahuan terhadap keempat faktor ekologi tanaman di atas diperlukan buat menyusun berbagai alternatif pola tanam, pemilihan tanaman/varietas, kultur teknis yg diperlukan beserta pengelolaan tanah & pupuk.

Metodologi Pendekatan
Konsepsi Dasar Pendekatan

Tipo-agroekologi pada prinsipnya adalah pencerminan sifat fisik wilayah dalam kaitannya dgn tanaman, seperti sifat topografis, tanah, ketersediaan air & iklim. Prinsip yg sama juga digunakan dalam pembuatan peta pewilayahan agroekologi utama tanaman pangan, dimana tanaman pangan sebagai indikator utama dalam memilih & pengkriteriaan parameter yg digunakan.
Dgn mengintegrasikan berbagai sifat iklim (peta agroklimat) (2,3), topografi (8, 17) (yg disederhanakan) & kelompok tanah (dari peta tanah) (17, 18, 19, 20) diperoleh peta agroekologi alamiah. Kelompok tanah sangat menentukan cara pengelolaan lahan soil management (pengolahan, pemupukan, drainase, & lain-lain), pemilihan varietas (toleransi terhadap kahat hara, keracunan, & tekanan lingkungan lain). Pengelompokan tanah menurut sistem GSG (great soil group) ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa sistem pengelompokan tersebut lebih mencirikan sifat tanah menurut sifat genesisnya.
Pengelompokkan tanah tersebut masih sangat terbatas di Indonesia. Fisiografi atau topografi, disamping erat kaitannya dgn cara pengelolaan lahan juga menentukan suhu udara yg akan mempersyaratkan tanaman & varietas yg dapat diusahakan.
Musim bertanam (growing period) yg didasarkan kepada jumlah & lamanya curah hujan atau lamanya ketersediaan air ikut menentukan pola tanam & varietas yg ideal (umur, ketahanan kering atau banjir).
Peta agroekologi pragmatis diperoleh dgn menyederhanakan peta-peta agroekologi alamiah dgn menonjolkan & memasukkan faktor tersedianya sarana & prasarana buatan manusia (man-made infrastructure) seperti tersedianya waduk, jaringan irigasi, jalan raya, petakan sawah, sifat spesifik lahan (rawa/pasang surut, suhu rendah/dataran tinggi).

Kriteria & Klasifikasi
Peta Agroekologi Alamiah menggambarkan tipe lahan, fisiografi & iklim secara umum. Tanah dibedakan atas 4 tipe (kelompok) jenis tanah utamanya, yaitu Aluvial, Latosol, Grumosol, & Regosol dan/atau Mediteran beserta kelompok tanah Kompleks.
Sedangkan iklim juga dibedakan atas 4 tipe dgn menonjolkan lamanya masa bertanam buat tanman semusim menurut kriteria Oldeman et al. (22, 23, 24, 25) & FAO (13) yaitu dgn curah hujan rata-rata (jangka panjang) 100 mm/bulan.
Peta agroekologi pragmatis dipilih menjadi 6 wilayah atau tipe agroekologi yg terkait:
        1. Lahan sawah beririgasi (irrigated Lowland)
        2. Lahan sawah tadah hujan (rainfed lowland)
        3. Lahan kering beriklim basah (dryland-wet climate)
        4. Lahan kering beriklim kering (dryland-dry climate)
        5. Lahan dataran tinggi (high altitude area)
        6. Lahan pasang surut & rawa lebak (swampy/tidal areas)

Berdirinya Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia

Popularitas The Jakarta Admen Club bahkan melebihi organisasi resmi yg sebetulnya lebih dulu terbentuk pada tahun 1972, yaitu Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)
Seperti telah dikemukakan pada Bab 1, asosiasi perusahaan periklanan yg pertama berdiri di Indonesia pada tahun 1949 dgn nama Bond van Reclame Bureaux in Indonesia atau dalam bahasa Indonesia disebut Persatuan Biro Reklame Indonesia (PBRI). Nama resminya justru yg berbahasa Belanda, karena pada waktu itu sebagian besar pelaku di industri periklanan adalah orang-orang Belanda maupun keturunan Belanda. Demikian juga para pengurusnya adalah orang-orang belanda & keturunannya. Baru setelah PBRI diketuai oleh orang Indonesia, Muh.Napis,maka pada tahun 1957 diputuskan perhgantian namanya resmi menjadi PBRI. Dgn nama baru itu juga dilekukan penyesuaian istilah dari “perserikatan” menjadi “persatuan”.
Napis adalah seorang tokoh periklanan Indonesia yg ternyata berhasil memimpin PBRI secara terus-menerus hingga memasuki dasawarsa 1970-an. Napis sendiri ternyata sudah jenuh menjadi Ketua PBRI selama belasan tahun, & menganggap bahwa situasi seperti itu dapat mengarah kepada hal-perihal yg tidak demokratis.
Pada tahun 1971, Napis menyelenggarakan referendum di antara anggota PBRI buat memilih ketua yg baru, di samping juga meminta usulan perubahan Anggaran Dasar & Anggaran Rumah Tangga, beserta usulan perubahan kebijakan & strategi. Namun, ternyata referendum itu tidak membuahkan hasil yg diharapkan. Napis tetap secara aklamasi diterima sebagai ketua PBRI.
Pada tahun 1972, Pemerintah Republik Indonesia tiba-tiba merasa perlu buat mengatur industri periklanan. Harsono yg ketika itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Pers & Grafika (Dirjen PPG) Departemen penerangan, memprakarsai diselenggarakannya Seminar Periklanan-forum nasional resmi pertama yg diselenggarakan di Indonesia buat membicarakan arah industri periklanan. Seminar ini diseenggarakan di restoran Geliga, Jalan wahid Hasyim, Jakarta Pusat, dgn ketua penyelenggaraan H.G. Rorimpandey, Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yg ketika itu juga Pemimpin Umum Harian Sinar Harapan.
(catatan penulis: sebetulnya, Christianto Wibisono yg ketika itu menjadi Direktur Majalah Tempo pada tahun 1971 telah menyelenggarakan sebuah seminar periklanan buat mendiskusikan dalam menyikapi masuknya elemen asing ke dalam industri perikalanan Industri Indonesia. Tetapi, lingkup seminar ini masih bersifat terbatas di tataran pelaksana periklanan-bukan pengambil keputusan di tingkat asosiasi & regulator).
Dalam kesempatan itu pemerintah menyatakan bahwa PBRI adalah satu-satunya wadah perusahaan periklanan yg diakui Pemerintah Republik Indonesia. Pernyataan ini tampaknya didorong oleh kenyataan telah hadirnya berbagai perusahaan periklanan yg disponsori pihak asing, & tidak merasa berkepentingan buat menjadi anggota PBRI. Sekalipun pada tahun 1970 Menteri Perdagangan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo telah menerbitkan surat keputusan yg melarang kehadiran perusahaan periklanan asing di Indonesia, namun kenyataannya praktik “Ali Baba” tetap menghadirkan banyak negara asing di industri periklanan Indonesia. Pernyataan Pemerintah itu membuat hampir semua perusahaan periklanan yg baru didirikan sekitar 1970-an kemudian mendaftar-kan diri menjadi anggota PBRI.
Seminar periklanan itu juga memuncukan napas & harapan baru akan munculnya generasi modern periklanan Indonesia. Keinginan buat berorganisasi secara serius pun mulai tampak hidup. Napis pun semakin berharap bahwa penggantinya akan segera muncul.
Kebetulan, pada tahun 1972 itu juga berlangsung Asian Advertising Congress (AAC) VIII di Bangkok. Masih dgn semangat Seminar Periklanan, beberapa tokoh periklanan Indonesia pun segera berangkat menghadiri kongres tersebut. Mereka antara lain adalah: Christian Wibisono, Ken Sudarto, Sjahrial Djalil, Ernst Katoppo, Abdul Moeid Chandra, Jacoba Muaja, Usamah, & Yo Wijayakusumah. Tidak tanggung-tanggung, delegasi Indonesia pada waktu itu secara nekat juga menawarkan diri buat menjadi tuan rumah AAC IX pada tahun 1974. hebatnya lagi, usulan itu ternyata diterima. Pertumbuhan pesat industri periklanan Indonesia tentulah menjadi faktor pembobot yg menghasilkan keputusan itu.
Semangat buat menjadi tuan rumah Aac IX itulah yg membuat insan periklanan Indonesia semakin membulatkan tekad buat berorganisasi secara rapi. Pada tanggal 20 Desember 1972, bertempat di restoran Chez Mario milik Muhammad Napis di jalan Ir. H. Juanda III/23, jakarta Pusat, diselenggarakan Rapat Anggota PBRI.
Rapat itu juga dihadiri Direktur Bina Pers dari Direktorat Jenderal Pembinaan Pers & Grafika Departmen Penerangan, Drs. Tjoek Atmadi. Rapat itu mengagendakan pemilihan pengurus baru, beserta membahas kemungkinan dibentuknya sebuah asosiasi periklanan dgn visi & lingkup yg lebih luas.
Abdul Maeid Chandra, seorang putra Madura aktivis PBRI yg memiliki stasiun radio Trinanda Chandra & perusahaan perilanan dgn nama yg sama, akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum. Di jajaran pengurus tercatat beberapa orang tokoh periklanan Indonesia, seperti: Savrinus Suardi, Usamah, Sjahrial Djalil, & Yo Wijayakusumah. Mereka adalah muka-muka baru yg sebelumnya bukan merupakan aktivis PBRI.
Rapat Anggota juga menyepakati pembubaran PBRI & pembentukan asosiasi yg baru dgn nama Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). Dgn pembentukan PPPI, secara resmi hilang pula istilah ”biri reklame” yg berbau kebelanda-belandaan, digantikan dgn istilah yg lebih sesuai dgn tuntutan zaman: ”perusahaan periklanan”. Desakan buat mengganti istilah ”biro reklame” juga didasari pada kenyataan bahwa tukang pembuat stempel di pinggir jalan pun menyebut diri mereka sebagai biro reklame.

Pada disaat didirikan, PPPI beranggotakan 30 perusahaan periklanan. Sahrial Djalil AdForce menyumbangkan logo bagi asosiasi yg baru itu. PPPI juga segera merumuskan Anggaran Dasar beserta Anggaran Rumah Tangga yg baru buat menampung aspirasi periklanan modern.

Awal Artis Memasuki Periklanan Indonesia


Iklan sebgai salah satu alat pemasaran yg ampuh langsung saja berdenyut dgn nafas baru yg segar. Beberapa perusahaan periklanan muncup pada masa ini. Demikian juga media buat beriklan. & periklanan pun menjadi marak. Dasawarsa 1970an juga ditandai dgn tampilanya selebritis Indonesia sebagai bintang iklan. Sabun Lux produksi Unilever boleh jadi merupakan trendsetter di bidang itu. Sejak dasawarsa 1950an, Lux sudah memakai slogan ”dipakai oleh 9 dari 10 bintang-bintang film”. Lux diidentifikasikan dgn bintang-bintang film rupawan berkelas dunia, antara lain : Sophia Loren.
Pada dasawarsa 1970an, slogan itu diubah sedikit menjadi ”sabun kecantikan bintang-bintang film”. Unilever juga mulai memakai bintang-bintang film Indonesia buat menjadi duta produknya. Widyawati, bintang film populer berpribadi lembut dgn kecantikkan memukau, tampil sebagai spokesperson Lux. Beberapa bintang film papan atas pun silih berganti tampil sebagai ”The Lux Lady”. Salah satu yg legendaris adalah Christine Hakim, bintang film temuan Teguh Karya. Produk detergen bermerk rinso pun memilih Krisbiantoro sebgai duta produk. Kris adalah seorang penyanyi merangkap master of ceremony yg kocak & menjadi presenter berbagai program televisi populer pada disaat itu. Popularitas Krisbiantoro pun beserta merts menjadi tuas yg ampuh buat mendongkrak popularitas rinso.level International Advertising Services (Lintas) perusahaan periklanan yg menganai produk-produk Unilever tidak hanya menumpang popularitas selebritis, melainkan juga melahirkan bintang-bintang baru. Robby Sugara, misalnya, ”hanyalah” seorang head waiter di sebuah restoran ketika terpilih menjadi bintang ”The Brisk Man”. Kehidupannya pun melejit seperti meteor.
3.6 Kelahiran Periklanan Modern Indonesia
Berbagai merk internasional mulai bermunculan di Indonesia & dgn garangnya berupaya meraup pangsa pasar sebesar-sebesarnya. Coca cola, Toyota, Mitsubishi, Fuji Film, American Express, Citibank, adalah sebagian dari nama-nama besar yg mulai membanjiri pasar Indonesia. Pada disaat yg sama, muncul pula local brands yg dipicu oleh kemudahan mendapatkan kredit penanaman modal dari lembaga-lembaga perbankan yg juga sedang bertumbuh pesat. Salah satu sektor yg paling hidup pada dasawarsa 1970an itu adalah industri farmasi dgn berbagai jenis obat baru yg diluncurkan pada disaat itu antara lain adalah Bodrex-obat sakit kepala yg populer hingga disaat ini. Begitu populernya nama Bodrex bahkan sampai dijadikan ikon jurnalistik Indonesia buat menyebut wartawan yg datang tak diundang.
Suasana baru di dunia usaha itu memicu berbagai kelahiran perusahaan periklanan. Tentu saja, yg pertama kali muncul justru perusahaan-perusahaan periklanan yg secara ilmiah terbawa oleh masuknya perusahaan multinasional ke Indonesia. Contohnya adalah Olgilvy & Mather yg berkibar di Jakarta dgn nama IndoAd di bawah pimpinan Emir Muchtar, karena hadirnya klien-klien O&M di Indonesia, seperti: American Express, dll. Sebelumnya O&M lahir di Indonesia dgn nama SH Benson, kemudian berubah menjadi Olgivy &Mather. Perubahan nama O&M menjadi IndoAd terkait Peraturan Menteri Perdagangan pada tahun 1970 yg melarang perusahaan periklanan asing di Indonesia. Contoh lain adalah McCann Erickson yg dibawa oleh Coca cola & kemudian mengibarkan bendera Perwanal Utama di bawah pimpinan Savrinus Suardi.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan periklanan nasional lama pun mendapat angin dari transformasi ekonomi yg terjadi. Perusahaan itu antara lain: Bhineka yg dipimpin oleh tokoh lama Muhammad Napis, & InterVista yg dipimpin oleh Nuradi seorang mantan diplomat yg beralih ke dunia periklanan. InterVista adalah sebuah fenomena yg perlu dicatat secara khusus dalam sejarah periklanan Indonesia, khususnya karena Nuradi, pendirinya, dianggap sebagai perintis periklanan modern Indonesia. Setelah Proklamasi kemerdeaan Indonesia, Nuradi diangkat menjadi pegawai Departemen Luar Negri, Nuradi bertugas sebagai jurubahasa yg mendampingi Presiden Soekarno. Sebagai karyawan Departemen Penerangan, tugas Nuradi adalah penyiar siaran bahasa Inggris di RRI. Pada tahun 1950, Nuradi ditunjuk buat menjalankan misi khusus Uni soviet, & kemudian menjadi anggota Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Markas Besar Perserikatan Bangsa-bangsa di New York selama di Amerika Serikat, Nuradi juga sempat menyelesaikan studi di Harvard University.
Perintis periklanan yg bernama Nuradi ini. Lahir di Jakarta, tanggal 10 Mei 1926. Seperti juga banyak pelaku periklanan modern, Nuradi pun tidak memperoleh pendidikan formal di bidang periklanan. Tahun 1946-1948 ia masuk Fakultas Hukum, Universitas Indonesia (darurat). Kemudian masuk Akademi Dinas Luar Negeri Republik Indonesia (1949-1950). Tahun-tahun berikutnya dia banyak mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Dia menjadi orang Indonesia pertama yg diterima di Foreign Service Institute, US State Department, Washington DC. Selanjutnya belajar penelitian sosial di New School, New York (1952-1954) & menyelesaikan studi bidang administrasi publik di Harvard University, Cambridge, Massachusetts. Kemudian selama setahun belajar bahasa di Universitas Sorbone & Universitas Besancon, Perancis.Tahun 1945, dia juga dikenal sebagai orang pertama diangkat sebagai pegawai negeri di Departemen Luar Negeri & di Departemen Penerangan. Yg terakhir ini, karena ia juga menjadi penyiar siaran Bahasa Inggris di Radio Republik Indonesia. Antara tahun 1946-1950, dia menjadi juru bahasa pribadi buat Bung Karno, Bung Hatta & Ir. Juanda & tahun 1949 sempat menjadi kepala bagian penerjemah pada delegasi Indonesia ke Konperensi Meja Bundar di Den Haag, Negeri Belanda. Tahun 1950 dia ditunjuk buat menjalankan misi khusus ke Uni Soviet & menjadi anggota perwakilan tetap Indonesia di markas PBB, New York. Karier sebagai pegawai negeri telah membawanya terlibat dalam banyak lagi tugas sebagai anggota delegasi, baik buat kepentingan nasional, maupun internasional. Dia mengundurkan diri dari Dinas Luar Negeri pada tahun 1957, buat bergabung dgn Perwakilan PRRI Sementara buat Singapura & Hongkong.

Perjalanan hidup Nuradi di dunia periklanan dimulai ketika tahun 1961-1962 mengikuti Management Training Course di SH Benson Ltd., London, perusahaan periklanan terbesar di Eropa disaat itu. Sedangkan pengalaman praktek periklanan diperolehnya melalui cabang perusahaan tersebut di Singapura. Sekembalinya ke Jakarta (1963) dia mendirikan perusahaan periklanannya sendiri, InterVista Advertising Ltd..
Pada awalnya, Nuradi hanya mengiklankan produk-produk milik ayahnya (Hotel Tjipajung) & kenalannya (PT Masayu, agen alat-alat berat). Ia juga membuat iklan buat usaha milik Judith Wawaruntu, sahabatnya yg secara timbal balik menjadi pembuat gambar buat iklan-iklan Intervista. Ketika menangani klien Lambretta, merek Scooter masa lalu, Nuradi buat pertama kali membuat slide buat iklan di Bioskop. Terobosan ini merupakan awal dari gebrakkan-gebrakkan Nuradi selanjutnya. Pada dasawarsa 1970an, InterVista telah mampu membuat film iklan produksi dalam negri, bahkan memperkerjakan seorang sutradara pribumi buat menanganinya secara khusus. Tidak heran bila dalam waktu singkat InterVista mendapat kepercayaan dari nama-nama besar seperti, Indomilk, Anker Bir, berbagai merek rokok keluaran British American Tobacco, Vespa & lain-lain. Beberapa karya iklan InterVista di masa itu, selalu mengundang decak kagum & menjadi pengingat (mnemonic) dibenak masyarakat, misalnya: Ini Bir Baru, Ini Baru Bir (Anker), Indomilk.....sedaaap, Makin Mesra dgn Mascot (rokok).

Awal dasawarsa 1970an juga ditandai oleh lahirnya berbagai perusahaan periklanan ketika itu lebih umum disebut biro iklan seperti: Libelle pimpinan Yo Wijayakusumah, Trinanda Chandra pimpinan Abdoel Moeid Chandra (juga pemilik radio swasta niaga dgn nama sama), Prima Advera pimpinana Usamah, AdForce pimpinan Sjahrial Djalil, Fortune pimpinan Indra Abidin bekerja sama dgn Mochtar Lubis, Hikmad & Chusen pimpianan H. Hamid Moerni, Metro pimpinan Henry Saputra, Rama Perwira, & lain-lain.

Kebangkitan Asosiasi Periklanan Indonesia


Menurut catatan, pada tahun 1951, istilah periklanan pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh pers indonesia, Soedarjo Tjokrosisworo, buat menggantikan istilah reklame atau advertensi yg ke belanda-belandaan. Senapas dgn semangat kebangsaan itu, sebuah biro reklame di bandung yg sebelumnya bernama Medium, juga mengubah nama menjadi Balai Iklan. Atas prakarsa beberapa perusahaan periklanan yg berdomisili di Jakarta & Bandung, pada awal September 1949 dilembagakan sebuah asosiasi bagi perusaaan-perusahaan periklanan. Asosiasi ini diberi nama Bond van Reclamebureaux in Indonesia atau dalam bahasa indonesia Perserikatan Biro Reklame Indonesia (PBRI). Nama asosiasi yg masih menggunakan bahasa Belanda ini tidak lain karena mayoritas anggotanya adalah memang perusahaan-perusahaan periklanan yg dimiliki oleh orang Belanda.
Sebelas perusahaan periklanan tercatat sebagai anggota PBRI, yaitu: Budi Ksatria, Contact, De Unie, F. Bodmer, Franklijn, Grafika, Life, Limas, Lintas, Rosada, & Studio Berk. Akan tetapi, kehadiran PBRI dianggap hanya mewakili perusahaan-perusahaan periklanan besar khususnya yg dimiliki atau dikuasai oleh orang-orang Belanda. Perusahaan-perusahaan periklanan kecil merasa bahwa aspirasi mereka tidak memukau jalan buat disampaikan ke dalam PBRI. Suasana seperti itu kemudian memicu lahirnya sebuah asosiasi perusahaan periklanan nasional yg dimliki & diawaki oleh orang-orang Indonesia. Serikat Biro Reklame Nasional (SBRN) dibentuk pada tahun 1953, & sertamerta menjadi organisasi tandingan bagi PBRI. Tidak jelas mengapa semangat nasionalisme di dalam SBRN tidak memunculkan istilah iklan yg sudah dikenal sejak dua tahun sebelumnya, & masih menggunakan istilah biro reklame yg berbau Belanda. Anggota SBRN yg tercatat adalah 13 perusahaan periklanan: Azeta, Elite, Garuda, IRAB, Kilat, Kusuma, Patriot, Pikat, Reka, Lingga, Titi, & Trio. Tidak semua perusahaan perilanan bersedia bergabung ke dalam asosiasi. Contonya adalah Medium yg telah bertukar nama menjadi Balai Iklan. Ia memilih buat tidak bergabung dgn salah satu dari dua asosiasi tersebut. Tjetje Senaputra, pemiliknya berdalih bahwa Balai Iklan tidak menangani iklan display & karena itu tidak menganggap perusahaan sebagai full-service agency. Balai Iklan memang mengkhususkan diri pada iklan-iklan klasika berukuran kecil tentang lowongan kerja & berita keluarga.
Ada pula dugaan bahwa terbentuknya SBRN diilhami oleh keterbelahan penerbit surat kabar yg juga memiliki dua asosiasi, yaitu: Perserikatan Persuratkabaran Indonesia (PPI), & Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), PPI merupakan kelanjutan dari Verenigde Dagblad Pers di masa Hindia Belanda. Tentu saja keterbelahan perusahaan-perusahaan periklanan itu membuat prihatin F. Berkhout, Ketua PBRI pada disaat itu. Ia kemudian menghubungi beberapa pimpinan SBRN & mnawarkan dibentuknya fusi atau peleburan dari kedua asosiasi tersebut. Bila tujuannya sama, mengapa mesti memakai dua kendraan yg justru menyulitkan pembinaan ke luar maupun ke dalam, di samping juga tidak mencuatkan kesan persatuan.

Gagasan fusi itu tampaknya diterima secara umum oleh kedua belah pihak. Orang-orang Belanda yg semula menguasai berbagai posisi & fungsi di PBRI sepakat buat mengundurkan diri agar digantikan oleh orang-orang Indonesia. Tapi fusi itu secara organisatoris ternyata tidak pernah menjadi kenyataan. Dalam tubuh SBRN terjadi perpecahan, sehingga semua anggotanya mengundurkan diri & bergabung ke dalam PBRI. Baru pada tahun 1956, melalui forum rapat umum anggota, secara aklamasi Muhammad Napis dikukuhkan sebagai ketua PBRI. Pada tahun 1957, PBRI menyelenggarakan Kongres Reklame seluruh Indonesia yg pertama. Dalam kongres tersebut, kata ”perserikatan” diubah menjadi ”persatuan”.

Perusahaan Periklanan Perintis


Salah satu perusahaan consumer products yg aktif beriklan pada masa itu adalah Unilever-amalgamasi perusahaan Margarine Union (Belanda) & Lever Brothers (Inggris)- yg sejak tahun 1933 telah membangun pabrik sabun di Bacherachtsgracht, Batavia (sekarang Angke, Jakarta Barat). Setelah berdirinya pabrik sabun itu,Unilever juga membangun pabrik margarin. Sebelumnya, produk-produk Unilever diimpor langsung dari Negeri Belanda. Hadirnya Unilever juga kemudian membawa masuknya cikal bakal Lintas (singkatan dari Lever International Advertising Services) ke Nusantara. Semula, Lintas adalah divisi periklanan dari Lever Brothers, sebelum kemudian berdiri sendiri menjadi perusahaan periklanan independen. Apa yg dilakukan Lintas yg berlogo bola dunia pada masa-masa awal itu sebetulnya tidak lain adalah melakukan adaptasi bentuk-bentuk iklan yg telah mereka luncurkan terhadap produk-produk serupa di bagian dunia lainnya, beserta melakukan media placement. Perlu dicatat bahwa Lintas pada disaat itu sudah memiliki keberanian membuat iklan dalam bahasa daerah. Misalnya, iklan Margarine Blue Band dalam bahasa Sunda memakai judul ”Pamoeda Sehat... Rajat Kiat” (Pemuda Sehat...Rakyat Kuat), dgn tagline ”Blue Band Mengandoeng Seueur Vitamin” (Mengandung Banyak Vitamin).

”Model organisasi” seperti Lintas itulah yg agaknya kemudian ditiru oleh beberapa usahawan di Batavia & kota-kota besar Indonesia lainnya. Sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa perusahaan periklanan (ketika itu disebut reclamebureau atau advertentiebureau) sudah beroperasi di Indonesia. Hingga masa pendudukan Jepang, beberapa perusahaan periklanan ynag terkenal di Jakarta adalah, antara lain:

  • A de la Mar, di Koningsplein (sekarang Jalan Me& Merdeka Utara, dekat Istana Merdeka),

  • Aneta (sebagai bagian dari kantor berita bernama sama), di Passer Baroe (sekarang Museum LKBN Antara di Jalan Antara),

  • Globe, di Jalan Kali Besar Timur,

  • IRAB (Indonesia Reclame en Advertentiebureau), semula berkantor di Molenvliet (sekarang Jalan Hayam Wuruk), tapi kemudian pindah ke Asem Reges (kemudian menjadi Sawah Besar, sekarang Jalan KH Samanhudi),

  • Preciosa, di Gang Secretarie (kantor Sekretariat Negara sekarang, Jalan Veteran IV ),

  • Elite

Hampir semua perusahaan periklanan itu dipimpin oleh orang-orang Belanda, kecuali IRAB & Elite yg diselenggarakan oleh kaum Bumiputra. Pada masa pendudukan Jepang, terjadi perubahan lanskap periklanan Indonesia. Karena banyak warga Belanda yg mengungsi-sebagian lagi ditawan maka kondisi vakum itu diisi dgn munculnya berbagai perusahaan periklanan baru milik kaum pribumi. Sayangnya, tidak cukup catatan tentang kehadiran perusahaan periklanan yg dijalankan etnis Tionghoa. Padahal, dari mulut ke mulut kita sering mendengar bukti-bukti peran mereka dalam perintisan periklanan Indonesia. Yg jelas, etnis Tionghoa sangat berperan dalam menumbuhkan dunia persuratkabaran di Indonesia, sehingga dgn demikian dapat dilihat pula keterlibatan mereka dalam periklanan secara langsung maupun tidak. Sekalipun kebanyakan perusahaan periklanan baru itu berukuran kecil, tapi tercatat lima perusahaan periklanan yg berskala cukup besar, yakni Elite, RAB, Korra, Pikat, Tandjoeng. Selama masa pendudukan Jepang, merosotnya aktivitas ekonomi ikut mengkerdilkan dunia periklanan Indonesia. Setelah proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, kepercayaan kepada Republik yg muda ini tampak dgn kembali bergairahnya kehidupan perekonomian. Sayangnya, kecenderungan itu tidak berlangsung lama karena Belanda mulai menggelar aksi militernya terhadap Indonesia. Keadaan perekonomian pun redup kembali. Pemerintah Republik Indonesia sempat hijrah ke Yogyakarta selama empat tahun. Keadaan ini berakhir setelah dicapainya kesepakatan pengakuan kedaulatan dalam KMB pada akhir tahun 1949.


Kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Jakarta menandai kebangkitan baru perekonomian Indonesia. Perusahaan-perusahaan nasional mulai bertumbuhan, seiring dgn masuknya kembali beberapa perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan Belanda yg semula mengungsi, pun kembali lagi melakukan usahanya. Salah satunya adalah Unilever. Era baru itu juga disambut oleh Unilever dgn meluncurkan berbagai produk baru. Dunia periklanan seakan berdarah kembali. Beberapa perusahaan periklanan yg tercatat hadir di Jakarta pada masa itu antara lain adalah: Azeta, Contact, Cotecy, De Unie, Elite, IRAB, Studi Berk, & Titi. Pada awal dasawarsa 1950’an yg paling banyak ditempatkan di dunia cetak adalah iklan obat-obatan. Sayangnya, menjamurnya iklan obat-obatan itu tidak dibarengi dgn etika & tanggung jawab para insan periklanan. Banyak obat-obatan yg diiklankan itu sebetulnya diragukan manfaatnya, atau malah membahayakan kesehatan penggunanya. Keadaan yg nyaris lepas kendali ini akhirnya ditata dgn terbitnya ketentuan Menteri Kesehatan pada tahun 1954 yg mengatur keharusan buat mendapatkan lisensi manfaat & keselamatan obat sebelum dipasarkan, & ketentuan agar iklan obat mesti menjelaskan manfaat obat secara jelas.

Categories

20HadiahLebaran aceh active Ada ada saja adsense aids air tanah anak antik Artikel Artis asma Bahasa bahasaindonesia baju band batuk bayi bekas belajar bencana Berita Berita Ringan big panel biologi bisnis bisnis online Blog Bola budidaya buku bunga burner burung cerai Cerpen chandra karya Cinta ciri cpns cuti cv daerah desain di jual diare diet coke diet plan dinas domisili ekonomi email euro exterior fashion fat Film FISIP foke forex format FPI furniture gambar game gejala gempa geng motor geografi gigi ginjal Girlband Indonesia graver GTNM gunung gurame guru haga haki hamil harga hasil hepatitis hernia hiv Hukum hunian ibu ijin ikan indonesia Info Informasi Information Inggris Inspirational interior Internet Intertainment izin jadwal jakarta janin jantung jati Joke jokowi kamar kamarmandi kampus kantor. karyailmiah keguguran kemenag kemenkes kendala kerja kesanggupan kesenian kesepakatan keterangan kisi kkm klaim Komik Komputer kontrak kop korea lagu lamaran lambung legalisir lemari Lifestyle ligna Linux lirik Lirik Lagu Lowongan Kerja magang mahasiswa makalah Malignant Fibrous Hystiocytoma marketing Matematika mebel medan meja melahirkan menikah merk mesothelioma mesothelioma data mimisan mimpi minimalis Misteri mobil modern modul motivasi motor mp3 mual mulut mutasi Naruto news ngidam nikah nisn noah nodul nomor surat Novel novil Olah Raga Olahraga olympic opini pagar panggilan paper paspor paud pelatihan pembelian pemberitahuan pemerintah penawaran pendidikan pengantar pengertian pengesahan pengetahuan pengumuan pengumuman pengumumna Pengunduran pengurusan penyakit penyebab perjanjian perkembangan Permohonan pernyataan perpanjangan persiapan bisnis Pertanian perumahan perusahaan perut peta phones photo Pidato pilkada pimpinan pindah plpg PLS postcard pringatan Printer Tips profil Profil Boyband properti property proposal prumahan Psikologi-Psikiater (UMUM) Puisi quote Ramalan Shio rekomendasi relaas resensi resignation resmi Resume rpp ruang rumah rupa sakit sambutan Sanitasi (Penyehatan Lingkungan) Satuan Acara Penyuluhan (SAP) second sejarah sekat sekolah Selebritis seni sergur series sertifikat sertifikat tanah sinopsis Sinopsis Film Sistem Endokrin Sistem Immunologi Sistem Indera Sistem Integumen Sistem Kardiovaskuler Sistem Muskuloskeletal Sistem Neurologis Sistem Pencernaan Sistem Perkemihan Sistem Pernafasan sitemap skripsi sm3t smd sni snmptn soal Software sosial springbed starbol stnk sukhoi sumatera surabaya surat suratkuasa Surveilans Penyakit tafsir tahap Tahukah Anda? tanda tas television teraphy Tips Tips dan Tricks Seks Tips Karya Tulis Ilmiah (KTI) Tips Kecantikan Tips Kesehatan Umum toko Tokoh Kesehatan top traditional tsunami tugas ucapan ujian uka un undangan undian universitas unj unm unp upi uu Video virus walisongo wanita warnet