Makalah Hukum Islam I ( teori receptio in complexu )
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kebebasan beragama merupakan salah satu hak dasar yg dimiliki oleh setiap manusia di dunia dalam rangka mencari Tuhannya. Kebebasan beragama ini memiliki empat aspek, yaitu (a) kebebasan nurani (freedom of conscience), (b) kebebasan mengekspresikan keyakinan agama (freedom of religious expression), (c) kebebasan melakukan perkumpulan keagamaan (freedom of religious association), & (d) Kebebasan melembagakan keyakinan keagamaan (freedom of religious institution)1. Di antara keempat aspek tersebut, aspek pertama yakni kebebasan nurani (freedom of conscience), merupakan hak yg paling asli & absolut beserta meliputi kebebasan buat memilih & tidak memilih agama tertentu. Menurut konsep kebebasan di atas, maka kebenaran pribadi mesti dianggap sebagai nilai yg yg paling luhur (supreme value). Ia menghendaki komitmen beserta pertanggungjawaban pribadi yg mendalam. Komitmen beserta pertanggungjawaban pribadi ini mesti berada di atas komitmen terhadap agen-agen otoritatif lainnya seperti negara, pemerintah, & masyarakat.
Negara
Kemajemukan agama di
Sebagai potensi, pada satu sisi agama dapat menjadi pendorong & pendukung arah pembangunan
Sejak negara
Dalam konteks
Munculnya gagasan-gagasan pembaharuan hukum Islam dalam bentuk Indonesiasi, reaktualisasi & kontekstualisasi hukum Islam yg banyak dikemukakan oleh tokoh-tokoh hukum Islam Indonesia, seperti Hazairin, Hasbi Assiddiqie, A. Hassan, & Munawir Sadzali tidak banyak mendapatkan respon dari masyarakat Muslim secara umum.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik buat membuat paper dgn mengambil judul ”Kajian Kritik Terhadap Teori Receptio In Complelxu”.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimanakah perhatian Islam terhadap masyarakat?
2) Apa yg melatarbelakangi munculnya teori receptio in complexu?
3) Bagaimana menerapkan teori receptio in complexu terhadap pemberlakuan hukum Islam bagi orang Islam di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari paper ini adalah :
1) Buat mengetahui sejauhmana perhatian orang Islam terhadap masyarakat
2) Buat mengetahui latar belakang munculnya teori receptio in complexu
3) Buat mengetahui hubungan teori receptio in complexu terhadap pemberlakuan hukum islam di
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan Paper ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi rekan-rekan mahasiswa, khususnya penulis buat mengetahui lebih lanjut mengenai perhatian Islam terhadap masyarakat, latar belakang munculnya teori receptie, & hubungan teori receptio in complex terhadap pemberlakuan hukum Islam bagi orang Islam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masyarakat Islam & Non Islam
Kebebasan & toleransi merupakan dua perihal yg sering kali dipertentangkan dalam kehidupan manusia, secara khusus dalam komunitas yg beragam. Persoalan tersebut menjadi lebih pelik ketika dibicarakan dalam wilayah agama.
Kebebasan beragama dianggap sebagai sesuatu yg menghambat kerukunan (tidak adanya toleransi), karena dalam pelaksanaan kebebasan, mustahil seseorang tidak menyentuh kenyamanan orang lain. Akibatnya, pelaksanaan kebebasan menghambat jalannya kerukunan antarumat beragama.
Demikian juga sebaliknya upaya buat merukunkan umat beragam agama dgn menekankan toleransi sering kali dicurigai sebagai usaha buat membatasi hak kebebasan orang lain. Toleransi dianggap sebagai alat pasung kebebasan beragama.
Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antarumat beragama.
Demikian juga sebaliknya, toleransi antarumat beragama adalah cara agar kebebasan beragama dapat terlindungi dgn baik. Keduanya tidak dapat diabaikan. Namun yg sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satunya, yaitu penekanan kebebasan yg mengabaikan toleransi, & usaha buat merukunkan dgn memaksakan toleransi dgn membelenggu kebebasan. Buat dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman yg benar mengenai kebebasan
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak yg melekat pada manusia karena ia adalah manusia. Hak buat menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, tidak ada seorang pun yg boleh mencabutnya. Negara pun tidak berhak merampas hak tersebut dari setiap individu. Pengakuan hak kebebasan beragama yg melekat dalam setiap individu tersebut dinyatakan dgn gamblang dalam deklarasi universal HAM Pasal 1 & 18.
Toleransi yg berasal dari kata “toleran” itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, & sebagainya) yg berbeda & atau yg bertentangan dgn pendiriannya. Selanjutnya, kata “toleransi” juga berarti batas ukur buat penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan (Kamus Umum Bahasa Indonesia).
Jadi, dalam hubungannya dgn agama & kepercayaan, toleransi berarti menghargai, membiarkan, membolehkan kepercayaan, agama yg berbeda itu tetap ada, walaupun berbeda dgn agama & kepercayaan seseorang. Toleransi tidak berarti bahwa seseorang mesti melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dgn yg lain, tapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada.
Toleransi menjadi jalan terciptanya kebebasan beragama, apabila kata tersebut diterapkan pada orang pertama kepada orang kedua, ketiga & seterusnya. Artinya, pada waktu seseorang ingin menggunakan hak kebebasannya, ia mesti terlebih dulu bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya telah melaksanakan kewajiban buat menghormati kebebasan orang lain?” Dgn demikian, setiap orang akan melaksanakan kebebasannya dgn bertanggung jawab. Agama-agama akan semakin moderat jika mampu mempersandingkan kebebasan & toleransi. Kebebasan merupakan hak setiap individu & kelompok yg mesti dijaga & dihormati, sedang toleransi adalah kewajiban agama-agama dalam hidup bersama.
Sikap agama yg lebih moderat, tidak hanya dituntut ada dalam agama Islam, tapi pada semua agama yg ada di
Agama dalam pelaksanaan misinya tidak boleh lagi bersikap tidak peduli dgn agama-agama lain. Kemajauan suatu agama tidak boleh membunuh kehidupan agama-agama yg ada di Indonesi
Toleransi & kerukunan hidup umat beragam antara Islam & non Islam, telah diperaktekan oleh Rasulullah SAW & para sahabatnya, pada waktu itu rasulullah memimpin negara Madinah, beliau sebagai kepala negara dari komunitas negaranya, terdiri atas penganut Islam, Yahudi & Nasroni beliau memimpin masyarkat majemuk.
Dgn shahifah (piagam madinah) sebagai konstitusinya yg oleh sementara pengamat disebut sebagai the first written constitution in the world. Piagam madinah memuat pokok-pokok kesepakatan.
(1) Semua umat Islam, walaupun berasal dari banyak suku merupakan satu komunitas
(2) Hubungan antara komunitas Islam dgn non Islam didasarkan atas prinsip-prinsip bertetangga baik. Saling membantu & saling menghadapi musuh bersama. Membela mereka yg teraniyaya saling menasehati, menghormati, kebebasan beragama, kedua ke Abbesinin (Ethiopia) ketiga perlakuan adil terhadap non nISlam di pengadilan pada waktu dia berhadapn dgn Ali bin Abi Tholib (kepala negara waktu itu) & Ali bin Abi Thalib di kalahkan. Keempat kerukunan hidup umat beragama pernah di peraktekan oleh ISLam, Yahudi & Nasrani di Spanyol, sebagaimana di ungkapkan oleh Nurcholis Majid (1994:36) mengutip ungkapan Max Dimont bahwa selama 500 tahun dibawah pemerintahan Islam membuat Spanyol buat tiga agama & satu tempat tidur Islam, Kristen & Yahudi hidup rukun bersama-sama menyertai perbedaan yg genting.
B. Latar Belakang Munculnya Teori receptio In Complexu
Berbicara tentang masalah hukum yg berlaku terhadap golongan Bumi Putera, yaitu hukum adat bangsa
Teori ini menyatukan bahwa hukum adat bangsa
Materi teori ini kemudian dimuat dalam pasal 75 RR (Regering Reglement) tahun 1855. pasal 75 ayat 3 RR berbunyi “oleh hakim Indonesia itu hendaklah diberlakukan undang-undang agama (Jadsdiensnge Wetten) & kebiasaan penduduk Indonesia itu” pada masa teori ini berlaku, kemudian antara lain Sibi 882 No. 152 tentang pembentukan pengadilan agama (Priensterand) di samping pengadilan negeri (landrand). Berdasarkan pasal 75 dgn mengacu kepada teori RIC hukum waris yg berlaku bagi orang Islam adalah hukum waris Islam & menjadi kompetensi (wewenang) peradilan agama
Pada mulanya, politik kolonial Belanda sebenarnya cukup menguntungkan posisi hukum Islam, setidaknya sampai akhir abad ke 19 M dikeluarkannya Staatsblad No. 152 Tahun 1882 yg mengatur sekaligus mengakui adanya lembaga Peradilan Agama di Jawa & Madura, merupakan indikasi kuat diterimanya hukum Islam oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari sinilah muncul teori Receptio in Complexu yg dikembangkan oleh Lodewijk Willem Christian Van den Berg (1845 – 1927). Menurut ahli hukum Belanda ini hukum mengikuti agama yg dianut seseorang. Jika orang itu memeluk agama Islam, maka hukun Islam-lah yg berlaku baginya. Dgn adanya teori receptio in Complexu maka hukum Islam sejajar dgn dgn sistem hukum lainnya.
Kondisi di atas tidak berlangsung lama, seiring dgn perubahan orientasi politik Belanda, kemudian dilakukan upaya penyempitan ruang gerak & perkembangan hukum Islam. Perubahan politik ini telah mengantarkan hukum Islam pada posisi kritis. Melalui ide Van Vollenhoven (1874 – 1933) & C.S. Hurgronje (1857 – 1936) yg dikemas dalam konsep Het Indiche Adatrecht yg dikenal dgn teori Receptie, menurut teori ini hukum Islam dapat berlaku apabila telah diresepsi oleh hukum adat. Jadi hukum adat yg menentukan ada tidaknya hukum Islam. Klaim provokatif & distorsif ini sangat berpengaruh terhadap eksistensi hukum Islam ketika itu, oleh karenanya Hazairin menyebutnya sebagai teori “Iblis’.
Dgn adanya teori Receptie ini, Belanda cukup punya alasan buat membentuk sebuah komisi yg bertugas meninjau kembali wewenang Pengadilan Agama di Jawa & Madura. Dgn bekal sebuah rekomendasi (usulan) dari komisi ini, lahirlah Staatsblad No. 116 Tahun 1937 yg berisi pencabutan wewenang Pengadilan Agama buat menangani masalah waris & lainnya. Perkara-perkara ini kemudian dilimpahkan kewenangannya kepada Landraad (Pengadilan Negeri).
C. Hubungan Teori Receptio In Complexu Terhadap Pemberlakuan Syariat Islam di Indonesia
Merekonstruksi catatan sejarah yg ada pada masa pasca kemerdekaan, kesadaran umat Islam buat melaksanakan hukum Islam boleh dikatakan semakin meningkat. Perjuangan mereka atas hukum Islam tidak berhenti hanya pada tingkat pengakuan hukum Islam sebagai subsistem hukum yg hidup di masyarakat, tapi juga sampai pada tingkat lebih jauh, yaitu legalisasi & legislasi. Mereka menginginkan hukum Islam menjadi bagian dari sistem hukum nasional, bukan semata-mata substansinya, tapi secara legal formal & positif. Perjuangan melegal-positifkan hukum Islam mulai menampakkan hasil ketika akhirnya hukum Islam mendapat pengakuan konstitusional yuridis. Berbagai peraturan perundang-undangan yg sebagian besar materinya diambil dari kitab fikih -yg dianggap representatif- telah disahkan oleh pemerintah
Setelah lahirnya Undang-Undang yg berhubungan erat dgn nasib legislasi hukum Islam di atas, kemudian lahir Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, sebuah lembaga peradilan yg khusus diperuntukkan bagi umat Islam. Perihal ini mempunyai nilai strategis, penyebab keberadaannya telah membuka kran lahirnya peraturan-peraturan baru sebagai pendukung (subtansi hukumnya). Sehingga pada tahun 1991 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 yg berisi tentang sosialisasi Kompilasi Hukum Islam (KHI). Terlepas dari pro & kontra keberadaan KHI nantinya diproyeksikan sebagai Undang-Undang resmi negara (hukum materiil) yg digunakan di lingkungan Pengadilan Agama sebagai hukum terapan. Perkembangan terakhir, sebagai tuntutan reformasi di bidang hukum khususnya lembaga peradilan dimulai dgn diamandemennya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman oleh Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 yg kini kembali direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Perubahan Undang-Undang diatas secara otomatis membawa efek berantai pada Peradilan Agama, sehingga Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama juga mengikuti jejak, yakni diamandemen dgn Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.
Seiring dgn momentum amandemen Undang-Undang tentang Peradilan Agama, maka muncul perubahan paradigma baru yakni Peradilan Agama dari peradilan keluarga menuju peradilan modern. Semula Peradilan Agama hanya menangani perkara-perkara sumir -sebagian besar masalah perceraian- kini dihadapkan pada perkara-perkara ekonomi syari’ah yg relatif baru dalam dunia ekonomi
Pluralitas agama, sosial & budaya di
Pembangunan hukum nasional secara obyektif mengakui pluralitas hukum dalam batas-batas tertentu. Pemberlakuan hukum adat & hukum agama buat lingkungan tertentu & subyek hukum tertentu adalah wajar karena tidak mungkin memaksakan satu unifikasi hukum buat beberapa bidang kehidupan. Oleh karena itu tidak perlu dipersoalkan jika terhadap subyek hukum Islam-yg melakukan kegiatan dibidang muamalah- diperlakukan hukum ekonomi syari’ah. Selanjutnya wajar pula dalam hubungan keluarga terkadang hukum adat setempat lebih dominan. Prinsip unifikasi hukum memang mesti jadi pedoman, namun sejauh unifikasi tidak mungkin, maka pluralitas hukum haruslah secara realitas diterima. Idealnya pluralitas hukum ini haruslah diterima sebagai bagian dari tatanan hukum nasional. 14 Buat memenuhi kebutuhan hukum terhadap bidang-bidang yg tidak dapat diunifikasi, negara dgn segala kedaulatan & kewenangan yg ada padanya dapat mengakui atau mempertahankan Todung Mulya Lubis, Cita-Cita Hukum Nasional & RUUPA (Dalam Buku Peradilan Agama Dalam Wadah Negara Pancasila yg disusun oleh Zuffran Sabrie), Pustaka Antara, Jakarta, 1990, hal. 107. hukum yg hidup dalam masyarakat, sekalipun itu bukan produk hukum negara, seperti hukum adat yg merupakan warisan nenek moyang, hukum Islam yg bersumber dari ajaran agama & hukum Barat yg merupakan peninggalan kolonialis.
Prinsip negara hukum sebagaimana pasal 27 ayat (1) yg berbunyi: “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam Hukum & Pemerintahan & wajib menjunjung Hukum & Pemerintahan itu dgn tidak ada kecualinya.” Persamaan di depan hukum di mana kepada seluruh warga negara diberikan pelayanan hukum yg sama tanpa diskriminasi. Namun, bukan berarti pelembagaan hukum Islam bertentangan dgn prinsip di atas penyebab bunyi Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 yakni: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk buat memeluk agamanya masing-masing & buat beribadat menurut agamanya & kepercayaannya itu.” Jaminan UUD 1945 ini mesti dipandang sebagai adanya kebebasan bagi kaum muslimin buat melakukan aktifitas keperdataan sesuai dgn konsep syari’at Islam sebagai keyakinan yg dianutnya.
Hadirnya hukum ekonomi syari’ah dalam ranah sistem hukum nasional merupakan pengejawantahan dari semakin tumbuhnya pemikiran & kesadaran buat mewujudkan prinsip hukum sebagai agent of development (hukum sebagai sarana pembangunan), agent of modernization (hukum sebagai sarana modernisasi) & hukum sebagai a tool of social engineering (sarana rekayasa sosial)22. Namun dgn bertambahnya kewenangan tersebut belum diimbangi dgn kesiapan sarana hukum sebagai rujukan hakim dalam memutus perkara. Oleh karena itu adanya produk legislasi yg mengatur tentang ekonomi syari’ah sudah sangat mendesak & urgen yg pasti akan dirasakan oleh para hakim di lingkungan Peradilan Agama.
Keberadaan peraturan perundang-undangan yg mengatur tentang ekonomi syari’ah yg akan datang adalah buat mengisi kekosongan hukum subtansial yg dijadikan rujukan oleh para hakim di lingkungan Peradilan Agama dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syari’ah, mengingat masih tersebarnya hukum materiil Islam khususnya yg berkenaan dgn ekonomi syari’ah di berbagai kitab fikih muamalah,25 sehingga gagasan legislasi fikih muamalah dapat dipandang sebagai upaya unifikasi madzab dalam hukum Islam.
Dgn demikian, kehadiran undang-undang yg mengatur kegiatan ekonomi syari’ah akan datang tidak perlu diperdebatkan lagi, karena kehadirannya di satu sisi buat memenuhi kebutuhan hukum masyarakat, di sisi lain secara subtansial akan dijadikan sebagai landasan bagi hakim Pengadilan Agama dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syari’ah. Selanjutnya diperlukan intervensi negara dalam pembentukan & pengaturannya karena berhubungan dgn ketertiban umum dalam pelaksanaannya.
BAB III
KESIMPULAN
Pluralitas agama, sosial & budaya di
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak yg melekat pada manusia karena ia adalah manusia. Hak buat menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, tidak ada seorang pun yg boleh mencabutnya. Negara pun tidak berhak merampas hak tersebut dari setiap individu. Pengakuan hak kebebasan beragama yg melekat dalam setiap individu tersebut dinyatakan dgn gamblang dalam deklarasi universal HAM Pasal 1 & 18.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. TT. Tafsir al-Maraghi,
Daud Ali Mohammad. 1999. Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum & Tata Hukum Islam di Indonesia.
Fatah, Syekh Abdul. 1990. Tarikh al-Tasyri al-Islam. Kairo: Dar al-Ittihad al’Arabi.
Hamka. 1976. Sejarah Umat Islam.
Mansyur. 1991. Sejarah Minangkabau.
Ridla, Muhammad Rasyid. TT. Tafsir al-Manar,
Suepomo. 1977. Bab-Bab Tentang Hukum Adat.
Yamanni, Ahmad Zaki. 1388 H. Islamic Law and Contemporary Issues. Jeddah: The Saudi Publishing House.
Nomor Urut PARPOL PEMILU 2009
Berikut adalah nama-nama partai & nomor urutnya yg ikut dalam pemilu 2009.
Silahkan anda perhatikan & amati baik-baik, partai mana yg akan menjadi pilihan anda diantara 34 partai tersebut, apakah no. 1-34 atau nomor 35........
Buat membedakan partai lama & partai baru penulis memberikan tanda bold (tebal) buat partai baru & biasa buat partai lama.
1. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).
2. Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
3. Partai Partai Pengusaha & Pekerja
4. Partai Peduli Rakyat Nasional.
5. Partai Gerakan
6. Partai Barisan Nasional.
7. Partai Keadian & Persatuan Indonesia (PKPI).
8. Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
9. Partai Amanat Nasional (PAN).
10. Partai
11. Partai Kedaulatan.
12. Partai Persatuan.
13. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
14. Partai Pemuda
15. Partai Nasional
16. Partai Demokrasi Pembaruan (PDP).
17. Partai Karya Perjuangan.
18. Partai Matahari Bangsa.
19. Partai Penegak Demokrasi
20. Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PPDK).
21. Partai Republik Nusantara.
22. Partai Pelopor.
23. Partai Golongan Karya (Golkar).
24. Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
25. Partai Damai Sejahtera (PDS).
26. Partai Nasional Banteng Kerakyatan
27. Partai Bulan Bintang (PBB).
28. Partai Demokrasi
29. Partai Bintang Reformasi (PBR).
30. Partai Patriot.
31. Partai Demokrat.
32. Partai Kasih Demokrasi
33. Partai
34. Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).
Wawancara dgn Pramoedya di Majalah Playboy
PLAYBOY: Di film Jalan Raya Pos, Anda mengatakan tidak yakin akan berumur panjang. Ternyata, sekarang berumur 81 tahun, bagaimana perasaan Anda?
PRAMOEDYA: Tahun ‘50, TBC mcmbunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya. Waktu itu belum ada obatnya. Yg tahu, obatnya kapur saja. Buat menutupi luka. Jadi, sudah sejak sangat muda, sudah berhadapan dgn maut. & saya sebagai anak tertua dgn tujuh adik menanggung semuanya.
Ada seorang professor mengatakan, ‘Kau nanti juga kena [TBC].’ Tapi ternyata, sampai sekarang nggak ada apa-apa. Saya nggak ada penyakit parah, cuma kesulitannya kalau nggak bisa tidur, itu lantas jatuh, drop saja. Nggak pernah menyangka. Keluarga saya praktis mati karena TBC. Saya nggak pernah ketularan. Sepanjang hidup saya heran, kok bisa sampai 81.
PLAYBOY: Masih punya mimpi?
PRAM: Saya nggak punya mimpi apa-apa. Masalah saya sekarang, hanya mati saja. Saya sudah sepuluh tahun nggak menulis. Juga nggak jawab surat. Ini sudah nggak bekerja [menunjuk kepala]. Sudah pikun.
PLAYBOY: Mimpi buat menuliskan kembali proyek yg dulu sempat dimusnahkan, seperti Ensiklopedi Indonesia?
PRAM: Ya, kliping saya sudah 8 meter panjangnya. Tapi biayanya melanjutkannya nggak ada. Nggak ada pemasukan yg beres. Paling sedikit lima orang diperlukan. Kalau satu orang dua juta, sepuluh juta satu bulan. Dari mana sumbernya? [tertawa].
PLAYBOY: Anda angkatan’45. Kalau nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bagaimana?
PRAM: Ah saya nggak mengharapkan begitu-begituan. Mau dibakar kek, mau dibuang kek, nggak soal.
PLAYBOY: Anda siap menghadapi kematian?
PRAM: Sejak muda, saya siap mati di manapun & kapan pun. Nggak ada soal. Jadi, nggak punya beban tentang mati.
PLAYBOY: Tidak ada yg Anda lakuti dalain hidup?
PRAM: Saya anggap sebagai tantangan sport. Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Dianggap berani atau nggak, saya nggak tahu [tertawa]. Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yg salah, saya tidak tahu.
PLAYBOY: Kadar gula Anda masih tinggi?
PRAM: Oh, gula saya memang tinggi. 460. Tapi saya obati dgn bawang putih. Setiap suap makan, gigit bawang putih, jadi semua luka kering sendiri. Jadi, dagingnya nggak membusuk. & saya anjurkan itu buat yg sakit gula. Saya kan juga latihan pernafasan kalau mau tidur. Tarik nafas sampai penuh, tambah lagi. Itu sportnya. Tahan baru buang. Belajar dari pengalaman saja. Mulai umur belasan tahun, setelah pisah dari keluarga.
HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?
PRAM: Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yg punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.
PLAYBOY: Tapi sejarah Indonesia akhir-akhir ini mesti diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh & Papua buat memisahkan diri?
PRAM: Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yg baik, ada yg buruk. Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yg namanya dialektika.
PLAYBOY: Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dgn PRD [partai Rakyat Demokratik]. Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri lidak terlihat arah organisasinya?
PRAM: Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, mesti hidup, tumbuh, berkembang hersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Soedjatmiko] lari, masuk ke PDI. Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sckolah itu kan Jalan buat jadi pegawai. Buat mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yg benar itu.
PLAYBOY: Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?
PRAM: Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? [tertawa].
PLAYBOY: Anda pernah menyebut Jimmy Carter berperan dalam pembebasan Anda. Itu bagaimana ceritanya?
PRAM: Itu Carter meminta supaya tahanan Pulau Buru dibebaskan. Kalau nggak, bantuan Amerika akan dihentikan buat Indonesia.
PLAYBOY: Jadi, bisa dibilang Anda diselamatkan Amerika?
PRAM: Ya memang Amerika. Tapi juga Amcrika juga yg waktu Presiden Enisenhower yg memerintahkan supaya Soekarno disingkirkan. Eisenhower ngomong begitu setelah babak belur di Vietnam. Ada masalahnya itu. Lantas dia perintahkan, singkirkan Soekarno! [tertawa].
PLAYBOY: Anda sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat Nobel, tapi belum jadi kenyataan juga.
PRAM: Yg jadi kandidat itu kan empat orang yg terakhir. Satu orang dapat, saya nqgak. Saya nggak tahu.
PLAYBOY: Apa itu ada hubungannya dgn sikap politik Anda dulu sebagai tokoh Lekra?
PRAM: Itu hak saya punya pandangan politik.
PLAYBOY: Tidak pernah berpikir, kalau mendapat Nobel itu bentuk pencapaian Anda sebagai penulis?
PRAM: Kalau dapat itu, berarti penghargaan dunia. Itu saja.
PLAYBOY: Tidak pernah bermimpi, ingin dapat Nobel sebelum meninggal?
PRAM: Nggak.
PLAYBOY: Jadi, penghargaan tertinggi dalam hidup buat seorang Pram?
PRAM: Penghargaan sudah saya dapat di mana-mana. Orang baca karya saya saja, sudah suatu penghargaan.
PLAYBOY: Dari semua karya Anda, yg merupakan pencapaian terbesar yg mana?
PRAM: Nggak tahu saya. Itu publik yg menentukan.
PLAYBOY: Dalam karya Anda, banyak figur perempuan yg menentang garis. Itu memang gambaran Anda tentang figur perempuan modern?
PRAM: Itu inspirasi dari ibu saya sendiri. Ibu saya meninggal sangat muda, umur 34. Suatu kali, waktu saya masih di SD, panen jagung di luar kota, saya dipanggil ibu. Kalau serius, ibu saya ngomongnya dalam bahasa Belanda. Jauh lebih bagus dari saya. Dia pesan, ‘Engkau nanti mesti belajar di Belanda sampai doktor.’ Itu beliau ngomong waktu saya masih SD & miskin sekali. Itu pesannya. ‘Jangan sampai kau minta-minta sama orang. Pada siapapun! Jangan minta-minta. Selesaikan tugas & kerjamu dgn tenagamu sendiri. Jangan minta-minta bantuan!’ Itu pesan ibu saya. Kenyataannya lain. Lulus SD, masuk SMP, Jepang datang, bahasa Inggris dilarang. Sampai [kelas] 2 SMP saya sekolah, itu pun nggak tamat, karena dibubarkan Jepang. Jadi, nggak pernah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Setelah Jepang pergi, saya nggak bisa ke perguruan tinggi. Bahasa Inggrisnya tidak bisa [tertawa].
PLAYBOY: Di masa itu apa artinya jadi doktor?
PRAM: Ilmu pengetahuan. Jadi mencukupi sebagai orang terpelajar. Kalau belum dapat gelar, ya belum [tertawa].
PLAYBOY: Tokoh Minke dibuat berdasarkan riset Anda tcrhadap tokoh pers Tirtoadisuryo. Apa tokoh perempuan di sekitarnya memang dinspirasi dari perempuan di dunia kenyataan?
PRAM: Itu simbolik saja. Supaya jadi anutan pembacanya. Saya mengharapkan wanita itu lebih maju daripada sekarang ini. Karena dia yg mendidik bangsa. Waktu saya masih kanak-kanak, ibu-ibu itu memproduksi. Ada yg membatik, ada yg nenun, bikin sabun segala macam. Kok, sekarang nggak ada? Tidak berproduksi wanita, tampaknya ya. Waktu saya kecil, ibu saya nenun, bikin batik, segala macam, buat kecap, sabun, dijual. Jarang terjadi sekarang ini di rumahtangga. Sehingga jadi bangsa yg konsumtif, tidak produktif. Akibatnya melahirkan benua korupsi. Malah orang menjadi kuli. Buat menjadi kuli itu, bayar mereka. Sampai Jerman mengatakan, Indonesia itu bangsa kuli di antara bangsa-bangsa dunia.
PLAYBOY:Apa arti perempuan buat Anda?
PRAM: Kalau saya melihat rbu saya, beliau yg membentuk saya jadi begini ini. ‘Jangan minta-minta. Selesaikan semua tugasmu dcngan kekuatanmu sendiri!’ Luar biasa! Dalam keadaan miskin [tertawa].
PLAYBOY: Begitu juga cara Anda mengarahkan anak Anda?
PRAM: Kalau buat saya, silakan kerjakan apa yg dimaui. “Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. Cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain buat tanggungjawab. Seperti Harto nanti [tertawa]. Nggak pernah bertanggungjawab pada perbuatan sendiri.
PLAYBOY: Dari tadi, cerita soal ibu terus. Lantas, bagaimana sosok ayah di mata Anda?
PRAM: Minus. Ayah saya itu Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah di situ. Unluk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia kan jadinya, terhadap anaknya? [tertawa]. Mengeccwakan dia lah.
PLAYBOY: Karena Anda nakal?
PRAM: Sampai tua saya nggak hisa main gundu [tcrtawa]. Sampai tua, nggak bisa menaikkan layang-layang. Nggak sempat main. Kerja terus. Saya menulis buat diterbitkan. Buat dapat uang. Habis, dari mana uang? Melihara kambing juga, nyariin makan scgala macam. Lantas dihina oleh murid-murid sekolah
pemerintah. Saya pernah mengadu sama ibu saya ‘Bu saya dihina sama orang-orang sekolah pemerintah.’ ‘Kenapa kau dihina? Kamu berani kerja, mereka nggak.’ Ibu saya bilang. ‘Udah biar saja.’
PLAYBOY: Ayah Anda direktur sckolah tapi masih kesulitan keuangan ya?
PRAM: Direktur itu gajinya 17 Guldcn setiap bulan.
HAPPY: Katanya anda sering membuat perempuan bule patah hati, benar?
PRAM: Banyak [tertawa]. Biasanya mahasiswi. Setiap negara, saya punya pacar. Begitulah.
PLAYBOY: Pacar yg bagaimana? Yg sehari kenal?
PRAM: Iya [tertawa]. Ada yg mau ikut saya segala macam. Nyusul segala. Anak-anak Jerman itu…
HAPPY: Kenapa? Karena Anda ganteng atau pintar merayu?
PRAM: Nggak tahu [tertawa].
PLAYBOY: Kalau mendengar kata seks, apa yg terlintas di benak Anda?
PRAM: Kalau sekarang sih, nggak ada apa-apa. Kalau dulu, kebakaran [tertawa].
HAPPY: Saya jadi tergila-gila Kartini karena Anda. Kalau Anda kenapa tergila-gila Kartini?
PRAM: Kartini? Mestinya saya punya empat jilid tulisan tangan Kartini. Dibakar sama militer. Tulisan itu hasil studi lapangan. Menemui saudara-saudaranya. Malah saya punya buku keluarga, masih lulisan Jawa. Itu dibakar semuanya. Kartini, itu orang luar biasa. Mendirikan sekolah dgn tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dgn pendidikan barat, waktu itu.
PLAYBOY: Tapi akhirnya dia menyerah pada keadaan, kawin dgn Bupati.
PRAM: Dia mesti mendengarkan kemauan keluarga. & keluarga disuruh oleh Residen. Biasa waktu itu.
HAPPY: Menurut Anda, perempuan itu yg penting cantik atau pintar?
PRAM: Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.
PLAYBOY: Dalam Mereka yg Dilumpuhkan, Anda menulis perempuan Sunda harganya paling tinggi. Maksud Anda?
PRAM: Itu karena perkebunan-perkebunan teh Jawa Barat banyak dikuasai Bclanda. Akhirnya anak-anaknya banyak yg jadi Indo [setengah bule].
HAPPY: Dari semua negara yg pernah Anda kunjungi, perempuan mana yg paling cantik?
PRAM: Dari Cina [tertawa].
PLAYBOY: Ada apa dgn perempuan Cina? Apa karena Cina di masa muda Anda adalah Cina yg sedang membentuk jati diri nasionalismenya?
PRAM: Di antaranya. Dinamika dalam masyarakatnya.
PLAYBOY: Dalam Hoakiau di Indonesia Anda memhantah anggapan sebelumnya tentang kolonialisme mengistimewakan masyarakat etnis Cina. Sekarang, etnis Cina teristimewakan secara ekonomi tidak?
PRAM: Mereka itu punya produktivitas yg lebih dari pribumi. Ini yg membuat mereka jadi bersinar. Bukan hanya Cina di sini. Cina di negerinya sendiri. Produktivitasnya lebih hebat.
PLAYBOY: Pernah merasa malu jadi orang Indonesia?
PRAM: Saya bangga jadi orang Indonesia. Penyebab seorang diri saya menulis. & itu yg mendapat berkahnya bangsa. Saya nggak merasa kecil hati sebagai anak bangsa. Saya merasa berjasa. Karya sudah diterjemahkan.
PLAYBOY: Tapi Anda diasingkan kc Pulau Buru tanpa ada pengadilan dulu?
PRAM: Bukan suatu kesalahan jadi anggota Lekra.
PLAYBOY: Kekuasaan belum berpihak pada kesejarahan yg benar, berarti bangsa ini akan tetap hegini?
PRAM: Itu bagaimana yg membuatnya saja. Sejarah itu kan, pribadi-prihadi yg bikin. Terserah yg bikinnya saja. Ya kalau kekuasaan nggak memperhatikan sejarah, publik yg memperhatikan. Itu nggak bisa dilarang, hak publik. Setiap terpelajar mulailah mendokumentesikan sejarah. Supaya setiap disaat punya bahan yg bisa dipakai. Tanpa dokumentasi, gerayangan saja. & mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indoncsia. Mesti dimulai.
PLAYBOY: Kenapa Anda sangat bersemangat dalam perihal sejarah?
PRAM: Lihat. Bangsa Indoncsia itu praktis belum memulai mcndokumentasi sesuatu. Bagaimana tahu sejarah? Wong sumbernya di situ. Mendokumentasikan berita koran, belum jadi tradisi. Saya mulai memang, tapi belum jadi tradisi. Kita nggak belajar dari Barat. Kurang belajar dari Barat. Sehingga tentang Indonesia, orang Barat yg nulis. Yg perlu itu, kebutuhan buat jadi bangsa yg modern. Bahkan kita nggak memerlukan tradisi warisan nenek moyg scndiri. Semua menjadi beban. Lebih baik dibuang saja. saya sendiri sudah memhuang Javanisme dalem diri saya.
PLAYBOY: Tapi kan manusia suka romantisme masa lalu?
PRAM: Itu hak seiiap orang buat suka ini, suka itu. Tapi, perlu atau nggak. Yg kita perlukan itu yg akan datang. & ini perlu kesiapan.
PLAYBOY: Apa perihal dari Kejawaan yg anda rindukan? Wayg misalnya>
PRAM: Saya nggak suka wayang. Pertama, itu bukan Jawa, tapi India. Wayg sudah berhenti sejak umur 17-an, karena nggak ada. Saya pindah ke Jakarka kan nggak ada. Saya ingin mendengar gamelan. Itu ada kasetnva, tapi nggak ada vang memasangkan.
PLAYBOY: Kenapa gamelan?
PRAM: Rindu saja. Itu sejak kecil musik saya gamelan. Gamelan itu merupakan mahkota. Saya puluhan tahun nggak dengar gamelan.
PLAYBOY: Banyak vang menganggap dalam Arok Dedes, Ken Arok sebagai simholisasi karakter Soeharto. Apa yand sama & apanya yg tidak?
PRAM: Lhoo nggak tahu saya. Siapa yand bikin? Bukan saya yg membandingkan.
PLAYBOY: Menurut Anda, sama?
PRAM: Soalnva bukan sama. Harto masih hidup, Arok sudah nggak ada [tertawa].
PLAYBOY: Mungkin orang melihat kesamaannya, dalama pendkhianatannya?
PRAM: Soeharto orang yg nggak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri, sampai sekarang. Perebutaan kekuasaan saja.
PLAYBOY: Tidak ingin bertemu Soeharto?
PRAM: Nggak mau saya. Tapi dia pernah kirim surat. Dia bilang, kesalahan itu manusiawi. Tapi kita mesti punya keberanian buat yg benar & dibenarkan.
PLAYBOY: Bagaimana pandangan Anda terhadap penguasa sekarang?
PRAM: Saya nggak percaya sama yg berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya menulis buat mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yg sewenang-wenangnya.
PLAYBOY: Pada kekuasaan seperti apa Anda akan percaya?
PRAM: Yg benar. Apa yg diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yg ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yg begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Sueharto, kok nggk melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selaman angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yg bakal jadi pemimpin.
PLAYBOY: Orde Baru juga membandun membangun gerakan pemuda dgn caranya sendiri. Kalau masih sebagai alat politis juga?
PRAM: Ini dunia. Bukan sorga. Ada yg baik & yg jelek. Berkembang bersama-sama.
PLAYBOY: Menurut Anda sejarah kepemimpinan kita berhenti sampai Soekarno?
PRAM: Soekarno itu suatu contoh. Dia menguasai persoalan budaya, politik, geografi. Sekarang ini geografi nggak dapat perhatian apa-apa. Persoalannya, ini tanah air lebih banyak lautnya daripada daratnya. Itu sudah masalah. & kekuasaan di lauf nggak punya. Kekuasaan di darat terus. Belum pernah ada pernyataan Indonesia itu negara maritim. Belum pernah ada.
PLAYBOY: Soekarno satu-satunya pemimpin ideal di mata Anda. Tapi, karena Hoakiau di Indonesia dua memenjarakan Abda.
PRAM: Oh yg memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno.
PLAYBOY: Anda masih punya dendam terhadap militer?
PRAM: Saya nggak suka militer Indonesia. Itu grup bersenjata menghadapi rakyat yg nggak bersenjata. Kalau ada perang internasional, lari terbirit-birit. Karena biasanya yg dilawan rakyat tanpa senjata. Tapi saya nggak punya dendam kepada siapapun. Semua saya anggap tantangan sport. Saya menjawabnya, dgn menulis. Itu yg saya bisa. & sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa karya-karya saya. Seluruh dunia, kecuali Afrika yg belum pernah diterjemahkan.
PLAYBOY: Mendendam kepada pembakaran & perampasan karya Anda dulu?
PRAM: Wah, saya nggak bisa memaafkan. Yg dibakar aja delapan. Belum yg hilang di penerbit-penerbit. Nggak tahu kok, sejarah saya sejarah perampasan. Nggak ngerti saya. Ini pendengaran saya juga hilang. Ini kerjaan militer juga, yg bikin saya setengah tuli. Dihajar pakai popor senapan.
PLAYBOY: Anda sakit hati?
PRAM: Itu semua saya sekali lagi terima sebagai tantangen sport. Rumah dirampas sejak tahun ‘65 sampai sckarang. Nggak ngerti saya, orang kok bisa begitu. & perpustakaan yg dikumpulkan puluhan tahun, dibakar begitu saja. Saya nggak ngerti orang bisa begitu. Belum naskah asli delapan yg belum sempurna, dibakar. Ini nggak bisa saya maafkan.
PLAYBOY: Setelah itu habis, Anda pernah berusaha menuliskannya lagi?
PRAM: Nggak bisa. Mood-nya sudah lain. Nulis lagi nggak bisa. Perpustakaan dibakar. Salahnya apa? Saya mengumpulkan satu demi satu belasan tahun itu, tapi sekarang sudah ada lagi perpustokaan di lantai tiga, kalau mau lihat.
PLAYBOY: Pandangan Anda terhadap anak-anak Soekarno?
PRAM: Nggak ada istimewanya. Tidak seperti bapaknya. Ke sini pun pada nggak.
PLAYBOY: Anda dekat dgn Soekarno?
PRAM: Kadang-kadang ngajak ketemu. Dia juga tidak kenal saya. Pernah nanya, Mas Pram Islamolog ya? [tertawa].
PLAYBOY: Ada anggapan negara ini teralu besar buat dipertahankan sebagai negara kesatuan. Menurut Anda?
PRAM: Ini secara geografi, Indonesia itu memang satu. Dulu namanya Nusantara waktu Majapahit. Waktu Singasari, Dipanatara. Dipa itu benteng. Renteng antara dua benua. Nusantara, kepulauan antara dua benua.
PLAYBOY: Kalau Indonesia menjadi negara federasi?
PRAM: Itu terserah kehendak publik. Cuma, kalau federal ya aturannya jadi banyak sekali. Sctiap daerah punya aturan sendiri.
PLAYBOY: Anda juga sering protes soal nama Indonesia.
PRAM: Persoalannya yg menamai [Indonesia] itu Inggris.
PLAYBOY: Harusnva?
PRAM: Nusantara saja cukup. Atau Dipantara.
PLAYBOY: Katanva, Bumi Manusia sudah dibeli right-nya. Konon, Oliver Stone mau mengambil hak buat filmnya. Kenapa Anda menolak?
PRAM: Cuma US$60 ribu [tertawa].
PLAYBOY. Tapi, Anda menjualnva ke seorang pengusaha Indonesia?
PRAM: Itu satu setengah milyar. & mesti tunai.
PLAYBOY: Jadi persoalannya cuma karena harga. Tapi kan magnitude-nya berbeda kalau Hollywood yg membeli?
PRAM: Tcrserah pembuatnya saja. Saya nggak mencampuri itu. Haknya pembeli.
PLAYBOY: Selain Bumi Manusia, yg sudah dibeli film right-nya, apalagi?
PRAM: Ini yg sedang dalam pcmbicaraan itu, Mangir. Tapi saya nggak ingat siapa orangnya. Nama-nama & angka sulit saya ingat.
PLAYBOY: Punya harapan terhadap film itu kalau,jadi nantinya?
PRAM: Terserah. Itu hak pcmbeli.
PLAYBOY: Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan buat menontonnya dulu sebelum mcninggal?
PRAM: Sulit melihat saya. Nggak lahu ini mata, kok mengganggu saya.
PLAYBOY: Bagaimana Anda melihat kondisi penulis sekarang?
PRAM: Pengalaman hidup lain dari penulis-penulis haru ini. Jadi, rasa-rasanya ya kurang sreg gitu [tertawa].
PLAYBOY: Terakhir Anda baca apa?
PRAM: Wah sudah sulit saya haca. Paling koran & kliping. Buku ya selintas saja. Matanya sudah sulit buat melihat. Inilah anehnya jadi tua [tertawa]. Pikun. Kacamata dicari-cari tahunya dipakai.
PLAYBOY: Puisi?
PRAM: Nggak pernah. Satu puisi yg pcrnah saya baca, karya Chairil. Hidup saya prosais. Walaupun dulu pernah buat dua, tiga puisi. Nggak ada kesan. Kecuali karya Chairil yg “Aku”. Pada waktu itu pendudukan Jepang yg kejam sekali. & Chairil menantangkan. ‘Saya binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.’ Itu kan menolak Jepang. Dia nggak mau jadi budaknya Jepang. Sajak itu membuat ditangkap Polisi Militer Jepang. Tapi dilepas lagi. Luar biasa itu. Menantang kekuasaan militer Jepang.
PLAYBOY: Ada yg menganggap Chairil tidak bisa menulis, menurut Anda?
PRAM: Dia kan terlampau muda matinya. Saya pernah ketemu sckali saja di atas keretaapi, di Karawang. Dia megangin tangan temannya. ‘Kau yg bertanggungjawab ya. Kau yg bcrtanggungjawab ya.’ Mungkin takut dia. Karawang kan pusat Laskar Rakyat.
PLAYBOY: Selain kliping, apa lagi yg biasanya Anda kerjakan di rumah ini?
PRAM: Bakar sampah. Pagi biasanya setengah lima saya bangun. Masih sepi semua & belum tentu ada kopi. Saya nempel-nempel kliping. Sudah ada delapan meter mungkin kliping. Jadi nanti kalau oranq cari apa-apa, klipingnya sudah disusun menurut abjad. & saya rasa nggak ada yg bikin kliping. Itu nanti siapa saja boleh kalau mau cari informasi di kliping. Tapi masalahnya geografi saja. Saban hari bertambah.
PLAYBOY: Apa kenikmatan membakar sampah?
PRAM: Ada kenikmatannya, aku bisa bilang: ‘lihat, aku bisa hancurkan kau!’ [tertawa].
PLAYBOY: Selain kliping & bakar sampah, apa lagi yg Anda kerjakan?
PRAM: Jalan. Mondar-mandir. Membetulkan cabang-cabang yg nggak perlu, dibabat. Saya senang di sini, nggak terganggu keributan kota. Melihat ke sana lihat rumput, lihat kolam ikan, kolam renang. Nggak ada keinginan apa-apa lagi.
PLAYBOY: Siapa yg mengajak Anda pindah ke sini?
PRAM: Ada orang dekat menawarkan tanah. Saya mau karena jauh dari Jakarta. Nggak kuat saya di Jakarta. Di sini sejuk. Anginnya sehat. Jakarta itu air tanahnya sudah campur tai semua. ltu masalah pokok. Belum macetnya. Belum kejahatannya. Sepanjang jalan kejahatan melulu.
PLAYBOY: Kenapa tidak kembali ke Blora?
PRAM: Nggak. Kalau pulang kc Blora, ingat kesedihan waktu kecil. Jam setengah lima sudah mesti belanja ke pasar. Pulang terus sekolah. Pulang sekolah, cari kayu bakar. Ngurus kambing, ngurus adik-adik. Apalagi waktu orangtua meninggal semua. Semua jatuh ke tangan saya, sebagai anak pertama. Nyekolahkan, kasih makan.
PLAYBOY: Masih ingat tulisan pertama Anda?
PRAM: Kan sudah dibakari militer. Ada waktu di SD saya nulis naskah. Saya kirim ke penerbit Kediri, Tan Kun Shui. Ditolak [tertawa]. Ceritanya macem-macem. Nggak bisa mengingat lagi. Ya itu pembakaran tahun ‘65. Kehilangan banyak naskah.
PLAYBOY: Tidak pernah mcncoba rokok selain Djarum?
PRAM: Nggak. Kebiasaan saja. Ini Djarum asbaknya. Pernah coba rokok putih. Nggak cocok.
PLAYBOY: Sewaktu di Pulau Buru kan tidak selalu bisa beli rokok?
PRAM: Menanam sendiri tembakaunya. Kerasnya persetan. & kulitnya, kalau nggak ada kertas, Injil segala dipakai [tertawa].
PLAYBOY: Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang perihal yg tidak Anda percaya?
PRAM: Ya makin tidak percaya [tertawa].
PLAYBOY: Hasil membaca buku tentang Hindu & Budha melahirkan Arok Dedes. Kenapa tidak ada buku hasil refleksi Anda tentang hubungan Islam & Kristen?
PRAM: Waktu itu belum jadi persoalan. Belum ada Kristen-Islam.
PLAYBOY: Selama di Pulau Buru, tidak pernah memikirkan kebutuhan biologis?
PRAM: Nggak berbuat apa-apa. Diterima saja semuanya sebagaimana adanya. Semua kan dicurahkan pada tulisan.
PLAYBOY: Apa yg paling tidak bisa Anda lupakan dari Pulau Buru?
PRAM: Banyak. Antaranya saya menemukan mangga di pinggir kali. Lantas, saya kembangbiakkan. Jadi banyak. Nanti kalau ke Buru, ada pohon mangga, ingat saya [tertawa]. Tadinya nggak ada di pedalaman. Saya melihara ayam delapan. Telornya itu buat beli rokok, beli kertas, beli karbon di pelabuhan. Karena saya kan di pedalaman. & saya senang sekali, sekarang Pulau Buru jadi gudang beras Maluku. Pekerjaan kami itu. Jalanan kami bikin sepanjang 175 km. Belum sawahnya. Belum irigasinya. Belum ladangnya. Kalau sore itu udaranya dihiasi pelangi. Kalau hujan, air dgn keras turun ke bawah. Ikan melawan arus air hujan. Tinggal tangkap saja. Berkarung-karung itu [tertawa].
Sumber: PLAYBOY, Edisi I, April 2006
Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer
Tulisan ini dimuat buat mengenang sastrawan kita Pramoedya Ananta Toer. Berikut ini artikel yg ditulis oleh Linda Christanty tentang PramoedyaPRIA 68 tahun itu sudah digerogoti uban, setengah botak. Namun, ingatannya masih tajam. Nada bicaranya tegas. Terkadang dia berapi-api, lalu menyurut sedikit buat soal-soal yg memedihkan hati & sepasang mata tuanya ikut merah berkaca-kaca. Gendang telinga pria ini sudah rusak dihantam popor senapan, sehingga membuat orang mesti berbicara keras padanya. Dia tuli. Buat lebih aman, biarkan dia saja yg bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar ketimbang tamu-tamunya yg berpendengaran normal.
“Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution yg dianugerahi bintang lima di masa Soeharto, kini sudah almarhum) telah membunuh teman saya, membuat teman saya mati. Waktu itu kami sedang mempertahankan Bekasi, tepatnya di daerah Lemah Abang. Nasution & Soeharto itu sama saja, sama-sama KNIL,” tuturnya, pahit, teringat pengalaman berjuang melawan Belanda.
Di tengah emosi yg campur-aduk tadi tak bisa disembunyikannya rasa benci terhadap penguasa Orde Baru yg telah mengirimnya ke Pulau Buru, tanpa pengadilan, & memaksanya hidup seperti Rubashov, seorang Bolshevik yg dihukum partainya sendiri. Rubashov tak lain tokoh dalam novel Arthur Koestler, Gerhana Tengah Hari. Pram, pria tua itu, menyukai novel tersebut.
Pada September 1965 pertikaian Angkatan Darat dgn Partai Komunis Indonesia mencapai puncak. Sejumlah perwira tinggi tiba-tiba diculik. Partai Komunis Indonesia dituding bertanggung jawab. Ketika itu presiden Soekarno sendiri kurang mesra dgn tentara & dianggap bersimpati pada sayap kiri di parlemen. Di tengah pertikaian elite politik inilah intrik & kasak-kusuk terjadi. Soeharto—seorang jenderal Angkatan Darat—memancing di air keruh, merebut kekuasaan & memerintahkan pembersihan terhadap orang-orang partai komunis di Indonesia. Pram yg menjadi pengurus lembaga kebudayaan partai itu ikut diburu.
Empat belas tahun dia menjalani hukuman, mulai dari sel penjara Salemba, Nusakambangan, sampai daerah gersang Buru. Sudah ditulisnya dua jilid otobiografi berdasarkan catatan pribadi selama di Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Catatan ini berbentuk surat pada putrinya yg baru saja menikah disaat dia akan dibuang ke pulau tersebut, surat-surat yg tiada pernah terkirim. Barangkali, hidup tanpa hak-hak layak sebagai manusia membuat Pram ingat pada Rubashov, tokoh novel Koestler. & ternyata, penindasan ada dalam sistem manapun, kapitalisme juga sosialisme yg korup.
Dalam rumah beton dua lantai yg dibangun dari buku-bukunya yg laris di luar negeri, Pram belum bisa tidur nyenyak. Dia masih diawasi, wajib lapor, & tak bisa pergi ke luar negeri buat menerima penghargaan terhadap novel-novelnya. Di Indonesia, tahun 1993, tak satu pun buku Pram boleh beredar. Buku-bukunya dituduh mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Buat membaca buku Pram orang mesti sembunyi-sembunyi. Buku-bukunya beredar dari tangan ke tangan. Tiga aktivis pernah mendekam di sel gara-gara menyebarluaskan karya-karya Pram. Namun, Pram termasuk beruntung. Dia panjang umur, bisa memperjuangkan kemanusiaan lewat tulisan, & menjadi saksi dari berbagai zaman. Ratusan kawan senasibnya mati di kamp kerja paksa Buru & yg selamat, sebagian sakit jiwa; tinggal seonggok daging bernyawa tempat jiwa membusuk. Lebih sial lagi, nasib mereka yg terjebak di luar negeri. Pemerintah Soeharto sudah siap menangkap mereka yg kembali. Namun, di atas segala derita, rakyat kebanyakanlah yg paling naas. Jutaan mereka tumpas dibunuh tentara & tangan-tangan pemuda yg menjadi kacung. Barangkali, buat mereka yg terakhir inilah novel-novelnya dipersembahkan.
Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, & bahkan, mereka yg hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yg hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yg mendirikan candi atau serdadu yg memberontak & memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yg hina itu juga punya andil buat tanah yg merdeka di beragam zaman.
Soekarno, tokoh perjuangan sekaligus presiden pertama Indonesia yg Pram kagumi, pernah berucap tak ada perubahan besar di muka bumi ini tanpa melibatkan massa. Jangan pernah meremehkan massa. Dari sanalah kekuatan perubahan berpusat & menyebar. Pramoedya Ananta Toer tentu memahami ucapan Soekarno, mungkin melebihi siapa pun. Dia kemudian menulis tentang mereka.
Dalam tetralogi Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh—gundik seorang Belanda—menampilkan sosok pribumi pantang menyerah. Ontosoroh mengangkat martabat hidupnya yg setaraf budak menjadi perempuan yg menguasai ilmu dagang, pintar menulis & bercakap dalam bahasa penjajahnya. Ada pula tokoh pelarian dari negeri Cina, perempuan yg mengajari Minke—tokoh utama novel ini—tentang perlawanan terorganisasi, bernama Ang San Mei.
Ontosoroh sekuat tenaga melawan hukum-hukum Belanda yg sah merebut anak perempuannya & semua harta dari kerja kerasnya. Ang San Mei ikut gerakan bawah tanah melawan kaisar perempuan Ye Si yg disokong penjajah Barat di Tiongkok. Ontosoroh kalah. Ang San Mei meninggal dunia di tanah pelarian. Namun, yg terpenting mereka sudah melawan.
Selain tetralogi Bumi Manusia yg melegenda itu, ada satu lagi novel Pram yg selalu diingat orang, Arus Balik. Novel ini berlatar abad ke-16 & Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.
Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng & Idayu menetap di Tuban, padaperihal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.
Tuban, kota pelabuhan yg telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal dari barat, timur, & utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari Maluku & cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula, garam, & minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik & perang saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon, Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan Ranggalawe, gubernur Tuban yg memberontak pada Majapahit.
Pada 1511 terjadi perubahan arus modal & perniagaan di Nusantara. Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah wilayah strategis di Semenanjung yg pernah dikuasai dua kerajaan besar, Sriwijaya & Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia. Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, & India tak berani singgah di bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban. Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.
Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari Demak, mencoba merebut bandar tersebut dgn mempersatukan Nusantara. Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah merampas Jepara & menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yg dipimpin Adipati Unus telah kalah dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.
Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti. Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka buat diri-sendiri. Tuban mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum Wiranggaleng, pemuda desa yg lugu, buta politik, yg semata-mata orang suruhan penguasa Tuban.
Adipati Unus satu-satunya orang yg berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, & berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yg terjadi bukan kekalahan perang, tapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206)
Arus Balik mengungkap seputar intrik & permainan politik yg berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, & agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yg lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.
Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa, datang ke Tuban & berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar. Adipati Tuban nekad memelihara musuh yg tengah dicari-cari utusan Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang Demak-Jepara & pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yg fasih bahasa Portugis & Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dgn Portugis, bisa menguntungkan Tuban beserta menghidupkan kembali pelabuhan yg sepi. Baginya, Tuban mesti makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak Adipati Tuban yg lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.
Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya ambisi berbeda dgn Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka sebagai kamuflase tujuan sejatinya buat merebut Sunda Kelapa, Cimanuk, Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya & tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yg terkecoh oleh muslihat Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng & pasukannya ke Semenanjung. Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yg berkhianat. Tentara Demak justru menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu kadipaten Tuban.
Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku & Nusa Tenggara Barat, membinasakan armada dagang Tuban & Blambangan yg selama ini memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah. Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa, mendirikan benteng di Pamanukan & mengintai Tuban. Arus sudah berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat, ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya, armada laut asing muncul dari ujung selatan & memasuki wilayah Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan & niaga. Inilah babak awal kapitalisme perdagangan di Nusantara.
Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang buat menahan arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda Adipati Unus. Dia berhubungan baik dgn penguasa Lao Sam. Dia sudah mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa & menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yg berharap, Galeng membuat keputusan.
“Telah aku baktikan masa mudaku & tenagaku & kesetiaanku. Biar pun hanya secauk pasir buat ikut membendung arus balik dari utara. Arus balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan buat itu ada pada Trenggono, & Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan buat menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yg selatan tetap tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan buat menyedarkan raja & sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak arus balik dari utara, bukan saja buat jaman kemerosotan ini, juga kelangsungannya buat selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah berhasil. Ia gerakkan tangannya & semua jadilah yg dipegangnya, semua bangun yg disentuhnya. Pergilah dia, pergi buat selama-lamanya, meninggalkan kebesaran & arus besar yg mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan & kekecewaan dalam diri & terhadap diri-sendiri.” (hlm. 749)
Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan sebagai wanita yg hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada membunuh sang raja yg tak mau tunduk berbeserta pengikutnya. Asal-usul Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.
Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yg dijuluki “literatur maritim Nusantara” tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yg tak sebanding dgn kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal & politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.
Pram juga terlalu melebih-lebihkan Majapahit sebagai kerajaan laut terbesar di Nusantara. Apakah lantaran dia meminjam mulut Wiranggaleng, pemuda desa, sehingga penjelasannya yg sembarangan ini bisa diterima? Apakah lantaran tokoh rekaannya itu cuma orang desa yg tak punya pengetahuan luas, sehingga pernyataannya bisa dimaklumi? Jelaslah di sini betapa kejayaan Nusantara dipandang dari sudut orang desa pedalaman Jawa.
“Tunggu,” tegah Wiranggaleng, “biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini …” (hlm. 746)
Pram lupa bahwa kerajaan Majapahit yg mulai berdiri pada abad ke-13 tersebut hanya mengalami 70 tahun masa jaya. Sriwijaya yg menguasai samudra sejak abad ke-7 sampai awal abad ke-13 tak disinggung sebagaimana mestinya. Tahukah Pram bahwa perang laut terbesar di Asia Tenggara terjadi ketika Sriwijaya mengerahkan seratus ribu tentara laut melawan Funan?
Namun, selebihnya Pram cukup jeli menghadirkan situasi sesuai zaman. Kosa kata bahasa Melayu yg jadi lingua franca waktu itu muncul di sana-sini, seperti seluar (celana), ditunu (dibakar), para-para (lekukan kayu di dinding), tegah (cegah), & sebagainya. Ini juga jejak-jejak Sriwijaya, bukan?
Ah, pria itu kini menjelang 78 tahun usianya. Dia sudah pindah dari rumah beton berlantai dua. Tentu saja ke rumah yg lebih megah, berlantai lima, dekat kota hujan Bogor. Dia sudah bebas ke luar negeri sekarang, karena pemerintah Soeharto tumbang lima tahun lalu. Buku-bukunya bebas dicetak ulang. Dia sudah kaya-raya. Dia sudah menang.
“Apa rahasia Pak Pram menjaga stamina?” tanyaku, hampir sepuluh tahun lalu.
“Berolah raga teratur. & kamu kenapa kurus begitu? Jaga kesehatan, makan vitamin C 500 miligram sehari. Kalau ba& lemah, bagaimana bisa menang lawan Soeharto,” jawabnya, terkekeh.
Lupa kutanyakan mengapa dia menulis begitu banyak buku & tebal-tebal. Namun, terbersit juga sebaris kalimat catatan harian Rubashov dalam novel Koestler itu: Tiap pikiran salah yg kita turut berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yg akan datang. Barangkali, itulah penyebab dia menulis, ingin mengungkap apa yg dulu disembunyikan atau tersembunyi dari pengetahuan angkatan yg kemudian.
Source: http://aboutlindachristanty.wordpress.com/2007/03/20/arus-balik-dalam-hidup-pramoedya-ananta-toer/
TANTRA, ILMU PEMBEBASAN

Tantra adalah ilmu pengetahuan kerohanian yg buat pertama kalinya diajarkan di India 7000 tahun silam. Tan barasal dari akar kata Sansekerta yg berarti “perluasan”, & Tra berarti “pembebasan”. Dgn demikian Tantra merupakan latihan rohani yg mengangkat manusia ke dalam suatu proses yg memperluas pikirannya. Tantra menghantar manusia dari suatu keadaan tidak sempurna menjadi sempurna, dari keadaan kasar menjadi halus, dari kemelekatan menjadi terbebaskan.
Perkembangan Tantra berjalin dgn perkembangan peradaban di India kuno. Pada disaat Tantra tumbuh menjadi latihan rohani yg utama, India sedang mengalami suatu masa persimpangan sejarah. Di barat laut suku-suku pengembara dari Asia tengah, yaitu Arya, mulai memasuki India yg mereka namakan Bharata Varsha (tanah yg menghidupi & mengembangkan umat manusia). Meskipun mereka adalah bangsa pengembara dgn kebudayaan perang, di kalangan mereka ada juga para bijak yg dikenal sebagai Rishi yg mulai mengungkapkan berbagai pertanyaan mendasar tentang asal mula & tujuan alam semesta.
Para bijak itu menyampaikan ajaran-ajarannya dari mulut ke mulut, & belakangan mereka mengumpulkannya menjadi buku yg dikenal dgn nama Veda. Dalam ajaran-ajaran ini mereka mengemukakan pemikiran tentang Kesadaran Yg Maha Tinggi, jauh lebih maju daripada berbagai konsep yg sebelumnya ada di dunia ini mengenai para dewa yg dianggap menghidupi kekuatan alam. Mereka juga mengembangkan sistem doa & puja agar dapat memasuki keterhubungan dgn Kesadaran Agung, namun kebanyakan bentuknya masih bersifat eksternal, ritual belaka.
Di India suku bangsa Aria berhadapan & bertempur dgn penduduk pribumi - bangsa Austrik, bangsa Mongolia, & bangsa Dravidia. Bangsa Aria menganggap para pribumi ini merupakan bangsa yg lebih rendah, & dalam dongeng India seperti Ramayana, bangsa-bangsa itu dilambangkan seperti para monyet & hantu.
Meskipun dianggap rendah, namun bangsa Arya sangat tertarik pada latihan rohani yg dipraktikkan para pribumi. Pendekatan rohani yg dianut mereka yg bukan Arya adalah Tantra, & itu sangat berbeda dgn syariat Veda milik kaum Arya, karena Tantra pada dasarnya adalah proses introvers, masuk ke dalam, bukan sekedar upacara eksternal saja. Banyak orang Arya yg mulai mempelajari cara pengembangan rohani Tantra, & pada masa kemudian buku-buku Veda sangat dipengaruhi oleh Tantra.
Dalam masa peperangan antara suku bangsa Arya & non-Arya, lahirlah seorang agung. Namanya Sadashiva, artinya “dia yg selalu terserap dalam kesadaran” & “dia yg sumpah satu-satunya hanyalah buat memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan”. Sadashiva, dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang Guru rohani yg istimewa. Meskipun Tantra sudah dipraktikkan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yg pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistematis bagi umat manusia.
Bukan saja beliau adalah seorang guru spiritual, namun beliau juga pelopor sistem musik & tari India, dari penyebab itu beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraj (Tuhan Penata Tari). Shiva juga merupakan pelopor ilmu pengobatan India, & menurunkan suatu sistem yg terkenal dgn nama Vaedya Shastra.
Dalam bidang sosial Shiva juga memainkan peranan penting. Beliau memelopori sistem pernikahan, yaitu kedua mempelai menerima saling tanggung jawab demi keberhasilan perkawinan, tanpa memandang kasta atau suku. Shiva sendiri melakukan perkawinan campur, & dgn mengawini seorang putri Arya beliau membantu menyatukan berbagai pihak di India yg sedang saling berperang & memberikan bagi mereka suatu sudut pandang sosial yg lebih universal. Karena kepeloporan sosial ini Shiva dikenal juga sebagai “Bapa peradaban manusia”.
Sumbangan terbesar dari Shiva pada kelahiran peradaban yg baru adalah pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata Sansekerta yg berarti “sifat dari sananya” milik sesuatu hal. Apakah yg menjadi sifat alamiah & kekhasan manusia? Shiva menerangkan bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yg diperoleh dari kepuasan inderawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dgn tanaman atau binatang karena apa yg sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan hidup manusia, & ajaran rohani Shiva ditujukan buat memberdayakan manusia buat mencapai tujuan itu.
Seperti halnya dgn berbagai ajaran kuno lainnya, ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, & baru kemudian dituliskan ke dalam buku. Isteri Shiva, Parvati, sering bertanya pada beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya, & kumpulan tanya jawab ini dikenal sebagai Tantra Shastra (kitab suci Tantra). Ada dua macam buku. Prinsip-prinsip Tantra terdapat dalam buku bernama Nigama, sedangkan praktik-praktiknya dalam buku Agama.
Sebagian buku-buku kono itu telah hilang & sebagian lagi tak dapat dimengerti karena tertulis dalam tulisan rahasia buat menjaga kerahasiaan Tantra terhadap mereka yg tak memperoleh inisiasi, namun dgn demikian pemikiran-pemikiran Tantra tak pernah terungkapkan dgn jelas.
Guru & Murid
Dalam berbagai ulasan mengenai Tantra Shastra & dalam bukunya mengenai kehidupan & ajaran Shiva, Shrii Shrii Anandmurti mengemukakan beberapa pemikiran dasar bersumber dari ajaran-ajaran kuno itu. Salah satu unsur utama dalam Tantra adalah hubungan antara Guru & murid. Guru berarti “seseorang yg dapat menyingkirkan kegelapan” & Shiva menjelaskan bahwa agar diperolehnya keberhasilan rohani mesti ada seorang guru yg baik & seorang murid yg baik.
Shiva menjelaskan bahwa ada tiga jenis Guru. Golongan pertama adalah guru yg memberikan sedikit pengetahuan namun tidak menindaklanjuti pengajarannya. Jadi mereka pergi & meninggalkan murid tanpa pengarahan. Kelompok kedua atau tingkat menengah adalah mereka yg mengajar & mengarahkan para muridnya sebentar namun tidak selama masa yg diperlukan murid buat mencapai tujuan akhirnya. Jenis guru yg paling baik menurut Tantra adalah yg memberikan pengajaran & kemudian mengupayakan terus menerus agar muridnya mengikuti semua petunjuk & sampai menyadari tujuan akhir kesempurnaan manusia.
Ciri guru yg istimewa ini lebih jauh diperinci dalam Tantra Shastra. Guru adalah yg tenang, dapat mengendalikan pikirannya, rendah hati, & berpakaian sederhana. Dia memperoleh penghidupannya secara layak, & berkeluarga. Dia fasih dalam filsafat metafisik & matang dalam seni meditasi. Dia juga tahu teori & praktik pengajaran meditasi. Dia mencintai & menuntun para muridnya. Guru yg demikian disebut Mahakoala.
Namun meskipun ada seorang guru yg hebat, tetap saja mesti ada sesorang yg dapat menyerap pelajarannya. Tantra Shastra menguraikan tiga kelompok murid. Jenis pertama dapat dibandingkan dgn sebuah gelas yg dibenamkan ke air dgn mulut kebawah. Meskipun berada di dalam air & tampak penuh, namun bila dikeluarkan dari air akan tetap kosong. Ini seolah seorang murid yg berlaku baik di depan gurunya, namun begitu gurunya pergi, murid itu tidak melanjutkan latihannya & tidak dapat menerapkan pelajarannya dalam keseharian.
Kelompok murid kedua adalah seperti gelas yg dicelupkan miring ke dalam air. Tampaknya memang penuh disaat terbenam namun ketika diangkat akan kehilangan banyak air. Murid seperti ini adalah yg tekun disaat kehadiran gurunya namun perlahan-lahan akan berkurang bahkan meninggalkan latihannya sama sekali.
Kelompok murid yg terbaik dilambangkan dgn gelas yg dibenamkan dalam air dgn posisi tegak. Disaat dalam air gelas itu penuh & disaat diangkat keluar air tetap penuh. Murid seperti ini tekun berlatih di hadirat gurunya & terus bertekun biarpun secara fisik terpisah jauh dari gurunya.
Hubungan guru murid sangat penting & merupakan ciri kunci dalam Tantra. Jalan rohani sering disamakan dgn sisi tajam pisau cukur. Mudah sekali keluar dari jalur & dgn demikian memang sulit memperoleh pembebasan. Sang guru selalu hadir buat mencintai & menuntun si murid pada setiap tahap upayanya.
Shiva adalah Mahakoala, namun sejak kematiannya tak ada guru yg sepa& lagi dengannya & Tantra mengalami surut. Berbagai ajarannya hilang & sebagian lagi terpelintir. Kini Tantra terselubung misteri & banyak sekali salah pengertian mengenainya.
Meraih pengertian tentang M
Buat mengerti sumber salah pengertian itu, patut kita teliti mengenai 5M, yaitu beberapa latihan rohani yg dinamai dgn huruf mula M. Shiva mulai mengajarkannya sepa& dgn kemajuan murid. Beliau mengamati bahwa orang terntentu masih pada tingkat terkuasai oleh nafsu hewani & sebagian lain sudah berkembang lebih tinggi. Beliau memberikan latihannya tergantung pada sifat muridnya.
Huruf M pertama adalah Madya. Artinya ada dua. Salah satu arti madya adalah “anggur”. Bagi mereka yg masih dikuasai oleh insting ragawi Shiva menganjurkan mereka buat tetap minum anggur, namun beliau menunjukkan jalannya buat mengendalikan kebiasaan itu & akhirnya meninggalkannya.
Bagi mereka pada tingkat yg lebih tinggi, madya mempunyai arti yg berbeda. Artinya bukan anggur melainkan “madu ilahi”. Sepanjang waktu kelenjar pineal mengeluarkan cairan yg disebut amrta. Seorang yogi yg telah membersihkan pikirannya & berlatih puasa dapat mencicipi cairan ini & mengalami kedalaman akibat cairan ini pada seluruh dirinya, yg sering disebut sebagai penuh kebahagiaan. Jadi, ada dua pengetian madya, yg kasar & materiil, & pengertian yg lebih halus & rohani.
Huruf M berikutnya adalah Mamsa. Salah satu artinya adalah daging. Bagi mereka yg makan banyak daging, Shiva menganjurkan buat meneruskannya namun dgn pemikiran rohani & akhirnya mengendalikan beserta meninggalkan kebiasaan itu. Bagi praktisi Tantra yg lebih halus, mamsa berarti lidah & berhubungan dgn latihan rohani pengendalian ucapannya.
Matsya, huruf M yg ketiga, berarti ikan. Bagi praktisi yg masih berpikir ragawi, Shiva mengajarkan perihal yg sama seperti anggur & daging. Pada tingkat Tantra rohani atau halus, ikan berarti dua jalur halus yg menelusuri tubuh dari ujung tulang belakang yg saling menjalin & berakhir di kedua lubang hidung. Kedua jalur ini dikenal sebagai ida & pingala. Dgn pengetahuan pengendalian napas, Pranayama, aliran dalam kedua jalur itu dikendalikan & pikiran menjadi tenang agar mudah meditasi. Ini adalah bentuk matsya bagi praktisi spiritual.
Huruf M berikutnya adalah Mudra. Mudra hanya mempunyai arti spiritual & tak ada hubungannya dgn praktik yg lebih kasar. Mudra berarti memelihara hubungan dgn semua yg membantu kita memperoleh kemajuan rohani & menghindarkan diri dari kehadiran semua perihal yg dapat mengganggu kemajuan kita.
Huruf M terakhir adalah Maethuna, & ini yg banyak menimbulkan kerancuan mengenai Tantra. Maethuna berarti persatuan. Pada pengertian yg rendahan berarti persatuan seksual. Bagi mereka yg masih dikuasai oleh insting seksual, Shiva menganjurkan bahwa seks dilakukan dgn ideasi rohani & secara perlahan mesti dikendalikan.
Bagi para praktisi yg lebih maju, yaitu mereka yg telah mempraktikkan Tantra yg lebih rohani & lebih halus, Shiva mengajarkan praktik Maethuna yg lain. Dalam perihal ini, “persatuan” berarti menyatukan kesadaran seseorang dgn Kesadaran Mahatinggi. Dalam perihal ini enersi spiritual manusia, yg diam tertidur di ujung tulang belakang, dibangkitkan sampai naik mencapai pusat enersi yg paling tinggi (dekat kelenjar pineal), mengakibatkan praktisi mengalami persatuan dgn Yg Mahatinggi.
Persatuan yg halus
Salah satu ciri khas dari Tantra yg halus adalah metode meditasinya yg introvers, masuk ke dalam. Konsep mantra memiliki tempat yg penting dalam paham meditasi Tantra. “Man” berarti “pikiran” sedangkan “tra” berarti “yg membebaskan”. Maka mantra adalah getaran tertentu yg membebaskan pikiran.
Para yogi jaman dahulu bereksperimen dgn berbagai getaran suara & mulai menggunakan suara-suara khusus yg mereka anggap berguna bagi perluasan pikiran. Mereka menemukan bahwa ada tujuh pusat enersi psycho-spiritual yg utama dalam tubuh manusia. Mereka selanjutnya menemukan bahwa ada 50 macam suara keluaran dari pusat-pusat enersi itu. Suara-suara ini terdapat dalam abjad Sansekerta, & kombinasi dari suara-suara itu dipergunakan pada jaman dahulu dalam proses konsentrasi & meditasi.
Selama meditasi Tantra, seorang meditator akan berkonsentrasi pada mantra & mengupayakan satu getaran suara saja (& ideasi yg berhubungan dengannya) dalam pikirannya. Pengulangan mantra secara menerus akan mengangkat kesadaran praktisi pada tingkat yg lebih tinggi.
“Tidak sembarang suara secara acak dapat dipergunakan buat meditasi, namun memang ada beberapa ciri yg mesti dimiliki mantra agar bermanfaat. Pertama, setiap mantra haruslah berdenyut sifatnya, yaitu mempunya dua suku kata yg dirapal ulang seiring tarikan & hembusan napas. Selanjutnya mantra mesti berkaitan dgn suatu ideasi. Paham umum yg digunakan mantra dalam meditasi adalah “Aku menunggal bersama Kesadaran Mahatinggi”. Mantra yg demikian membantu mengkaitkan kesadaran praktisi pada keseluruhan kesadaran alam semesta.
Ciri terakhir dari mantra adalah mantra mesti memiliki getaran tertentu yg dapat menghubungkan getaran si meditator dgn getaran Kesadaran Agung. Karena setiap orang tidak sama, maka mantra yg digunakan juga tidaklah sama bagi setiap orang. Guru meditasi akan memilihkan mantra yg sesuai dgn getaran tertentu seseorang & dapat menghubuingkan getarannya dgn irama semesta Kesadaran Agung. (Lihat juga “Mantra)”.
Tantra bukan saja merupakan kumpulan teknik meditasi atau yoga belaka. Ada paham-paham mengenai dunia yg terkandung di dalamnya. Menurut Tantra, perjuangan adalah sari hidup. Upaya penuh perjuangan mengatasi berbagai kendala & maju dari keadaan tak sempurna menuju yg sempurna adalah semangat sejati dari Tantra.
Dalam upaya maju dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan, ada tiga tingkat yg mesti dilalui. Tingkat pertama, seseorang masih dikuasai oleh insting hewaninya, namun pada tingkat berikutnya dia berhasil mengendalikan insting-insting itu & mencapai tingkat perkembangan sebagai manusia sejati. Akhirnya, dgn upaya & perjuangan yg berkelanjutan, suatu tingkat (kosa) akan tercapai disaat seseorang bagaikan dewata. Tantra dgn demikian memiliki sudut pandang dunia yg sangat optimistik. Tantra menunjukkan bagaimana seseorang maju dalam lingkaran kosmik (”Brahmacakra“) dgn kesadaran yg kurang, maju menuju yg jauh sangat lebih tinggi. [Tulisan ini merupakan petikan dari The Wisdom of Yoga karya Acarya Vedaprajinananda Avadhuta, Nanda Marga Publications, Singapore, 1990]
Source: http://anandamarga.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=123&Itemid=26
CINTA ORANG-ORANG GAGAH
Assalamualaikum…!!!
Ada 2 sahabat hadir disini. Keduanya adalah orang – orang yg benar – benar kuinginkan ada di sini. Di dada ini. Meskipun suatu waktu aku tiada lagi entah kemana.
Gadis manis belia yg mencoba menjadi dewasa.
Yg sekarang mau ku tahu adalah…apa arti dewasa bagimu ?
Apakah jika kamu tak lagi mengandalkan tangan orang lain ?
Atau karena umur kamu yg masih belia, maka timbul kebimbangan tentang kedewasaan ?
Hai gadis manis..!!
3 bulan lalu aku pernah bertemu dgn lelaki garang berumur 30 an. aku tertawa lepas dalam hati sambil berkata : huahahhaha ini rupanya jiwa seorang bocah yg terkurung dalam tubuh berbulu itu ..!!
…………………………………………………………
Apa kabar dgn usia ?
…………………………………………………………
Buat kau tahu.
Lupakan sejenak apa yg ku ungkapkan tadi. Maka sebenar – benarnya ada sebuah sisi kedewasaan yg sudah kau miliki…!!
Walaupun aku tahu bukan dari mulut mungilmu yg mengatakan.
Kadang kau & aku seperti dua manusia yg berdiri kaku & saling sapa seperlunya.
Jangan lagi seperti ini ! setuju ?
Aku belum menjadi apa – apa. Tapi kuusahakan yg kubisa buat membantumu.
Akhhhhhhhhh…..kamprettttttt…si lelaki tampan dgn rambut brondong jagong..huahahhahahah..!!!
Kau mempunyai beberapa perihal yg kuinginkan ada dalam diri ini.
Jangan Tanya..!! aku lagi terburu – buru !
Akh…aku teringat canda kita tentang sebuah film.
Judulnya “ Poho deui “.
Aku adalah pemeran utama film ini. Kau hanya sekedar piguran, tapi kau bisa menjadi pemeran utama di film ini.
Tetaplah ada dalam setiap adegan. Jangan menjauh. Karena skenario film ini bukan hanya butuh Voice Over. Mesti ada dialog & parenthetical yg penuh penghayatan.
Mampus luhhhhhhhhh!!!! Kagak ngarti..!!!!!!!!!! ( becanda, fren ! )
……………………………………………………………………………………………………………
Seperti juga aku.
Ingin menjadi pemeran utama dalam filmmu yg berjudul “ hentai only “.
Ya ! kita mencumbu kisah hidup ( film ) yg mau menjadi satu.
Sebentar !
Aku hisap dulu rokokku.
Kuteguk dulu hangatnya bir kaleng ini.
Cinta……!!
Cinta sejati seperti angin yg membelaimu tak terasa… karena kau biasa.
Tak terasa
Karena kau biasa
Karena kau terbiasa
Tanpa terduga..tanpa di duga – duga.
Kebenaran rasa hadir dari saling menyelami buah hatinya masing – masing.
Saling tahu tanpa mau tahu
Karena kejujurannya lekas – lekas bakal datang
Saling membutuhkan tanpa ada niat ingin merasa dibutuhkan
Saling merindukan. Rindu yg terikat pada sepasang kaki merpati.
Saling membenahi diri
Percintaan yg baik adalah para pelakunya menjadi baik pula
Terimalah salam hormatku buat kalian berdua!
Semoga dalam kebersamaan kalian dilindungi & diberkati Yg Maha Kuasa !
Amien Ya Robal Alamin
Kasih tahu aku apa nanti yg membuat bahagia
Kasih tahu aku apa nanti yg menjadikan kesedihan
Kasih tahu aku apa nanti yg menjadikan perselisihan
Kasih tahu aku apa nanti……aku masih ada dalam diri kalian ?
Ceritakan padaku apa yg terjadi nanti & hari ini
Jangan jauh dari diriku
Ada rasa tak ingin dilupakan yg berkecamuk di hati kabut mahameru
Semoga kalian menjadi orang – orang yg menunjukkan sosok aku yg ada di sana.
Di sana…di atas bukit, & matanya memandang penuh arti pada pulau rahasia miliknya.
Assalamualaikum…!!!
penceritaan ulang dari novel berdebu yg di daur ulang
" Cinta Orang - Orang Gagah "
copy:http://my.opera.com/ibenk_sablenk/archive/monthly/?startidx=5